Sabtu, 14 Februari 2009

Merawat Tali Pusat

Salah rawat, tali pusat juga bisa komplikasi Tali pusat peninggalan terakhir
ikatan fisik bayi dengan ibu di rahim. Begitu bayi lahir, sisa tali pusat akan menggantung di perut bayi, tepatnya di atas pusarnya. Dokter atau perawat biasanya membalut dan mengikatnya dengan pengikat khusus - pada zaman dahulu orangtua mengikat tali pusat dengan benang. Ini guna menjaga kemungkinan keluarnya cairan dari perut melalui sisa tali pusat. Tali pusat anak laki-laki diikat dengan tujuh lapis benang, anak perempuan
empat lapis benang. Ikatan Si Buyung lebih banyak lantaran mereka dianggap lebih kuat tenaganya, juga lebih lasak, hingga menghindari ikatan lepas.

Balutan dan ikatan tali pusat harus diganti dengan rutin sampai sisa tali pusat kering dan lepas dengan sendirinya. Umumnya ini memakan waktu 1-4 minggu setelah kelahiran, meski ada juga bayi yang hanya butuh tiga hari untuk puput (lepas) pusat.

Menurut Dokter Perinatologi Spesialis Perawatan Bayi Pasca-Lahir Prof. DR. Nartono Kadrik Sp.A (k), lama atau tidaknya lepas tali pusat sangat tergantung pada perawatan dan bawaan masing-masing bayi. "Tapi secara keseluruhan masalah waktu ini tidak perlu dikhawatirkan selama ibu tidak menemukan gejalan infeksi," ungkap dokter yang praktik di RS. MMC Jakarta ini.


Lembab dan Kurang Bersih

Menurut Nartono, ayah-ibu boleh curiga tali pusat bayi terkena infeksi bila terdapat bau menyengat keluar dari sisa tali pusat, atau terdapat cairan berwarna merah darah atau nanah belebihan, atau bila ayah-ibu menemukan kulit di sekitar tali pusat berwarna merah dan tampak basah. Bila ini terjadi, Nartono menyarankan ayah-ibu segera membawa bayi ke pusat kesehatan untuk mendapatkan perawatan lanjutan. "Bila terjadi infeksi, penyembuhan atau lepasnya tali pusat akan berlangsung lebih lama. Tapi yang lebih berbahaya adalah bila infeksi merambat ke dalam perut bayi. Ini akan menimbulkan gangguan serius dan membutuhkan perawatan lebih rumit," papar Nartono.

Bila terjadi infeksi di sekitar atau persis di tali pusat, biasanya dokter akan memberikan antibiotik untuk membunuh penyebaran infeksi akibat kuman. "Infeksi itu sendiri timbul karena sisa tali pusat tidak dijaga kebersihannya. Kondisi yang lembab memungkinkan tumbuhnya bakteri atau jamur penyebab infeksi," terang Nartono.

Karena itulah Nartono menganjurkan agar sisa tali pusat dirawat hati-hati tapi tidak berlebihan. Dengan menjaga sisa tali pusat kering dan berkontak dengan udara, menurut Nartono, penyembuhan dapat dipercepat, infeksi pun dihidari.

Berikut ini beberapa langkah untuk mempercepat penyembuhan sisa tali pusat:
Ada dua versi perawatan sisa tali pusat. Beberapa dokter menyarankan bayi yang belum puput pusat tidak mandi berendam dulu sehingga sisa tali pusat tidak basah. Dokter menganggap air yang mengenai sisa tali pusat akan memperlambat proses pengeringan.
Tapi ada juga pendapat ahli medis lain yang membolehkan bayi mandi berendam, asalkan tidak terlalu lama. Syaratnya, segera keringkan tali pusat pusat dan daerah sekitarnya dengan hati-hati. Sebagai informsai bagi orangtua, bayi sendiri sebetulnya belum memerlukan mandi sebersih orang dewasa. Masih ditoleransi jika bayi hanya dimandikan sekali sehari, atau hanya melapnya dengan handuk basah. paling tidak ini dilakukan sampai puput pusat.

Setelah bayi mandi, bersihkanlah sisa tali pusat dengan kapas atau kasa yang telah dibubuhi alkohol. Alkohol dapat mempercepat pengeringan. Lalu tutup sisa tali pusat dengan kain kasa yang tidak tebal dan sudah diberi alkohol. Tidak perlu mengikat kain kasa karena akan mengurangi masuknya aliran udara. Ada juga sebagiaan orangtua yang membubuhkan antiseptik pada sisa tali pusat dengan harapan sisa tali pusat segera kering. Menurut ahli medis, pemberian alkohol saja sudah cukup dan lebih baik. Sebaiknya pembersihan sisa tali pusat dilakukan tidak lebih dari dua kali sehari. Perawatan berlebihan justru memudahkan timbulnya infeksi sisa tali pusat.

Hernia Tali Pusat

Selain infeksi, masalah lain yang dapat menimpa tali pusat adalah hernia tali pusat. Sebelum lahir, semua bayi mempunyai pembukaan di dinding perutnya dimana pembuluh darah meluas ke tali pusat (tali umbilikal). Pada beberapa keadaan, lebih sering terjadi pada bayi berkulit hitam daripada bayi berkulit putih, pembukaan ini tidak menutup sempurna pada saat bayi lahir, sehingga menyisakan lubang atau celah.
Ketika bayi menangis atau mengejan, selingkar kecil usus menonjol keluar melalui pembukaan ini, mendorong tali pusar dan area sekitarnya dalam bentuk tonjolan seukuran buah jeruk. Anda tak perlu khawatir dengan tonjolan ini karena umumnya tidak berbahaya. Tidak seperti hernia lainnya, usus biasanya tidak akan terjepit di lubang pembukaan ini, dan umumnya hernia akan menghilang tanpa perawatan. Pembukaan kecil biasanya segera tertutup dalam waktu beberapa bulan. Sedang pembukaan yang besar akan menutup dalam waktu 1-2 tahun. Perawatan dengan pengikat perut, pembalut, atau plester tidak perlu dilakukan lagi.

Jangan kacaukan antara pusar yang menonjol (bodong) dengan hernia. Hernia akan mengembang bersamaan dengan tangis bayi, dan ini tidak terjadi pada pusar yang menonjol. Pusar juga tampaknyaa menonjol sebelum sisa tali pusat lepas, tapi ini bukan tergolong hernia.

Kisah "Si Saudara Kembar"

Bagi dunia medis ari-ari atau plasenta adalah limbah, karena itu akan dibuang begitu saja. Namun bagi masyarakat Indonesia, plasenta konon "saudara kembar" bayi, sehingga harus diperlakukan secara baik.

Di masyarakat dikenal upacara penguburan ari-ari, dimana ari-ari disimpan di dalam wadah khusus kemudian dikubur bersama sejumlah uang logam, bumbu, bunga, dan barang-barang simbolik lainnya. Kuburannya pun diterangi lampu selama 40 hari. Ada pula yang melarung ari-ari di laut dengan harapan kelak saat dewasa anak akan bepergian melihat indahnya dunia.

Sisa ari-ari ada juga yang dibungkus secara khusus, disimpan di tempat tersembunyi dan dibiarkan mengering. Bila bayi kembung, sakit perut, atau demam, bungkusan tadi direndam di air masak. Kemudian air diminumkan pada bayi. Ini dilakukan hingga bayi berusia satu tahun. (Mila Meiliasari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kalau udah di baca beri komentar ya....