<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598</id><updated>2012-01-21T02:37:11.993-08:00</updated><category term='A.Latar belakang'/><category term='Hukum Dalam Praktik Keperawatan'/><category term='asuhan keperawatan gawat darurat dengan penomothorax'/><category term='asuhan keperawatan pada pasien fraktur'/><category term='ANALISIS  PERANCANGAN KERJA'/><category term='RISET BIOMEDIK PADA MANUSIA'/><category term='GGAN SOMATOFORM'/><category term='CONGESTIVE HEART FAILURE(CHF) GAGAL JANTUNG KONGESTIV'/><category term='Demam reumatik adalah suatu penyakit peradangan autoimun yang mengenai jaringan konektif jantung'/><category term='Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung'/><category term='Gambaran'/><category term='proposal'/><category term='manajemen aktif kala tiga'/><category term='pada lansia'/><category term='fase-fase dalam kala satu'/><category term='ASUHAN KEPERAWATAN HERPES ZOSTER'/><category term='tulang'/><category term='istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI).'/><category term='KLIEN TERHADAP MOBILISASI'/><category term='DINI PASCA OPERASI'/><category term='kata pengantar'/><category term='Pada Pasien Post Operasi'/><category term='kata ini kita pake bukan untuk dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang ada'/><category term='Definisi Osteoporosis atau pengeroposan tulang merupakan penyakit yang disebabkan karena penyusutan massa dan kemerosotan struktur tulang'/><category term='IBU TENTANG STIMULASI'/><category term='SELEKSI KUALIFIKASI'/><category term='penyebab utama diare pada anak meliputi infeksi enternal sebagai berikut : -&#x9;Infeksi bakteri : vibrio'/><category term='pathophysiology shock'/><category term='ERGONOMI'/><category term='fatofisiologi kardovaskular'/><category term='malas bekerja'/><category term='asistensi obstetri'/><category term='KRITERIA'/><category term='BAB II Tinjauan pusata'/><category term='faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas Delitua tahun 2008.'/><category term='Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung'/><category term='Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.'/><category term='Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas SDM.'/><category term='ALAT-ALAT'/><category term='Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial.'/><category term='Terhadap Terjadinya Peristaltik Usus'/><category term='PENDUDUK'/><category term='preode persalinan'/><category term='Sekolah (UKS)'/><category term='GGAN NEUROTIK'/><category term='juga bukan gumpalan tema.'/><category term='meyiapkan kelahiran'/><category term='shock'/><category term='Kerangka konsep ini bertujuan untuk memperlihatkan Gambaran pengetahuan pasien TB.Paru tentang Keteraturan makan obat .'/><category term='SKIZOFRENIA'/><category term='Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mengalami kesulitan'/><category term='THE NATURAL HISTORY OF DISEASES( RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT )'/><category term='Terapi'/><category term='kekrasan'/><category term='kala tiga persalinan'/><category term='R E K A M   M E D I S'/><category term='penerimaan perawat ke luar negeri'/><category term='DENGAN PERKEMBANGAN'/><category term='fungsi sistem perkemihan'/><category term='anatomi pernapasan'/><category term='fungsi cairan tubuh'/><category term='sistem pencernaan'/><category term='sehingga tulang rapuh dan rawan patah. (Suryadi'/><category term='GGAN SKIZOTIPAL'/><category term='DISORDERS OF THE ADRENAL CORTEX'/><category term='fungsi endokrin'/><category term='Mekanisme'/><category term='Fisiologi endokrin'/><category term='Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang penyakit Asma pada anak usia 6-15 tahun di Puskesmas Delitua'/><category term='ILMU'/><category term='DIABETES MELITUS'/><category term='Kerja'/><category term='FUNGSI DARAH'/><category term='E. Coli'/><category term='ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut'/><category term='Pada Ibu Hami'/><category term='PERDARAHAN'/><category term='PERFORMANCE'/><category term='pengantar obstetri'/><category term='gambaran pengetahuan ibu terhadap tablet zat besi pada ibu hamil'/><category term='DARAH'/><category term='hipertrophi'/><category term='sistem endokrin'/><category term='IMUNISASI'/><category term='ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIAEN  DENGAN DIAG NOSA DIARE'/><category term='Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka perumusan masalahnya adalah bagaimana pengetahuan dan sikap ibu tentang penyakit asma pada anak usia 6-15 tahun di Puskesmas Delitua.'/><category term='Shift Kerja'/><category term='Persalinan Normal'/><category term='sistem kardiovaskular'/><category term='RENCANA PROGRAM PENGAJARAN STIKes DELI HUSADA DELI TUA'/><category term='ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR'/><category term='Penulisan Proposal Peneltian Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Deli Husada Delitua'/><category term='Pertahanan Ego'/><category term='dlm Keswa (kesehatan Jiwa)'/><category term='Gangguan kesehatan jiwa bukan hanya gejala kejiwaan saja tetapi sangat luas dari mulai yang ringan seperti kecemasan dan depresi'/><category term='FERTILISASI'/><category term='pengetahuan'/><category term='Gambaran Pengetahuan'/><category term='Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan ganguan fungsi organ tubuh yang berat.'/><category term='(MPE)'/><category term='GGAN WAHAM. SKIZOFRENIA'/><category term='(Homeostatic Control of Body Temperature)'/><category term='SEKSIO CAESARIA DI RSUD DR RM DJOELHAM BINJAI'/><category term='DIABETIC FOOT (KAKI DIABETIK)'/><category term='sering tidak bisa kerja sama dengan teman sekerja'/><category term='vagina dengan gambar'/><category term='Campilobacter'/><category term='KUISONER DATA PENELITIAN'/><category term='memantau selama penatalaksanaan kala dua persalinan'/><category term='INAP'/><category term='Nafsu arti bahasanya adalah ada. Nafsu berarti adanya. Menurut kaum sufi'/><category term='anemia dalam kehamilan'/><category term='Setelah mengikuti proses penyuluhan diharapkan ibu dapat mengerti dan memahami mamnfaat daripada imunisasi D P T yang dilakukan di puskesmas tanjung morawa'/><category term='Jenis – jenis Peneltian'/><category term='VariabelPenelitian'/><category term='GRATIS'/><category term='tanda dan gejala kala dua persalinan'/><category term='Sampel'/><category term='Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri'/><category term='Sistem Perkemihan'/><category term='sistem pernapasan'/><category term='BAB I PENDAHULUAN'/><category term='Efektivitas  Pemberian Tablet Zat Besi dengan Anemia pada Ibu Hamil di Klinik Kasih ibu  Desa durian Kec. Deli Tua Tahun 2009'/><category term='kelenjar endokrin'/><category term='pencernaan makanan'/><category term='Meningitis adalah peradangan pada selaput meninges yang menyelubungi otak yang disebabkan oleh bakteri atau virus.'/><category term='MASA NEONATAL'/><category term='Stigella'/><category term='METODE DAN ALAT BANTU(MEDIA) PEN-KES'/><category term='MASALAH SOSIAL DALAM KB'/><category term='Anastesi'/><category term='Setelah mengikuti program penyuluhan diharapkan masyarakat dapat memahami apa yang dimaksud dengan ispa'/><category term='Usaha'/><category term='Simtomatologi'/><category term='Aeromonas dan sebagainya.'/><category term='KESEHATAN JIWA'/><category term='Kesehatan'/><category term='KUESIONER'/><category term='STRUKTUR'/><category term='GASTROINTESTINAL SYSTEM'/><category term='PENATALAKSANAAN'/><category term='Energy Balance and Body Composition'/><category term='GIZI KERJA'/><category term='PERAWAT LUAR NEGERI'/><category term='ASUHAN KEPERAWATAN'/><category term='Pengujian Hipotesis Asosiatif'/><category term='Terhadap Proses'/><category term='FRAKTUR'/><category term='PENELITIAN'/><category term='PPDGJI III'/><category term='kehamilan dengan penyakit darah'/><category term='Pengumuman seleksi ujian tulis (minggu ke I April 2009)'/><category term='Salmonella'/><category term='hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi nasokomial terhadap cara perawatan luka pasien post operatif appendik'/><category term='the urinari system'/><category term='Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion'/><category term='FLU BURUNG AVIAN FLU AVIAN INFLUENZA BIRD FLU'/><category term='hukum dan etika rumah sakit'/><category term='Merawat Tali Pusat'/><category term='Etika'/><category term='PENGANTAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN'/><category term='hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi nasokomial post operatif appendik dengan cara perawatannya di RSUD.Dr.Djoelham Binjai'/><category term='UKUR'/><category term='l DiKlinik Kasih Ibu Desa Durian Kec.Delitua Tahun 2009'/><category term='PENCEGAHAN AUTIS PADA BAYI'/><category term='untuk sekripsi'/><category term='KEMBANG'/><category term='SALURAN MAKANAN'/><category term='genetelia eksternal'/><category term='Body Temperature'/><category term='BAB III Kerangka Konsep'/><category term='PRIODE PRANATAL'/><category term='ALAT-ALAT UKUR ERGONOMI'/><category term='Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui)'/><category term='IMPLANTASI DAN PERTUMBUHAN JANIN'/><category term='PERSALINAN'/><category term='Hukum'/><category term='ANALISIS DATA'/><category term='zoster'/><category term='kepuasan ibu'/><category term='Kelulusan Gelombang I Seleksi Administrasi'/><category term='DI RUANG RAWAT'/><category term='dengan'/><category term='di RSU Dr.Djoelham Binjai'/><category term='syarat hamil'/><category term='rumah tangga'/><category term='Ibu Terhadap Pemberian Tablet Zat Besi'/><category term='KELUARGA SEBAGAI PENANGGUNG JAWAB UTAMA DALAM PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK'/><category term='PENERIMAAN PERAWAT KE JEPANG'/><category term='SOSIALISASI NCHS WHO 2000 Interpretasi status nutrisi Secara klinis Antropometry'/><category term='KESEIMBANGAN CAIRAN TUBUH'/><category term='dilatasa'/><category term='DAN ASAM - BASA'/><category term='DAN PERSEBARAN'/><category term='COLOSTOMY'/><category term='Malpraktek medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan'/><category term='2000)'/><category term='PRETERM'/><category term='hubungan'/><category term='kala dua persalinan'/><category term='ANATOMI organ reproduksi wanita'/><category term='MOTORIK KASAR ANAK USIA 3-5 TAHUN DI DESA MEKAR SARI KECAMATAN DELITUA KABUPATEN DELI SERDANG'/><category term='Fisiologi'/><category term='MNEMONIC EKSTRAKSI FORSEP'/><category term='Ilmu Kes. Anak'/><category term='Seleksi ujian tulis (minggu ke IV Maret 2009)'/><category term='penatalaksanaan kala tiga persalinan'/><category term='MALPRAKTEK'/><category term='GGAN KEPRIBADIAN DAN PERILAKU MASA DEWASA'/><category term='DEMAM BERDARAH DENGUE'/><category term='herpes'/><category term='MODEL PENINGKATAN MUTU ASKEP DENGAN EMPOWERMENT NURSING PROCESS DAN NURSES'/><category term='genitalia internal'/><category term='DIAGNOSTIK'/><category term='pasien mengenai Hipertensi'/><category term='Pengaruh Mobilisasi Dini'/><category term='TINGKAT PENGETAHUAN'/><category term='IJEPA'/><category term='TUMBUH'/><category term='kala satu persalinan'/><category term='BAGIAN BAWAH'/><category term='Populasi'/><category term='hymen'/><category term='EKTRAKSI VACUM DAN FORCEP'/><category term='Pengaruh Kehadiran Suami'/><category term='DAN GGAN YG BERKAITAN DGN STRES.'/><category term='Yersinia'/><title type='text'>keperawatan</title><subtitle type='html'>Mengapa saya ingin menulis tentang keperawatan!! karna saya adalah seorang perawat.. kemudian saya sangat prihatin terhadap kehidupan seorang perawat..
MARI KITA BERSATU MEWUJUDKAN PERAWAT YANG PROPESIONAL</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>157</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-704906717173528221</id><published>2010-12-17T07:45:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T08:20:03.861-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;strong&gt;apa itu kanker leher rahim (serviks) ??&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;kanker serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim (serviks). kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TQuG1BDp3DI/AAAAAAAAALs/L9NmhJgc0yQ/s1600/yas.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 93px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TQuG1BDp3DI/AAAAAAAAALs/L9NmhJgc0yQ/s200/yas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5551679211039218738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;penyebab&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;kanker serviks terjadi jika sel-sel servikstumbuh menjadi tidak normal dan tindak terkendali. jika sel servik terus tumbuh akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. jika tumor tersebut ganas,maka kondisi ini disebut kanker leher rahim atau kanker seviks.&lt;br /&gt;penyebab terjadinya kelainan sel-sel serviks belum diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks.&lt;br /&gt;1. HPV (Humen Papilloma Virus)&lt;br /&gt;   HPV adalah virus penyebab kutil kelamin (Kondiloma Akuminata) yang ditularkan melalui hubungan seksual.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gejala&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-704906717173528221?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/704906717173528221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2010/12/apa-itu-kanker-lehr-rahim-serviks.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/704906717173528221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/704906717173528221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2010/12/apa-itu-kanker-lehr-rahim-serviks.html' title=''/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TQuG1BDp3DI/AAAAAAAAALs/L9NmhJgc0yQ/s72-c/yas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-3625951216749183317</id><published>2010-11-17T20:46:00.000-08:00</published><updated>2010-11-17T20:59:56.467-08:00</updated><title type='text'>KOLESTEROL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah kolesterol itu ??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol adalah salah satu komponen lemak yang sangat  di perlukan oleh tubuh, baik dalam pembentukan energi maupun dalam pembentukan dinding sel dalam tubuh. Kolesterol yang dibutuhkan tersebut secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dengan jumlah yang tepat namun kolesterol dapat meningkat jumlahnya sesuai dengan asupan makanan ke dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Manfaat kolesterol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolesterol memiliki beberapa peran penting dalam tubuh, antara lain:&lt;br /&gt;1.kolesterol sebagai komponen lemak penting sebagai salah satu sumber tenaga bagi tubuh selain karbohidrat dan protein.&lt;br /&gt;2.kolesterol berperan penting dalam produksi hormonseks, vitamin d serta untuk fungsi otak dan saraf.&lt;br /&gt;3.kolesterol diperlukan untuk memelihara dinding sel dan tubuh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jenis-jenis kolesterol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa mancam kolesterol dalam darah yaitu kolesterol baik yang biasa di sebut HDL (highdensitas lipoprotein, dan kolesterol jahat yaitu LDL (low densitas lipoprotein. Kemudian triglecerida.&lt;br /&gt;Kolestrol 80% dihasilkan dari dalam tubuh (organ hati) dan 20% sisanya dari luar tubuh (zatmakanan ) untuk beberapa fungsi dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak negative dari peningkatan kolesterol melebihi angka normal&lt;br /&gt;Peningkatan kadar kolesterol jahat dalam tubuh dapat meningkatkan resiko bebagai penyakit. Kolesterol yang tinggi akan berakumulasi di dinding arteri sehingga membentuk semacam plak yang menyebabkan dinding arteri menjadi kaku dan rongga pembuluh dara menyempit. Proses ini dikenal dengan nama aterosklerosis. Aterosklerosis bias terjadi pada arteri di otak., jantung, ginjal, dan organ vital lainnya. Serta lengan dan tungkai. Jika arterosklerosis terjadi didalam arteri yang menuju ke otak (arteri carotid), maka bias terjadi stroke. Jika terjadi didalam arteri yang menuju kejantung (arteri koroner), bias terjadi serangan jantung.&lt;br /&gt;Pola makan yang tidak seimbang salah satu penyebabnya. Makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan kollesterol dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol di dalam darah.&lt;br /&gt;Selain pola makan yang tidak seimbang, factor keturunan, kelebihan berat badan, kurangnya aktivitas fisik dan olah raga, konsumsi alcohol, serta merokok merupakan penyebab umum kolesterol tinggi. Sementara kondisi penyakit yang dapat memicu tingginya kolesterol darah adalah penyakit diabetes, penyakit ginjal, penyakit liver.&lt;br /&gt;Teriglecerida merupakan kolesterol jahat dalam tubuh yang bela mengalami peningkatan melebihi kadar normal tubuh dapat menyebabkan peningkatan resiko penyumbatan pembuluh darah jantung dan otak. Hal ini terjadi bila bersamaan dengan tingginya kadar LDL dan rendahnya kadar HDL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara menghindari factor risiko tingginya kadar kolesterol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perubahan gaya hidup menjadi penentu utama dalam meurunkan risiko peningkatan kolesterol dalam darah. Yaitu dengan: &lt;br /&gt;1. mengkonsumsi makanan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh.&lt;br /&gt;Makanan seimbang adalah makanan yang terdiri dari&lt;br /&gt;- 60%kalori berasal dari karbohidrat&lt;br /&gt;- 15%kalori berasal dari protein&lt;br /&gt;- 25%kalori berasal dari lemak&lt;br /&gt;- Kalori dari lemak jenuh tidak boleh lebih dari 10%&lt;br /&gt;Kelebihan kalori dapat di akibatkan dari asupan yang berlebih (makan banyak) atau penggunaan energi atau penggunaan energi yang sedikit, kelebihan kalori yang terutama dari karbohidrat dapat meningkatkan kadar triglycerida.&lt;br /&gt;- Contoh makanan yang mengandung karbohidrat tinggi yaitu nasi, kue, snack,mie,roti.&lt;br /&gt;- Contoh makanan yang mengandung protein nabati tinggi yaitu tahu, tempe, kacang-kacangan.&lt;br /&gt;2. Menurunkan asupan lemak jenuh&lt;br /&gt;- Lemak jenuh terutama berasal dari minyak kelapa,santan dan semuaminyak lain seperti minyak jagung,minyak kedelai dan lain-lain.Yang mendapat pemanasan tinggi atau di panaskan berulang-ulang&lt;br /&gt;- Kelebihan minyak jenuh akan menyebabkan peningkatan LDL kolesterol&lt;br /&gt;3. Menurunkan asupan kolesterol&lt;br /&gt;- kolesterol terutama dapat di temukan pada lemak dari hewan, jerohan,kuning telur,serta seafood kecuali ikan.&lt;br /&gt;4. Mengkonsumsi lebih banyak serat dalam menu makanan sehari-hari&lt;br /&gt;- serat banyak ditemukan pada buah-buahan misalnya apel, pir dan lain-lain yang di makan dengan kulinya.Dan sayur-sayuran adapun sayur dan buah-buahan yang bermanfaat dalam menurunkan kolesterol antara lain alvokad, anggur,kedelai,bawang putih,the hijau.&lt;br /&gt;- Serat yang di anjurkan adalah sebesar 25-40 gr/hari,serta dengan 6 buah apel merah dengan kulit atau 6 mangkuk sayuran&lt;br /&gt;- Serat berfungsi untuk meningkat lemak yang bersal dari makanan dalam proses pencernaan,sehingga menjaga peningkatan kadar LDL kolesterol&lt;br /&gt;5. Merubah cara memasak&lt;br /&gt;- sebaiknya memasak makanan bukan dengan menggoreng tetapi dengan merebus,mengukus atau membakar tanpa minyak atau mentega.&lt;br /&gt;- Minyak goreng dari asam lemak tidak jenuh sebaiknya bukan digunakan untuk menggoreng tetapi di gunakan untuk minyak salad,sehingga mempunyai efek positif terhadap peningkatan kadar HDL kolesterol maupun pencegahan terjadinya pengendapan pembuluh darah.&lt;br /&gt;6. Melakukan aktivitas fisik dengan teratur&lt;br /&gt;- Dianjurkan untuk melakukan olah raga yang bersifat eorobik seperti jalan cepat,lari-lari kecil, renang dan lain-lain. Yang dilakukan selama 3-5 kali setiap minggu,selama 30-60 menit/hari,dengan nadi selama melakukan olah raga sebesar 70-80%&lt;br /&gt;- Olah raga teratur akan membantu meningkatkan kadar kolesterol HDL.&lt;br /&gt;- Bila melakukan olahraga jalan,lari-lari kecil sebaik nya memakai sepatu olah raga yang sesuai untuk mencegah cederah sendi.&lt;br /&gt;7. Stop merokok&lt;br /&gt;- merokok dipercaya dapat memicu penebalan atau penyimpatan pembuluh darah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-3625951216749183317?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/3625951216749183317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2010/11/apakah-kolesterol-itu-kolesterol-adalah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/3625951216749183317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/3625951216749183317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2010/11/apakah-kolesterol-itu-kolesterol-adalah.html' title='KOLESTEROL'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-2982786095164780562</id><published>2010-10-23T01:03:00.000-07:00</published><updated>2010-10-23T01:30:45.517-07:00</updated><title type='text'>LAB THAMRIN MEMBERIKAN PELAYANAN MEDICAL CHEK UP DI NIAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY-65kUsI/AAAAAAAAAJE/-Mx_exbxn0g/s1600/Foto0654.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY-65kUsI/AAAAAAAAAJE/-Mx_exbxn0g/s200/Foto0654.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531151499094414018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   Dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan bagi para Peserta Askes, maka bersama ini disampaikan beberapa hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Peningkatan kualitas pelayanan merupakan bagian yang integral dari prinsip Managed Care yang dikembangkan oleh PT. Askes (Persero).&lt;br /&gt;2. Bagian yang dirasakan cukup penting untuk ditingkatkan dalam upaya peningkatan kepuasan pelanggan adalah dengan mengembangkan pelayanan kesehatan dari sector Promotif dan Preventif, sekaligus sebagai bentuk konkrit implementasi social benefit dan social marketing bagi masyarakat khususnya Peserta Askes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_H-3i6I/AAAAAAAAAJU/E_xtvvWO-3Q/s1600/05102010198.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_H-3i6I/AAAAAAAAAJU/E_xtvvWO-3Q/s200/05102010198.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531151502606306210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. PT. Askes (Peserta) pada tahun 2009 telah memulai melakukan upaya untuk mengkoordinir dan memfasilitasi masyarakat dalam memelihara kesehatan misalnya dengan berolah raga bersama dengan senam masal, memonitor kesehatan masyarakat saat sehat sebelum menjadi sakit melalui Medical Check Up, dan lain sebagainya, yang dirangkai dengan Program “Sehat Bersama Askes”. Namun disadari belum merata dan menjangkau sebagian peserta, sehingga untuk tahun 2010 dilanjutkan kembali.&lt;br /&gt;4.    Salah satu bentuk kegiatan promotif dan preventif yang dimaksud adalah dengan mengadakan Medical Check Up berupa Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi, dengan criteria sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_rHLpKI/AAAAAAAAAJc/y0y_HHNl440/s1600/05102010204.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_rHLpKI/AAAAAAAAAJc/y0y_HHNl440/s200/05102010204.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531151512036418722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;a. Pemeriksaan Laboratorium, EKG, Radiologi dan Pap’Smear untuk wanita&lt;br /&gt;- Peserta adalah PNS Aktif (bukan isteri/suami/anak)&lt;br /&gt;- Usia Peserta antara 40 s/d 56 tahun&lt;br /&gt;- Peserta yang belum pernah melakukan MCU tahun 2008 dan 2009&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_t4k1FI/AAAAAAAAAJk/hJ58mA5LhP0/s1600/05102010207.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_t4k1FI/AAAAAAAAAJk/hJ58mA5LhP0/s200/05102010207.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531151512780461138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan Pap’smear&lt;br /&gt;- Peserta adlah PNS &amp; Istri&lt;br /&gt;- Usia Peserta diatas 30 tahun&lt;br /&gt;- Peserta yang belum melakukan Pap’smear tahun 2008 &amp; 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pemeriksaan akan dilakukan pada oleh Provider yang ditunjuk oleh PT. Askes (Persero) dan akan mengadakan kunjungan langsung ke Instansi PNS.&lt;br /&gt;5. Prosedur pelayanan adalah :&lt;br /&gt;  - Provider (Pelaksana Pemeriksaan Kesehatan) akan melakukan kunjungan dan melakukan pemeriksaan kesehatan para PNS langsung di Instansi Peserta.&lt;br /&gt; - PNS yang akan diperiksa harus menunjukan Kartu Peserta Askes yang masih berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_GfaJ5I/AAAAAAAAAJM/6CwBsR6A768/s1600/Photo-0052.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY_GfaJ5I/AAAAAAAAAJM/6CwBsR6A768/s200/Photo-0052.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5531151502205921170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-2982786095164780562?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/2982786095164780562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2010/10/lab-thamrin-memberikan-pelayanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/2982786095164780562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/2982786095164780562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2010/10/lab-thamrin-memberikan-pelayanan.html' title='LAB THAMRIN MEMBERIKAN PELAYANAN MEDICAL CHEK UP DI NIAS'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TMKY-65kUsI/AAAAAAAAAJE/-Mx_exbxn0g/s72-c/Foto0654.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-6958931017536926987</id><published>2009-12-28T20:39:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T20:48:17.793-08:00</updated><title type='text'>Jilbab</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SzmJqoxlGXI/AAAAAAAAAI0/o5amdR-VJXs/s1600-h/E613B688-3158-46BC-AB66-3B14D0860CF7.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 151px; height: 117px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SzmJqoxlGXI/AAAAAAAAAI0/o5amdR-VJXs/s200/E613B688-3158-46BC-AB66-3B14D0860CF7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420514992109984114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mana jilbabku…&lt;br /&gt;Bismilla….&lt;br /&gt;Pakalah jilbab “sebagai penutup aurat selain pakaian pokok” dengan pedoman ibadah, mencari ridho Allah swt. Taat kepada Allah dan rasulNya.&lt;br /&gt;Pakailah sekarang juga, jangan menuggu besok-kalau sudah taat, kalau berkelakuan sudah baik dan sebagainya..&lt;br /&gt;Pakalah jilbab untuk mendorongmu taat beragama. Jadi, jangan pake jilbab menunggu nanti kalau sudah taat beragama, tetapi pakailah jilabab sekarang juga untuk mendorongmu segera taat beragama. Karena orang berjilbab sesungguhnya akan malu diri dalam berperilaku tidak baik. Malu kan sebagian dari iman. Meski nyatanya banyak kita jumpai wanita berjilbab tidak pantas perilakunaya. Tapi demikian itu anggap saja wakil-wakil setan” dalam memperkuat tipu-tipu dayanya..!&lt;br /&gt;Gitu yaaa..!! sekarang pake jilbab yaa..!! yuk.. bismillah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Nabi katakan lah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “hendaklah mereka mengeluarkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. “yang demikian itu supaya mereka lebuh mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun dan maha penyayang. (QSAl-Ahzab{33}:59)&lt;br /&gt;Yang sudah berjilbab saja, diperintahkan Allah Swt. Untuk mengeluarkan jilbabnya, sehingga bukan hanya seluruh tubuh tertutupi tetapi juga bentuk-bentuk juga tidak nampak.&lt;br /&gt;Sungguh, penampakan aurat memicu gairah seks. Gairah seks yang tidak terkendali akan mendoroang kepada perbuatan zina.&lt;br /&gt;So... apa yang menghalangimu untuk mengenakan jilabab wahai sahabat-sahabatku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi pengingat_ingat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puriku kenakan jilbabmu&lt;br /&gt;Pakailah kerudungmu&lt;br /&gt;Tak dengarkah kamu perin-Nya&lt;br /&gt;Tak simakkah kamu sunah kekasihNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putriku, tutupi auratmu&lt;br /&gt;Hanya ujung tangan serta wajah yang boleh tampak&lt;br /&gt;Putriku, lindungi malumu&lt;br /&gt;Sekarang!! Bukan lusa, bulan depan atau kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun lalu kau berkata&lt;br /&gt;Akan kupakai jilabab penutup aurat&lt;br /&gt;Hari ini ku dengar janji yang sama&lt;br /&gt;Nanti bila tingkah laku sudah taat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kapan kau merasa sudah siap&lt;br /&gt;Kapan kau merasa sudah taat&lt;br /&gt;Bukan itu barometernya sobat!!!&lt;br /&gt;Itu ibadah dan pendorong perilaku mu’minat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinkah esok engkau tak mati??&lt;br /&gt;Yakinkah esok lebih baik dari kini??&lt;br /&gt;Jangan kalau sudah merasa baru aurat ditutupi&lt;br /&gt;Pakailah jilbab agar bersemi malu diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila akhirnya kau tutupi&lt;br /&gt;Setelah diri merasa suci&lt;br /&gt;Lalu kau terjebak pada bangga diri&lt;br /&gt;Kesombongan yang paling dibenci&lt;br /&gt;Lihat aku berjilbab kini, karena sudah soleh dan suci.&lt;br /&gt;(Anat, air mata tahajud, 2008)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-6958931017536926987?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/6958931017536926987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/12/jilbab.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6958931017536926987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6958931017536926987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/12/jilbab.html' title='Jilbab'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SzmJqoxlGXI/AAAAAAAAAI0/o5amdR-VJXs/s72-c/E613B688-3158-46BC-AB66-3B14D0860CF7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-5375547318214356913</id><published>2009-11-25T19:56:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T20:03:46.079-08:00</updated><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN  PADA PASIEN DENGAN EMFISEMA</title><content type='html'>DEFINISI&lt;br /&gt;Emfisema paru merupakan bentuk paling berat dari PPOM dikarakteristikkan oleh inflamasi berulang yang melukai dan akhirnya merusak dinding alveolar menyebabkan banyak blab atau bula (ruang udara) kolaps bronkiolus pada ekspirasi (jebakan udara).&lt;br /&gt;Emfisema paru juga dapat didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. Kondisi ini merupakan tahap akhir proses yang mengalami kemajuan dengan lambat selama beberapa tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLASIFIKASI&lt;br /&gt;Terdapat 2 (dua) jenis emfisema utama, yang diklasifikasikan berdasarkan perubahan yang terjadi dalam paru-paru.&lt;br /&gt;a. Panlobular (panacinar), yaitu terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang  udara di dalam lobus sedikit banyak membesar, dengan sedikit penyakit inflamasi. Ciri khasnya yaitu memiliki dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas, dan penurunan berat badan.&lt;br /&gt;b. Sentrilobular (sentroacinar), yaitu perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder, dan perifer dari asinus tetap baik. Seringkali terjadi kekacauan rasio perfusi-ventilasi, yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia (peningkatan CO2  dalam darah arteri), polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal napas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;1.Merokok adalah penyebab utama&lt;br /&gt;2.Faktor predisposisi. Genetik terhadap emfisema yang berkaitan dengan abnormalitas protein plasma, defisiensi antitripsin alfa-1, yang merupakan suatu enzim inhibitor. Secara genetik sensitif terhadap faktor lingkungan (merokok, polusi udara, agen-agen infeksius, alergen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;ter lampir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANIFESTASI KLINIK&lt;br /&gt;1.Dispnea &lt;br /&gt;2.Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’&lt;br /&gt;3.Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot   aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)&lt;br /&gt;4.Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.&lt;br /&gt;5.Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi&lt;br /&gt;6.Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum&lt;br /&gt;7.Distensi vena leher selama ekspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK&lt;br /&gt;a.Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).&lt;br /&gt;b.Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator.&lt;br /&gt;c.TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan emfisema&lt;br /&gt;d.Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema&lt;br /&gt;e.Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma&lt;br /&gt;f.FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma&lt;br /&gt;g.GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis&lt;br /&gt;h.Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronkitis&lt;br /&gt;i.JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil (asma)&lt;br /&gt;j.Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer&lt;br /&gt;k.Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi&lt;br /&gt;l.EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema)&lt;br /&gt;m.EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi program latihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;Tujuan pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk memperlambat  kemajuan proses penyakit, dan untuk mengatasi, obstruksi jalan napas untuk menghilangkan hipoksia. Pendekatan terapeutik mencakup:&lt;br /&gt;a.Tindakan pengobatan dimaksudkan untuk memperbaiki ventilasi dan menurunkan upaya bernapas&lt;br /&gt;b.Pencegahan dan pengobatan cepat terhadap infeksi&lt;br /&gt;c.Teknik terapi fisik untuk memelihara dan meningkatkan ventilasi pulmonari&lt;br /&gt;d.Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan pernapasan&lt;br /&gt;e.Dukungan psikologis&lt;br /&gt;f.Penyuluhan pasien dan rehabilitasi yang berkesinambungan&lt;br /&gt;g.Bronkodilator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bronkodilator diresepkan untuk mendilatasi jalan nafas karena preparat ini melawan edema mukosa maupun spasme muskular dan membantu mengurangi obstruksi jalan nafas serta memperbaiki pertukaran gas.Medikasi ini mencakup antagonis β-adrenergik (metoproterenol, isoproterenol) dan metilxantin (teofilin, aminofilin), yang menghasilkan dilatasi bronkial.&lt;br /&gt;Bronkodilator mungkin diresepkan per oral, subkutan, intravena, per rektal atau inhalasi. Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan, nebuliser.Bronkodilator mungkin menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan termasuk takikardia, disritmia jantung, dan perangsangan sisten saraf pusat. Metilxantin dapat juga menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti mual dan muntah.&lt;br /&gt;  Terapi Aerosol&lt;br /&gt;Aerosolisasi (proses membagi partikel mrnjadi serbuk yang sangat halus) dari bronkodilator salin dan mukolitik sering kali digunakan untuk  membantu dalam bronkodilatasi. Aerosol yang dinebulizer menghilangkan edema mukosa dan mengencerkan sekresi bronkial. Hal ini mempermudah proses pembersihan bronkhiolus, membantu mengendalikan proses inflamasi dan memperbaiki fungsi ventilasi.&lt;br /&gt; Pengobatan Infeksi&lt;br /&gt;Pasien dengan emfisema rentan dengan infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi seperti sputum purulen, batuk meningkat dan demam. Organisme yang paling sering adalah S. pneumonia, H. influenzae, dan Branhamella catarrhalis. Terapi antimikroba dengan  tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin atau trimetoprim-sulfametoxazol (Bactrim) mungkin diresepkan.&lt;br /&gt; Oksigenasi&lt;br /&gt;Terapi oksigen dapat  meningkatkan kelangsungan hidup pada pasien dengan emfisema berat. Hipoksemia berat diatasi dengan konsentrasi oksigen rendah untuk meningkatkan tekanan oksigen hingga antara 65 dan 80 mmHg. Pada emfisema berat, oksigen diberikan sedikitnya 16 jam perhari sampai 24 jam perhari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN&lt;br /&gt;a. Aktivitas/Istirahat&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Keletihan, kelelahan, malaise&lt;br /&gt;- Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit bernapas&lt;br /&gt;- Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi&lt;br /&gt;- Dispnea pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;- Keletihan, gelisah, insomnia&lt;br /&gt;- Kelemahan  umum/kehilangan massa otot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- pembengkakan pada ekstremitas bawah&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;- Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung/takikardia berat, disritmia, distensi vena leher&lt;br /&gt;- Edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit jantung&lt;br /&gt;- Bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan peningkatan diameter AP dada)&lt;br /&gt;- Warna kulit/membran mukosa: normal atau abu-abu/sianosis&lt;br /&gt;- Pucat dapat menunjukkan anemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Makanan/Cairan&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Mual/muntah, nafsu makan buruk/anoreksia (emfisema)&lt;br /&gt;- Ketidakmampuan untuk makan karena distres pernapasan&lt;br /&gt;- Penurunan berat badan menetap (emfisema), peningkatan berat badan menunjukkan edema (bronkitis)&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;- Turgor kulit buruk, edema dependen&lt;br /&gt;- Berkeringat, penuruna berat badan, penurunan massa otot/lemak subkutan (emfisema)&lt;br /&gt;- Palpitasi abdominal dapat menyebabkan hepatomegali (bronkitis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Hygiene&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;- Kebersihan, buruk, bau badan&lt;br /&gt;e. Pernafasan&lt;br /&gt;Gejala:       &lt;br /&gt;- Nafas pendek (timbulnya tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala menonjol pada   emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau episode berulangnya sulit nafas (asma), rasa dada tertekan, ketidakmampuan untuk bernafas (asma)&lt;br /&gt;- “Lapar udara” kronis&lt;br /&gt;- Bentuk menetap dengan produksi sputum setiap hari (terutama pada saat bangun) selama minimum 3 bulan berturut-turut tiap tahun sedikitnya 2 tahun. Produksi sputum (hijau, putih dan kuning) dapat banyak sekali (bronkitis kronis)&lt;br /&gt;- Episode batuk hilang timbul biasanya tidak produktif pada tahap dini meskipun dapat terjadi produktif (emfisema)&lt;br /&gt;- Riwayat pneumonia berulang: terpajan pada polusi kimia/iritan pernafasan dalam jangka panjang (mis., rokok sigaret) atau debu/asap (mis., abses, debu atau batu bara, serbuk gergaji)&lt;br /&gt;- Faktor keluarga dan keturunan, mis., defisiensi alfa-anti tripsin (emfisema)&lt;br /&gt;- Penggunaan oksigen pada malam hari atau terus menerus&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;- Pernafasan: biasanya cepat, dapat lambat, penggunaan otot bantu pernapasan&lt;br /&gt;- Dada: hiperinflasi dengan peninggian diameter AP, gerakan diafragma minimal&lt;br /&gt;- Bunyi nafas: mungkin redup dengan ekspirasi mengi (emfisema); menyebar, lembut atau krekels, ronki, mengi sepanjang area paru.&lt;br /&gt;- Perkusi: hiperesonan pada area paru&lt;br /&gt;- Warna: pucat dengan sianosis bibir dan dasar kuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Keamanan&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Riwayat reaksi alergi atau sensitif terhadap zat/faktor lingkungan&lt;br /&gt;- Adanya/berulangnya infeksi&lt;br /&gt;- Kemerahan/berkeringat (asma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Seksualitas&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Penurunan libido&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Interaksi sosial&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Hubungan ketergantungan, kurang sistem pendukung, ketidak mampuan membaik/penyakit lama&lt;br /&gt;Tanda:&lt;br /&gt;- Ketidakmampuan untuk/membuat mempertahankan suara pernafasan&lt;br /&gt;- Keterbatasan mobilitas fisik, kelainan dengan anggota keluarga lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Penyuluhan/Pembelajaran&lt;br /&gt;Gejala:&lt;br /&gt;- Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kesulitan menghentikan merokok, penggunaan alkohol secara teratur, kegagalan untuk membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIORITAS KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Mempertahankan patensi jalan napas&lt;br /&gt;2. Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas&lt;br /&gt;3. Meningkatkan masukan nutrisi&lt;br /&gt;4. Mencegah komplikasi, memperlambat memburuknya kondisi&lt;br /&gt;5. Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan program pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Jalan nafas inefektif b/d bronkospasme, peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental d/d pernyataan kesulitan bernapas, perubahan kedalaman/kecepatan bernapas, penggunaan otot bantu pernapasan, bunyi nafas tidak normal, mis., ronki, mengi, krekels; batuk (menetap) dengan/tanpa produksi sputum&lt;br /&gt;Kriteria Hasil: &lt;br /&gt;- Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih dan jelas.&lt;br /&gt;- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, mis., batuk efektif dan mengeluarkan sekret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;Mandiri:&lt;br /&gt;• Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas tambahan, mis., mengi, krekels, ronki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kaji/pantau frekuensi pernapasan, catat rasio inspirasi/ekspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Catat adanya derajat dispnea, ansietas, distres pernapasan, penggunaan otot bantu napas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tempatkan/atur posisi pasien senyaman mungkin, mis., peninggian kepala tempat tidur 15-30°, duduk pada sandaran tempat tidur.&lt;br /&gt;• Pertahankan udara lingkungan/minimalkan polusi lingkungan, mis., debu, asap, dll.&lt;br /&gt;• Bantu latihan napas abdomen atau bibir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. Berikan/anjurkan minum air hangat.&lt;br /&gt;Kolaborasi:&lt;br /&gt;• Berikan obat-obatan sesuai indikasi, mis., bronkodilator&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan adanyan bunyi napas advertisius.&lt;br /&gt;• Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapt ditemukan pada penerimaan atau selama stres/adanya proses infeksi akut.&lt;br /&gt;• Disfungsi pernapasan adalah variabel yang tergantung pada tahap proses akut yang menimbulkan perawatan di Rumah Sakit.&lt;br /&gt;• Peninggian kepala tempat tidur memudahkan fungsi pernapasan dengan menggunakan gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan dapat mentriger episode akut.&lt;br /&gt;• Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara&lt;br /&gt;• Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret, penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Merilekskan otot halus dan menurunkan spasme jalan napas, mengi, dan produksi mukosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas) oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara, kerusakan alveoli d/d dispnea, bingung, gelisah,  ketidakmampuan mengeluarkan sekret nilai GDA tidak normal (hipoksia dan hiperkapnea), perubahan tanda vital, penurunan toleransi terhadap aktivitas.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil: &lt;br /&gt;- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernapasan.&lt;br /&gt;- Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan/situasi.  &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;• Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan, catat penggunaan otot bantu pernapasan, napas bibir.&lt;br /&gt;• Tinggikan kepala tempat tidur, bantu klien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas, dorong nafas dalam perlahan&lt;br /&gt;• Kaji / awasi secara rutin kulit dan warna membran mukosa&lt;br /&gt;• Anjurkan mengeluarkan sputum, penghisapan bila diindikasikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Auskultasi bunyi nafas, cata area penurunan udara/bunyi tambahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Awasi tanda vital dan irama jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolaborasi&lt;br /&gt;• Berikan oksigen sesuai indikasi&lt;br /&gt;• Berikan penekan SSP (anti ansietas sedatif atau narkotik) dengan hati-hati sesuai indikasi • Berguna dalam evaluasi derajat distres pernafasan/kronisnya proses penyakit&lt;br /&gt;• Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk menurunkan kolaps paru&lt;br /&gt;• Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku)&lt;br /&gt;• Sputum kental, tebal serta banyaknya sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan bila batuk tidak efektif&lt;br /&gt;• Bunyi nafas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi, adanya mengidentifikasi spasme bronkus&lt;br /&gt;• Takikardi, disritmia dan penurunan td dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia&lt;br /&gt;• Untuk mengontrol ansietas/gelisah yang meningkatkan konsumsi/kebutuhan oksigen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d dispnea, efek samping obat, produksi sputum, anoreksia, mual/muntah d/d penurunan berat badan, kehilangan massa otot, tonus otot buruk, kelemahan, keengganan untuk makan.&lt;br /&gt;Kriteri hasil: &lt;br /&gt;- Menunjukkan BB meningkatkat&lt;br /&gt;- Mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas tanda malnutrisi.&lt;br /&gt;- Melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk menngkatkan dan mempertahankan BB yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;• Catat status nutrisi pasien pada penerimaan , catat turgor kulit, BB dan derajat kekurangan BB, ketidakmampuan menelan.&lt;br /&gt;• Pastikan pola diet biasa pada pasien yang disukai/tidak disukai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Awasi pemasukan/pengeluaran dan BB secara periodik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Selidiki anoreksia, mual dan muntah. Catat kemungkinan dengan obat, awasi frekuensi, volume, konsistensi feses.&lt;br /&gt;• Berikan periode istirahat sering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Berikan perawatan mulut &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Hindari makanan penghasi gas dan minuman karbonat. Hindari makanan yang sangat panas dan sangat dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Anjurkan makan sedikit tapi sering dengan makanan TKTP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Motivasi orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah dan untuk membagi dengan pasien kecuali kontraindikasi&lt;br /&gt;Kolaborasi&lt;br /&gt;• Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kaji/observasi nilai pemeriksaan Laboratorium, mis., profil asam amino, besi, glukosa, pemeriksaan fungsi hati dan elektrolit. Berikan vitamin/mineral/elektrolit sesuai indikasi • Berguna dalam mendefinisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan khusus. Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet.&lt;br /&gt;• Berguna dalam mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.&lt;br /&gt;• Dapat mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan pemasukan nutrien.&lt;br /&gt;• Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam.&lt;br /&gt;• Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputum/obat yang merangsang pasien muntah. &lt;br /&gt;• Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu napas abdomen dan gerakan diafragma. Suhu yang ekstrim dapat meningkatkan spasme batuk&lt;br /&gt;• Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan, menurunkan iritasi gaster.&lt;br /&gt;• Membuat lingkungan sosial lebih normal selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat&lt;br /&gt;• Mengevaluasi/mengatasi kekurangan dan mengawasi keefektifan terapi nutrisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia, menetapnya sekret), tidak adekuatnya imunitas (kerusakan jaringan dan peningkatan pemajanan terhadap lingkungan, proses penyakit kronis dan malnutrisi.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil: &lt;br /&gt;- Pasien akan mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi&lt;br /&gt;- Perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;Mandiri:&lt;br /&gt;• Kaji dan awasi suhu tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kaji pentingnya latihan napas, batuk efektif, perubahan posisi sering dan masukan cairan adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Observasi warna, karakter dan bau sputum&lt;br /&gt;• Diskusikan kebutuhan nutrisi adekuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolaborasi:&lt;br /&gt;• Dapatkan spesimen sputum dengan batuk dan pengisapan untuk pewarnaan gram, /kultur/sensitifitas&lt;br /&gt;• Berikan anti mikrobial sesuai indikasi &lt;br /&gt;• Demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi&lt;br /&gt;• Aktivitas ini meningkatkan mobilisasi dan pengeluaran sekret untuk menurunkan terjadinya resiko infeksi paru&lt;br /&gt;• Sekret berbau, kuning atau kehijauan menunjukkan adanya infeksi paru&lt;br /&gt;• Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dikakukan untuk mengidentifikasi organisme penyebab dan kerentanan terhadap berbagai anti mikrobial&lt;br /&gt;• Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas atau diberikan secara profilaktik karena resiko tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakit dan tindakan perawatan b/d kurang informasi/tidak mengenal sumber informasi d/d pertanyaan tentang informasi, tidak akurat mengikuti instruksi&lt;br /&gt;Kriteria Hasil: &lt;br /&gt;- Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan&lt;br /&gt;- Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;• Jelaskan tentang proses penyakit individu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Instruksikan rasional untuk latihan napas, batuk efektif, dan latihan kondisi umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Diskusikan pentingnya menghindari orang yang sedang infeksi pernapasan aktif&lt;br /&gt;• Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan meghentikan merokok pada pasien dan atau orang terdekat&lt;br /&gt;• Diskusikan obat pernapasan, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan&lt;br /&gt;• Tunjukkan/ajarkan teknik penggunaan inhaler • Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan&lt;br /&gt;• Napas bibir dan napas perut (abdominal) menguatkan otot pernapasan, membantu meminimalkan kolaps jalan napas kecil. Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas, kekuatan otot dan rasa sehat&lt;br /&gt;• Menurunkan pemajanan dan insiden mendapatkan infeksi saluran pernapasan atas&lt;br /&gt;• Penghentian rokok dapat menghambat kemajuan PPOM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pentung bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan&lt;br /&gt;• Pemberian obat yang tepat meningkatkan keefektifannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAAF SEBELUMNYA KARENA PENYUSUNANNYA MASIH RANCU.. BELOM DI SEMPURNAKAN..&lt;br /&gt;MAKASIH.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-5375547318214356913?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/5375547318214356913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/11/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/5375547318214356913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/5375547318214356913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/11/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN  PADA PASIEN DENGAN EMFISEMA'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4216199112652042448</id><published>2009-11-07T02:20:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T02:41:01.825-08:00</updated><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn H DENGAN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI PADA KLIEN SKIZOPRENIA PARANOID EPS BERULANG DI RUANGAN BUKIT BARISAN  RSJ PEMPROVSU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SvVMCP5pxzI/AAAAAAAAAIM/6UKnykKtc38/s1600-h/Picture2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 179px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SvVMCP5pxzI/AAAAAAAAAIM/6UKnykKtc38/s200/Picture2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401306929612572466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN PROFESI NERS&lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)&lt;br /&gt;DELI HUSADA-DELITUA&lt;br /&gt;2 0 0 9&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KONSEP DASAR &lt;br /&gt;I.  Pengetian &lt;br /&gt;Menarik diri adalah penilaian yang salah tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri pencapaian ideal diri /cita-cita /harapan langsung menghasilkan perasaan berharga .Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan diri sendiri maupun dari orang lain.Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima,dicintai,dihormati oleh orang lain,serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya (Hidayat,2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Erikson (1963 dikutip dari Potter dan Perry,2005),anak-anak kecil mulai mengembangkan rasa berguna dengan cara belajar untuk bertindak berdasarkan inisiatif mereka sendiri.Contoh seorang anak yang sangat pandai dalam mata pelajaran matematika akan merasa nyaman untuk mengerjakan soal-soal matematika dabandingkan dengan temannya yang lain.Hal ini dapat meningkatkan harga diri anak tersebut.Sebaliknya,bila seorang anak yang baru pindah kesekolah baru dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan teman sekelasnya,maka harga dirinya dapat menurun sampai anak tersebut mencapai kembali kepercayaan dirinya didalam lingkungan yang baru.&lt;br /&gt;Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi.&lt;br /&gt;Empat cara meningkatkan harga diri :&lt;br /&gt;1. Memberi kesempatan berhasil&lt;br /&gt;2. Menanamkan gagasan&lt;br /&gt;3. Mendorong aspirasi&lt;br /&gt;4. Membantu membentuk koping&lt;br /&gt;Menurut Body (2005), individu yang memiliki harga diri yang positif akan lebih percaya diri unuk mencoba perilaku sehat yang baru dan sangat kecil kemungkinan untuk mengalami depresi. Sedangkan terhadap diri sendiri,hilang kepercayaan diri,dan merasa gagal mencapai keinginan. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Potter dan Perry (2005) bahwa seorang dengan harga diri yang tinggi cenderung menunjukkan keberhasilan yang dirahikan sebagai kualitas dan upaya pribadi. Ketika berhasil,seorang individu dengan harga diri yang rendah cenderung mengatakan bahwa keberhasilan yang diraihnnya adalah atas bantun orang lain dan bukan karena kemampuannya sendiri.individu yang harga dirinya rendah akan merasa tidak derdaya,frustasi,depresi,dan menjadi korban. Individu yang harga dirinya rendah sangat rentan terhadap tekanan akibat stres. Sementara itu, individu yang memiliki harga diri yang positif akan memperlihatkan keyakinan diri dan menunjukkan antusiasme pada suatu kegiatan dan dapat mengatasi rasa frutasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stuart dan Laraia (2001) menyatakan bahwa harga diri sangat terancam selama masa remaja. Pada masa ini harga diri remaja akan mengalami banyak perubahan,karena pada masa ini banyak keputusan yang baru dibuat remaja menyangkut dirinya sendiri. Remaja dituntut untuk menentukan pilihan sendiri,dan memutuskan apakah remaja mampu meraih sukses dibidang kegiatan yang dipilihnya, dan apakah remaja dapat berpartisipasi atau diterima diberbagai macam aktivitas sosial. Harga diri akan stabil pada masa dewasa dan dapat memberikan kejelasan pada gambaran diri individu dewasa. Karena pada periode ini,individu dewasa lebih mudah untuk menerima dirinya dan lebih idealis dibandingkan usia remaja. Individu dewasa mampu belajar untuk mengatasi segala kelemahannya dan mampu mengoptimalkan kekuatan yang ada pada dirinya. Pada lansia, gangguan harga diri akan muncul kembali karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia antara lain memasuki masa pensiun,kehilangan pasangan dan kelemahan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi secara:&lt;br /&gt;1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba,misalnya harus operasi,kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba}.&lt;br /&gt;Gangguan pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena:&lt;br /&gt;a) Privacy yang kurang diperhatikan, misalnya: pemeriksaan fisik yangsembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan kateter, pemeriksaan perineal}.&lt;br /&gt;b) Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat/sakit/penyakit.&lt;br /&gt;c) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan. Kondisi ini banyak ditemukan pada gangguan fisik.&lt;br /&gt;2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berpikir yang negatif. Kejadia sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respons yang maladaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. LANDASAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. PENGKAJIAN &lt;br /&gt;Tanda dan gejala yang dapat dikaji:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap penyakit. Misalnya: malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi sinar pada kanker.&lt;br /&gt;2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : “ini tidak akan terjadi jika saya segera kerumah sakit,”menyalahkan/mengejek dan mengkritik diri sendiri.&lt;br /&gt;3. Merendahkan martabat. Contoh : “saya tidak bisa”. “saya orang bodoh dan tidak tahu apa-apa”. Serta ”saya tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar.’&lt;br /&gt;4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klein tidak ingin bertemu dengan orang lain, lebih suka sendiri.&lt;br /&gt;5. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan , misalnya tentang memilih alternatif tindakan.&lt;br /&gt;6. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.&lt;br /&gt;Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga , tidak berarti, dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah gejala harga diri rendah :&lt;br /&gt;a) Mengkritik diri sendiri&lt;br /&gt;b) Perasaan tidak mampu&lt;br /&gt;c) Pandangan hidup yang pesimis&lt;br /&gt;d) Penurunan produktivitas&lt;br /&gt;e) Penolakan terhadap kemampuan diri&lt;br /&gt;Selain data diatas, perawat dapat juga mengamati penampilan seseorang dengan harga diri rendah, terlihat dari kurang memperhatikan perawtan diri, berpakaian tidak rapi, selera makan kurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat dengan nada suara lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Berdasarkan data diatas, yang didapat melalui observasi, wawancara, atau pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder, maka perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Isolasi sosial menarik diri&lt;br /&gt;2. Harga diri rendah&lt;br /&gt;3. Depisit perawatan diri&lt;br /&gt;4. Intoleransi aktivitas&lt;br /&gt;5. Regimen Therapeutik efektif&lt;br /&gt;6. Gangguan komunikasi verbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;I. Tindakan keperawatan pada klien:&lt;br /&gt;a. Tujuan&lt;br /&gt;1. klien dapat mengidentifikasikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki&lt;br /&gt;2. klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan&lt;br /&gt;3. klien dapat berlatih kegiatan yang telah dipilih, sesuai kemampuan&lt;br /&gt;4. klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan&lt;br /&gt;5. klien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tindakan keperawatan:&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien&lt;br /&gt;- diskusikan bahwa klien masih memiliki sejumlah kemampuan dan aspek positif, &lt;br /&gt;- beri pujian yang realistik/nyata dan hindarkan setiap kali bertemu kliendengan penilaian negatif&lt;br /&gt;2. Membantu klien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan &lt;br /&gt;- mendiskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini setelah mengalami bencana&lt;br /&gt;- bantu klien menyebutkannya dan memberi kekuatan terhadap kemampuan dirinya&lt;br /&gt;- perlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengan yang aktif&lt;br /&gt;3. Membantu klien dapat memilih/menetapkan kegiatan sesuai dengan kemampaun.&lt;br /&gt;- mendiskusikan dengan klien beberapa aktifitas yang dapat dilakukan dan dipilih sebagai kegiatan yang akan klien lakukan sehari-hari.&lt;br /&gt;- bantu klien menetapkan aktivitas mana yang dapat klien lakukan secara mandiri, mana aktivitas yang memerlukan bantuan minimal dari perawat dan aktivitas mana yang menggunakan bantuan penuh.&lt;br /&gt;4. Melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai kemampuan&lt;br /&gt;- mendiskusikan dengan klien untuk menerapkan urutan kegitan (yang sudah dipilih klien) yang akan dilatihkan.&lt;br /&gt;- bersama klien dan keluarga memperagakkan beberapa kegiatan yang akan dilakukan klien.&lt;br /&gt;- berikan dukungan dan pujian yang nyata setiap kemajuan yang diperlihatkan klien.&lt;br /&gt;5. Membantu klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan  kemampuannya dan menyusun rencana kegiatan.&lt;br /&gt;- memberikan kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah di latihkan.&lt;br /&gt;- beri pujian atas aktivitas/kegiatan yang dapat dilakukan klien setiap hari.&lt;br /&gt;- tingkatkan kegiatan sesuai dengan tingkat toleransi dan perubahan setiap aktifitasnya&lt;br /&gt;- susun daftar kegiatan yang sudah dilatih bersama klien dan keluarga &lt;br /&gt;- beri kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan&lt;br /&gt;- yakinkan bahwa keluarga mendukung setiap aktivitas yang dilakukan klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tindakan keperawatan pada keluarga&lt;br /&gt;b. Tujuan: &lt;br /&gt;1. keluarga dapat menmbantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki&lt;br /&gt;2. keluarga mempasilitasi aktivitas klien yang sesuai kemampuan&lt;br /&gt;3. keluarga memotivasi klien untuk melakukan kegiatan  sesuai dengan latihan yang dilakukan, dan memberikan pujian atas keberhasilan klien &lt;br /&gt;4. keluargamampu menilai perkembangan perubahan kemampuan klien&lt;br /&gt;b. Tindakan keperawatan:&lt;br /&gt;1. jelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada klien.&lt;br /&gt;2. diskusikan dengan keluarga kemampuan yang dimiliki klien dan memuji klien atas kemampuannya .3. anjurkan keluarga untuk memotivasi klien dalam melakukan kegiatan yang sudah dilatih klien dan perawat&lt;br /&gt;4. ajarkan keluarga cara mengamati perkembangan perubahan perilaku klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. EVALUASI&lt;br /&gt;1. Kemampuan yang diharapkan dari klien:&lt;br /&gt;a. Klien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki&lt;br /&gt;b. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat di kerjakan &lt;br /&gt;c. Klien dapat melatih kemampuan yang dapat di kerjakan &lt;br /&gt;d. Klien dapat membuat jadwal harian&lt;br /&gt;e. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kegiatan harian&lt;br /&gt;2. Kemampuan yang di harapkan oleh keluarga&lt;br /&gt;a. mengidentifikasi kemampuan klien &lt;br /&gt;b. menyediakan fasilitas untuk klien untuk klien dapat melakukan kegiatan&lt;br /&gt;c. mendorong klien melakukan kegiatan&lt;br /&gt;d. memuji klien saat klien dapat melakukan kegiatan&lt;br /&gt;e. membantu melatih klien&lt;br /&gt;f. membantu penyusunan jadwal kegiatan klien&lt;br /&gt;g. memantau perkembangan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN KASUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Ruang Rawat : Bukit barisan    Tanggal dirawat : 07-10-09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. DENTITAS&lt;br /&gt;a. Inisial : Tn. H    (L/P) Tgl Pengkajian : 15 oktober 2009&lt;br /&gt;b. Umur : 35 tahun   RM : 00 01 80 &lt;br /&gt;c. Informasi : Klien dan status&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. ALASAN MASUK&lt;br /&gt;Klien sering bingung, suka melamun, suka menyendiri, tidak mau mandi, ketawa sendiri, mondar-mandir di tempat dan klien pernah melakukan pemukulan terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. FAKTOR PREDISPOSISI&lt;br /&gt;1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu? (  √  ) Ya (   ) Tidak&lt;br /&gt;2. Pengobatan sebelumnya. (   ) Berhasil (  √ ) Kurang berhasil (   ) Tidak berhasil&lt;br /&gt;3. Perilaku  Pelaku/usia Korban/usia Saksi/usia&lt;br /&gt;a. Aniaya fisik  (........./.......) (........./.......) (........./.......)&lt;br /&gt;b. Aniaya seksual (........./.......) (........./.......) (........./.......)&lt;br /&gt;c. Penolakan   (........./.......) (........./.......) (........./.......)&lt;br /&gt;d. Kekerasan dalam keluarga (........./.......) (........./.......) (........./.......)&lt;br /&gt;e. Tindakan Kriminal (........./.......) (........./.......) (........./.......)&lt;br /&gt;Jelaskan No. 1,2,3: Klien pernah mengalami gangguan jiwa dan di rawat di RSJ, Karena tidak minum obat, klien kambuh lagi dari ruangan bukit barisan ke RSJ Medan&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan: Regimen terapiutik inefektif&lt;br /&gt;4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?&lt;br /&gt;(   ) Ya  (  √ ) Tidak&lt;br /&gt;Hubungan Keluarga  Gejala Riwayat  Pengobatan/perawatan&lt;br /&gt;...............................  ...............................  ...............................&lt;br /&gt;...............................  ..............................  ...............................&lt;br /&gt;...............................  ...............................  ...............................&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan yang di temukan&lt;br /&gt;5. Pengalaman masalalu yang tidak menyenangkan:&lt;br /&gt;Klien menyatakan kecewa terhadap keluarganya, karena tidak peduli dengannya.&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan: Harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. FISIK&lt;br /&gt;1. Tanda Vital : TD:120/80 mmhg N80x/i S 36oC P 20x/ menit&lt;br /&gt;2. Ukur: TB195 cm BB 55 kg&lt;br /&gt;3. Keluhan Fisik: (   ) Ya  (  √ ) Tidak &lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. PSIKOSOSIAL&lt;br /&gt;1. Genogram&lt;br /&gt;      Ket:  &lt;br /&gt;        Orgtua lakilaki&lt;br /&gt;                         Orgtua perempuan&lt;br /&gt;         Klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaskan : Klien anak ke 7 dari 7 bersaudara, ke-1 perempuan dan sehat, ke-2 laki-laki sehat, ke-3 laki-laki sehat, ke-4 perempuan dan sehat, ke-5 laki-laki sehat, ke-6 laki-laki sehat, ke-7 laki-laki yang menderita gangguan jiwa. Keluarga memasukkan ke RSJ medan karena dijauhi keluarga dan disingkirkan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.&lt;br /&gt;2. Konsep Diri&lt;br /&gt;a. Gambaran Diri: Klien merasa senang dengan tubuhnya, terutama bagian wajahnya dan badannya,.&lt;br /&gt;b. Identitas: Klien merasa tidak puas dengan dirinya &lt;br /&gt;c. Peran: Klien menyatakan kecewa dengan dirinya karena tidak dapat melaksanakan peran sebagai anak.&lt;br /&gt;d. Ideal Diri: Klien menyatakan ingin menjadi orang yang sukses dan ingin cepat sembuh.&lt;br /&gt;c. Harga diri: Klien jarang bersosialisasi dengan tetangganya karena klien merasa terasing karena mengalami gangguan jiwa.&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Gangguan konsep diri, harga diri rendah.&lt;br /&gt;3. Hubungan Sosial: &lt;br /&gt; a. Orang yang berarti: Orang tuanya atau ibunya&lt;br /&gt;b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/sosial: peran serta dalam kegiatan pokok/sosial: klien jarang ikut dalam kegiatan kelompok/ masyarakat.&lt;br /&gt;c. Hambatan dalam hubungan dengan orang lain: Kurang percaya diri terhadap diri sendiri, karena klien lebih suka diam.dan mengatakan malu bergaul dengan orang lain&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. STATUS MENTAL &lt;br /&gt;1. Penampilan &lt;br /&gt;(  √ ) Tidak rapi (   ) Penggunaan pakaian tidak sesuai (   ) Berpakaian tidak seperti biasanya &lt;br /&gt;Jelaskan : Klien tidak rapi, baju klien terlihat terbalik, kusam, kotor, rambut kusut dan kuku terlihat kotor&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Defisit perawatan diri.&lt;br /&gt;2. Pembicaraan &lt;br /&gt;(   ) Cepat keras  (   ) Gugup  (   ) Inkoheren&lt;br /&gt;(   ) Apatis  (  √ ) Lambat  (   ( Membisu&lt;br /&gt;(   ) Tidak mampu mulai pembicaraan &lt;br /&gt;Jelaskan : Klien selama berkomunikasi secara kontak mata, klien menjawab dengan lambat.&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Gangguan Komunikasi Verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aktivitas Motorik&lt;br /&gt;(   ) Lesu (   ) Tegang (   ) Inkoheren  (   ) Agitasi&lt;br /&gt;(   ) Tik (   ) Grimasem (  √ ) Tremor  (   ) Kompulsip&lt;br /&gt;Jelaskan : Tangan Klien gemetar saat diajak bersalaman, dan pada saat beraktifisa klien tampak tremor.&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Gangguan aktivitas motorik/intoleransi aktivitas.&lt;br /&gt;4. Alam perasaan :&lt;br /&gt;(  √ ) sedih  (   ) ketakutan  (   ) putus asa  (   ) gembira &lt;br /&gt;Jelaskan : Klien merasa keluarga tidak peduli dengannya dan klien terlihat sedih karena berada di RSJ medan.&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Harga diri rendah.&lt;br /&gt;5. Afek&lt;br /&gt;(  √ ) datar (   ) tumpul (   ) labil (   ) tidak sesuai&lt;br /&gt;Jelaskan : ekspresi wajah klien datar, klien kadang-kadang termenung.&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri.&lt;br /&gt;6. Interaksi selama wawancara&lt;br /&gt;(   ) bermusuhan (  √ ) tidak kooperatif (   ) mudah tersinggung&lt;br /&gt;(   ) curiga`  (   ) defenitif  (   ) kontak mata kurang&lt;br /&gt;Jelaskan : Klien tampak tidak kooperatif saat di ajak berbicara kontak mata (-) suka menunduk&lt;br /&gt;Masalah Keperawatan : Isolasi sosial menarik diri. &lt;br /&gt;7. Persepsi halusinasi &lt;br /&gt;(   ) pendengaran (   ) penglihatan (   ) perabaan &lt;br /&gt;(   ) pengecapan  (   ) penciuman &lt;br /&gt;Jelaskan : Klien tidak mengalami halusinasi terbukti dengan klien tidak melihat/mendengar suara-suara yang aneh.&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan.&lt;br /&gt;8. Proses pikir&lt;br /&gt;(   ) sirkumtansia (   ) tangensial  (   ) kehilangan asosiasi&lt;br /&gt;(   ) flig if ideas (   ) bloking  (   ) pengulangan pembicaraan &lt;br /&gt;Jelaskan : Selama wawan cara klien dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan topik pembicaraan.&lt;br /&gt;Masalah keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan.&lt;br /&gt;9. Isi pikir&lt;br /&gt;(   ) obsesi (   ) fobia (   ) hipokondria&lt;br /&gt;(   ) derpersonalisasi (   ) ide yang terkait pikiran magis&lt;br /&gt;Waham :&lt;br /&gt;(   ) agama (   ) somatik (   ) kebesaran  (   ) curiga&lt;br /&gt;(   ) nihilistik (   ) sisip pikir (   ) siar pikir  (   ) kontrol pikir&lt;br /&gt;Jelaskan :&lt;br /&gt;klien tidak ada masalah dalam dalam gangguan waham&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.&lt;br /&gt;10. Tingkat kesadaran &lt;br /&gt;(   ) bingung  (   ) sedasi  (   ) stupor disorientasi&lt;br /&gt;(   ) waktu  ( √  ) tempat   (   ) orang&lt;br /&gt;Jelaskan &lt;br /&gt; Klien tau bahwa ia berada di RSJ Medan&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.&lt;br /&gt;11. Memori&lt;br /&gt;(   ) gangguan daya ingat jangka panjang &lt;br /&gt;(   ) gangguan daya ingat saat ini konfabulasi &lt;br /&gt;Jelaskan : Klien masih ingat kejadian yang ia alami masa lalu dan sekarang.&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.&lt;br /&gt;12. Tingkat konsentrasi dan berhitung&lt;br /&gt;(   ) mudah beralih (   ) tidak mampu berkonsentrasi&lt;br /&gt;(   ) tidak mampu berhitung sederhan &lt;br /&gt;Jelaskan: Klien mampu berhitung 20-100&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak ada masalah keperawatan yang ditemukan.&lt;br /&gt;13. Kemampuan penilaian &lt;br /&gt;(   ) gangguan ringan   (   ) gangguan bermakna&lt;br /&gt;Jelaskan : Klien dapata membedakan antara kotor dan bersih..&lt;br /&gt;Masalah keperawatan: Tidak terdapat masalah keperawatan..&lt;br /&gt;14. Daya tilik diri&lt;br /&gt;(   ) mengingkari penyakit yang diderita (   ) menylahkan hal diluardirinya&lt;br /&gt;Jelaskan : Klien tidak menunjukkan adanya gangguan daya tilik diri.&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Tidak terdapat masalah keperawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. KEBUTUHAN PERSONAL&lt;br /&gt;1. Makan&lt;br /&gt;(  √ ) bantuan minimal  (   ) bantuan total&lt;br /&gt;2. Bak / Bab&lt;br /&gt;(  √ ) bantuan minimal  (   ) bantuan total &lt;br /&gt;3. Mandi&lt;br /&gt;(  √ ) bantuan minimal   (   ) bantuan total &lt;br /&gt;4. Berpakaian / berhias&lt;br /&gt;(  √ ) bantuan minimal   (   ) bantuan total &lt;br /&gt;5. Intirahat tidur&lt;br /&gt;(   ) tidur siang lama : 14-00 s/d 15-00 WIB&lt;br /&gt;(   ) tidur malam :  20-00 s/d 05-00 WIB&lt;br /&gt;6. Penggunaan obat&lt;br /&gt;(  √ ) bantuan minimal  (   ) bantuan total&lt;br /&gt;7. Pemeliharaan Kesehatan&lt;br /&gt;Ya   Tidak&lt;br /&gt; Keperawatan lanjutan    (  √ )   (   )&lt;br /&gt; Sistem pendukung    (  √ )   (   ) &lt;br /&gt;8. Kegitan didalam rumah &lt;br /&gt;Ya   Tidak &lt;br /&gt; Mempersiapkan makanan   (   )   (  √ )&lt;br /&gt; Menjaga kerapian rumah   (   )    (  √ ) &lt;br /&gt; Mencuci pakaian     (   )    (  √ ) &lt;br /&gt; Pengaturan uang     (   )    (  √ ) &lt;br /&gt;9. Kegiatan diluar rumah &lt;br /&gt;Ya    Tidak&lt;br /&gt; Belanja      (   )    (  √ ) &lt;br /&gt; Trnfortasi      (   )    (  √ )&lt;br /&gt; Lain-lain     (   )    (  √ ) &lt;br /&gt; Jelaskan : Klien malas keluar rumah dan bergaul dengan orang lain.&lt;br /&gt; Masalah keperawatan : Isolasi sosial menarik diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. MEKANISME KOPING&lt;br /&gt;   Adaptif    Maladaptif&lt;br /&gt; (  √ ) berbicara dengan orang lain   (  √ ) minum alkohol&lt;br /&gt; (   ) mampu menyelesaikan masalah   (  √ ) reasksi lambat&lt;br /&gt; (   ) tehnik relaksasi    (   ) berkerja berlebihan &lt;br /&gt; (   ) aktivitas konstruktif    (   ) menghindar&lt;br /&gt; (  √ ) olah raga      (   ) menciderai diri&lt;br /&gt; (   ) lainnya&lt;br /&gt; Masalah keperawatan : Koping Individu inefektik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XI. MASALAH PSIKOLOGI SOSIAL &lt;br /&gt;a. Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik&lt;br /&gt;Klien merasa teman nya menghindar/menjauhi dirinya setelah sakit.&lt;br /&gt;b. Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik:&lt;br /&gt;Klien tidak terima berada di RSJ Medan&lt;br /&gt;c. Masalah dengan pendidikan, spesifik Klien tamatan SMU&lt;br /&gt;d. Masalah dengan pekerjaan, spesifik&lt;br /&gt;Klien pernah bekerja di suatu pabrik dan sekarang sudah berhenti&lt;br /&gt;e. Masalah dengan perumahan, spesifik&lt;br /&gt;Klien tinggal bersama orang tua, rumah milik peribadi&lt;br /&gt;f. Masalah dengan ekonomi, spesifik&lt;br /&gt;Klien memiliki masalah ekonomi yang cukup dan biaya pengobatan di tanggung oleh orang tua.&lt;br /&gt;g. Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik&lt;br /&gt;Klien tidak mempunyai masalah dengan pelayanan kesehatan..&lt;br /&gt;h. Masalah lainnya, spesifik&lt;br /&gt;Masalah keperawatan : Gangguan hubungan sosial menarik diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X. PENGETAHUAN KURANG TENTANG&lt;br /&gt; (  √ ) penyakit jiwa    (  √ ) sistem pendukung &lt;br /&gt; (   ) faktor presipitasi    (   ) penyakit fisik&lt;br /&gt; (  √ ) Koping     (  √ ) obat-obatan &lt;br /&gt; (   ) Lainnya &lt;br /&gt; Masalah keperawatan: Koping individu inefektif .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;XI. ASPEK MEDIK&lt;br /&gt; Diagnosa medik : Skizoprenia Paranoid episode berulang  &lt;br /&gt; Terapi Medik: Cparpromazin 100 mg 3x1&lt;br /&gt;   Trihexyphenidry 2 mg 2x1&lt;br /&gt;   Halopheridole 5 mg  2x1&lt;br /&gt;1. CPZ (Cparpromazin)&lt;br /&gt;Indikasi: untuk sindrom psikis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi mental, waham halusinasi, gangguan perasaan, perilaku yang aneh dan tidak terkendali, berdaya berat dalam kehidupan sehari-hari tidak mau bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.&lt;br /&gt;Komposisi: Tiap tablet mengandung Clorpromazine HCL 25 mg, Clorpromazine 5 mg&lt;br /&gt;2. THP (Trihexyphenidry)&lt;br /&gt;Indikasi: sekala jenis penyakit parkinson, termasuk ensepalitis dan indiopatik, sindrom prankinson akibat obat misalnya reserpina dan fenitiazine.&lt;br /&gt;Komposisi: tiap tablet mengandung Trihexyphenidril hidroklorida 2 mg&lt;br /&gt;3. HLP (Halopheridole)&lt;br /&gt;Indikasi: berdaya berat dalam menilai kemampuan realita dan fungsi nertal serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Komposisi: Tiap tablet mengandung 0,5 mg Haloperidol, &lt;br /&gt;DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN &lt;br /&gt;Isolasi sosial menarik diri &lt;br /&gt;Harga diri rendah&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri&lt;br /&gt;Intoleransi aktivitas&lt;br /&gt;Gangguan komunikasi perbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALISA DATA&lt;br /&gt;DATA MSALAH&lt;br /&gt;SUBJEKTIF:&lt;br /&gt;Klien mengatakan tidak suka berada di rumah sakit jiwa.&lt;br /&gt;Klien mengatakan takut dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;OBJEKTIF:&lt;br /&gt;Klien suka melamun,&lt;br /&gt;Klien tampak sedih,&lt;br /&gt;Klien suka menyendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUBJEKTIF:&lt;br /&gt;Klien mengatakan malu saat wawancara dengan perawat&lt;br /&gt;Klien mengatakan malu untuk bergabung dengan teman-temannya&lt;br /&gt;OBJEKTIF:&lt;br /&gt;Klien menunduk saat menjawab pertanyaan perawat&lt;br /&gt;Kontak mata kurang menjawab pertanyaan perawat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUBJEKTIF:&lt;br /&gt;Klien mengatakan malas mandi&lt;br /&gt;Klien mengatakan tidak ada sabun  mandi&lt;br /&gt;OBJEKTIF:&lt;br /&gt;Klien tampak kotor&lt;br /&gt;Rambut tidak pernah di sisir &lt;br /&gt;Pakaian tampak kotor Isolasi sosial menarik diri&lt;br /&gt;Harga diri rendah&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri&lt;br /&gt;POHON MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Isolasi sosial menarik diri&lt;br /&gt;2. Harga diri rendah&lt;br /&gt;3. Defisit perawatan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Diagnosa keperawatan Rencana tindakan keperawatan&lt;br /&gt;1. Isolasi sosial menarik diri&lt;br /&gt; Strategi pertemuan I&lt;br /&gt;1. mengidentifikasi penyebab isolasi sosial (teman yang disukai, yang tidak disukai, alasan)&lt;br /&gt;2. menyebutkan keuntungan dan kerugian dari interaksi dari orang lain&lt;br /&gt;3. latih perkenalan dengan orang lain&lt;br /&gt;4. masukan jadwal kegitan klien &lt;br /&gt;Strategi pertemuan II&lt;br /&gt;1. mengevaluasi latiahan I&lt;br /&gt;2. melatih hubungan secara bertahap ( 1dan 2 orang).&lt;br /&gt;3. masukkan jadwal kegiatan klien &lt;br /&gt;Strategi pertemuan III&lt;br /&gt;1. mengevalusi latihan 1-2&lt;br /&gt;2. mngedentifikasi kemampuan klien melatih klien melakukan aktifitas yang berhubungan dengan orang lain &lt;br /&gt;4. masukkan jadwal kegiatan klien&lt;br /&gt;Strategi pertemuan IV&lt;br /&gt;1. evaluasi latihan 1,2,3&lt;br /&gt;2. jelaskan kegunaan obat&lt;br /&gt;3. melatih klien minum obat dengan prinsip 5 benar&lt;br /&gt;4. masukkan jadwal kegiatan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Diagnosa keperawatan Rencana tindakan keperawatan&lt;br /&gt;2.  Gangguan konsep diri: Harga diri rendah Strategi pertemuan I&lt;br /&gt;1. mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien&lt;br /&gt;2. membantu klien menilai kemampuan klien yang masih dapat digunakan &lt;br /&gt;3. membantu klien dalam memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan  kemampuan klien&lt;br /&gt;4. melatih klien sesuai kemampuan yan g dipilih&lt;br /&gt;5. memberikan pujian terhadap keberhasilan klien &lt;br /&gt;6. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan&lt;br /&gt;Strategi pertemuan II&lt;br /&gt;1. Mengawasi jadwal kegiatan harian klien &lt;br /&gt;2. melatih kemampuan klien &lt;br /&gt;3. mennganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan klien&lt;br /&gt;3 Defisit perawatan diri Strategi pertemuan I&lt;br /&gt;1. menjelaskan pentingnya kebersihan diri&lt;br /&gt;2. menjelaskan cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;3. membantu klien mempratekkan cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;4. mengenjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian &lt;br /&gt;strategi pertemuan II&lt;br /&gt;1. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien&lt;br /&gt;2. menjelskan cara makan yang baik&lt;br /&gt;3. membantu klien mempraktekan cara makan yang baik&lt;br /&gt;4. menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian &lt;br /&gt;strategi pertemuan III&lt;br /&gt;1. megevaluasi jadwal kegiatan kien&lt;br /&gt;2. menjelaskan eleminasi yang baik&lt;br /&gt;3. membantu klien mempraktekkan cara eliminasi yang baik dan memasukkan dalam jadwal &lt;br /&gt;4. menganurkan klien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian &lt;br /&gt;strategi pertemuan IV&lt;br /&gt;1. mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien &lt;br /&gt;2. menjelaskan cara berdandan &lt;br /&gt;3. membantu klien mempraktekan cara berdandan&lt;br /&gt;4. menganjurkan klien memasukkan jadwal kegiatan harian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IMPLEMENTASI KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Nama/Inisial klien : tuan H&lt;br /&gt;Ruangan  : Bukit barisan &lt;br /&gt;Strategi Pertemuan dengan Klien Gangguan Isolasi Sosial menarik diri&lt;br /&gt;1. Kondisi Klien &lt;br /&gt;Tuan H (35Tahun) selama dirawat diruangan bukit barisan tampak berdiam diri, klien suka melamun dan duduk dibawah tempat tidur klien menghindar bila ada yang mendekatinya saat dikaji oleh perawat tn h menyatakan putus asa sama keluarganya &lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI&lt;br /&gt;3. Tujuan:&lt;br /&gt;1. Klien dapat mengidentifikasi penyebab isolasi sosial &lt;br /&gt;2. Klien mampu berinteraksi dengan orang lain&lt;br /&gt;3. klien mampu mengidentifikasi kemampuan yang dapat dilakukannya&lt;br /&gt;4. klien dapat mengisi jadwa yang diberkan suster&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;• mengidentifikasi penyebab isolasi sosial &lt;br /&gt;• menyebutkan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain &lt;br /&gt;• melatih perkenalan dengan orang lain&lt;br /&gt;• melatih berhubungan secara bertahap&lt;br /&gt;• mengidentifikasi kemampuan klien &lt;br /&gt;• melatih klien melakukan aktivitas yang berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;• menjelaskan penggunaan obat&lt;br /&gt;• masukkan jadwal kegiatan klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Fase pelaksanaan tindakan&lt;br /&gt;a. orientasi&lt;br /&gt;1. salam terapiutik&lt;br /&gt;selamat pagi pak, boleh suster duduk disini?&lt;br /&gt;Perkenalkan nama suster safitri dari PSIK Delihusada Delitua, nama bapat siapa ya? Enaknya di panggil apa? Oh bapak halomoan ya..&lt;br /&gt;2. Evaluasi/validasi&lt;br /&gt;Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa yang meyebabkan bapak datang kemari?&lt;br /&gt;3. Kontrak&lt;br /&gt;1. Topik: &lt;br /&gt;Pak, bisakan kita bercakap-cakap sebentar untuk membahas masalah bapak? &lt;br /&gt;2. waktu:&lt;br /&gt;Bapak bisanya berapa lama?&lt;br /&gt;3. Tempat:&lt;br /&gt;Bapak maunya kita bercakap-cakap di mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Fase Kerja&lt;br /&gt;• mengidentifikasi penyebab isolasi sosial&lt;br /&gt;baiklah pak, sekarang ceritankan dengan suster, apa yang menyebabkan bapak sampai kemari? Ohh begitu ya pak!!&lt;br /&gt;Bapak punya gak teman yang paling disukai, kenapa pak!!&lt;br /&gt;Lalu apa bapak juga punya teman yang tidak disukai dan apa alasannya pak??&lt;br /&gt;• menjelaskan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain&lt;br /&gt;bapak tau gak, keuntungan bila kita berinteraksi dengan orang lain??&lt;br /&gt;Wahh bagus itu pak!!, selain yang bapak bilang tadi masih banyak lagi pak keuntungannya. Misalnya bapak bisa tukar pikiran, nambah temen dan yang pasti bapak tidak sendirian laigi pak!!&lt;br /&gt;Kalau kerugian berinteraksi dengan orang lain?? Ya bagus pak!! &lt;br /&gt;Kerugiannya Cuma sedikit pak, misalnya dia tidak ada waktu, bapak suster ajarkan cara berkenalan dengan orang lain??&lt;br /&gt;• Melatih berkenalan dengan orang lain&lt;br /&gt;Begini pak , kalau bapak mau berkenalan dengan orang lain, pertama-tama bapak dekati dia, lihat wajahnya, lalu bapak sebutkan nama bapak sambil menjabat tangannya dan bapak tanya nama dia lagi ini ya pak saya contohkan perkenalkan nama saya safitri nama kamu siapa??&lt;br /&gt;Bapak mengertikan? Cuma bapak ulangi seperti yang suster praktekkan tadi,, wahh bagus ya pak!! &lt;br /&gt;• melatih berhubugan secara bertahap&lt;br /&gt;tadikan bapak sudah berkenalan dengan temen bapak. Dan pastinya sudah tau namanya kan??, nah sekarang bapak mesti berkenalan dengan satu atau 2 orang pak. begini ya pak suster ajarkan perkenalkan nama saya safitri nama bapak siapa?? Lalu bapak tanya lagi teman sebelahnya kemudian bapak langsung berbincang-bincang dengan mereka pak!! bapak mengertikan??&lt;br /&gt;• mengidentifikasikan kemampuan klien &lt;br /&gt;nah sekarang suster mau tanya, bapak biasa hobinya apa selama di rumah.&lt;br /&gt;Ohh, bapak bisa mencuci piring ya pak.&lt;br /&gt;• melatih klien melakukan aktifis yang berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;tadikan bapak katakan kalau bapak itu mampu mencuci piring nah bapak dapat melakukan kegiatan itu pak &lt;br /&gt;nantikan jam makan siang, nantikan bapak yang mencuci pirng??&lt;br /&gt;Sambil bapak mencuci piring, bapak bisa becakap-cakap bersama temen bapak, bapak mengertikan ??&lt;br /&gt;• menjelaskan kegunaan obat &lt;br /&gt;sekarng suster akan menjelaskan kegunaan obat bapak tau apa giunanya obat.&lt;br /&gt;Wah bagus pak .&lt;br /&gt;Selain yang bapak bilang tadi masih banyak lagi pak yaitu penyembuhan, pengobatan, kecantikan dan masih banyak lagi pak,&lt;br /&gt;Dalam minum oabat ada 5 prinsip yang harus diperhatikan yaitu: 1 benr klien. bapak harus tau dulu bahwa obat tersebut untuk bapak dengan melihat tulisan seperti di mangkuk ini, mengertikan pak!!&lt;br /&gt;Yang ke dua benar obat, tadikan udah tertulis nama bapak, dan bapak ambil obat yang sesuai dengan yang dikatakan suster, misalnya CPZ maka bapak hanya mengambil cpz bukan yang lainnya pak. yang ke tiga benar cara, bapak harus tau cpz itu di minum bukan di kunyah pak.. yang ke empat benar dosis, misalnya tertulis 2x1 maka bapak minumnya yaitu 2 tablet dalam 1 hari, kalau diminum pagi yang pertama kemudian sore nanti yang ke duanya, begitu pak.. kemudian yang ke lima benar waktu, kalau misalnya bapak minum obatnya jam 08-00 pagi maka bapak nanti 08-00 malam harus mimunnya lagi..&lt;br /&gt;”apakah bapak mengerti dengan yang suster jelaskan??”&lt;br /&gt;Bagus kalau begitu&lt;br /&gt;• masukkan jadwak kegiatan &lt;br /&gt;ini pak suster berikan jadwal, diisi ya pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Terminasi&lt;br /&gt;1. Evaluasi respon klien&lt;br /&gt;a. Evaluasi klien&lt;br /&gt;”bagaimana, perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang”&lt;br /&gt;b. Evaluasi perawar/objektif&lt;br /&gt;”coba bapak ulangi apa yang sudah kita bicarakan”&lt;br /&gt;”wah bagus kalua begitu”&lt;br /&gt;2. Tindak Lanjut&lt;br /&gt;”pak apa yang kita bicarakan tadi dikerjakan ya pak!! Dan jadwalnya jangan lupa diisi ya pak!!&lt;br /&gt;3. Kontrak&lt;br /&gt;”baiklah pak, karena waktunya udah habis maka kita sudahi dulu ya pak !! besok suster akan datang lagi untuk membantu bapak dalam mangatasi harga diri rendah yang bapak alami, apakah bapak bersedia??&lt;br /&gt;Jam berapa ya pak,, bapak maunya di mana??&lt;br /&gt;Baiklah pak besok disini jam 10’00 pagi kita akan berbincang-bincang lagi tentang masalah harga  diri rendah bapak.. selamat pagi pak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi pertemuan dengan klien Gangguan Konsep diri: Harga diri rendah&lt;br /&gt;1. Kondisi klien tn H 35 tahun klien sering bingung dan suka melamun dan suka menyendiri&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;HARGA DIRI RENDAH&lt;br /&gt;3. Tujuan &lt;br /&gt;• klien dapat mengidentifikasikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki&lt;br /&gt;• klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan &lt;br /&gt;• klien dapat menetapkan/memilih kegiatan yang sesuai kemampuan &lt;br /&gt;• klien dapat berlatih kegiatan yang sudah dipilih sesuai kemampuan klien selanjutnya klien dapat merencanakan kegiatan yang sudah dilatihnya&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;• mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien &lt;br /&gt;• membantu klien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan&lt;br /&gt;• membantu klien dapat memilih/menetapkan kegiatan sesuai dengan kemampuan &lt;br /&gt;• melatih kegiatan klien yang sudah dipilih sesuai dengan kemampuan &lt;br /&gt;• membantu klien dapat merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuannya dan menyusun rencana tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Fase Pelaksanaan tindakan keperawatan&lt;br /&gt;a. Orientasi&lt;br /&gt;1. salam terapiutik&lt;br /&gt;- Selamat pagi pak, ”sesuai dengan janji kita kemaren kitakan mau bincang-bincang lagi untuk hari ini, bapak masih ingatkan nama suster&lt;br /&gt;”bagus kalau begitu”..&lt;br /&gt;2. Evaluasi?validasi &lt;br /&gt; ”bagaimana keadaan bapak hari ini??&lt;br /&gt;Bapak sehatkan??&lt;br /&gt;3. Kontrak&lt;br /&gt;Topik: kemaren suster mau berbincang –bincang tentang maslah bapak yaitu tentang harga diri rendah, &lt;br /&gt;”bapak ingat gak:?&lt;br /&gt;Iya bagus,!!&lt;br /&gt;Waktu: bapak maunya berapa lama kita bincang-bincangnya nanti??&lt;br /&gt;Tempat: kalau menurut bapak enaknya bincang-bincangnya di mana??&lt;br /&gt;4. Kerja&lt;br /&gt;Bapak kita akan bincang-bincang tentang kegemaran bapak..! tapi sebelumnya saya mau tanya dulu, boleh pak??&lt;br /&gt;Kenapa bapak selalu merenung??&lt;br /&gt;Dan kalau di tanya selalu merunduk dan menghindar?&lt;br /&gt;Bapak kalau bisa coba untuk tetap tersenyum dan tidak merengut terus, pasti bapak kelihatan tambah jilena!! Tuh kan ganteng!!&lt;br /&gt;Dan kalau ada yang bertanya bapak harus menjawabnya, bapak gak usah takut karena tidak ada yang menyalahkan bapak??&lt;br /&gt;Bapak sudah mengerti??&lt;br /&gt;Bapak mau melakukannya??&lt;br /&gt;Baiklah .. sekarang tegakkan kepala bapak, kemudian jawab pertanyaan saya” &lt;br /&gt;Pak kalau boleh saya tau, apa saja yang menjadi kegemaran bapak??&lt;br /&gt;Wah.. banyak sekali ya pak??&lt;br /&gt;Diantara yang bapak sebutkan semua tadi, manalah yang paling bapak sukai??&lt;br /&gt;Baik pak sekarnga kita akan membuat jadwal kegiatan bapak-bersama-sama, nanti di sini bapak bisa menulis kegiatan bapak sehari-hari,”&lt;br /&gt;Ni kertasnya pak!!&lt;br /&gt;Bapak bisa mengisikegiatan bapak sehari-hari&lt;br /&gt;b. Terminasi&lt;br /&gt;1. evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Evaluasi klien (sabjektif)&lt;br /&gt;”bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang??&lt;br /&gt;Evaluasi klien (Objektif)&lt;br /&gt;”bapak bisa ulangi apa yang sudah kita ajarkan??&lt;br /&gt;Wah bagus sekali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tindak lanjut&lt;br /&gt;Nanti bapak bisa mengisi segala kegiatan di buku tadi, biar bapak tidak termenung terus, ya pak&lt;br /&gt;3. Kontrak&lt;br /&gt;Baiklah pak hari ini kita cukupkan dulu perbincangan kita, besok saya akan ke sini lagi, untuk berbincang-bincang lagi dengan bapak mengenai masalah bapak yaitu defisit perawatan diri.&lt;br /&gt;Maukan bapak ??&lt;br /&gt;Sebaiknya jam brapa besok kita jumpa lagi ya pak??&lt;br /&gt;Baik lah kalau begitu saya akan ke sini lagi besok??&lt;br /&gt;Selamat pagi pak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Pertemuan dengan klien Defisit Perawatan diri&lt;br /&gt;1. Kondisi klien &lt;br /&gt;Tuan H Umur 35 tahun, selama di rawat di ruangan bukit barisan klien tapak kotor, bau badan(+) baju tidak diganti (seminggu sekali) rambut acak-acakan pakai baju terbalik..&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan &lt;br /&gt;DEFISIT PERAWATAN DIRI&lt;br /&gt;3. Tujuan&lt;br /&gt;1. klien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri&lt;br /&gt;2. klien mampu berdandan/berhias secara baik&lt;br /&gt;3. klien mampu melakukan makan dengan baik&lt;br /&gt;4. klien mampu melakukan BAK/BAB secara mandiri&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperwatan&lt;br /&gt;1. melatih klien cara melakukan kebersihan diri&lt;br /&gt;- menjelaskan pentingnya kebersihan diri&lt;br /&gt;- menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;- menjelaskan cara kebersihan diri&lt;br /&gt;- melatih klien cara menjaga kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Proses pelaksanaan tindakan &lt;br /&gt;a. Orientasi&lt;br /&gt;1. Salam terapiutik&lt;br /&gt; - Selamat pagi pak, ”sesuai dengan janji kita kemaren kitakan mau bincang-bincang lagi untuk hari ini, bapak masih ingatkan nama suster&lt;br /&gt;”bagus kalau begitu”..&lt;br /&gt;2. Evaluasi?validasi &lt;br /&gt; ”bagaimana keadaan bapak hari ini??&lt;br /&gt;Bapak sehatkan??&lt;br /&gt;3. Kontrak&lt;br /&gt;Topik: kemaren suster mau berbincang –bincang tentang maslah bapak yaitu tentang Defisit perawatan diri, &lt;br /&gt;”bapak ingat gak:?&lt;br /&gt;Iya bagus,!!&lt;br /&gt;Coba suster mau tanya dulu??&lt;br /&gt;Waktu: bapak maunya berapa lama kita bincang-bincangnya nanti??&lt;br /&gt;Tempat: kalau menurut bapak enaknya bincang-bincangnya di mana??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fase kerja&lt;br /&gt;1. melatih klien cara-cara perawatan kebersihan diri&lt;br /&gt;kalau menurut bapak kalau mandi itu kita harus bagaimana?? &lt;br /&gt;Sebelum mandi apa yang harus kita persiapkan?&lt;br /&gt;Wah benar sekali, &lt;br /&gt;Bapak perlu menyiapkan pakaian ganti seperti, handuk, pakaian ganti, sikat gigi, sampo, dan sabun serta sisir.&lt;br /&gt;Bagaimana kalau sekarang kita praktekkan ke kamar mandi?? Dan suster akan membimbing bapak melakukannya.&lt;br /&gt;Sekarang bapak siram seluruh tubuh bapak termasuk rambut kemudian ambil sampo, gosokkan kekepala bapak samapai berbusa kemudian bilas sampai bersih, &lt;br /&gt;Sikat gigi pakai odol ya pak...&lt;br /&gt;Kemudian bersikan mulut sama air, kumur-kumur&lt;br /&gt;Iya..bagus..&lt;br /&gt;Kemudian siram air keseluruh tubuh, lalu sabunan, gosok seluruh tubuh.. kemudian bilas kembali&lt;br /&gt;Nah setelah ini baru dikeringkan dengan menggunakan handuk..&lt;br /&gt;Iya.. bagus sekali ,,&lt;br /&gt;Ini kemudian sisiran, menggunakan sisir&lt;br /&gt;2. melatih klien berdandan/berhias&lt;br /&gt;sekarang apa yang bapak lakukan setelah mandi, &lt;br /&gt;apakah bapak menyisir rambut??&lt;br /&gt;Kalau begitu bagai mana cara bersisir??&lt;br /&gt;Iya bagus ..&lt;br /&gt;Coba cara memakai baju!!&lt;br /&gt;Iya bagus sekali bapak ternyata bisa!!&lt;br /&gt;Apakah bapak sering bercukur??&lt;br /&gt;Iya bagus....&lt;br /&gt;c. terminasi&lt;br /&gt;1. Evaluasi respon klien &lt;br /&gt;a. evaluasi klien&lt;br /&gt;bagaimana perasaan pak lomo setelah berdandan.??&lt;br /&gt;b. evaluasi perawat/objektif&lt;br /&gt;Coba bapak sebutkan cara berdandan yang baik sekali lagi??&lt;br /&gt;Wah bagus sekali pak!!!&lt;br /&gt;2. Tindak lanjut&lt;br /&gt;Selanjutnya bapak setiap setiap hari harus mandi, kemudian praktekkan apa yang sudah saya ajarkan tadi..&lt;br /&gt;Dan masukkan kejadwal kegiatan bapak ya!!&lt;br /&gt;3. Kontrak, &lt;br /&gt;Baiklah sekarang mungkin sampai disi dulu dan kita akan bertemu kembali?? Selamat pagi menjelasng siang pak......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;I. Tahap Pengkajian &lt;br /&gt;Dalam melakukan pengkajian,penulis mengalami sedikit kendala dikarenakan klien sulit untuk diajak berkomunikasi. Untuk mendapatkan data yang lengkap,penulis melakukan pengkajian dalam. Dari hasil  3 hari.&lt;br /&gt;Setiap melakukan komunikasi, klien selalu berusaha untuk menghindar, berbicara seperlunya dan selalu diam. Untuk memenuhi data yang kurang lengkap,maka penulis melihat dari status klien dan bertanya dengan keluarga klien pada saat keluarga klien mengunjungi klien di RSJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Tahap Diagnosa&lt;br /&gt;Dalam menegakkan diagnosa, penulis mengobservasi klien secara langsung dan melihat status klien. Dari hasil observasi klien selalu berusaha menghindari dari perawat, kontak mata kurang, suka menyendiri, berbicara seperlunya dan klien mengatakan dirinya tidak berguna. Berdasarkan data diatas maka penulis menyimpulkan terdapat 3 diagnosa yang diderita klien yaitu :&lt;br /&gt;- Ganguan isolasi : menarik diri&lt;br /&gt;- Gangguan konsep diri harga diri rendah&lt;br /&gt;- Depisit perawatan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.Tahap Perencanaan&lt;br /&gt;Dalam perencanaan penulis melakukan rencana tindakan asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa. Dalam hal perencanaan penulis melakukan berbagai strategi pertemuan kepada klien yang berlansung selama 1minggu. Setiap pertemuan akan dilakukan asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.Tahap Implementasi&lt;br /&gt;Dalam menjalankan tindakan asuhan keperawatan penulis hanya mengimplementasikan tiga diagnosa keperawatan yaitu : gangguan isolasi sosial menarik diri, gangguan konsep diri : harga diri rendah dan depisit perawatan diri. Hal ini dikarenakan pada saat diobservasi  secara mendalam.&lt;br /&gt;V. Tahap Evaluasi&lt;br /&gt;Setelah melakukan implementasi, perawat dapat melihat hasil dari tindakan asuhan keperawatan, klien menunjukkan dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitranya. Klien mau diajak berkomunikasi, melakukan aktivitas di RSJ, dan mau berkomunikasi dengan teman seruangnnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;I. Kesimpulan&lt;br /&gt;Setelah penulis melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada klien isolasi sosial menarik diri di ruangan bukit barisan RSJ Medan, dapat di ambil kesimpulan:&lt;br /&gt;1. Menarik diri adalah usaha menghindari interaksi dengan orang lain, individu tersebut merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tindakan mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan pikiran, prestasi atau kegagalan:&lt;br /&gt;2. Klien dengan menarik diri mempunayai tingkah laku: tidak nafsu makan kurang bergairah aktifitas menurun, ekspresi wajah kurang berseri&lt;br /&gt;3. Mekanisme koping yang sering digunakan pada menarik diri adalah koping yang berkaitan dengan kepreribadian anti sosial dan koping berhubungan dengan gangguan keperibadian “Borderline”&lt;br /&gt;4. Setelah diberikan pengobatan klien sudah mampu mengontrol emosi dan rasa menarik dirinya dengan perlahan-lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Saran &lt;br /&gt;1. kepada tim kesehatan yang ada di rumah sakut jiwa supaya dapat meningkat kan kerjasama. Agar prosses keperawatan dapat tercapai seoptimal mungkin dan memberikan keterampilan kepada kllien untuk mengisi hari2 yang telah di lewati klien di ruangan agartidak sering melamun &lt;br /&gt;2. diharapkan kepada keluarga dan perawat yang menerapkan pendekatan diri dalam mengarahkan klien menujukesembuhan pada klien yang sudah di rehabilitasi untuk selalu memriksakan secara teratur dan tidak menghentikan keperawatan, nasehat dari dokter.&lt;br /&gt;3. bagi keluarga dan perawat diharapkan dapat menghindar klien dari berbagai stiuasi yang dapat menimbulkan kembali gangguan/gejala dari penyakit.&lt;br /&gt;diharapkan kepada keluarga dan perawat agar tetap mengawasi anak dari lingkungan mansyarakat upaya kesembuhan klien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4216199112652042448?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4216199112652042448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/11/asuhan-keperawatan-pada-tn-h-dengan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4216199112652042448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4216199112652042448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/11/asuhan-keperawatan-pada-tn-h-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn H DENGAN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI PADA KLIEN SKIZOPRENIA PARANOID EPS BERULANG DI RUANGAN BUKIT BARISAN  RSJ PEMPROVSU'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SvVMCP5pxzI/AAAAAAAAAIM/6UKnykKtc38/s72-c/Picture2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4208146371193288884</id><published>2009-10-28T00:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T00:37:34.987-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='malas bekerja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gangguan kesehatan jiwa bukan hanya gejala kejiwaan saja tetapi sangat luas dari mulai yang ringan seperti kecemasan dan depresi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sering tidak bisa kerja sama dengan teman sekerja'/><title type='text'>Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Meda</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Latar Belakang&lt;br /&gt;Gangguan kesehatan jiwa bukan hanya gejala kejiwaan saja tetapi sangat luas dari mulai yang ringan seperti kecemasan dan depresi, malas bekerja, sering tidak bisa kerja sama dengan teman sekerja, sering marah-marah,ketagihan napza sampai yang berat seperti skizoprenia(Administrator, 2008). &lt;br /&gt;Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.&lt;br /&gt;Pada study terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan apapun pada tahun utama(Hardian, 2008). &lt;br /&gt;Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan dengan masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat (Azrul,2001). &lt;br /&gt;Krisis ekonomi dunia yang semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa (Nurdwiyanti, 2008). &lt;br /&gt;Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa kerumah sakit jiwa. Sering tampak klien didikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan “pengawalan” oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perilaku kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga(Tim jiwa UI, 1999).&lt;br /&gt;Factor yang menimbulkan perilaku destruktif-diri adalah kejadian kehidupan yang memalukan,masalah interpersonal (perkembangan ego yang terlambat, hubungan orangtua yang tidak memuaskan, ras takut penolakan, ketidak mampuan mengungkapkan perasaan), dipermalukan didepan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman pengangguran(Stuart, 2008). &lt;br /&gt;Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang, biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian dapat menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif,&lt;br /&gt;sehingga terjadi perilaku kekerasan yang ditujukan pada orang lain, lingkungan dan diri sendiri(Jiwa kelompok9.2008).&lt;br /&gt;Perilaku destruktif-diri yaitu setiap aktivitas yang tidak dicegah, dapat mengarah kepada kematian, dan perilaku destruktif-diri ini langsung mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri(Stuart, 2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO menunjukkan bahwa diperkirakan sebanyak 873.000 orang melakukan bunuh diri tiap tahun di dunia. Oleh karna itu perlu diketahui apa saja yang yang dibutuhkan dalam rangka,membangun kesadaran dan mengurangi risiko kejadian bunuh diri(Hardian, 2008).&lt;br /&gt;Begitu juga kasus bunuh diri di Amerika mencapai 30.000 orang pertahun. Angka ini menunjukkan jumlah orang yang mencoba bunuh diri jauh lebih besar lagi, diperkirakan 8-10 kali lebih besar dari jumlah tersebut(Mustikasari, 2008).&lt;br /&gt;Tragisnya, lebih dari 80% penderita skizoprenia  di Indonesia tidak diobati. Mereka dibiarkan berkeliaran di jalanan, atau bahkan dipasung. Padahal, jika diobati 1/3 dari mereka bisa sembuh total. Tetapi bila tidak diobati, akan terus kambuh ,&lt;br /&gt;dan 25-30% dari mereka resisten(Febriani, 2008). &lt;br /&gt;Dilema yang dialami oleh Indonesia mengacu pada data WHO, prevalensi (angka kesakitan) penderita skizoprenia sekitar 0,2-2%, sedangkan insidensi atau kasus baru yang muncul &lt;br /&gt;tiap tahun sekitar 0,01%(Febriani, 2009). &lt;br /&gt;Pemerintah tidak boleh lagi menutup mata, jika tidak ingin tingkat depresi yang akan membuat orang mengambil jalan pintas seperti bunuh diri dan menjadi penderita skizoprenia di masyarakat semakin besar. Terhadap para penderita gangguan jiwa itu, hanya 30-40% gangguan jiwa bisa sembuh total, 30% harus tetap berobat jalan, dan 30% lainnya harus menjalani perawatan instruksional, atau dirawat inapkan dipanti-panti rehabilitasi(Nurdwiyanti, 2008). &lt;br /&gt;Menurut Keliat, bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan dan merupakan keadaan darurat psikiatri karena individu berada dalam keadaan stress yang tinggi dan menggunakan koping yang maladptif(Wangmubo, 2009). &lt;br /&gt;Penyebab bunuh diri pada individu gangguan jiwa karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping yang digunakan&lt;br /&gt;dalam mengatasi masalah (Mustikasari, 2008). &lt;br /&gt;Situasi mental yang tidak stabil merupakan salah satu penyebab mudahnya seseorang terkena psikosomatis, yaitu rentannya kondisi tubuh terhadap berbagai penyakit karena factor psikis (kejiwaan). Untuk itu perlu coping stress yang sederhana dan mudah dilakukan dengan solution focus group therapy (terapi aktivitas kelompok)(Jiwakelompok9, 2008). &lt;br /&gt;Linda Metcalf  juga berkata, bahwa Solution Focused Group Therapy dapat menjdi satu alternatif yang luar biasa bagi seseorang untuk sembuh dan keluar dari masalahnya serta &lt;br /&gt;menemukan satu solusi yang baik(Fefendi, 2008). &lt;br /&gt;Terapi Aktivitas Kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat pada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama.&lt;br /&gt;Didalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantug,saling membutuhkan dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memprbaiki perilaku yang lama &lt;br /&gt;yang maladaptif(Keliat, 2005). &lt;br /&gt;Sebaiknya mengekspresikan kemarahan dengan prilaku kontruksi dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti hati orang lain, memberi perasaan lega, keteganganpun menurun dan perasaan marah dapat teratasi. Bila perasaan marah diekspresikan denga prilaku menantang, &lt;br /&gt;biasanya dilakukan individu karena merasa kuat(Fefendi, 2008). &lt;br /&gt;Terapi Aktivitas Kelompok Stimilasi Persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman dan/atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau altrnatif(Keliat, 2005). &lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok ini secara signifikan memberi perubahan terhadap ekspresi kemarahan kearah yang lebih baik pada klien dengan riwayat kekerasan. Pernyataan ini dapat dibuktikan dengan adanya penurunan ekspresi kemarahan setelah dilakukan terapi aktivitas kelompok sebesar 60,4%(Fefendi, 2008). &lt;br /&gt;Pada terapi aktivitas stimulasi persepsi ini klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif(Keliat, 2005). &lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok ini memberi hasil : kelompok menunjukkan loyalitas dan tanggung jawab bersama, menunjukkan partisipasi aktif semua anggotanya, mencapai tujuan kelompok, menunjukkan teerjadinya komunikasi antaranggota dan bukan hanya antara ketua&lt;br /&gt;dan anggota(Ann, 2005). &lt;br /&gt;Oleh karena itu, WHO meminta perhatian para praktisi kesehatan dan pihak terkait lainnya untuk memandang bunuh diri sebagai penyebab utama kematian dini yang dapat dicegah. Seseuai denga tema kesehatan jiwa se-dunia : Membangun Kesadaran Mengurangi Risiko: Gangguan Jiwa dan Bunuh Diri(Depkes, 2006). &lt;br /&gt;Bedasarkan pengalaman penelitian di lapangan khususnya RS Jiwa Provinsi Lampung untuk pelaksaan terapi aktivitas kelompok jarang atau tidak rutin dilakukanoleh perawat ruangan rawat inap walaupun ada tetapi tidak didokumentasikan(Jiwakelompok9, 2008).&lt;br /&gt;Dari data Rumah Sakit Jiwa Mahoni tahun 2008 (januari-desember), jumlah pasien sebanyak 252 orang : Bunuh diri 7 orang, perilaku kekerasan 26 orang. Pada tahun 2009 (januari-maret) jumlah pasien sebanyak 82 0rang : yang menarik diri 6 orang dan perilaku kekerasan 12 orang dan yang penyalahgunaan napza 20 orang. Di rumah sakit inilah peneliti ingin meneliti di rumah sakit jiwa mahoni karena selain angka kejadian perilaku kekerasan yang tinggi juga tidak pernah dilakkan terapi aktivitas kelompok kepada klien maka peneliti melakukan penelitian dengan judul: Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan.  &lt;br /&gt;B.  Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Bagaimana Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di rumah sakit jiwa mahoni medan tahun 2009?. &lt;br /&gt;C. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1.  Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mengetahui adanya Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. &lt;br /&gt;2. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. &lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009.  &lt;br /&gt;3. Menganalisis Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan Tahun 2009. &lt;br /&gt;D.  Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;1. Bagi Profesi Keperawatan&lt;br /&gt;Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi profesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan profesi yang akan dilakukan tentang Terapi Aktifitas Kelompok terhadap pasien gangguan jiwa. &lt;br /&gt;2. Bagi Iptek &lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bagi para perawat jiwa. &lt;br /&gt;3. Bagi Rumah Sakit Jiwa Mahoni&lt;br /&gt;Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan kepada Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan dan sebagai dokumentasi praktek Terapi Aktivitas Kelompok  Rumah Sakit serta sebagai penuntun bagi perawat jiwa dalam melanjutkan praktek asuhan keperawatan jiwa. &lt;br /&gt;4. Bagi Keluarga Dan Pasien &lt;br /&gt;Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan kesehatan khususnya bagi para perawat jiwa agar dapat menjalankan askep pada keluarga dan pasien gangguan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KONSEP KELOMPOK/GROUP&lt;br /&gt;1.  Defenisi Kelompok &lt;br /&gt; Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama. Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya. Seperti agresif, takut, kebencian, kompotetif, kesamaan, ketidak samaan, kesukaan, dan menarik (Yalom, 1995 dalam stuart dan laraia, 2001). Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok. &lt;br /&gt;2.  Tujuan dan Fungsi Kelompok &lt;br /&gt;a. Tujuan Kelompok &lt;br /&gt;Tujuan kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan mal adaptif. &lt;br /&gt;b. Fungsi Kelompok &lt;br /&gt;Fungsi kelompok sebagai tempat berbagai pengalaman dan saling membantu satu sama lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok merupakan laboratorium tempat mencoba dan menemukan hubungan interpersonal yang baik, serta mengembangkan perilaku yang adaptif. Anggota kelompok merasa dimiliki, diakui, dan dihargai eksistensinya oleh anggota kelompok yang lain. &lt;br /&gt;3.  Komponen Kelompok &lt;br /&gt;a. Struktur Kelompok &lt;br /&gt;Menjelaskan batasan, komunnikasi, proses pengambilan keputusan, dan hubungan otoritas dalam kelompok. Struktur kelompok menjaga stabilitas dan membantu pengaturan pola perilaku dan interaksi. Struktur dalam kelompok diatur dengan adanya pimpinan dan anggota, arah komunikasi dipandu oleh pemimpin, sedangkan keputusan diambil secara bersama. &lt;br /&gt;b. Besar Kelompok &lt;br /&gt; Jumlah anggota kelompok yang nyaman adalah kelompok kecil yang anggotanya berkisar antara 5-12 orang. Jumlah anggota kelompok kecil menurut stuart dan laraia (2001) adalah 7-10 orang, menurut lancester (1980) adalah 10-12 orang, sedangkan menurut rawlins-williams, dan beck (1993) adalah 5-12 orang. Jika anggota kelompok terlalu besar akibatnya tidak semua anggota mendat kesempatan mengungkapkan perasaan, pendapat, dan pengalamannya. Jika terlalu kecil, tidak cukup variasi informasi dan interaksi yang terjadi. &lt;br /&gt;c. Lamanya Sesi&lt;br /&gt; Waktu optimal untuk 1 sesi adalah 24-40 menit bagi fungsi kelompok yang rendah dan 60-120 menit bagi fungsi kelompok yang tinggi &lt;br /&gt;(stuart dan laraia, 2001). Biasanya dimulai dengan pemanasan berupa orientasi, kemudian tahap kerja, dan finishing berupa terminasi. Banyaknya sesi bergantung pada tujuan kelopok, dapat satu kali/dua kali perminggu atau dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan. &lt;br /&gt;d. Komunikasi &lt;br /&gt; Salah satu tugas pemimpin kelompok yang terpenting adalah mengobservasi dan menganalisis pola komunikasi dalam kelompok pemimpin menggunakan umpan balik untuk memberi kesadaran pada anggota kelompok terhadap dinamika yang terjadi. &lt;br /&gt;Pemimpin kelompok dapat mengkaji hambatan dalam kelompok, konflik interpersonal, tingkat kompetis, dan seberapa jauh anggota kelompok mengerti serta melaksanakan kegiatan yang dilaksanakan. &lt;br /&gt;Elemen penting observasi komunikasi perbal dan non verbal&lt;br /&gt;(Stuart dan laraia, 2001); Komunikasi setiap anggota kelompok, rancangan tempat duduk(setting), tema umum yang diekspresikan, frekuensi komunikasi dan orang yang dituju selama komunikasi, kemampuan anggota kelompok sebagai pandangan terhadap kelompok, proses penyelesaian masalah terjadi. &lt;br /&gt;e. Peran Kelompok &lt;br /&gt; Pemimpin perlu mengobserpasi peran yang terjadi dalam kelompok. Ada tiga peran dan fungsi kelompok yang ditampilkan anggota kelompok dalam kerja kelompok, yaitu maintenance roles, terapi aktivitas kelompok roles, dan individual roles. Maintenace roles, yaitu peran serta aktif dalam proses kelompok dan fungsi kelompok. Terapi aktivitas kelompok roles, yaitu pokus pada penyelesaian tugas. Individual roles, adalah self-centered dan distraksi pada kelompok. &lt;br /&gt;Peran dan Fungsi Kelompok&lt;br /&gt;a. peran kelompok&lt;br /&gt; 1. Peran kelompok sebagai mempertahankan &lt;br /&gt;  Pendorong (encouraqer), Penyelaras (Harmonizer), Pemusyawara (kompromiser)&lt;br /&gt;Penjaga (gatekeeper), Pengikut (polower), Pembuat Peraturan (rule maker)&lt;br /&gt;Penyelesaian masalah (Problem solver). &lt;br /&gt;2. Peran kelompok dalam menyelesaikan tugas&lt;br /&gt;Pemimpin (leadera), Penanya (guestioner), Pasilitator (facilitator)&lt;br /&gt;Penyimpul (sumarizer), Evaluator (evaluator), Pemberi inisiatip (initiator). &lt;br /&gt;3. Peran kelompok sebagai individu&lt;br /&gt;Korban, Monopoli, Seduser, Diam, Tukang komplain, Negatif , Moralis. &lt;br /&gt;b. Fungsi kelompok&lt;br /&gt;1. Fungsi Kelompok sebagai mempertahankan&lt;br /&gt;Memberi pengaruh positif pada kelompok, Menjaga tetap damai, Meminimalkan konflik dengan mencari alternatif, Menetapkan tingkat penerimaan kelompok terhadap anggota secara individual, Berperan sebagai peserta yang menarik, Membuat standar perilaku kelompok mis: waktu dan pakaian, Menyelesaikan masalah angar kelompok agar kelompok dapat terus bekerja. &lt;br /&gt;2. fungsi kelompok dalam menyelesaikan tugas&lt;br /&gt;Memberi arahan, Mengklarifikasi isu dan informasi, Menjaga kelompok tetap fokus, Menyimpulkan posisi kelompok, Mengklaji kinerja kelompok, Memulai diskusi kelompok. &lt;br /&gt;3. fungsi kelompok sebagai individu&lt;br /&gt;Dipandang negatif oleh kelompok, Berperan aktif mengontrol kelompok Menjaga jarak dan meminta diperhatikan, Mengontrol secara pasif degar diam, Mengeluh dan marah pada kerja kelompok, Mengecilkan kerja kelompok, Berperan sebagai penilai benar dan salah &lt;br /&gt;f. Kekuatan Kelompok &lt;br /&gt;Kekuatan (power) adalah kemampuan anggota kelompok dalam mempengaruhi berjalannya kegiatan kelompok untuk menetapkan kekuatan anggota kelompok yang bervariasi diperlukan kajian siapa yang paling banyak mendengar dan siapa yang membuat keputusan dalam kelompok&lt;br /&gt;( Stuart dan laraia, 2001). &lt;br /&gt;g. Norma Kelompok &lt;br /&gt;Norma adalah standar perilaku yang ada dalam kelompok. Pengharapan terhadap perilaku kelompok pada masa yang akan datang berdasarkan pengalaman masalalu dan saat ini. Pemahaman tentang norma kelompok berguna untuk mengetahui pengaruhnya terhadap komunikasi dan interaksi dalam kelompok.&lt;br /&gt;Kesesuaian perilaku anggota kelompok dengan norma kelompok penting dalam menerima anggota kelompok. Anggota kelompok yang tidak mengikuti norma dianggap pemberontak dan ditolak anggota kelompok lain. &lt;br /&gt;h. Kekohesifan&lt;br /&gt;Kekohesifan adalah  kekuatan anggota kelompok bekerja sama dalam mencapai tujuan. Hal ini mempengaruhi anggota kelompok untuk tetap betah dalam kelompok. Apa yang membuat anggota kelompok untuk tetap betah dalam kelompok, perlu diindentifikasi agar kehidupan kelompok dapat dipertahankan. &lt;br /&gt;Pemimpin kelompok (terapis) perlu melakukan upaya agar kekohesifan kelompok dapat terwujud, seperti mendorong anggota kelompok bicara satu sama lain, diskusi dalam kata-kata ”kita” menyampaikan kesamaan anggota kelompok, membantu anggota kelompok untuk mendengarkan ketika yang lain bicara kekohesifan perlu diukur melalui seberapa sering antar anggota memberi pijuan dan mengungkapkan kekaguman satu sama lain. &lt;br /&gt;4.  Perkembangan Kelompok&lt;br /&gt;a. pase pra kelompok&lt;br /&gt;Hal penting yang harus diperhatikan ketika memulai kelompok adalah tujuan dari kelompok. Ketercapaian tujuan sangat dipengaruhi oleh perilaku pimpinan dan pelaksanaan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk itu, perlu disusun proposal atau panduan pelaksanaan kegiatan kelompok. Proposal dapat pula berupa pendoman atau panduan menjalankan kegiatan kelompok. &lt;br /&gt;b. Pase awal Kelompok&lt;br /&gt;Pase ini ditandai dengan ansietas karna masuknya kelompok baru, dan peran yang baru. &lt;br /&gt;1.  Tahap Orientasi &lt;br /&gt;Pada tahap ini pemimpin kelompok lebih aktif dalam memberi pengarahan. Pemimpin kelompok mengorentasikan anggota pada tugas utama dan melakukan kontrak yang terdiri dari tujuan kerahasiaan, waktu pertemuan, struktus, kejujuran dan aturan komunikasi, misalnya hanya satu orang yang bicara pada suatu waktu, norma perilaku, rasa memiliki, atau kohesif antara anggota kelompok di upayakan terbentuk pada fase orientasi. &lt;br /&gt;2.  Tahap Konflik &lt;br /&gt;Peran dependen dan independen terjadi pada tahap ini. Sebagian ingin pemimpin yang memutuskan dan sebagian ingin pemimpin lebih mengarahkan, atau sebaliknya anggota ingin berperan sebagai pemimpin. Ada pula anggota yang netral dan dapat membantu menyelesaikan konfik peran yang terjadi. Perasaan bermusuhan yang ditampilkan, baik antara anggota kelompok maupun anggota dengan pemimpin dapat terjadi pada tahap ini. Pemimpin perlu memfasilitasi ungkapan perasaan, baik negatif maupun positif dan membantu kelompok mengenai penyebab konflik. Serta menjega perilaku yang tidak produktif, seperti menuduh anggota tertentu sebagai penyebab konflik.&lt;br /&gt; 3. Tahap Kohesif&lt;br /&gt;Setelah tahap konflik, anggota kelompok merasakan ikatan yang kuat satu sama lain. Perasaan positif akan sering diungkapkan. Pada tahap ini, anggota kelompok merasa bebas membuka diri tentang informasi dan lebih intim satu sama lain. &lt;br /&gt;Pada tahap akhir fase ini tiap anggota kelompok belajar bahwa perbedaan tidak perlu ditakutkan. Merka belajar persamaan dan perbedaan, anggota kelompok akan membantu pencapaian tujuan yang menjadu suatu realitas. &lt;br /&gt;c. Fase Kerja Kelompok &lt;br /&gt; Pada fase ini, kelompok sudah menjadi tim, walaupun mereka walaupun mereka bekerja keras tetapi menyenangkan bagi anggota dan pemimpin kelompok. Kelompok menajdi stabil dan realitis. &lt;br /&gt;Tugas pemimpin adalah membantu kelompok mencapai tujuan dan tetap menjaga kelompok kearah pencapaian tujuan. Serta mengurangi dampak dari faktor apa saja yang dapat mengurangi produktitivitas kelompok. Selain itu, pemimpin juga bertindak sebagai konsultan. Pada akhir fase ini anggota kelompok menyadari produktivitas dan kemampuan yang bertambah disertai percaya diri dan kemandirian. &lt;br /&gt;d. Fase Terminasi &lt;br /&gt; Terminasi dapat sementara (temporal) atau akhir. Terminasi dapat pula terjadi karna anggota kelompok atau pemimpin kelompok keluar dari kelompok.&lt;br /&gt;Evaluasi umumnya difokuskan pada jumlah pencapaian baik kelompok maupun individu. Pada tiap sisi dapat pula dikembangkan instrumen evaluasi kemampuan individual dari anggota kelompok. Terminasi dapat dilakukan pada akhir tiap sesi atau beberapa sesi yang merupakan paket dengan memperhatikan pencapaian tertentu.terminasi yang sukses ditandai oleh perasaan puas dan pengalaman kelompok akan digunakan secara individual pada kehidupan zaherí-hari pada akhir sesi ini, perlu dicatat atau didokumen tasikan proses yang terjadi berupa notulen. Juga didokumentasikan pada catatan inplementasi tindakan keperawatan tentang pencapaian dan perilaku yang perlu dilatih pada kelien diluar sesi (keliat, 2005).  &lt;br /&gt;B.  Terapi Kelompok&lt;br /&gt;Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri (self-awareness). Peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenis terapi kelompok  &lt;br /&gt;a. Kelompok terapeutik&lt;br /&gt;Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik krisis, tumbuh kembang, atau penyesuaian social. &lt;br /&gt;Tujuan Kelompok terapeutik:&lt;br /&gt;1. Mencegah masalah kesehatan &lt;br /&gt;2. Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok &lt;br /&gt;3. Meningkatkan kualitas kelompok, antara anggota kelompok saling membantu dalam menyelesaikan masalah. &lt;br /&gt;b. Terapi aktivitas kelompok&lt;br /&gt;Kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu, stimulasi presepsi, stimulasi sensoris, orientasi realita,&lt;br /&gt;dan sosialisasi(keliat, 2005). &lt;br /&gt; Pada terapi ini, seorang perawat spesialis yang menjadi tropis dan enam sampai delapan orang bertemu secara teratur dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan mengubah pola perilaku yang mal adaptif. Kemudian klien mempelajari bagaimana membuat ekspresi perasaan yang sesuai dan menggali cara-cara untuk meningkatkan pertumbuhan dan perubahan pribadi(Copel, 2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses kelompok adalah makna interaksi perval dan non verbal di dalam kelompok yang meliputi:isi komunikasi, Hubungan antara anggota, Pengaturan tempat duduk, Pola atau nada bicara, bahasa dan sikap tubuh, Tema kelompok yang dapat diekspresikan baik secara terbuka atau tertutup. Kelompok terapi berfokus pada hubungan kelompok, interaksi antar anggota, dan masalah dalam hidup dan perilaku yang terjadi disana dan saat ini(Ann, 2005). &lt;br /&gt;2. Bentuk terapi kelompok&lt;br /&gt;a. Kelompok eksplorasi interpersonal &lt;br /&gt;Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok yang lain. Pasien diterima dan didukung oleh kerena itu, utuk meningkatkan harga diri, tipe ini yang paling umum dilakukan.&lt;br /&gt;b. Kelompok Bimbingan-Inspirasi &lt;br /&gt;Kelompok yang sangat terstruktur, kosesif, mendukung, yang meminimalkan pentingnya tilikan, dan memaksimalkan nilai diskusi didalam kelompok dan persahabatan. Kelompoknya mungkin saja besar, anggota kelompok dipilih sering kali kerena mereka”mempunyai problem yang sama”. &lt;br /&gt;c. Terapi Berorientasi Psikoanalitik &lt;br /&gt;Suatu tehnik kelompok dengan struktur yang longgar, terapis melakukan interprestasi tentang konflik nirsadar pasien dan memprosesnya dari obserpasi interaksi antar anggota kelompok. &lt;br /&gt;Sebagian besar terapi kelompok yang sukses tampaknya bergantung lebih pada pengalaman, sensitivitas, kehangatan, dan kharisma pemimpin kelompok dari pada orientasi teori yang dianut(tomb, 2004). &lt;br /&gt;Berbagai masalah dalam kelompok untuk mengembangkan insinght, kepercayaan diri, sensitifitas, dan keterampilan sosial. Terdapat penekanan pada hubungan timbal balik antar anggota kelompok yang dipasilitasi oleh ahli terapi. Terapi kelompok dapat berlangsung terus menerus atau terbatas waktu(Hibbert, 2009:157). &lt;br /&gt;C.  Terapi Aktivitas Kelompok &lt;br /&gt;1. Defenisi Terapi Aktifitas Kelompok&lt;br /&gt; Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama(keliat, 2005). &lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktipitas kelompok stimulasi realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi. &lt;br /&gt;2. Jenis Terapi Aktivitas Kelompok&lt;br /&gt;a. Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Kognitif / Persepsi&lt;br /&gt;Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. &lt;br /&gt;Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. &lt;br /&gt;Stimulus yang disediakan baca artikel / majalah / buku / puisi, menonton acara TV, stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang mel adaptif atau distruktif, mis: kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain, dan halusinasi. &lt;br /&gt;1. Defenisi Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Kognitif / Persepsi&lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dan / atau kehidupan untuk didiskusikan dalam  kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.&lt;br /&gt;2. Tujuan TAK Stimulasi Persepsi &lt;br /&gt;a. Tujuan Umum&lt;br /&gt;Tujuan Umum adalah klien mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang diakibatkan oleh paparan stimulus kepadanya. &lt;br /&gt;b. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;1. Klien dapat mempersepsikan stimulus yang dipaparkan kepadanya dengan tepat.&lt;br /&gt;2. Klien dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari stimulus yang dialami. &lt;br /&gt;3. Aktifitas dan Indikasi &lt;br /&gt;a. Aktivitas mempersepsikan stimulus nyata sehari-hari.&lt;br /&gt; 1.Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Menonton Televisi&lt;br /&gt;2.Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Membaca majalah/Koran/Artikel.&lt;br /&gt; 3.Terpai aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Melihat Gambar. &lt;br /&gt;Klien yang mempunyai Indikasi TAK ini adalah klien perubahan sensiris persepsi dan klien menarik diri yang telah mengikuti TAKS.&lt;br /&gt;4. Aktivitas Mempersepsikan stimulus Nyata dan Respons yang dialami dalam kehidupan. &lt;br /&gt;Aktivitas khususnya untuk klien perilaku kekerasan. Aktivitas ini dibagi dalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu :&lt;br /&gt;a. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Mengenal Perilaku kekerasan yang biasa dilakukan (penyebab: tanda dan gejala: perilaku kekerasan: akibat perilaku kekerasan)&lt;br /&gt;b. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Mencegahperilaku kekerasan malalui kegiatan: Fisik.&lt;br /&gt;c. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: mencegah perilaku kekerasan melalui interaksi asertif.&lt;br /&gt;d. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Mencegah perilaku kekerasan melalui kepatuhan minum obat.&lt;br /&gt;e. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan ibadah.&lt;br /&gt;Klien yang mempunyai indikasi TAK ini adalah klien perilaku kekerasan yang telah kooperatif. &lt;br /&gt;5.  Aktivitas Mempersepsikan Stimulus tidak nyata dan Respon yang dialami dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Aktivitas dibagi kedalam beberapa sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu: &lt;br /&gt;a.    Terapi Aktivitas kelompok stimulasi persepsi: Mencegah halusinasi.&lt;br /&gt;b. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi : Mengusir/menghardik halusinasi.&lt;br /&gt;c. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi : Mengontrol halusinasi melakukan kegiatan.&lt;br /&gt;d. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi : Menontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.&lt;br /&gt;e. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi : Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat.&lt;br /&gt;Klien yang mempunyai indikasi TAK ini adalah klien halusinasi. &lt;br /&gt;6. Aktivitas Mempersepsikan Stimulasi Nyata yang menyebankan Harga diri Rendah.&lt;br /&gt;Aktivitas ini dapat dibagi dalam sesi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu:&lt;br /&gt;a. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi: Mengidentifikasi aspek yang dapat membuat harga diri rendah dan aspek positif kemampuan yang dimiliki selama hidup (dirumah dan dirumah sakit)&lt;br /&gt;b. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi: Melatih kemampuan yang dapat dirumah sakit dan dirumah.&lt;br /&gt;Klien yang mempunyai indikasi terapi aktivitas kelompok adalah klien gangguan konsep diri: harga diri rendah.&lt;br /&gt;b. Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Sensoris&lt;br /&gt;Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien. Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara non Verbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). &lt;br /&gt;Biasanya klien tidak mau menggungkapkan komunikasi verbal akan terstimulasi omosi dan perasaannya, serta menampilkan respon. Aktifitas yang digunakan sebagai stimulus adalah : musik, seni, menyanyi, menari, jika hobi klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagi kesukaan klien, dapat digunakan sebagai stimulus. &lt;br /&gt;c. Terapi Aktifitas Kelompok orientasi Realitas &lt;br /&gt; Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar, yaitu diri sendiri, orang lain yang di sekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien dan lingkungan yang mempunyai hubungan dengan klien. &lt;br /&gt;Aktifitas berupa: orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar, dan semua kondisi nyata.&lt;br /&gt;d. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi&lt;br /&gt;Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari inter personal (satu dan satu), kelompok, dan massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.&lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok sosialisasi pernahditeliti dan memberi dampak pada kemampuan klien dalam bersosialisasi. Terapi aktivitas yang lain telah digunakan dibeberapa Rumah Sakit Jiwa. Dengan evaluasi dan penelitian tentang manfaat terapi aktivitas kelompok yang akan memberi kontribusi peningkatan kemampuan perawat dalam melaksanakan terapi aktivitas kelompok dapat diperoleh melalui pendidikan keperawatan berkelanjutan diharapkan perawat yang melaksanakan terapi aktivitas kelompok telah mengikuti pendidikan khusus. &lt;br /&gt;Rawlins, willians, dan beck mengidentifikasi tiga area yang perlu dipersiapkan untuk memjadi terpai atau pemimpin terapi kelompok, yaitu persiapan teoritis melalui pendidikan formal, literatur, bacaan, dan lokakarya. Pengalaman mengikuti terapi kelompok. &lt;br /&gt;D. Gangguan Jiwa&lt;br /&gt;1. pengertian gangguan jiwa&lt;br /&gt;Salah satu persyaratan dasar bagi kesehatanjiwa Individu adalah bahwa ia mampu mengevaluasi diri dengan nilai-nilai serta kebiasaaan mesyarakatnya.sementara berkembang kita mendapatkan bahwa kita perlu mengikuti pola tradisi sosial yang adabila kita ingin diterima oleh anggota-anggota yang lain. Sebenarnya kita mempelajati tata cara sosial tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan yang membimbing perilaku kita. Tradisi sosial semacam ini mendasari tidak hanya  standar moral kita tetapi juga penilaian kita terhadap perilaku normal dan abnormal(Mcghie, 1991, 335).&lt;br /&gt; Seseorang yang masuk kerumah sakit jiwa bertujuan untuk mendapat perawatanbaik atas dasar sukarela (voluntar)maupun dibawa orang lain(dipaksa). Semua negara bagian memperbolehkan individu dirawat di rumah sakit secara paksa  jika prasayarat komitmensipil terpenuhi. Klien dapat dirawat tampa persetujuan (secara paksa) jika mereka melakukan tindakan bunuh diri, pembunuhan, memiliki perilaku psikotik, kekerasn, atau paranoid(Copel, 2007).&lt;br /&gt;Status kesehatan jiwa individu sangat menentukan kualitas hidup, maka sudah saatnya mendapat perhatian khususnya karena status kesehatan jiwa yang buruk akan mengakibatkan kerugian yang besar dan menurunkan indeks pembangunan manusia indonesia. Kesehatan jiwa harus terintegrasi kedalam sebuah aspek kesehatan, kebijakan publik, perencanaan, sistem kesehatan serta pelayanan kesehatan dasar dan rujukan(Administrator, 2008). &lt;br /&gt; Kesehatan jiwa merupakan bagian dari kesehatan secara menyeluruh. Bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, tetapi pemenuhan kebutuhan prsaan bahagia, sehat, serta mampu menangani tantangan hidup, (Febriani, 2009).&lt;br /&gt;Gangguan Jiwa adalah gangguan fikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga menimbulkan penderitaan, dan terganggu fungsi sehari-hari sedangkan sakit jiwa adalah gangguan jiwa berat yang memerlukan pengobatan  dan perawatan khusus. Gangguan jiwa, walaupun tidak langsung menyebabkan ketidak matian, tapi menimbulkan penderiataan yang mendalam bagi individu serta beban berat bagi keluarga. Masyarakat menyebut sakit jiwa bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa berat(Febrida, 2007).&lt;br /&gt;Gangguan kesehatan jiwa bukan hanya gejala kejiwaan saja tetapi sangat luas dari mulai yang ringan seperti kecemasan dan depresi, malas bekerja, sering tidak bisa kerja sama dengan teman sekerja, sering marah-marah, ketagihan napza sampai yang berat seperti skizoprenia(Administrator, 2008).&lt;br /&gt;2. jenis gangguan jiwa&lt;br /&gt;1. Gangguan Isolasi Sosial.&lt;br /&gt;Isolasi Sosial adalah keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam.&lt;br /&gt;a. Penyebab Isolasi Sosial&lt;br /&gt;Kurangnya rasa percaya pada orang lain, Panik, Regoesi ketahap perkembangan sebelumnya, Waham, Sukar berinteraksi dengan orang lain pada masa lampau, Perkembangan ego yang lemah, Presepsi rasa takut.&lt;br /&gt;b. Batasan karakteristik.&lt;br /&gt;a. Menyendiri dalam ruangan.&lt;br /&gt;b. Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata.&lt;br /&gt;c. Sedih, apek datar.&lt;br /&gt;d. Meringkuk ditempat tidur dengan punggung menghadap kepintu.&lt;br /&gt;e. Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembanga usianya.&lt;br /&gt;f. Berfikir menurut fikirannya sendiri, tindakan berulang-ulang dengan tidak bermakna.&lt;br /&gt;g. Mengekspresikan perasaan menolak atau kesepian kepada orang lain (Townsend, 1991). &lt;br /&gt;2. Gangguan Alam Perasaan&lt;br /&gt;Alam peresaan adalah perpanjangan keadaan emosional yang mempengruhi seluruh kepribadian dan Fx kehidupan seseorang. Alam perasaan ini meliputi emosi seseorang yang kuat dan menyebar dan mempunyai arti yang sama dengan afek, keadaan perasaan, dan emosi respon mal adaptifnya adalah mania dan depresi.&lt;br /&gt;Mania adalah ditandai dengan adanya alam perasaan yang meningkat, bersemangat, atau mudah terganggu.&lt;br /&gt;Depresi adalah suatu kesedihan dan perasaan duka yang berkepanjangan atau abnormal(stuart, 2007). &lt;br /&gt;3. Perilaku Kekerasan.&lt;br /&gt;Perilaku destruktif-diri yaitu setiap aktifitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah kepada kematian.  Perilaku destruktip-diri langsung mencakup setiap bentuk aktifitas bunuh diri(stuart, 2007). &lt;br /&gt;Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang, diri sendiri baik secara fisik, emosional dan atau seksualitas. Perilaku kekerasan atau agresif meupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan  untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. &lt;br /&gt;E.  Perilaku Kekerasan.&lt;br /&gt;1. Defenisi Perilaku Kekerasan&lt;br /&gt;Perilaku destruktif- diri yaitu setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah kepada kematian. Perilaku destruktif- diri langsung mencakup setiap aktivitas bunuh diri(stuart, 2007). &lt;br /&gt;Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan- tindakan yang dapat membahayakan/ mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan. Seseorang yang mengalami masalah ini harus diberikan rencana dan tindakan yanng sesuai sehingga pola ekspresi kemarahannya dapat diubah menjadi bentuk yang bisa diterima yaitu perilaku yang sesui, yaitu ekspresi kemarahan langsung kepada sumber kemarahan dengan tetap menghargai  orang yang menjadi sumber kemarahan tersebut. &lt;br /&gt;2. Faktor Yang Melatar Belakangi&lt;br /&gt;Faktor yang melatar belakangni terjadinya perilaku kekerasan merupakan dampak dari berbagai pengalaman yang dialami tiap orang, artinya mungkin terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika faktor berikut dialami oleh individu.&lt;br /&gt;a. psikologis(kejiwaan), kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul aggresif atau amuk. Masa kanak- kanak yang tidak menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya, atau saksi penganiayaan. &lt;br /&gt;b. Perilaku reinforcement(penguatan/ dukungan), yang diterima pada saat melakukan kekerasan sering mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan. &lt;br /&gt;c. Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah- olah perilaku kekerasan diterima. &lt;br /&gt;d. Bioneurologis, banyak pendapat bahwa kerusakan sistem persarafan ditolak turut berperan dalam terjadinya perilaku kekerasan(harnawatiaj, 2008). &lt;br /&gt;3. Faktor Penyebab &lt;br /&gt;a. Faktor Predisposisi&lt;br /&gt;Berbagai pengalaman yang dialami, tiap orang yang merupakan faktor predisposisi artinya mungkin terjadi / mungkin tidak terjadi perilakukekerasan jika faktor berikut dialami olehindividu:&lt;br /&gt;1. Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timgul agresif atau amuk.&lt;br /&gt;2. Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan sering mengobserpasi kekerasan dirumah  atau diluar rumah, semua aspek ini menstimulasi  individu mengadopsi perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;3. Sosial budaya, budaya tertutup dan membahas secara diam (pasif agresif) dan kontrol sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima.&lt;br /&gt;4. Bioneorologis, banyak pendapat bahwa kerusakan sistem limbik, lobus prontal, lobus temporal, dan ketidak seimbangan neurotransmiter turut berperan dalam terjadinya kekerasan.&lt;br /&gt;b.  Faktor Presipitasi&lt;br /&gt;Faktor presipitas dapat bersumber dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain, kondisi klien dengan kelemahan fisik, keputus asaan, ketidak berdayaan, percaya diri kurang jadi penyebab perilaku kekerasan. Demikian juga dengan situasi lingkungan yang ribut, padat, kritikan yang berakhir pada hinaan, kehilangan orang yang dicintai, atau pekerjaan, dan kekerasan merupakan faktor penyebaba yang lain(Mas danang, 2008). &lt;br /&gt;Perilaku destruktif-diri tidak langsung meliputi: Merokok, Menyabu, Berjudi, Tindakan kriminal, terlibat dalam aktivitas rekreasi beresiko tinggi, Penyalagunaan zat, Perilaku yang menyimpang secara sosial. Prilaku yang menimbulkan stress, Gangguan makan, Ketidak patuhan terhadap pengobatan Medis(stuart, 2007).&lt;br /&gt;4. tanda dan gejala&lt;br /&gt;Muka merah, pandaangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat. Sering pula klien memksakan kehendak, merampas makanan, memukul bila tidak senang. Wawancara diarahakan pada penyebab marah,perasaan marah, tanda-tanda marah yang dirasakan oleh sesorang(harnawatiaj, 2008).  &lt;br /&gt;5. Rentang Respon Perilaku Kekerasan. &lt;br /&gt;a. Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan, kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dirasakan sebagai ancaman. Kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tampa menyakiti orang lain akan memberikan kelegaan dan tidak  menimbulkan masalah. Kegagalan yang menimbulkan frustasi dapat menimbulkan respon pasif dan melarikan diri atau respon melawan dan menentang.&lt;br /&gt;b. Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan. &lt;br /&gt;c. Pasif adalah suatu keadaan dimana individu tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan yang sedang dialami untuk menghindari, suatu tuntutan nyata.&lt;br /&gt;d. Agresif  adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol.&lt;br /&gt;e. Amuk atau kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. Individu dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan. &lt;br /&gt;f. Bunuh diri.&lt;br /&gt;6. Tanda Ancaman Kekerasan.&lt;br /&gt;a. Tindakan kekerasan belum lama, termasuk kekerasan terhadap barang milik&lt;br /&gt;b. Ancaman verbal atau fisik&lt;br /&gt;c. Membawa benda atau senjata lain yang dapat digunakan sebagai senjata&lt;br /&gt;d. Agitasi psikomotor progresif&lt;br /&gt;e. Intoksikasi alkohol atau zat lain&lt;br /&gt;f. Ciri paranoid pada pasien psikotik&lt;br /&gt;g. Halusinasi pendengaran dengan prilakukekerasan tetapi tidak semua pasien berada pada resiko tinggi&lt;br /&gt;h. Penyakit otak&lt;br /&gt;i. Kata tonik&lt;br /&gt;j. Episode masih tertentu&lt;br /&gt;k. Episod depresif&lt;br /&gt;l. Gangguan keperibadian(mas danang, 2008).&lt;br /&gt;7. perilaku unuh diri&lt;br /&gt;Dalam pengkajian bunuh diri, lebih ditekankan pada letalitas dari metode yang mengancam atau digunakan. Orang yang siap bunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan mempunyai alat untuk melakukan bunuh diri. &lt;br /&gt;Perilaku bunuh diri biasanya dibagi tiga: &lt;br /&gt;1. Ancaman bunuh diri: Pernyataan verbal dan non verbal bila seseorang mempertimbangkan untuk bunuh diri. &lt;br /&gt;2. Upaya bunuh diri: semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan oleh individu yang dapat memyebabkan kematian, jika tidak di cegah.&lt;br /&gt;3. Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan(stuart, 2007). &lt;br /&gt;Seperlima dari percobaan bunuh diri tidak dapat di antisipasi sekalipun dengan kemajuan pengetahuan saat ini, presiksi yang akurat masih sulit diperoleh, kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila:&lt;br /&gt;1. Pasien pernah mencobah bunuh diri (terlihat di ruang gawat darurat, bangsal perawatan. &lt;br /&gt;2. Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan. Maupun tidak atau berupa ancaman” kamu tidak saya ganggu lebih lama lagi” terhadap keluarga. &lt;br /&gt;3. Secara objektif terlihat adanya mood yang depresi atau cemas. &lt;br /&gt;4. baru mengalami kehilangan yang bermakna&lt;br /&gt;5. Perubahan Perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-pesan, berbicara serius dan mendalam. &lt;br /&gt;6. Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri (Tamb, 2009). &lt;br /&gt;Tetapi tidak semua percobaan bunuh diri menjadi bunuh diri. Mungkin sulit membedakan antara tindakan yang bertujuan agar mati dan yang merupakan tindakan segaja menyakiti diri sendiri(Hibbert, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.  Kerangka Konsep&lt;br /&gt;Kerangka konseptual adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap kosep yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (setiadi, 2007). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;G. Hipotesis penelitian&lt;br /&gt; Jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah hipotesis komperatif. &lt;br /&gt;Ha : µ  &lt; µ , dimana jika eksperimen lebbih kecil pembanding &lt;br /&gt;H0 :µ  ≥ µ , dimana jika eksperimen lebih besar dari pada pembanding&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Jenis dan Rancangan Penelitian&lt;br /&gt;Jenis penelitian berdasarkan metode adalah eksperimen. &lt;br /&gt;Desain yang dipakai dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimen desain dengan pendekatan Non Equivalen Kontrol. Yaitu mengobserpasi pengamatan pada kelompok perlakuan terhadap kelompok kontrol. &lt;br /&gt;B. Lokasi dan Tempat Penelitian &lt;br /&gt;1. Tempat Penelitian &lt;br /&gt;Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan. Adapun alasan ini memelilih tempat penelitian ini adalah karena di tempat ini pasien dengan perilaku kekerasan peningkatannya tinggi tiap tahunnya dan tidak pernah dilakukan terapi aktivitas kelompok. &lt;br /&gt;2. Waktu Penelitian &lt;br /&gt;Penelitian ini akan dilaksanakan oleh peneliti pada bulan juni 2009 sampai dengan bulan juli 2009. &lt;br /&gt;C. Populasi dan Sampel&lt;br /&gt;1. Populasi &lt;br /&gt;Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti(Notoatmojo, 2005). &lt;br /&gt;Populasi dalam penelitian ini adalah semua klien dengan riwayat perilaku kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan, sebanyak 12 orang. &lt;br /&gt;2. Sampel&lt;br /&gt;Sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah” non-Probability Sampling” dengan tehnik” sampling jenuh” yaitu tehnik penentuan sampel bila semua populasi digunakan sampel (Setiadi, 2007). &lt;br /&gt;Jadi sampel penelitian ini adalah semua klien dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan sebanyak 12 orang. &lt;br /&gt;D. Metode Pengumpulan data&lt;br /&gt;Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber sekunder yaitu sumber yang tidak langsung memeberikan data kepada pengumpul data(lewat orang lain atau dokumen). Tehnik pengumpulan data dilakukan dengan interviw dan observasi (observasi terstruktur ) yaitu pengumpulan data melalui tatap muka dan dalam melakukan pengamatan peneliti menggunakan instrumen peneliti yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, dengan Rating Scale. &lt;br /&gt;Diawali peneliti mengobservasi, dengan instrumen peneliti klien sebelum dilakukan treatment, dan mengobservasi dengan instrumen yang sama setelah dilakukan treatment pada klien pembanding dan klien pengontrol. &lt;br /&gt;E. Variabel dan Defenisi Operasional&lt;br /&gt;1. variabel penelitian &lt;br /&gt;Variabel dalam penelitian ini terdiri dari Varibel Independen(variabel bebes) dan Varibel Dependen (variabel terikat). &lt;br /&gt;Varibel Independen(variabel bebes) dalam penelitian ini adalah Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi. &lt;br /&gt;Varibel Dependen (variabel terikat)  dalam penelitian ini adalah Ekspresi Kemarahan Pada Klien Riwayat Perilaku Kekerasan. &lt;br /&gt;2. Defenisi Operasional&lt;br /&gt; Variabel independen: Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi adalah terapi/aktivitas yang diberikan pada klien merangasang stimulus untuk didiskusikan. &lt;br /&gt; Varibel Dependen : Ekspresi Kemarahan Pada Klien Riwayat Perilaku Kekerasan adalah respon klien terhadap sesuatu stimulus yang biberikan. &lt;br /&gt;F. Metode Pengukuran Data&lt;br /&gt; Pada penelitian ini menggunakan lembar observasi yang sudah vallid dengan 30 pernyataan tentang ekspresi kemarahan pada klien perilaku kekerasan dengan menggunakan skala ordinal dimana :&lt;br /&gt;0 = Tidak ada atau tidak pernah&lt;br /&gt;1 = sesuai dngan yang dialami sampai tingkat tertentu, kadang- kadang&lt;br /&gt;2 = sering&lt;br /&gt;3 = sangat sesuai dengan yang dialami, atau hampir setiap saat. &lt;br /&gt;Dengaan ekspresi kemarahan dikelompokkan menjadi:&lt;br /&gt;0-30  = rendah &lt;br /&gt;31-60  = sedang &lt;br /&gt;61-90  = tinggi &lt;br /&gt; Untuk mempermudah menentukan interval kelas dari jawaban yang masuk melalui lembar observasi maka digunakan. &lt;br /&gt;Rumus &lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;R = nilai tertinngi – nilai terendah&lt;br /&gt;I = lebar interval kelas. &lt;br /&gt;G. Metode Analisa Data&lt;br /&gt; Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji statistik t = test polled varian, yaitu &lt;br /&gt;X +X = Perbedaan Dua Rerata&lt;br /&gt;Sx -x = kesalahn standart&lt;br /&gt;Dimana jika nilai μ &lt; μ  berarti ho ditolak, dengan demikian ada Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;HASIL PENELTIAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Deskripsi Lokasi Penelitian&lt;br /&gt;Peneliti mengambil rumah sakit jiwa mahoni medan menjadi tempat penelitian karena di rumah sakit ini pasien perilaku kekerasan tiap tahunnya meningkat dan tidak pernah dilakukan terapi aktivitas kelompok dalam asuhan keperawatan jiwa. Maka peneliti ingin meneliti dan membuktikan seberapa besar Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. kelompok &lt;br /&gt; Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma yang sama. Anggota kelompok mungkin datang dari berbagai latar belakang yang harus ditangani sesuai dengan keadaannya. Seperti agresif, takut, kebencian, kompotetif, kesamaan, ketidak samaan, kesukaan, dan menarik (Yalom, 1995 dalam stuart dan laraia, 2001). Semua kondisi ini akan mempengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok memberi dan menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam kelompok.  Peneliti membagi responden dalam 2 kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok pembanding, yuang nantinya hasil kedua kelompok ini dibandingkan untuk mengetahui besar penaruh terapi aktivitas kelompok terhadap ekspresi kemarahan pada klien dngan riwayat perilaku kekerasan. &lt;br /&gt;C. Terapi kelompok&lt;br /&gt;Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri (self-awareness). Peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.&lt;br /&gt;D. Terapi Aktifitas Kelompok&lt;br /&gt; Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama(keliat, 2005). &lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktipitas kelompok stimulasi realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi. dan pada penelitian ini terapi dilakukan sesudah klien diobservasi terlebih dahulu dengan lembar obsevasi kemudian diberi terapi aktivitas kelompok, dan sesudah responden diobservasi maka terapi aktivitas kelompok dilakukan kemudian responden dionservasi kembali dengan lembar observasi yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Perilaku Kekerasan&lt;br /&gt;Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk ekspresi kemarahan yang tidak sesuai dimana seseorang melakukan tindakan- tindakan yang dapat membahayakan/ mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan. Seseorang yang mengalami masalah ini harus diberikan rencana dan tindakan yanng sesuai sehingga pola ekspresi kemarahannya dapat diubah menjadi bentuk yang bisa diterima yaitu perilaku yang sesui, yaitu ekspresi kemarahan langsung kepada sumber kemarahan dengan tetap menghargai  orang yang menjadi sumber kemarahan tersebut.&lt;br /&gt;Terapi yang dilakukan pada pasien gangguan jiwa dengan perilaku kekerasan yang ekspresi kemarahannya belum terarah dengan baik(perilaku yanng mal-adaptif), menjadi terarah(perilaku adaptif). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Hasil Analisa Dari Penelitian&lt;br /&gt;Pada peneltian ini dilakukan pada tanggal 7 juli sampai 13 juli dengan  Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Medan. &lt;br /&gt;Adapun data- data yang diperoleh adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karakteristik Responden&lt;br /&gt;Tabel 1.1 karakteristik data demografi berdasarkan usia &lt;br /&gt;a. pada eksperimen&lt;br /&gt;no Usia frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. 20-30&lt;br /&gt;31-40&lt;br /&gt;41-50 2&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;- 33,3%&lt;br /&gt;66,7%&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;b. pada pembanding&lt;br /&gt;no Usia frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. 20-30&lt;br /&gt;31-40&lt;br /&gt;41-50 1&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;- 16,7%&lt;br /&gt;83,3%&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt; Hasil penelitian tentang data demografi pada klien perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa mahhoni medan, yang dilakkukan pada tanggal 7 juli sampai 13 juli 2009 berdasarkan usia sebanyak 10 orang responden. &lt;br /&gt;Tabel 1.2 karakteristik data demografi berdasarkanjenis kelamin &lt;br /&gt;a. pada kelompok eksperimen&lt;br /&gt;no Jenis Kelamin frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt; Laki- laki&lt;br /&gt;perempuan 3&lt;br /&gt;3 50%&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;b. pada kontrol&lt;br /&gt;no Jenis Kelamin frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt; Laki- laki&lt;br /&gt;perempuan 3&lt;br /&gt;3 50%&lt;br /&gt;50%&lt;br /&gt;Hasil penelitian tentang data demografi pada klien dengan riwayat perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa mahoni medan, yang dilakukan pada tanggal 7 juli sampai tanggal 13 juli tahun 2009 berdasarkan jenis kelamin sebanyak 6 0rang perempuan dan 6 orang laki- laki. &lt;br /&gt;2.   Karakteristik Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan&lt;br /&gt;Tabel 2.1 distribusi frekuensi ekspresi kemarahan pada eksperimen&lt;br /&gt;a. pre-test pada eksperimen&lt;br /&gt;no karakteristik frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. Tinggi &lt;br /&gt;Sedang&lt;br /&gt;Rendah  1&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;- 16,7%&lt;br /&gt;83,3%&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. post-test pada eksperimen&lt;br /&gt;no karakteristik frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. Tinggi &lt;br /&gt;Sedang&lt;br /&gt;Rendah  -&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;4 -&lt;br /&gt;33,3%&lt;br /&gt;66,7%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. pre-test pada pembanding&lt;br /&gt;no karakteristik frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. Tinggi &lt;br /&gt;Sedang&lt;br /&gt;Rendah  -&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;- -&lt;br /&gt;100%&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;d. post-test pada pembanding&lt;br /&gt;no karakteristik frekuensi presentase&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;3. Tinggi &lt;br /&gt;Sedang&lt;br /&gt;Rendah  1&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;- 16,7%&lt;br /&gt;83,3%&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt; Karakteristik ekspresi kemarahan pada pre-test yang dikaji pada kelompok eksperimen yang dikaji dengan menggunakan lembar observasi dimana setiap pernyataan diberi kesempatan nilai: 0-3 yang mana 0= tidak ada atau tidak pernah, 1= sesuai yang dialami sampai tingkat tertentu atau kadang- kadang, 2= sering, 3= sangat sesuai dengan yang dialami, atau hampir setiap saat. Kemudian hasil akhir discoring berdasarkan tingkat ekspresi kemarahan yaitu: tinggi= 61-90,  sedang= 31-60, rendah= 0-30. hasil data yang diperoleh sebelum diberi perlakuan responden yang ekspresinya tinggi sebanyak pada kelompok eksperimen 1 orang(16,7%) dan sedang sebanyak 5 orang(83,3%) dan ssesudah dilakukan teratment tinggi -, sedang 2 orang(33,3%), rendah(66,7%). &lt;br /&gt;3. Karakteristik Nilai Tingkat Ekspresi Kemarahan, Sebelum Dan Sesudah Treatment Dilakukan.&lt;br /&gt;a. Pada Kolompok Eksperimen&lt;br /&gt;  Hasil penelitian kemudian diuji statistik dengan uji statistik uji t-test polled varian, dan didapat hasil penelitian sebelum perlakuan pada kelompok eksperimen mean= 50,83 dan sesudah perlakuan mean =29,33. &lt;br /&gt;b. Pada Kelompok Pembanding&lt;br /&gt; Hasil penelitian kemudian diuji statistik dengan uji statistik uji t-test polled varian, dan didapat hasil penelitian sebelum perlakuan mean= 48,33 dan post test mean= 50,33. &lt;br /&gt;4. Perbedaan Ekspresi Kemarahan Sebelum Dan Sesudah Treatment Dilakukan&lt;br /&gt; Untuk mengetahui seberapa besar Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan, digunakan uji statistik t- test polled varian. Dari uji statistik didapat bahwa terapi aktivitas; stimulasi persepsi terhadap ekspresi kemarahan pada klien dengan riwayat perilaku kekerasan pada eksperimen adalah μ &lt; μ , (μ =346,04 &lt;  μ  =1076,4) dan pada kelompok pembanding tidak terdapat Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan adalah μ  ≥ μ  (μ =346,04 dan μ  =1076,4). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; BAB IV&lt;br /&gt;PEMBAHASAN DAN KETERBASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pembahasan&lt;br /&gt;Pada penelitian ini, peneliti membandingkan ekspresi kemarahan pada kelompok pembanding dan kelompok eksperimen.&lt;br /&gt;Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 12 orang, dengan Quasi Eksperimen desain dengan pendekatan Non Equivalen Kontrol., kemudian responden dikaji dengan lembar observasi yang sama sebelum dan sesudah. &lt;br /&gt;Berdasarkan karakteristik data demografi usia dan jenis kelamin dari 12 responden : pada kelompok eksperimen responden yang berusia 20-30 tahun 33,3%(2 orang), 31-40 tahun 66,6%(4 orang),41-50= -,  pada kelompok pembanding responden yang berusia 20-30 tahun 16,6%(1 orang), 31-40 tahun 83,3%(5 orang), 41-50 = -. Dan jenis kelamin pada kelompok eksperimen: laki- laki sebanyak 3 orang, perempuan sebanyak 3 orang. Dan pada kelompok pembanding: laki- laki sebanyak 3 oarang, perempuan sebanyak 3 orang. &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil skoring diperoleh hasil data pada kelompok eksperimen pre-test responden yang ekspresi kemarahannya tinggi= 16,6%(1 orang), sedang= 83,3%(5 orang), dan post-test bahwa pada kelompok eksperimen responden yang ekspresi kemarahannya tinggi= 33,3%(2 orang), sedang= 66,7%(4 orang). Dan pada kelompok pembanding responden yang ekspresi kemarahannya pre-test tinggi=-, sedang=100 %(6 orang), dan post-test bahwa pada kelompok pembanding responden yang ekspresi kemarahannya tinggi=16,7 %( 1orang), sedang 83,3%(5 orang),  rendah = -.&lt;br /&gt;Menurut Dr. Budi anna keliat, bahwa terapi aktivitas kelompok merupakan tempat klien berlatih perilaku yang adaptif untuk memperbaiki perilaku yang lama yang adaptif. Berdasarkan pengalaman dan survey di rumah sakit jiwa, masalah keperawatan yang paling banyak ditemukan adalah perilaku kekerasan, halusinasi, menarik diri, dan harga diri yang rendah. Oleh karena itu terapi aktivitas kelompok diarahkan pada ke empat masalah tersebut. &lt;br /&gt;Menurut linda metcalf bahwa solution focused group therpi menjadi alternatif yang luar biasa bagi seseorang untuk sembuh dn keluar masalahnya serta mudah menemukan satu solusi yang baik. &lt;br /&gt;Sebaiknya mengekspresikan kemarahan dengan perilaku konstruksi dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti hati orang lain, memeberi perasaan lega, ketegangan menurun dan perasaan marah dapat teratasi. Bila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku menantang, biasanya dilakukan individu karena merasa kuat. &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian terapi aktivitas kelompok secara signifikan memberi perubahan terhadap ekspresi kemarahan kearah yang lebih baik pada klien pada riwayat perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa mahoni. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji statistik bahwa nilai eksperimen  lebih kecil dari nilai pembanding yaitu μ =346,04 &lt;  μ  =1076,4. H0 ditolak. Berati ada pengaruh terapi aktivitas kelompok; stimulasi persepsi terhadap ekspresi kemarahan pada klien dengan riwayat perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa mahoni medan tahun 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Keterbatasan Penelitian&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini peneliti mempunyai keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian yaitu: &lt;br /&gt;1. keterbatasan dalam melakukan terapi aktivitas kelompok, karena peneliti perlu bantuan dalam menjalankan terapi berhubungan pasien gangguan jiwa.&lt;br /&gt;2. keterbasan dalam dalam tehnik pengumpulan data berhubung pola pikir pasien gangguan jiwa yang tidak menentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KESIMPULAN&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil penelitian terhadap 12 orang responden dengann Quasi Eksperimen desain dengan pendekatan Non Equivalen Kontrol dengan uji t-test polled varian diproleh hasil μ =346,04 &lt;  μ  =1076,4, jadi kesimpulan ada pengaruh terapi aktivitas; stimulasi persepsi terhadap ekspresi kemarahan pada klien dengan riwayat perilaku kekerasan di rumah sakit jiwa mahoni medan tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SARAN&lt;br /&gt;1. Bagi Lokasi Penelitian &lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok mempengaruhi tingkat perubahan perilaku mal- adaptif menjadi adaptif, maka disarankan bagi tenaga kesehatan dan pihak rumah sakit jiwa mahoni menerapkan terapi aktivitas kelompok menjadi intervensi dalam asuhan keperawatan jiwa. &lt;br /&gt;2. Bagi Peneliti Selanjutnya&lt;br /&gt;Peneliti ini membandingkan kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, sebaiknya peneliti selanjutnya melakukan penelitian tentang perbandingan terapi aktivitas kelompok dengan 2 jenis terhadap gangguan jiwa yang sama untuk membandingkan terapi aktivitas yang lebih efektif. &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arikunto, suharsimi. (2007). Management penelitian. Jakarta: pt. Rineka cipta. &lt;br /&gt;Alimul, a. (2007). Metode penelitian keperawatan dan tehnik analisa data. Jakarta:        salemba medica. &lt;br /&gt;Ani durwiyanti.(2008). Internet. Penderita gangguan jiwa di indonesia semakin meningkat. Jakarta: http://www.Swaberita.com.&lt;br /&gt;Bany hardian.(2008). Internet. 90% kasus bunuh diri terkait gangguan jiwa. Jakarta: http://www.banner-store.blogspot.com.&lt;br /&gt;Copel,lc. (2007). Kesehatan jiwa dan psikiati pedoman klinik perawat, edisi: 2. jakarta: egc&lt;br /&gt;Febriani,rn. (2009). Internet. Laporan akhir tahun bidang kesehatan penderita. Jakarta: http://www.pikiran-rakyat.com.&lt;br /&gt;Fefendy. (2008). Internet. Pengaruh tarapi aktivitas kelompok; latihan asertif. Jakarta: http://www.indonesiannursing.com.&lt;br /&gt;Kel.9. (1999). Kumpulan proses keperawatan masalah keperawatan jiwa. Jakarta: fikui. &lt;br /&gt;Harnawatiaj. (2008). Internet. Perilaku kekerasan. Jakarta: http://www.ronawajah.wordpress.com.&lt;br /&gt;Hilbbert,alison et al. (2009). Rujukan cepat psikiatri. Jakarta: egc. &lt;br /&gt;Keliat,budi et al. (2005). Keperawatan kesehatan jiwa, edisi: 2. jakarta: egc. &lt;br /&gt;Mcghie, andrew. (1996). Penerapan psikologi daalam perawatan, edisi: 1. yogyakarta: andi dan yayasan essentic medica. &lt;br /&gt;Mas danang. (2008). Internet. Gambaran umum pasien dengan perilaku kekerasan. Batam: http://www.masdanang.com.&lt;br /&gt;Mustika sari. (2006). Internet. Faktor- faktor perilaku mencederai diri. Tembolok: http://www.mustikanurse.blogspot.com.&lt;br /&gt;Notoatmodjo. (2005). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: rineka cipta. &lt;br /&gt;Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta: salemba medica. &lt;br /&gt;Setiadi. (2007). Konsep dan penulisan riset keperawatan, edisi: 1. yogyakarta: graha ilmu. &lt;br /&gt;Sugiyono,DR,PROF. (2004). Metode penelitian bisnis. Bandung: CV.ALFABETA. &lt;br /&gt;Stuart,GW.(2207). Buku saku keperawatan jiwa, edisi: 6. jakarta: EGC. &lt;br /&gt;Tomb,DA. (2004). Buku saku diagnosa keperawatan psikiati pedoman untuk pemuat rencana perawatan, edisi: 3. jakarta;EGC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4208146371193288884?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4208146371193288884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/10/pengaruh-terapi-aktivitas-stimulasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4208146371193288884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4208146371193288884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/10/pengaruh-terapi-aktivitas-stimulasi.html' title='Pengaruh Terapi Aktivitas; Stimulasi Persepsi Terhadap Ekspresi Kemarahan Pada Klien Dengan Riwayat Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Meda'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-6399329899109461417</id><published>2009-10-24T20:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-24T20:07:03.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui)'/><title type='text'>LAPORAN PENDAHULUAN Skizofrenia</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Konsep Dasar Skizofrenia&lt;br /&gt;1. Pengertian &lt;br /&gt;Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penyebab&lt;br /&gt;a. Keturunan&lt;br /&gt;Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %,  bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Endokrin&lt;br /&gt;Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Metabolisme&lt;br /&gt;Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Susunan saraf pusat&lt;br /&gt;Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Teori Adolf Meyer :&lt;br /&gt;Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Teori Sigmund Freud&lt;br /&gt;Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Eugen Bleuler&lt;br /&gt;Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Teori lain&lt;br /&gt;Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Ringkasan&lt;br /&gt;Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembagian Skizofrenia&lt;br /&gt;Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain :&lt;br /&gt;a. Skizofrenia Simplek&lt;br /&gt;Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Skizofrenia Hebefrenia&lt;br /&gt;Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Skizofrenia Katatonia&lt;br /&gt;Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Skizofrenia Paranoid&lt;br /&gt;Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Episode Skizofrenia akut&lt;br /&gt;Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Skizofrenia Residual&lt;br /&gt;Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Skizofrenia Skizo Afektif&lt;br /&gt;Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik&lt;br /&gt;1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ;&lt;br /&gt;1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized).&lt;br /&gt;2. Tidak terdapat wamam yang sistemik&lt;br /&gt;3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol – tololan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gejala Klinik&lt;br /&gt;Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :&lt;br /&gt;- Inkoherensi yang jelas&lt;br /&gt;- Afek datar tak serasi atau ketolol – tololan.&lt;br /&gt;- Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.&lt;br /&gt;- Waham / halusinasi yang terpecah – pecah isi temanya tidak terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai.&lt;br /&gt;- Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar.&lt;br /&gt;- Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial.&lt;br /&gt;- Berbagai perilaku tanpa tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan – pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konsep Dasar Halusinasi&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara. Padahal tidak ada orang yang bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Proses terjadinya halusinasi&lt;br /&gt;Fase pertama&lt;br /&gt; Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan memikirkan hal – hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase kedua &lt;br /&gt; Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ketiga.&lt;br /&gt; Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase keempat&lt;br /&gt; Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya, hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tanda – tanda halusinasi &lt;br /&gt;Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang satu arah, menyerang tiba – tiba, arah gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jenis halusinasi&lt;br /&gt;a. Halusinasi dengar&lt;br /&gt;Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Halusinasi terlihat&lt;br /&gt;Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi klien yakin ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Halusinasi penciuman &lt;br /&gt;Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain dan ada sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Halusinasi kecap&lt;br /&gt;Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Halusinasi raba&lt;br /&gt;Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien.&lt;br /&gt;Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi :&lt;br /&gt;1. Identitas klien&lt;br /&gt;2. Keluhan utama/alasan masuk&lt;br /&gt;3. Faktor predisposisi&lt;br /&gt;4. Dimensi fisik / biologis&lt;br /&gt;5. Dimensi psikososial&lt;br /&gt;6. Status mental&lt;br /&gt;7. Kebutuhan persiapan pulang&lt;br /&gt;8. Mekanisme koping&lt;br /&gt;9. Masalah psikososial dan lingkungan&lt;br /&gt;10. Aspek medik&lt;br /&gt;Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.&lt;br /&gt;Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah : Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. Tujuan Umum :&lt;br /&gt;Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang lain / lingkungan.&lt;br /&gt;Tujuan khusus :&lt;br /&gt;1. Klien dapat hubungan saling percaya :&lt;br /&gt;a. Bina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;- Salam terapeutik&lt;br /&gt;- Perkenalan diri&lt;br /&gt;- Jelaskan tujuan interaksi&lt;br /&gt;- Ciptakan lingkungan yang tenang&lt;br /&gt;- Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara).&lt;br /&gt;b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien dapat mengenal halusinasinya&lt;br /&gt;a. Lakukan kontak sering dan singkat&lt;br /&gt;rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kesekitarnya seolah – olah ada teman bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya; &lt;br /&gt;- Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang dikatakan ?&lt;br /&gt;- Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya.&lt;br /&gt;- Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien.&lt;br /&gt;- Katakan bahwa perawatan akan membantu klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Diskusikan dengan klien tentang ;&lt;br /&gt;- Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi.&lt;br /&gt;- Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengungkapkan perasaan.&lt;br /&gt;3. Klien dapat mengontrol halusinasinya&lt;br /&gt;a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi (tidur/marah/menyibukkan diri)&lt;br /&gt;b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila bermanfaat beri pujian.&lt;br /&gt;c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi :&lt;br /&gt;- Katakan “saya tidak mau dengan kamu” (pada halusinasi).&lt;br /&gt;- Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga untuk bercakap – cakap . mengatakan halusinaasinya.&lt;br /&gt;- Membuat jadwal kegiatan sehari – hari agar halusinasi tidak sempat muncul.&lt;br /&gt;- Meminta orang lain (perawat / teman anggota keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri.&lt;br /&gt;d. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus / mengontrol halusinasi secara bertahap.&lt;br /&gt;e. Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil.&lt;br /&gt;f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi persepsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol halusinasinya :&lt;br /&gt;a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi.&lt;br /&gt;b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung / pada saat kunjungan rumah)&lt;br /&gt;- Gejala halusinasinya yang dialami klien&lt;br /&gt;- Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga untuk memutus halusinasi&lt;br /&gt;- Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama&lt;br /&gt;- Berikan informasi waktu follow up atau kapan perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol dan resiko mencederai orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :&lt;br /&gt;a. Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.&lt;br /&gt;b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;c. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan.&lt;br /&gt;d. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi.&lt;br /&gt;e. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Umum :&lt;br /&gt;Klien dapat melakukan komunikasi verbal &lt;br /&gt;Tujuan Khusus : &lt;br /&gt;1. Klien dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;a. Bina hubungan saling percaya dengan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jangan membantah dan mendukung waham klien.&lt;br /&gt;- Katakan perawat menerima : saya menerima keyakinan anda, disertai ekspresi menerima.&lt;br /&gt;- Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi saya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu dan empati.&lt;br /&gt;- Tidak membicarakan isi waham klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung.&lt;br /&gt;- Gunakan keterbukaan dan kejujuran&lt;br /&gt;- Jangan tinggalkan klien sendirian&lt;br /&gt;- Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki&lt;br /&gt;a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas.&lt;br /&gt;b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.&lt;br /&gt;c. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari – hari)&lt;br /&gt;d. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai waham tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi :&lt;br /&gt;a. Observasi kebutuhan klien sehari – hari.&lt;br /&gt;b. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah / di RS.&lt;br /&gt;c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.&lt;br /&gt;d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas klien).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klien dapat berhubungan dengan realitas :&lt;br /&gt;a. Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri orang lain, tempat, waktu)&lt;br /&gt;b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok: orientasi realitas&lt;br /&gt;c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Klien dapat dukungan keluarga :&lt;br /&gt;a. Gejala waham.&lt;br /&gt;b. Cara merawatnya.&lt;br /&gt;c. Lingkungan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar &lt;br /&gt;- Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat penghentian.&lt;br /&gt;- Diskusikan perasaan klien setelah minum obat &lt;br /&gt;- Berikan obat dengan prinsip 5 tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Umum :&lt;br /&gt;Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan diri menjadi adekuat&lt;br /&gt;Tujuan Khusus :&lt;br /&gt;1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri&lt;br /&gt;a. Dorong klien mengungkakan perasaan tentang keadaan dan kebersihan dirinya.&lt;br /&gt;b. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan empati.&lt;br /&gt;c. Beri pujian atas kemapuan klien mengungkapkan perasaan tentang kebersihan dirinya.&lt;br /&gt;d. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan diri&lt;br /&gt;e. Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan dirinya.&lt;br /&gt;a. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang kebutuhan perawatan diri klien&lt;br /&gt;b. Diskusikan dengan keluarga&lt;br /&gt;c. Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi kebutuhan perawatan diri klien.&lt;br /&gt;d. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan keluaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Umum :&lt;br /&gt;Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap &lt;br /&gt;Tujuan Khusus :&lt;br /&gt;1.1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat&lt;br /&gt;a. Bina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;- Salam terapeutik&lt;br /&gt;- Perkenalan diri&lt;br /&gt;- Jelaskan tujuan interaksi&lt;br /&gt;- Ciptakan lingkungan yang tenang&lt;br /&gt;- Bina kontrak yang jelas (topik, waktu, tempak).&lt;br /&gt;b. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya tentang penyakit yang diderita&lt;br /&gt;c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien&lt;br /&gt;d. Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab Serta mampu menolong dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Klien dapat mengindetifikasi kemampuan dan aspek positf yang memiliki&lt;br /&gt;a. Diskusikan kemampuan dan aspek yang di miliki klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh yang masih berfungsi dengan baik, kemampuan lain yang dimiliki oleh klien, aspek positif (keluarga, lingkungan) yang dimiliki klien. Bila klien tidak mampu mengindetifikasi maka dimulai oleh perawat memberi pujian terhadap aspek positif klien.&lt;br /&gt;b. Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif. Utamakan memberikan pujian yang realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan &lt;br /&gt;a. Diskusikan selama sakit&lt;br /&gt;Misal : penampilan klien dalam “self care”, latihan fisik dan ambulasi serta aspek asuhan terkait dengan gangguan fisik yang dialami klien.&lt;br /&gt;b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaanya setelah plan sesuai dengan kondisi sakit klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Klien dapat menetapkan / merencakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki :&lt;br /&gt;a. Rencanakan bersama klien aktivitas bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri, kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan yang membutuhkan bantuan total.&lt;br /&gt;b. Tingkatkan kegiatan sesuai degan tolerasi kondisi klien&lt;br /&gt;c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan (kadang klien takut me laksanakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuan.&lt;br /&gt;a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan &lt;br /&gt;b. Beri pujian atas keberhasilan klien&lt;br /&gt;c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Klien dapat menfaatkan sistem pendukung yang ada &lt;br /&gt;a. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah&lt;br /&gt;b. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat&lt;br /&gt;c. Bantuan keluarga menyiapkan lingkungan di rumah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-6399329899109461417?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/6399329899109461417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/10/laporan-pendahuluan-skizofrenia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6399329899109461417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6399329899109461417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/10/laporan-pendahuluan-skizofrenia.html' title='LAPORAN PENDAHULUAN Skizofrenia'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-6902150466013808846</id><published>2009-09-12T02:30:00.001-07:00</published><updated>2009-09-12T02:32:47.976-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung'/><title type='text'>ASKEP ENDOKARDITIS</title><content type='html'>ENDOKARDITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.&lt;br /&gt; Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan, tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa;  akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena gejalanya tidak khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi&lt;br /&gt; Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 % penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah stertokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor predisposisi dan faktor pencetus.&lt;br /&gt; Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.&lt;br /&gt;Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung. Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis, diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout, dan penyalahan narkotik intravena.&lt;br /&gt;Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;Kuman paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub. &lt;br /&gt;Pembentukan trombus yang mengandung kuman dan kemudian lepas dari endokard merupakan gambaran yang khas pada endokarditis infeksi. Besarnya emboli bermacam-macam. Emboli yang disebabkan jamur biasanya lebih besar, umumnya menyumbat pembuluh darah yang besar pula. Tromboemboli yang terinfeksi dapat teranggkut sampai di otak, limpa, ginjal, saluran cerna, jantung, anggota gerak, kulit, dan paru. Bila emboli menyangkut di ginjal. akan meyebabkan infark ginjal, glomerulonepritis. Bila emboli pada kulit akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri tekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala-gejala&lt;br /&gt; Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya mulai timbul , misalnya sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih-lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, sakit sendi, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada ekstremitas (jari tangan dan kaki), dan sakit pada kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gejala umum&lt;br /&gt;Demam dapat berlangsung terus-menerus retermiten / intermiten atau tidak teratur sama sekali. Suhu 38 - 40 C terjadi pada sore dan malam hari, kadang disertai menggigil dan keringat banyak. Anemia ditemukan bila infeksi telah berlangsung lama. pada sebagian penderita ditemukan pembesaran hati dan limpha.&lt;br /&gt;2. Gejala Emboli dan Vaskuler&lt;br /&gt;Ptekia timbul pada mukosa tenggorok, muka dan kulit (bagian dada). umumya sukar dibedakan dengan angioma. Ptekia di kulit akan berubah menjadi kecoklatan dan kemudian hilang, ada juga yang berlanjut sampai pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan (splinter hemorrhagic).&lt;br /&gt;3. Gejala Jantung&lt;br /&gt;Tanda-tanda kelainan jantung penting sekali untuk menentukan adanya kelainan katub atau kelainan bawaan seperti stenosis mitral, insufficiency aorta, patent ductus arteriosus (PDA), ventricular septal defect (VCD), sub-aortic stenosis, prolap katub mitral. Sebagian besar endocarditis didahului oleh penyakit jantung, tanda-tanda yang ditemukan ialah sesak napas, takikardi, palpasi, sianosis, atau jari tabuh (clubbing of the finger). Perubahan murmur menolong sekali untuk menegakkan diagnosis, penyakit yang sudah berjalan menahun, perubahan murmur dapat disebabkan karena anemia . Gagal jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infeksi, dan lebih sering terjadi pada insufisiensi aorta dan insufisiensi mitral, jarang pada kelainan katub pulmonal dan trikuspid serta penyakit jantung bawaan non valvular .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Endokarditis infeksi akut&lt;br /&gt;Infeksi akut lebih sering timbul pada jantung yang normal, berbeda dengan infeksi sub akut, penyakitnya timbul mendadak, tanda-tanda infeksi lebih menonjol, panas tinggi dan menggigil, jarang ditemukan pembesaran limfa, jari tabuh, anemia dan ptekia . Emboli biasanya sering terjadi pada arteri yang besar sehingga menimbulkan infark atau abses pada organ bersangkutan. Timbulnya murmur menunjukkan kerusakan katub yang sering terkena adalah katub trikuspid berupa kebocoran, tampak jelas pada saat inspirasi yang menunjukkan gagal jantung kanan, vena jugularis meningkat, hati membesar, nyeri tekan, dan berpulsasi serta udema. Bila infeksi mengenai aorta akan terdengar murmur diastolik yang panjang dan lemah. Infeksi pada aorta dapat menjalar ke septum inter ventricular dan menimbulkan abses. Abses pada septum dapat pecah dan menimbulkan blok AV . Oleh karena itu bila terjadi blok AV penderita panas tinggi, kemungkinan ruptur katub aorta merupakan komplikasi yang serius yang menyebabkan gagal jantung progresif. Infeksi katub mitral dapat menjalar ke otot papilaris dan menyebabkan ruptur hingga terjadi flail katub mitral.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Laboratorium&lt;br /&gt;Leukosit dengan jenis netrofil, anemia normokrom normositer, LED meningkat, immunoglobulin serum meningkat, uji fiksasi anti gama globulin positf, total hemolitik komplemen dan komplemen C3 dalam serum menurun, kadar bilirubin sedikit meningkat.&lt;br /&gt;Pemeriksaan umum urine ditemukan maka proteinuria dan hematuria secara mikroskopik. Yang penting adalah biakan mikro organisme dari darah . Biakan harus diperhatikan darah diambil tiap hari berturut-turut dua / lima hari diambil sebanyak 10 ml dibiakkan dalam waktu agak lama (1 - 3 minggu) untuk mencari mikroorganisme yang mungkin  berkembang agak lambat. biakkan bakteri harus dalam media yang sesuai. NB: darah diambil sebelum diberi antibiotik . Biakan yang positif uji resistansi terhadap antibiotik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Echocardiografi&lt;br /&gt; Diperlukan untuk:&lt;br /&gt;• melihat vegetasi pada katub aorta terutama vegetasi yang besar ( &gt; 5 mm)&lt;br /&gt;• melihat dilatasi atau hipertrofi atrium atau ventrikel yang progresif&lt;br /&gt;• mencari penyakit yang menjadi predisposisi endokarditis ( prolap mitral, fibrosis, dan calcifikasi katub mitral )&lt;br /&gt;• penutupan katub mitral yang lebih dini menunjukkan adanya destrruktif katub aorta dan merupakan indikasi untuk melakukan penggantian katub&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Diagnosis&lt;br /&gt;Diagnosis endokarditis infeksi dapat ditegakkan dengan sempurna bila ditemukan kelainan katub, kelainan jantung bawaan, dengan murmur , fenomena emboli, demam dan pembiakan darah yang positif. Diagnosis dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria diatas.&lt;br /&gt;Endokarditis paska bedah dapat diduga bilamana terjadi panas, leukositosis dan anemia sesudah operasi kardiovaskuler atau operasi pemasangan katub jantung prostetik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pengobatan&lt;br /&gt;Pemberian obat yang sesuai dengan uji resistensi dipakai obat yang diperkirakan sensitif terhadap mikroorganisme yang diduga.   Bila penyebabnya streptokokus viridan yang sensitif terhadpa penicillin G , diberikan dosis 2,4 - 6 juta unit per hari selama 4 minggu, parenteral untuk dua minggu, kemudian dapat diberikan parenteral / peroral penicillin V karena efek sirnegis dengan streptomicin, dapat ditambah 0,5 gram tiap 12 jam untuk dua minggu .  Kuman streptokokous fecalis (post operasi obs-gin) relatif resisten terhadap penisilin sering kambuh dan resiko emboli lebih besar  oleh karena itu digunakan penisilin bersama dengan gentamisin yang merupakan obat pilihan. Dengan dosis penisilin G 12 - 24 juta unit/hari,dan gentamisin 3 - 5 mg/kgBB dibagi dalam 2 - 3 dosis. Ampisilin dapat dipakai untuk pengganti penisilin G dengan dosis 6 - 12 gr/hari . Lama pengobatan 4 minggu dan dianjurkan sampai 6 minggu. Bila kuman resisten dapat dipakai sefalotin 1,5 gr tiap jam (IV) atau nafcilin 1,5 gr tiap 4 jam atau oksasilin 12 gr/hari atau vankomisin 0,5 gram/6 jam, eritromisin 0,5 gr/8 jam lama pemberian obat adalah 4 minggu. Untuk kuman gram negatif diberikan obat golongan aminoglikosid : gentamisin 5 - 7 mg/kgBB per hari, gentamisin sering dikombinsaikan dengan sefalotin, sefazolia 2 - 4 gr/hari , ampisilin  dan karbenisilin. Untuk penyebab jamur  dipakai amfoterisin B 0,5 - 1,2 mg/kgB per hari (IV) dan flucitosin 150 mg/Kg BB per hari peroral dapat dipakai sendiri atua kombinasi. Infeksi yang terjadi katub prostetik tidak dapat diatasi oleh obat biasa, biasanya memerlukan tindakan bedah. Selain pengobatan dengan antibiotik penting sekali mengobati penyakit lain yang menyertai seperti : gagal Jantung . Juga  keseimbangan elektrolit, dan  intake yang cukup .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pencegahan&lt;br /&gt; Faktor predisposisi sebaiknya diobati (gigi yang rusak, karies,selulitis dan abses).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Miokarditis&lt;br /&gt;adalah radang otot jantung atau miokard. Peradangan ini dapat disebabkan oleh penyakit reumatik akut dan infeksi virus seperti cocksakie virus, difteri , campak, influenza , poliomielitis, dan berbagai macam bakteri, rikettsia, jamur, dan parasit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Epidemiologi&lt;br /&gt;Miokarditis menyerang semua umur . Sebagian besar dapat sembuh spontan. Miokarditis post mortem  karena peradangan fokal atau difus.  Miokarditis sering disertai radang perikard atau mioperikarditis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Gejala klinis&lt;br /&gt;Gejala klinis tidak khas, kelainan ECG sepintas, jarang menyebabkan pembesaran jantung, irama gallop dan dekompensasi jantung. Miokarditis oleh reuma akut disertai gejala berat .&lt;br /&gt; Gejala yang sering ditemukan:&lt;br /&gt;• Takikardia.&lt;br /&gt; Peningkatan suhu akibat infeksi menyebabkan frekuensi denyut nadi akan meningkat lebih tinggi .&lt;br /&gt;• Bunyi jantung melemah, disebabkan penurunan kontraksi otot jantung . Katub-katub mitral dan trikuspid tidak dapat ditutup dengan keras&lt;br /&gt;• Auskultasi: gallop, gangguan irama supraventrikular dan ventrikular&lt;br /&gt;• Gagal jantung.&lt;br /&gt; Dekompensasi jantung terutama mengenai jantung sebelah kanan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Diagnosis &lt;br /&gt;Bila tanda infeksi penyakit lain tidak ditemukan (decomp kanan, penyakit jantung bawaan, penyakit katub jantung , penyakit jantung koroner dan lain-lain) maka perlu dipikirkan ke miokarditis. Sukar dibedakan kardiomiopati kongestif, tetapi dengan pemeriksaan echografi dapat membantu menegakkan diagnosis. Pemeriksaan EKG, histologik dan mikroskopik elektron dan pemeriksaaan immunofluoresensi juga membantu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pengobatan&lt;br /&gt;• Seperti pengobatan gagal jantung&lt;br /&gt;• Pengobatan mengatasi infeksi&lt;br /&gt;• Bedrest&lt;br /&gt;• Bantuan pacu jantung&lt;br /&gt;Untuk miokarditis akibat difteri sering berbahaya karena dapat mengganggu konduksi jantung sehingga terjadi blokade jantung total dalam hal ini penderita harus mendapat alat pacu jantung permanen.    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Perikarditis&lt;br /&gt;Perikarditis adalah peradangan perikard parietal, viseral atau keduanya. Perikarditis dibagi atas perikarditis akut, sub akut dan kronis. Yang sub akut dan kronis mempunyai etiologi dan pengobatan yang sama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Perikarditis akut&lt;br /&gt;disertai dengan nyeri dada dan abnormalitas EKG , serta ditemukan perikardial friction rub (trias klasik).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Etiologi &lt;br /&gt;penyakit idiopatik (beningna), infeksi non spesifik (virus, bakteri, jamur , TBC, penyakit kolagen, artritis reumatoid, sistemic lupus eritromatosus, neoplasma seperti mesotelioma, tumor metastasis, trauma, radiasi, uremia, infark miokard akut, dressler sindrom, sindrom paska perikardiotomi , dan diseksi aorta). Walaupun banyak penyebab perikarditis akut, penyebab paling  sering dengan urutan adalah : infeksi virus, infeksi bakteri, uremia, trauma, sindrom paska infark, sindrom paska perikardiotomi, neoplasma dan idiopatik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Gejala klinik&lt;br /&gt;Sakit dada sub sternal/para sternal , kadang menjalar ke bahu, lebih ringan bila duduk. Pemeriksaan klinik ditemukan perikardial friction rub dan pembesaran jantung. Tanda-tanda penyumbatan ditemukan lewat tekanan vena meningkat, hematomegali dan udem kaki, bunyi jantung lemah, tetapi dapat normal bila efusi perikard berada dibelakang.&lt;br /&gt;Foto rontgen tampak normal bila efusi perikar sedikit. Tampak bayangan jantung membesar bila efusi perikard banyak. EKG memperlihatkan segmen ST tanpa perubahan resiprokal, voltase QRS rendah. Pemeriksaan Echo: M-mode dua dimensi sangat baik untuk memastikan adanya efusi dan banyaknya cairan .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Perikarditis sub akut dan kronik&lt;br /&gt;Sindrom perikarditis sub akut (6 minggu - 6 bulan) menyerupai perikarditis kronik dalam hal etiologi ,manifestasi klinik, cara pengobatannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Variasi Patologis :&lt;br /&gt;• Efusi perikardial kronik&lt;br /&gt;Kecurigaan efusi kronik bila ditemukan adanya: Pembengkakan pada foto ronsen, tekanan vena meningkat, auskultasi lemah tetapi tanpa ada kegagalan jantung.&lt;br /&gt; Berdasarkan sifat cairan maka etiologinya dapat dibedakan :&lt;br /&gt;• Efusi perokardial kronik yang bersifat serius disebabkan oleh gagal jantung, hipoalbuminemia, pasca radiasi dada dan virus perikarditis rekuren&lt;br /&gt;• Efusi yang bersifat seroisanguinous disebabkan oleh urema, perikarditis neoplastik dan trauma tumpul.&lt;br /&gt;• Efusi serofibrinous yang disebabkan bakterial, tuberkolosis dan SLE &lt;br /&gt;• Efusi hemorhagik karena paska bedah jantung, infark jantung setelah terapi antikoagulan, tumor pembuluh darah . &lt;br /&gt;• Efusi chylus disebabkan paska bedah obstruksi limfatik akibat metastasis dan obstruksi limfatik massa intra toraks  yang dapat menyebabkan idiopatik&lt;br /&gt;• Efusi kolesterol sifatnya idiopatik disebabkan miksidema&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pendekatan diagnostik    &lt;br /&gt;Bila efusi diketahui menentukan etiologi dimulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mencari miksidema, trauma dada, radiasi, infeksi kronik, uremia, penyakit hati kronik dan TBC. Biopsi dibiakkan dan pemeriksaan histologis diusahakan untuk menetapkan etiologi .   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pengobatan&lt;br /&gt;Menggunakan indometasin/kortikosteroid. Bila efusi kronik perlu dipertimbangkan perikardiotomi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Perikarditis efusi konstriktif&lt;br /&gt;Ditandai dengan penebalan perikard serta efusi.  Biasanya diketahui setelah aspirasi perikard sedangkan tanda-tanda kompressi masih tetap ada. Penyebab paling sering ialah radiasi. Penyebab lainnya : mioplasma-TBC.  &lt;br /&gt; Secara klinis : berupa lelah fatigue, dyspnea d”effort , dan perasaan berat prekordial . &lt;br /&gt;Gejalanya tekanan vena meningkat, tekanan nadi normal atua sedikit menurun dan pulsus paradoksus. Foto rontgen menunjukkan adanya pembesaran jantung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Perikarditis kontriktif&lt;br /&gt;Terjadi bila jaringan parut (sikatrik) perikard viseral - parietal cukup berat sehingga pengembangan volume jantung terhambat pada fase diastolik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Etiologi :&lt;br /&gt;• Herediter : mulbreynanism&lt;br /&gt;• Infeksi : bakteri, TBC, jamur,virus, parasit &lt;br /&gt;• Penyakit kolagen : artritis reumatoid,SLE, periarteritis nodosa&lt;br /&gt;• Metabolik: uremia&lt;br /&gt;• Traumatik: trauma tumpul, pembedahan&lt;br /&gt;• Terapi  radiasi&lt;br /&gt;• Neoplasma : tumor perikard, metastasis&lt;br /&gt;• Idiopatik&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Gejala :&lt;br /&gt;Urutannya sbb : dispnea, edema perifer, pembesaran perut, gangguan abdominal, lelah ortopnoe,palpitasi , batuk, nausea dan paroxysmal nocturnal dispnea.&lt;br /&gt;Foto rontgen dada biasanya menunjukkan besar jantung normal,kadang-kadang membesar pada 10%. Vena kava melebar di mediastinum kanan atas, atrium kiri membesar, penebalan perikard . EKG memperlihatkan low voltage, segmen ST dan inversi gelombang T yang menyeluruh. QRS irama sinus bisa juga timbul fibrilasi atrium. Ekokardiografi M Mode bisa menunjukkan penebalan dinding perikardium.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pengobatan&lt;br /&gt;Perikardiektomi merupakan tindakan  untuk menghilangkan tahanan pengisian ventrikel pada fase diastolik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Perikarditis adhesif&lt;br /&gt;Merupakan akibat perlengketan diantara kedua lapis perikard atau dengan jaringan sekeliling mediastinum. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pengkajian data dasar pasien&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Aktivitas/istirahat :&lt;br /&gt; Data subyektif       : Keletihan, kelemahan&lt;br /&gt; Data obyektif         : Takikardia&lt;br /&gt;                                  Tekanan darah menurun&lt;br /&gt;                                  Dispnoe pada saat aktivitas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sirkulasi                 &lt;br /&gt; data subyektif         : &lt;br /&gt;• Mempunyai riwayat demam rematik, keturunan penyakit jantung, pernah operasi jantung, by-pass&lt;br /&gt;• sering berdebar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; data obyektif          : &lt;br /&gt;• Takikardi, disritmi , friction rub perikardia, murmur, disfungsi otot-otot papila,irama gallop S3/S4 , edem&lt;br /&gt;• Peningkatan vena jugularis,ptekia (konjungtiva dan membran mukus)&lt;br /&gt;• Perdarahan pada bagian tertentu &lt;br /&gt;• Osler’s nodes pada jari/jari kaki&lt;br /&gt;• Janeway lessions (telapak tangan,dan kaki)                                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eliminasi&lt;br /&gt;data subyektif :&lt;br /&gt;• Riwayat penyakit ginjal atau gagal ginjal&lt;br /&gt;• Riwayat frkwensi pemasukkan urin menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;data obyektif :&lt;br /&gt;• Konsentrasi urine keruh/pekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyaman :&lt;br /&gt;data subyektif:&lt;br /&gt;• Nyeri dada di bagian anterior (keras/tajam) sewaktu inspirasi , batuk, beraktivitas, berbaring ;  sakit berkurang bila duduk , Nyeri dada berpindah-pindah ke belakang, tidak berkurang dengan pemberian gliserin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;data obyektif:&lt;br /&gt;• Gelisah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respirasi :&lt;br /&gt;data subyektif:&lt;br /&gt;• Napas pendek ,memburuk pada malam hari (miokarditis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;data obyektif:&lt;br /&gt;• Dyspnea nocturnal&lt;br /&gt;• Batuk&lt;br /&gt;• Inspirasi wheezing&lt;br /&gt;• takipnea&lt;br /&gt;• creackles dan ronchi lemah&lt;br /&gt;• Respirasi lambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keamanan:&lt;br /&gt;data subyektif:&lt;br /&gt;• Riwayat infeksi virus, bakteri, jamur atau parasit, trauma dada, kanker yang menyebar ke dada, penyakit baru di gigi, pernah dilakukan endoskopi GI/GU, pernah mendapat terapi sistim kekebalan contoh: immunosupressin, SLE, penyakit kolagen.&lt;br /&gt;data obyektif:&lt;br /&gt;• demam &lt;br /&gt;Kebutuhan belajar :&lt;br /&gt;• bantu dalam pengolahan makanan&lt;br /&gt;• rekreasi&lt;br /&gt;• transportasi&lt;br /&gt;• self care/kebutuhan pribadi&lt;br /&gt;• kelangsungan kebutuhan rumah tangga (ibu rumah tangga)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes diagnostik:&lt;br /&gt;• EKG menunjukkan adanya iskemia, hipertropi, blok konduksi, disritmia (elevasi ST), PR depresi&lt;br /&gt;• Echocardiografi: adanya efusi perikardial, hipertropi perikardial, disfungsi katub, dilatasi atrium&lt;br /&gt;• Enzim jantung: peningkatan CPK, tapi MB inzuenzim tidak ada&lt;br /&gt;• Angiografi: terlihat stenosis katup dan regurgitasi dan atau menurunnya gerakan&lt;br /&gt;• Rontgen: terlihat pembesaran jantung, infiltrat pulmonal&lt;br /&gt;• CBC : terjadi proses infeksi akut / kronik ; anemia&lt;br /&gt;• Kultur darah : untuk mengisolasi penyebab bakteri , virus dan jamur&lt;br /&gt;• ESR: elevasi secara umum&lt;br /&gt;• Titer ASO : demam rematik (kemungkinan faktor pencetus)&lt;br /&gt;• Titer ANA : positif dengan penyakit autoimmun contoh: SLE (kemungkinan faktor pencetus)&lt;br /&gt;• BUN: mengevaluasi uremia (kemungkinan faktor pencetus)&lt;br /&gt;• Perikardiosentesis: cairan perikardial diperiksa untuk mengetahui penyebab infeksi, bakteri,TBC, virus atau infeksi jamur, SLE, penyakit rematik, keganasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas keperawatan:&lt;br /&gt;1. Timbulnya nyeri &lt;br /&gt;2. Peningkatan istirahat dan membantu perawatan diri&lt;br /&gt;3. Kaji pengobatan / penyebab yang mendasari&lt;br /&gt;4. Mengatur sistim penyakit yang mendasari/ dan mencegah komplikasi&lt;br /&gt;5. Petunjuk penyebab penyakit, pengobatan dan pencegahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana tujuan:&lt;br /&gt;1. Nyeri dapat dikontrol&lt;br /&gt;2. Tingkat aktifitas (kebutuhan dasar) dapat dipenuhi &lt;br /&gt;3. Infeksi dapat dikontrol : tidak terjadi demam&lt;br /&gt;4. Mempertahankan hemodinamik yang stabil; bebas keluhan payah jantung&lt;br /&gt;5. Perubahan gaya jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Keperawatan Pasien dengan penyakit infeksi jantung (Perikarditis, Miokarditis, dan Endokarditis)&lt;br /&gt;Diagnosa I. Nyeri akut sehubungan dengan peradangan miokardium atau perikardium, efek sistemik dari infeksi, dan iskemi jaringan.(miokardium). Ditandai dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Nyeri dada yang menjalar ke leher atau punggung.&lt;br /&gt;• Nyeri sendi (joint pain)&lt;br /&gt;• Nyeri bertambah saat inspirasi dalam, melakukan aktifitas, dan merubah posisi.&lt;br /&gt;• Demam atau kedinginan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;• Klien dapat mengidentifikasi cara-cara  untuk mencegah nyeri.&lt;br /&gt;• Klien dapat mengontrol dan melaporkan nyeri yang timbul&lt;br /&gt;• Klien dapat mendemostrasikan tehnik relaksasi dan berbagai aktivitas yang diindikasikan untuk keadaan individual.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan Rasional&lt;br /&gt;Independen:&lt;br /&gt;Observasi adanya nyeri dada , catat waktu ,  faktor - faktor penyulit / pencetus, catat tanda -  tanda nonverbal dari rasa tidak nyaman seperti kelemahan, ketegangan otot dan menangis.  Lokasi nyeri perikarditis pada bagian substernal menjalar ke leher dan punggung. Tetapi berbeda dengan nyeri iskemi miokardial /infark. Nyeri tersebut akan bertambah pada saat inpirasi dalam, perubahan posisi, dan berkurang pada saat duduk/bersandar ke depan.&lt;br /&gt;Catatan: Nyeri dada ini ada atau tidaknya pada endokarditis/miokarditis tergantung adanya iskemi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelihara atau ciptakan lingkungan yang tenang dan tindakan yang menyenangkan seperti perubahan posisi, beri kompres dingin atau hangat, dukungan mental, dan sebagainya. &lt;br /&gt; Tindakan - tindakan tersebut dapat mengurangi ketidaknyamanan fisik dan emosional pasien.&lt;br /&gt;Kolaboratif:&lt;br /&gt;Berikan obat - obatan sesuai indikasi: &lt;br /&gt;Nonsteroid, seperti:  ndometachin (indosin), ASA (aspirin).&lt;br /&gt;Antipiretik, seperti: ASA / Asetaminophen (Tylenol) , Steroid.&lt;br /&gt;Berikan oksigen sesuai indikasi. &lt;br /&gt;Dapat mencegah timbulnya nyeri atau mengurangi respon inflamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi demam dan memberikan rasa nyaman.&lt;br /&gt;Berikan untuk gejala lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaksimalkan kemampuan pemakaian oksigen untuk mengurangi ketidaknyamanan sehubungan dengan iskemia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa  III. Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan implamasi dan degenerasi sel-sel otot miokarditis, restriksi pengisian jantung (kardiak output)&lt;br /&gt;Ditandai dengan :&lt;br /&gt;• Keluhan kelemahan/kelelahan/sesak saat beraktifitas&lt;br /&gt;• Perubahan tanda-tanda vital saat aktifitas&lt;br /&gt;• Tanda-tanda CHF .&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi:&lt;br /&gt;• Peningkatan  kemampuan aktifitas. &lt;br /&gt;• Pengurangan tanda-tanda fisiologik yang tidak sesuai&lt;br /&gt;• Mengungkapkan pentingnya aktifitas yang terbatas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan Rasional&lt;br /&gt;Independen:&lt;br /&gt;Kaji respon aktifitas pasien. Catat adanya/timbulnya dan perubahan keluhan seperti kelemahan, kelelahan dan sesak napas saat beraktifitas. Miokarditis menyebabkan imflamasi dan memungkinkan gangguan pada sel-sel otot yang dapat mengakibatkan CHF.&lt;br /&gt;Penurunan pengisian jantung/kardiak output akan menyebabkan cairan terkumpul pada rongga perikardial (bila ada perikarditis) yang pada akhirnya endokarditis dapat menimbulkan gangguan fungsi katub dan kecendrungan penurunan kardiak output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monitor denyut atau irama jantung /nada, takanan darah dan jumlah pernapasan, sebelum/sesudah dan selama aktifitas sesuai kebutuhan. Membantu menggambarkan tingkat dekompensasi jantung dan paru. Penurunan tekanan darah, takikardi, dan takipnea adalah indikasi gangguan aktifitas jantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahankan bedrest selama periode demam dan sesuai indikasi.  Kendalikan perubahan infeksi selama fase akut pada erikarditis/endokarditis. &lt;br /&gt;Catatan: Demam meningkatkan kebutuhan dan kosumsi oksigen, karenanya meningkatkan kerja jantung dan mengurangi kemampuan beraktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencanakan perawatan dengan pengaturan istirahat/periode tidur. Memelihara keseimbangan kebutuhan aktifitas jantung, meningkatkan proses penyembuhan dan kemampuan koping emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaji kemampuan pasien dengan program latihan berkala sesegera mungkin untuk turun dari tempat tidur. Catat respon gejala vital dan peningkatan kemampuan beraktifitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Evaluasi respon emosional terhadap situasi/pemberian support. Kecemasan akan timbul karena infeksi dan kardiak respon (psikologik). Tingkat kekhawatiran dan kebutuhan pasien akan koping emosional yang baik ditimbulkan oleh kemungkinan sakit yang mengancam kehidupan. Dukungan dan support dibutuhkan untuk menghadapi kemungknan frustasi karena hospitalisasi yang lama/periode penyembuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolaborasi:&lt;br /&gt;Berikan terapi oksigen sesuai indikasi. Peningkatan kemapuan oksigenisasi pada miokarditis mengimbangi peningkatan komsumsi oksigen. Dapat terlihat pada aktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diagnosa III. Potensial penurunan cardiak output sehubungan dengan  peningkatan/penumpukan cairan pada rongga perikardium, stenosis/insufisiensi katub, penekanan/kontriksi fungsi ventrikel, dan degenerasi otot-otot jantung.&lt;br /&gt;Ditandai oleh :&lt;br /&gt;(tidak dicantumkan ; tanda-tanda dan gejala -gejala hanya untuk diagnosa yang aktual).&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi:&lt;br /&gt;• Berkurangnya keluhan sesak napas/dyspnea, angina dan disritmia.&lt;br /&gt;• Identifikasi perilaku untuk mengurangi kerja jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan Rasional&lt;br /&gt;Independen :&lt;br /&gt;Monitor jumlah dan irama nadi/jantung Takikardi dan disritmia dapat terjadi sebagai usaha jantung untuk meningkatkan output sebagai respon terhadap demam, hipoksia, dan asidosis sehubungan dengan iskemia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auskultasi suara jantung.Catat bunyi murmur, S3 dan S4 Gallop  Membantu deteksi dini adanya kompliksi seperti CHF dan kardiak tamponade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahankan bedrest dalam posisi semi fowler. Mengurangi kerja jantung dan memaksimalkan cardiac output&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan tindakan untuk rasa nyaman seperti perubahan posisi dan perubahan aktifitas. Meningkatkan relaksasi dan memberikan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan tehnik manegament stres seperti latihan napas . Berguna untuk mengontrol kecemasan, meningkatkan relaksasi dan mengurangi kerja jantung dan cardiac output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi adanya nadi yang cepat, hipotansi, peningkatan CVP/JVD, perubahan suara jantung,  penurunan tingkat kesadaran.  Manifestasi klinik pada cardiac tamponade yang mungkin terjadi pada perikarditis ketika akumulasi cairan eksudat pada rongga perikardial mengurangi pengisian jantung dan cardiac output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi keluhan kelelahan, sesak napas, prepitasi,  nyeri dada yang terus -menerus. Catat adanya pertambahan suara pernapasan, demam.&lt;br /&gt; Manifestasi CHF akibat endokarditis (infeksi/disfungsi katub) atau miokarditis (disfungsi otot-otot miokardial akut) &lt;br /&gt;Kolaborasi:&lt;br /&gt;Berikan terapi oksigen sesuai indikasi Meningkatkan penggunakan oksigen untuk fungsi miokardial dan mengurangi efek metabolisme anaerob yang dapat terjadi sebagai akibat dari hipoksia dan asidosis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berikan terapi sesuai indikasi seperti diuretika dan digitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan antibiotika dan antimicroba intravena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapkan klien untuk operasi sesuai indikasi. Dapat diberikan untuk meningkatkan kontraksi otot jantung dan mengurangi kerja jantung yang berlebihan pada CHF (miokarditis).&lt;br /&gt;Diberikan untuk patogen tertentu (pada endokarditis, perikarditis, miokarditis) untuk mencegah kerusakan/gangguan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Penggantian katub perlu untuk memperbaiki cardiac output (perikarditis). Perikardiaktomi mungkin juga dilakukan karena adanya akumulasi yang berlebihan cairan  perikardial atau adanya jaringan parut dan kontriksi fungsi jantung (perikarditis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diagnosa IV. Potensial gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan trombuemboli atau kerusakan sekunder katub-katub pada endokarditis.&lt;br /&gt;Ditandai oleh :&lt;br /&gt;(Tidak dicantumkan karena tanda dan gejala hanya untuk diagnosa yang aktual)&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi:&lt;br /&gt;Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat sesuai dengan kebiasaan individu seperti kebiasaan makan, tanda-tanda vital yang pasti, kehangatan, tekanan nadi perifer, keseimbangan intake dan output.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan Rasional&lt;br /&gt;Independen:&lt;br /&gt;Evaluasi status mental. Catat adanya hemiparalisis aphasia, muntah, peningkatan tekanan darah. &lt;br /&gt;Indikasi adanya emboli sistemik ke otak. &lt;br /&gt;Kaji nyeri dada, dispnea yang tiba-tiba ditandai dengan takipnea, nyeri pleuritis, cyanosis. Emboli arterial pada jantung atau organ penting lain dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung atau disritmia kronik.&lt;br /&gt;Kongesti vena dapat menunjukan tempat trombus pada vena-vena yang dalam dan emboli paru.&lt;br /&gt;Observasi oedema pada ekstremitas. Catat kecendrungan / lokasi nyeri, tanda-tanda Homan positif. Inaktifitas / bedrest yang lama dapat menimbulkan terjadinya kongesti vena dan trombosis vena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Observasi adanya hematuria yang ditandai oleh nyeri pinggang dan oliguria. Indikasi adanya emboli ginjal&lt;br /&gt;Catat keluhan nyeri perut kiri atas menjalar ke bahu, kelemahan lokal, abdominalngiditas Indikasi emboli kandung empedu&lt;br /&gt;Meningkatkan/mempertahankan bedrest sesuai dengan anjuran Untuk membantu mencegah peyebaran atau perpindahan emboli pada pasien dengan endokarditis. Pada bedrest yang lama (sering dilakukan oleh pasien dengan endokarditis dan miokarditis) beresiko untk mengalami tromboemboli.&lt;br /&gt;Kolaborasi&lt;br /&gt;Gunakan stoking antiemboli sesuai indikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menggunakan sirkulasi perifer dan arus balik vena  dan mengurangi resiko trombus pada vena superfisial/vena yang lebih dalam.&lt;br /&gt;Berikan antikoagulan seperti heparin, warfarin (coumadin) Heparin dapat digunakan secara propilaksi pada pasien dengan bedrest yang lama seperti sepsis atau CHF dan sebelum atau sesudah operasi penggantian katub. Catatan heparin merupakan kontradiksi pada perikarditis dan cardiac tamponade.&lt;br /&gt;Coumadin adalah pengobatan jangka panjang yang digunakan untuk setelah penggatian katub atau pada emboli perifer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa V. Kurangnya pengetahuan (mengenai kondisi dan tindakan) sehubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, cara pencegahan terjadinya komplikasi.&lt;br /&gt;Ditandai oleh :&lt;br /&gt;• Bertanya-tanya tentang inforamsi&lt;br /&gt;• Kegagalan untuk perbaikan&lt;br /&gt;• Pencegahan komplikasi&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi:&lt;br /&gt;• Mengungkapkan pengertian tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan dengan kemungkinan komplikasi.&lt;br /&gt;• Mengenal perubahan gaya hidup/tingkah laku untuk mencegah terjadinya komplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan Rasional&lt;br /&gt;Independen:&lt;br /&gt;Jelaskan effek emosi inflamasi pada jantung secara individual. Berikan penjelasan mengenai gejala-gejala komplikasi dan tanda-tanda tersebut harus segera dilaporkan pada petugas kesehatan seperti demam, peningkatan nyeri dada yang luar biasa, bertambahnya keterbatasan beraktifitas.&lt;br /&gt; Untuk bertanggung jawab kepada kesehatannya, pasien membutuhkan pengertian tentang penyebab khusus, tindakan dan efek jangka panjang yang mungkin terjadi pada kondisi inflamasi, baik tanda dan gejala atau komplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beritahukan pasien / orang terdekat mengenai dosis, aturan , dan efek pengobatan, diit yang dianjurkan, pembatasan aktifitas yang dapat dilakukan Informasi dibutuhkan untuk meningkatkan perawatan diri, untuk menambah kejelasan efektifitas pengobatan dan mencegah komplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelaskan tentang pentingnya pengobatan antibiotik/antimikroba jangka panjang Pemberian antibiotik/antimikroba yang lama baik selama di rumah sakit/di rumah dibutuhkan untuk mendapatkan hasil kultur darah yang negatif sebagai indikasi sembuhnya/hilangnya infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusikan mengenai  prophylaksis penggunaan antibiotika . Pasien dengan riwayat demam rematik termasuk resiko tinggi dan membutuhkan prophilaksis antibiotik jangka panjang. Pasien dengan masalah-masalah katub tanpa riwayat demam rematik membutuhkan antibiotika jangka pendek sebagai proteksi terhadap tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan transitnya bakteri, seperti pada gigi, tonsilektomi, pembedahan atau biopsi pada mukosa saluran pernapasan, broncoscopi, insisi, atau drainase infeksi jaringan dan tindakan urologi atau gastrointestinal dan kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi tindakan-tindakan untuk mencegah endokarditis seperti:&lt;br /&gt;Perawatan gigi yang baik.&lt;br /&gt;Cegah penderita agar tidak terkontaminasi infeksi(khususnya infeksi saluran pernapasan) Bakteri umumnya didapatkan di dalam mulut. Pada gusi dapat masuk melalui sirkulasi sistemik.&lt;br /&gt;Perkembangan infeksi khususnya infeksi streptokokus dan pnemokokus atau influensa meningkatkan kemungkinan resiko gangguan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah metode yang tepat untuk KB (pada penderita wanita) Penggunaan IUD dapat menjadikan mata rantai resiko terjadinya proses infeksi pelvis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari pemakaian obat suntik per intravenus sendiri. Mengurangi resiko langsung terjadinya /&lt;br /&gt;masuknya patogen melalui sirkulasi sistemik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan cara hidup sehat seperti intake makanan yang baik, keseimbangan antara aktifitas dan istirahat, monitor status kesehatan dan adanya infeksi.&lt;br /&gt; Meningkatkan sistem immun dan pertahanan terhadap infeksi.&lt;br /&gt;Patuhi immunisasi seperti vaksin influensa sesuai indikasi Mengurangi resiko terjadinya infekasi yang dapat menyebabkan infeksi jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi sumber-sumber pendukung yang memungkinkan untuk mempertahankan perawatan di rumah yang dibutuhkan. Keterbatasan aktifitas dapat mengganggu kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasikan resiko faktor predisposisi dimana pasien dapat mengontrol seperti, penggunaan obat-obatan intravena   (endokarditis) dan cara pemecahan masalah. Pasien dapat dimotivasi dengan adanya masalah-masalah jantung untuk berusaha berhenti menggunakan obat-obat terlarang atau perilaku yang merugikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendidikan Kesehatan untuk klien dan keluarganya.&lt;br /&gt;Rencana  pendidikan kesehatan untuk pasien dengan endokarditis disesuaikan dengan penyebab penyakit, pengobatan teratur, tehnik pemberian antibiotika secara intravena dan cara-cara meminta bantuan orang lain serta identifikasi  perkembangan infeksi.&lt;br /&gt;Perawat mengajar pasien bagaimana memasukkan antibiotik secara intravena, bagaimana menggunakan obat-obat heparin, dan bagaimana agar tidak terjadi pembekuan darah.&lt;br /&gt;Klien dan keluarganya dapat mendemonstrasikan cara-cara tersebut sebelum keluar dari rumah sakit&lt;br /&gt;Perawat menganjurkan klien untuk memelihara kebersihan, khususnya kebersihan mulut. Klien dianjurkan untuk menggosok gigi sekurang-kurangnya dua kali sehari dan membersihkan mulut dengan air setelah sikat gigi.&lt;br /&gt;Klien diinstruksikan untuk meningkatkan perawatan kesehatannya, termasuk kebersihan gigi dan gusi, penggunaan kebutuhan antibiotik propilaksis dilakukan sesuai prosedur-prosedur diatas. Klien dapat menggunakan anti koagulan pada saat terjadinya perdarahan dan memonitor waktu pembekuan darah.&lt;br /&gt;Memonitor sendiri perkembangan endokarditis untuk mencegah komplikasi terjadinya gagal jantung dan gejala-gejala emboli. Klien diinstruksikan untuk memonitor suhu setiap hari dan mencatatnya selam enam minggu. Klien diharuskan untuk mencatat saat panas, kedinginan, malas, berat badan menurun atau timbulnya pteki agar dapat meningkatkan kesehatan yang prima.&lt;br /&gt;Perawatan di rumah sangat dibutuhkan sebagai tindak lanjut pada lingkungan rumah. Ini akan menjadi lebih penting bagi klien..    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges Mariyn E, RN, BSN, MA, TS, Nursing Care Plans, Edition 3, F.A.Davis Company Philadelpia, 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignatavicius Donna D., Medical Surgical Nursing: a nursing process approach, Philadelpia 1991.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeparman, DR, Dr, Ilmu Penyakit Dalam, Edisi ke 2 Jilid I , Balai Penerbit FKUI, Jakarta 1987.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-6902150466013808846?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/6902150466013808846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/askep-endokarditis.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6902150466013808846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6902150466013808846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/askep-endokarditis.html' title='ASKEP ENDOKARDITIS'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4187556966918149540</id><published>2009-09-12T02:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T02:30:06.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipertrophi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dilatasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung'/><title type='text'>DECOMPENSASI CORDIS / PAYAH JANTUNG</title><content type='html'>DECOMPENSASI CORDIS / PAYAH JANTUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BATASAN&lt;br /&gt;Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, dan akibatnya gagal jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB KEGAGALAN&lt;br /&gt;- Disritmia (bradikardi,tachicardi)&lt;br /&gt;- Malfungsi katub (stenosis katub pulmonal/aortik)&lt;br /&gt;- Abnormalitas otot jantung (kardiomiopati, aterosklerosis koroner)&lt;br /&gt;- Angina pectoris, berlanjut infark miocard akut.&lt;br /&gt;- Ruptur miokard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RESPON TERHADAP KEGAGALAN&lt;br /&gt;A. Peningkatan tonus simpatis&lt;br /&gt;Peningkatan sistem saraf simpatis yang mempengaruhi arteri vena jantung. Akibatnya meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan peningkatan kontraksi. Tonus simpatis membantu mempertahankan tekanan darah normal.&lt;br /&gt;B. Retensi air dan natrium&lt;br /&gt;Bila ginjal mendeteksi adanya penurunan volume darah yang ada untuk filtrasi, ginjal merespon dengan manahan natrium dan air dengan cara demikian mencoba untuk meningkatkan volume darah central dan aliran balik vena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGKAJIAN GAGAL JANTUNG&lt;br /&gt;a. Kegagalan ventrikel kiri&lt;br /&gt;Tanda dan gejala :&lt;br /&gt;- Kongesti vaskuler pulmonal&lt;br /&gt;- Dispnoe, nyeri dada dan syok&lt;br /&gt;- Ortopnoe, dispnoe nocturnal paroxismal&lt;br /&gt;- Batuk iritasi, edema pulmonal akut&lt;br /&gt;- Penurunan curah jantung&lt;br /&gt;- Gallop atrial –S4, gallop ventrikel-S1&lt;br /&gt;- Crackles paru&lt;br /&gt;- Disritmia pulsus alterans&lt;br /&gt;- Peningkatan BB&lt;br /&gt;- Pernafasan cyne stokes&lt;br /&gt;- Bukti-bukti radiografi tentang kongesti vaskuler pulmonal&lt;br /&gt;b. kegagalan ventrikel kanan&lt;br /&gt;Tanda dan gejala :&lt;br /&gt;- Cirah jantung rendah&lt;br /&gt;- Distensi vena jugularis&lt;br /&gt;- Edema&lt;br /&gt;- Disritmia&lt;br /&gt;- S3 dan S4 ventrikel kanan&lt;br /&gt;- Hipersonor pada perkusi&lt;br /&gt;- Immobilisasi diafragma rendah&lt;br /&gt;- Peningkatan diameter pada antero posterial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi gagal jantung (menurut Killip)&lt;br /&gt;I. Tidak gagal&lt;br /&gt;II. Gagal ringan sampai menengah&lt;br /&gt;III. Edema pulmonal akut&lt;br /&gt;IV. Syock kardiogenik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat nyeri pada pasien dengan decompensasi cordis&lt;br /&gt;1. Akut&lt;br /&gt;Timbul secara mendadak dan segera lenyap bila penyebab hilang. Ditandai oleh : nyeri seperti tertusuk benda tajam, pucat, disritmia, tanda syock kardiogenik (akral dingin gan perfusi turun)&lt;br /&gt;2. Kronis&lt;br /&gt;Nyeri yang terjadi berkepanjangan hingga berbulan-bulan. Penyebab sulit dijelaskan dan gejala obyektif lidak jelas umumnya disertai dengan gangguan kepribadian serta kemampuan fungsional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat nyeri&lt;br /&gt;I. Ringan : tidak mengganggu ADL dan pasien dapat tidur&lt;br /&gt;II. Sedang : mengganggu ADL dan pasien dapat tidur&lt;br /&gt;III. Berat    : mengganggu ADL dan pasien tidak dapat tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN GAGAL JANTUNG&lt;br /&gt;Bertujuan :&lt;br /&gt;A. menurunkan kerja jantung&lt;br /&gt;B. Meningkatkan gurah jantung dan kontraktilitas miocard&lt;br /&gt;C. Menurunkan retensi garam dan air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaannya meliputi :&lt;br /&gt;A. Tirah Baring&lt;br /&gt;Kebutuhan pemompaan jantung diturunkan, untuk gagal jantung kongesti tahap akut dan sulit disembuhkan.&lt;br /&gt;B. Pemberian diuretik&lt;br /&gt;Akan menurunkan preload dan kerja jantung&lt;br /&gt;C. Pemberian morphin&lt;br /&gt;Untuk mengatasi edema pulmonal akut, vasodilatasi perifer, menurunkan aliran balik vena dan kerja jantung, menghilangkan ansietas karena dispnoe berat.&lt;br /&gt;D. Reduksi volume darah sirkulasi&lt;br /&gt;Dengan metode plebotomi, yaitu suatu prosedur yang bermanfaat pada pasien dengan edema pulmonal akut karena tindakan ini dengan segera memindahkan volume darah dari sirkulasi sentral, menurunkan aliran balik vena dan tekanan pengisian serta sebaliknya menciptakan masalah hemodinamik segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Terapi nitrit&lt;br /&gt;Untuk vasodilatasi perifer guna menurunkan afterload.&lt;br /&gt;F. Terapi digitalis&lt;br /&gt;Obat utama untuk meningkatkan kontraktilitas (inotropik), memperlambat frekwensi ventrikel, peningkatam efisiensi jantung.&lt;br /&gt;G. Inotropik positif&lt;br /&gt;- Dopamin&lt;br /&gt;Pada dosis kecil 2,5 s/d 5 mg/kg akan merangsang alpha-adrenergik beta-adrenergik. Dan reseptor dopamine ini mengakibatkankeluarnya katekolamin dari sisi penyimpanan saraf. Memperbaiki kontraktilitas curah jantung isi sekuncup. Dilatasi ginjal-serebral dan pembuluh koroner. Pada dosis maximal 10-20 mg/kg BB akan menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan beban kerja jantung.&lt;br /&gt;- Dobutamin&lt;br /&gt;Merangsang hanya betha adrenergik. Dosis mirip dopamine memperbaiki isi sekuncup, curah jantung dengan sedikit vasokonstriksi dan tachicardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan-tindakan mekanis&lt;br /&gt;- Dukungan mekanis ventrikel kiri (mulai 1967) dengan komterpulasi balon intra aortic / pompa PBIA. Berfungsi untuk meningkatkan aliran koroner, memperbaiki isi sekuncup dan mengurangi preload dan afterload ventrikel kiri.&lt;br /&gt;- Tahun 1970, dengan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO). Alat ini menggantikan fungsi jantung paru. Mengakibatkan aliran darah dan pertukaran gas. Oksigenasi membrane extrakorporeal dapat digunakan untuk memberi waktu sampai tindakan pasti seperti bedah bypass arteri koroner, perbaikan septum atau transplantasi jantung dapat dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan adanya kerusakan miokardium yang luas ditandai dengan adanya kegagalan kompensasi jantung yaitu ; akral dingin, dispnea, pucat, kesadaran menurun, gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman (nyeri) hilang dalam waktu 1 jam.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :    &lt;br /&gt;- Nyeri dada hilang&lt;br /&gt;- Pasien tenang&lt;br /&gt;- Pasien merasa nyaman dan tidak cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI&lt;br /&gt;1. Lakukan pendekatan terapeutik&lt;br /&gt;2. Jelaskan mengenai penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;3. Tenangkan pasien sehingga tidak cemas akan penyakitnya&lt;br /&gt;4. Tirah baring sesuai dengan keadaan pasien&lt;br /&gt;5. Observasi tanda-tanda vital&lt;br /&gt;6. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian : oksigen, cairan, analgetik central (morphin), terapi digitalis, nitrit dan inotropik positit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewis T, Disease of The Heart, New York, Macmillan 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morris D. C. et.al, The Recognation and treatment of Myocardial Infarction and It’sComplication.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, edisi VI, volume I : Hudak dan Gallo Hal. 360-379, Penerbit buku kedokteran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4187556966918149540?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4187556966918149540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/decompensasi-cordis-payah-jantung.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4187556966918149540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4187556966918149540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/decompensasi-cordis-payah-jantung.html' title='DECOMPENSASI CORDIS / PAYAH JANTUNG'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4064701936077245864</id><published>2009-09-10T20:15:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T20:17:30.808-07:00</updated><title type='text'>LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MENINGITIS</title><content type='html'>A. Definisi&lt;br /&gt;Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).&lt;br /&gt;Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996).&lt;br /&gt;Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi &amp; Rita, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Etiologi&lt;br /&gt;1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa&lt;br /&gt;2. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia&lt;br /&gt;3. Faktor predisposisi : jenis kelamin lakilaki lebih sering dibandingkan dengan wanita&lt;br /&gt;4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan&lt;br /&gt;5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.&lt;br /&gt;6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Klasifikasi &lt;br /&gt;Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :&lt;br /&gt;1. Meningitis serosa&lt;br /&gt;Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.&lt;br /&gt;2. Meningitis purulenta &lt;br /&gt;Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Patofisiologi&lt;br /&gt;Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas.&lt;br /&gt;Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.&lt;br /&gt;Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.&lt;br /&gt;Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Manifestasi klinis&lt;br /&gt;Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :&lt;br /&gt;1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)&lt;br /&gt;2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.&lt;br /&gt;3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb: &lt;br /&gt;a) Rigiditas nukal ( kaku leher ). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.&lt;br /&gt;b) Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.&lt;br /&gt;c) Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.&lt;br /&gt;4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.&lt;br /&gt;5. Kejang akibat area  fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.&lt;br /&gt;6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.&lt;br /&gt;7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :&lt;br /&gt;a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.&lt;br /&gt;b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.&lt;br /&gt;2. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )&lt;br /&gt;3. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )&lt;br /&gt;4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )&lt;br /&gt;5. Elektrolit darah : Abnormal .&lt;br /&gt;6. ESR/LED :  meningkat pada meningitis &lt;br /&gt;7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi&lt;br /&gt;8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor&lt;br /&gt;9. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Komplikasi&lt;br /&gt;1. Hidrosefalus obstruktif&lt;br /&gt;2. MeningococcL Septicemia ( mengingocemia )&lt;br /&gt;3. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)&lt;br /&gt;4. SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )&lt;br /&gt;5. Efusi subdural&lt;br /&gt;6. Kejang&lt;br /&gt;7. Edema dan herniasi serebral&lt;br /&gt;8. Cerebral palsy&lt;br /&gt;9. Gangguan mental&lt;br /&gt;10. Gangguan belajar&lt;br /&gt;11. Attention deficit disorder&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;G. Asuhan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Pengkajian&lt;br /&gt;a) Biodata klien&lt;br /&gt;b) Riwayat kesehatan yang lalu&lt;br /&gt;(1) Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?&lt;br /&gt;(2) Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?&lt;br /&gt;(3) Pernahkah operasi daerah kepala ?&lt;br /&gt;c) Riwayat kesehatan sekarang&lt;br /&gt;(1) Aktivitas&lt;br /&gt;Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter.&lt;br /&gt;(2) Sirkulasi&lt;br /&gt;Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.&lt;br /&gt;(3) Eliminasi&lt;br /&gt;Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.&lt;br /&gt;(4) Makanan/cairan&lt;br /&gt;Gejala : Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah, turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.&lt;br /&gt;(5) Higiene&lt;br /&gt;Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Neurosensori&lt;br /&gt;Gejala : Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis, kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif, rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki.&lt;br /&gt;(7) Nyeri/keamanan&lt;br /&gt;Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah,  menangis.&lt;br /&gt;(8) Pernafasan&lt;br /&gt;Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;a) Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen&lt;br /&gt;b) Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.&lt;br /&gt;c) Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum, vertigo.&lt;br /&gt;d) Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.&lt;br /&gt;e) Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan &lt;br /&gt;f) Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Intervensi keperawatan&lt;br /&gt;a) Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen.&lt;br /&gt;Mandiri&lt;br /&gt; Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan &lt;br /&gt; Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.&lt;br /&gt; Pantau suhu secara teratur&lt;br /&gt; Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus&lt;br /&gt; Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas dalam&lt;br /&gt; Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )&lt;br /&gt;Kolaborasi&lt;br /&gt; Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral, hipovolemia.&lt;br /&gt;Mandiri &lt;br /&gt; Tirah baring dengan posisi kepala datar.&lt;br /&gt; Pantau status neurologis.&lt;br /&gt; Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang&lt;br /&gt; Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan haluaran.&lt;br /&gt; Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.&lt;br /&gt;Kolaborasi.&lt;br /&gt; Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.&lt;br /&gt; Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ).&lt;br /&gt; Pantau BGA.&lt;br /&gt; Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal, kelemahan umum vertigo.&lt;br /&gt;Mandiri&lt;br /&gt; Pantau adanya kejang &lt;br /&gt; Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan &lt;br /&gt; Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.&lt;br /&gt;Mandiri.&lt;br /&gt; Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher.&lt;br /&gt; Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)&lt;br /&gt; Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.&lt;br /&gt; Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul&lt;br /&gt;Kolaborasi&lt;br /&gt; Berikan anal getik, asetaminofen,  codein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.&lt;br /&gt; Kaji derajat imobilisasi pasien. &lt;br /&gt; Bantu latihan rentang gerak.&lt;br /&gt; Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.&lt;br /&gt; Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udsra atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.&lt;br /&gt; Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis&lt;br /&gt; Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik dan proses pikir.&lt;br /&gt; Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.&lt;br /&gt; Observasi respons perilaku.&lt;br /&gt; Hilangkan suara bising yang berlebihan.&lt;br /&gt; Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.&lt;br /&gt; Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.&lt;br /&gt; Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.&lt;br /&gt; Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.&lt;br /&gt; Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.&lt;br /&gt; Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.&lt;br /&gt; Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.&lt;br /&gt;H. Evaluasi&lt;br /&gt;Hasil yang diharapkan&lt;br /&gt;1. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.&lt;br /&gt;2. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.&lt;br /&gt;3. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.&lt;br /&gt;4. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.&lt;br /&gt;5. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.&lt;br /&gt;6. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.&lt;br /&gt;7. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin asih. Ed.3. Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Smeltzer, Suzanne C &amp; Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Long, Barbara C. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan; 1996.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4064701936077245864?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4064701936077245864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4064701936077245864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4064701936077245864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan.html' title='LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MENINGITIS'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-2457225048431662786</id><published>2009-09-10T20:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T20:15:39.352-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meningitis adalah peradangan pada selaput meninges yang menyelubungi otak yang disebabkan oleh bakteri atau virus.'/><title type='text'>MENINGITIS</title><content type='html'>MENINGITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Meningitis&lt;br /&gt;Meningitis adalah peradangan pada selaput meninges yang menyelubungi otak yang disebabkan oleh bakteri atau virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Etiologi Meningitis&lt;br /&gt;Meningitis dibagi menjadi 2 jenis menurut penyebabnya :&lt;br /&gt;1. Meningitis bakterial, yang disebabkan oleh organisme primer gram negatif. Pada neonatus umumnya disebabkan oleh basil gram negatif, batang gram negatif dan streptococcus grup B. Pada anak yang berusia    3 bulan sampai 5 tahun disebabkan Haemophilus Influenzae tipe B. Pada anak-anak yang lebih besar disebabkan oleh Infeksi Neisseria Meningitis atau Infeksi Staphilococcus.&lt;br /&gt;2. Meningitis Aseptik, umumnya hampir 85% disebabkan oleh entero virus diantaranya virus Influenza, Koriomeningitis Limfositik, virus EpsteinBarr namun dapat pula karena mikroplasma, klamidia dan berbagai jenis jamur, protozoa dan parasit lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pathofisiologi Meningitis&lt;br /&gt;Organisme meningitis bakterial memasuki meninges secara langsung sebagai akibat cedera traumatik atau cedera tidak langsung bila dipindahkan dari tempat lain di dalam tubuh ke dalam cairan cerebrospinalis. Pada umumnya Infeksi mencapai otak melalui  peredaran darah ( hematogen ).&lt;br /&gt; Pada meningitis aseptik, virus menyebar  ke otak dan jaringan sekitar melalui cairan tulang belakang setelah terlebih dahulu meninges terinfeksi. Otitis media, sinuitis dan saluran pernafasan dapat menjadi tahap awal dari infeksi. Defisiensi imun meningkatkan kemungkinan timbulnya penyakit.&lt;br /&gt;Keterlambatan penderita di bawa ke RS merupakan penyebab utama terjadinya komplikasi dari meningitis yang biasanya mengarahkan anak pada kondisi kejang, kelumpuhan, dehidrasi dan koma akibat terjadinya thrombosis pada pembuluh darah di otak. Keadaan koma akan lebih memperparah kondisi fisik pasien terutama dalam masalah asupan gizi yang tidak dapat diberikan secara peroral, tubuh menjadi makin lemah, daya tahan menurun, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi tidak ada. Kebutuhan cairan tubuh tak terpenuhi untuk mendukung therapi hydrasi Introvena yang biasanya hanya memenuhi setengah dari kebutuhan cairan pada pasien per hari.&lt;br /&gt;D. Gambaran klinis Meningitis&lt;br /&gt;Keadaan yang sering dijumpai pada pasien meningitis antara lain :&lt;br /&gt;1. Letargi 7.   Sering menangis&lt;br /&gt;2. Iritabilitas 8.   Peningkatan tekanan Intrakranial&lt;br /&gt;3. Pucat 9.   Peningkatan Lingkar Kepala&lt;br /&gt;4. Anoreksia 10. Fontanel menonjol &lt;br /&gt;5. Kurang makan 11. Syok&lt;br /&gt;6. Mual dan muntah 12. Kejang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Mengidentifikasi masalah gizi pada pasien meningitis&lt;br /&gt;Pasien meningitis dengan kesadaran menurun cenderung mengalami gangguan asupan gizi, karena secara otomatis Intrake peroral yang dibutuhkan untuk mendukung therapi hydrasi yang terbatas untuk mencegah komplikasi oedeem cerebi, menjadi berkurang, selain untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pasien. Untuk ini biasanya dokter menganjurkan untuk pemasangan Nasogastric tube / maagslang dan pemberian diit cair guna mengatasi hal tersebut.&lt;br /&gt;Dalam menentukan jumlah dan jenis diet cair yang akan diberikan pada pasien, seorang dokter anak harus memperhitungkan ; kebutuhan cairan / hr berdasarkan umur – BB pasien, status gizi saat pasien dirawat, kondisi dan fisik pasien. Disini seorang dokter anak akan melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu menyusun komposisi gizi yang terkandung dari makanan cair sesuai standar gizi berdasarkan umur dan BB pasien.&lt;br /&gt;Misal : Pada anak usia 1 tahun BB normal : 7,5 – 8,9 kg&lt;br /&gt;kebutuhan cairan per hari : 120 – 135 ml / kg BB / hari atau               sekitar ± 900 – 1000 ml / hari&lt;br /&gt;Bila pada saat pemeriksaan fisik didapatkan BB pasien tidak sesuai dengan umur pasien, maka akan ditentukan diet cair jenis TKTP.&lt;br /&gt;Seorang ahli gizi kemudian akan menentukan komposisi kalori dan protein dalam diet cair tersebut berdasarkan umur dan BB untuk memenuhi kebutuhan kalori dan protein pasien / hari.&lt;br /&gt;Misal : untuk usia 1 tahun dengan BB normal 7,5 – 8,9 kg&lt;br /&gt;      Kebutuhan kalori / kg 1 hari = 105 kal atau 900 kalori / hari&lt;br /&gt;      dan protein 2,5 gr / kg / hari atau 22 gram / hari&lt;br /&gt;Makanan akan dibuat dalam bentuk cairan kental yang dibuat dengan susu atau tanpa susu. Menurut kebutuhan pasien dapat diberikan cairan antara 1000 – 2000 ml dimana makanan cair standar mengandung 1000 kilokalori tiap 1000 ml, yang dapat diberikan dalam porsi kecil dan sering (6 – 8 kali sehari ).&lt;br /&gt;Pada pasien meningitis, sebenarnya tidak memerlukan diet cair khusus bila tidak didapati kondisi malnutrisi atau status gizi buruk. Biasanya diet TKTP menjadi pilihan utama untuk kasus-kasus penyakit Infeksi akut seperti meningitis guna meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan Infeksi di samping obat-obatan supportif yang diberikan dokter. Bila dengan cara ini belum bisa membantu asupan gizi pasien meningitis, maka dokter akan memutuskan untuk memberikan Nutrisi Parentral seperti Amiparen dan Iriparen yang diindikasikan pada pasien dengan infeksi berat dengan gizi buruk untuk memenuhi suplai air, elektorlit dan kalori melalui vena.&lt;br /&gt;Cara mengidentifikasi berhasil tidaknya pemberian manakan cair melalui sonde ( dapat dicerna baik atau tidak ) adalah dengan melihat residu yang keluar dari NGT pada saat kita menarik keluar dengan menggunakan spuit. Bila cairan yang keluar sama seperti jumlah cairan yang kita amasukkan setelah 2 jam pemberian sonde maka bisa dipastikan makanan cair tidak bisa dicerna dengan baik, namun bila residu tidak lebih dari 50% dari diit cair yang masuk berarti diit cair masih bisa ditolerir oleh sal. pencernaan. Pemberian Nutrisi parentral merupakan alternatif terakhir yang akan dianjurkan oleh dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Metode pemasangan dan pemberian sonde&lt;br /&gt;a) Pengertian :&lt;br /&gt;Memasukkan slang  penduga lambung ( NGT ) ke dalam lambung melalui hidung / mulut.&lt;br /&gt;b) Tujuan :&lt;br /&gt;( 1 ) Memenuhi kebutuhan nutrisi&lt;br /&gt;( 2 ) Memenuhi kebutuhan obat&lt;br /&gt;c) Indikasi :&lt;br /&gt;1) Anak yang tidak dapat menelan, tidak sadar, muntah terus-menerus tidak mau makan dalam jangka waktu lebih dari 1 hari&lt;br /&gt;2) Anak yang tidak boleh makan melalui mulut&lt;br /&gt;d) Persiapan :&lt;br /&gt;1) alat&lt;br /&gt;(a) NGT dengan ukuran sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;(b) Corong / spuit 10 – 20 cc&lt;br /&gt;(c) Lap makan&lt;br /&gt;(d) Bengkok&lt;br /&gt;(e) Plester dan gunting&lt;br /&gt;(f) Makanan cair yang hangat sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;(g) Air putih matang&lt;br /&gt;(h) Obat yang telah dicairkan&lt;br /&gt;(i) STETOSKOP&lt;br /&gt;2) Persiapan pasien&lt;br /&gt;Melakukan pendekatan pada keluarga dengan memberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;e) Pelaksanaan :&lt;br /&gt;1. Anak diatur dalam posisi semifowler, pada keadaan gelisah, anak harus diikat, jika bayi di bedong.&lt;br /&gt;2. Lap makan dipasang di atas dada, bengkok disamping pipi&lt;br /&gt;3. Bersihkan Lubang hidung&lt;br /&gt;4. Ukur panjang NGT dari epigastrium sampai pertengahan dahi, beri tanda&lt;br /&gt;5. Ujung selang basahi dengan air / jelly, pangkal slang dilipat dengan tangan kiri&lt;br /&gt;6. Masukkan ujung slang melalui hidung secara perlahan-lahan sambil perhatikan KU anak sampai batas yang diberi tanda&lt;br /&gt;7. Memeriksa apakah slang betul-betul masuk lambung dengan cara :&lt;br /&gt;a) Menghisap cairan lambung dengan spuit.&lt;br /&gt;b) Memasukkan udara ke dalam lambung 2 – 3 cc dengan spuit sambil didengarkan dengan stetoskop, bila terdengar bunyi letupan, berarti posisi slang sudah tepat&lt;br /&gt;8. Udara diisap kembali&lt;br /&gt;9. Corong / spuit dipasang pangkal slang&lt;br /&gt;10. Tuangkan sedikit air putih matang ( pada bayi 2 – 5 cc ) disusul     dengan makanan cair melalui pinggir corong&lt;br /&gt;11. Bila makanan cair sudah habis, tuangkan lagi air matang&lt;br /&gt;12. Bila slang NGT dipasang menetap, pangkal slang ditutup /   diikat kemudian difiksasi ke dahi&lt;br /&gt;13. Alat-alat dibersihkan, dibereskan dan dikembalikan ke tempat semula.&lt;br /&gt;14. Catat macam dan jumlah makanan cair yang diberikan dan reaksinya pada lembar catatan perawatan&lt;br /&gt;15. Observasi keadaan umum selanjutnya&lt;br /&gt;Perhatian :&lt;br /&gt;a) Selang makanan polyetheline steril dapat dipasang sampai 3 – 4 hari&lt;br /&gt;b) Pada bayi dapat digunakan NGT no. 8 dan anak no. 12 / 14&lt;br /&gt;c) Memberikan obat sebaiknya dilakukan sebelum atau sesudah 1 – 2 jam pemberian makanan cair agar absorbsi obat sempurna&lt;br /&gt;d) Obat lebih dianjurkan dalam bentuk suspensi untuk menghindari selang macet&lt;br /&gt;e) Cabut segera selang sonde bila didapatkan kejang, tunda pemasangan, kolaborasi dengan dokter untuk pemberian sedativa atau bila pasien tampak cianosis&lt;br /&gt;f) Corong tidak boleh dalam keadaan kosong selama pemberian sonde untuk menghindari udara masuk lambung yang dapat berakibat kembung pada pasien&lt;br /&gt;g) Periksa residu makanan pada selang NGT sebelum memberikan sonde / makanan cair untuk dapat mengetahui apakah lambung dapat bekerja maksimal mencerna makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Jenis Diet Makanan&lt;br /&gt;Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa pada dasarnya tidak ada diet khusus untuk pasien meningitis namun umumnya diit TKTP untuk memenuhi kebuthan kalori dan protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh merupakan diit yang tepat terutama pada kasus- kasus penyakit infeksi akut termasuk meningitis. Nutrisi parentral merupakan alternatif terakhir bila dinilai dari makanan cair tidak mampu kebutuhan  nutrisi enteral pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Mengatasi masalah / komplikasi pada pasien dengan pemasangan NGT&lt;br /&gt;Ada banyak kendala yang mungkin timbul selama tindakan pemasangan NGT dan pemasangan secara permanen NGT pada bayi dan anak.&lt;br /&gt;a) Pasien Cyanosis : &lt;br /&gt;Cabut segera sonde / NGT, periksa jalan nafas pasien, bila terdapat sumbatan seperti misalnya akumulasi lendir, pasang mounth tube sesuai ukuran anak,lakukan isap lendir&lt;br /&gt;b) Pasien batuk-batuk dan tercekik :&lt;br /&gt;Cabut segera NGT, periksa kembali apakah teknik pemasangan NGT sudah tepat, apakah NGT masuk ke saluran pencernaan atau saluran pernafasan.&lt;br /&gt;c) Pasien kejang (meningitis) : &lt;br /&gt;Hentikan tindakan, atasi kejang pasien terlebih dahulu, pasang mount tube untuk menghindari lidah pasien jatuh kebelakang&lt;br /&gt;d) Selang tersumbat :&lt;br /&gt;Biasanya karena slang kurang dibilas secara teratur atau karena bubuk obat, bilas dengan air hangat  ± 50 ml pindah posisi pasien, ganti obat bubuk dengan suspensi / syirop, atau ganti NGT bila semua cara tidak berhasil&lt;br /&gt;e) Dhiare :&lt;br /&gt;Biasanya karena selang tidak biasa dibilas setelah manakan masuk , pemberian bolus terlalu banyak, lebih dari 250 cc, pemberian dan dan penyiapan makanan kuranf hygienis cara mengatasinya. Lakukan bilas selang secara teratur sebelum dan sesudah diit cair masuk, ganti posisi lebih kecil (max 200 ml). Cek prosedur menyangkut masalah cuci tangan, peralatan yang bersih dan steril dan ganti formula / diit cair dengan yang baru dengan pembuatan yang lebih bersih. Ganti alat (NGT) bila memang sudah lebih dari 4 hari&lt;br /&gt;f)  Mual dan muntah :&lt;br /&gt;Biasanya karena terlalu besar volume pemberian , cara me  ngatasi : turunkan volume pemberian max 200 ml, cek terlebih dahulu apakah ada residu sebelum pemberian diit cair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Betz L dan Sowden A Linda 1999, keperawatan pedaitri, Penerbit buku kedokteran ECC, Jakarta. Halaman 316-321&lt;br /&gt;2. Bagbei Laily 1990, Infectectious Diseases, Nelson Essentials of Pediatric, halaman 284-308&lt;br /&gt;3. Nutricia 1999, Petunjuk Praktis Pemberian sonde, Nutricia halaman, 12-18&lt;br /&gt;4. Jelliffe D. B. 1989, Penyakit Anak dan Cara Mencegahnya, hal : 56-57,   hal :141-150&lt;br /&gt;5. Persatuan Ahli Gizi Indonesia 1990, Penuntun  Diit Pada Anak, Gramedia, Jakarta, halaman &lt;br /&gt;6. PT. Otsuka Indonesia 2000, Pedoman Cairan Infus Otsuka Indonesia, jakarta halaman 26-27, 41, 61, &lt;br /&gt;7. Tim Departemen RI 1991, Prosedur pearawatn anak di Rumah Sakit, Direktorat Yaitu Med Departemen RI (1991), jakarta halaman  104-108&lt;br /&gt;8. Website, http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/coach.asp&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-2457225048431662786?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/2457225048431662786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/meningitis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/2457225048431662786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/2457225048431662786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/meningitis.html' title='MENINGITIS'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-2098313608893376473</id><published>2009-09-10T19:58:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T20:07:46.331-07:00</updated><title type='text'>CA PARU</title><content type='html'>A. PENGERTIAN.&lt;br /&gt;Tumor paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, Patofisiologi, 1995).&lt;br /&gt;Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang  mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, Patologi, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI.&lt;br /&gt;Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru :&lt;br /&gt;1. Merokok.&lt;br /&gt;Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor. &lt;br /&gt;2. Iradiasi.&lt;br /&gt;Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kanker paru akibat kerja.&lt;br /&gt;Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden. &lt;br /&gt;4. Polusi udara.&lt;br /&gt;Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota.&lt;br /&gt;( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Genetik.&lt;br /&gt;Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni :&lt;br /&gt;a. Proton oncogen.&lt;br /&gt;b. Tumor suppressor gene.&lt;br /&gt;c. Gene encoding enzyme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Onkogenesis.&lt;br /&gt;Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom (onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan (delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati secara alamiah- programmed cell death). Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan yang autonom. Dengan demikian kanker merupakan penyakit genetic yang pada permulaan terbatas pada sel sasaran kemudian menjadi agresif pada jaringan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Diet.&lt;br /&gt;Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, seleniumdan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.&lt;br /&gt; (Ilmu Penyakit Dalam, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KLASIFIKASI.&lt;br /&gt;Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) :&lt;br /&gt;1. Karsinoma Bronkogenik.&lt;br /&gt;a. Karsinoma epidermoid (skuamosa).&lt;br /&gt;Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Terletak sentral sekitar hilus, dan menonjol kedalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan mediastinum.&lt;br /&gt;b. Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).&lt;br /&gt;Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky, komponen normal dari epitel bronkus. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – organ distal.&lt;br /&gt;c.  Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).&lt;br /&gt;Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh.  &lt;br /&gt;d. Karsinoma sel besar.&lt;br /&gt;Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru - paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh.&lt;br /&gt;e. Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid.&lt;br /&gt;f. Lain – lain.&lt;br /&gt;1). Tumor karsinoid (adenoma bronkus).&lt;br /&gt;2). Tumor kelenjar bronchial.&lt;br /&gt;3). Tumor papilaris dari epitel permukaan.&lt;br /&gt;4). Tumor campuran dan Karsinosarkoma&lt;br /&gt;5). Sarkoma&lt;br /&gt;6). Tak terklasifikasi.&lt;br /&gt;7). Mesotelioma.&lt;br /&gt;8). Melanoma.&lt;br /&gt;(Price, Patofisiologi, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. MANIFESTASI KLINIS.&lt;br /&gt;1. Gejala awal.&lt;br /&gt;Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkus.&lt;br /&gt;2. Gejala umum.&lt;br /&gt;a. Batuk &lt;br /&gt;Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum yang kental dan purulen dalam berespon terhadap infeksi sekunder.&lt;br /&gt;b. Hemoptisis&lt;br /&gt;Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulserasi.&lt;br /&gt;c. Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. STADIUM.&lt;br /&gt;Tabel  Sistem Stadium TNM untuk kanker Paru – paru: 1986 American Joint Committee on Cancer.&lt;br /&gt;Gambarn TNM Defenisi&lt;br /&gt;Tumor primer (T)&lt;br /&gt;Stadium IV                               Setiap T, setiap N,M1 &lt;br /&gt;Tidak terbukti adanya tumor primer&lt;br /&gt;Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi&lt;br /&gt;Karsinoma in situ&lt;br /&gt;Tumor dengan diameter ≤ 3 cm dikelilingi paru – paru atau pleura viseralis yang normal.&lt;br /&gt;Tumor dengan diameter 3 cm atau dalam setiap ukuran dimana sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan atelektasis yang meluas ke hilus; harus berjarak 2 cm distal dari karina.&lt;br /&gt;Tumor dalam setiap ukuran dengan perluasan langsung pada dinding dada, diafragma, pleura mediastinalis, atau pericardium tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra; atau dalam jarak 2 cm dari karina tetapi tidak melibat karina.&lt;br /&gt;Tumor dalam setiap ukuran yang sudah menyerang mediastinum atau mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, koepua vertebra, atau karina; atau adanya efusi pleura yang maligna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar limfe regional.&lt;br /&gt;Metastasis pada peribronkial dan/ atau kelenjar – kelenjar hilus ipsilateral.&lt;br /&gt;Metastasis pada mediastinal ipsi lateral atau kelenjar limfe subkarina.&lt;br /&gt;Metastasis pada mediastinal atau kelenjar – kelenjar limfe hilus kontralateral; kelenjar – kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diketahui adanya metastasis jauh&lt;br /&gt;Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu (seperti otak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sputum mengandung sel – sel ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis.&lt;br /&gt;Karsinoma in situ.&lt;br /&gt;Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 tanpa adanya bukti metastasis pada kelenjar limfe regional atau tempat yang jauh.&lt;br /&gt;Tumor termasuk klasifikasi T1 atau T2 dan terdapat bukti adanya metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral.&lt;br /&gt;Tumor termasuk klasifikasi T3 dengan atau tanpa bukti metastasis pada kelenjar limfe peribronkial atau hilus ipsilateral; tidak ada metastasis jauh.&lt;br /&gt;Setiap tumor dengan metastasis pada kelenjar limfe hilus tau mediastinal kontralateral, atau pada kelenjar limfe skalenus atau supraklavikular; atau setiap tumor yang termasuk klasifikasi T4 dengan atau tanpa metastasis kelenjar limfe regional; tidak ada metastasis jauh.&lt;br /&gt;Setiap tumor dengan metastsis jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: (Price, Patofisiologi, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PATOFISIOLOGI.&lt;br /&gt;Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. &lt;br /&gt;Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat  berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi.&lt;br /&gt;Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK.&lt;br /&gt;1. Radiologi.&lt;br /&gt;a. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.&lt;br /&gt;Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.&lt;br /&gt;b. Bronkhografi.&lt;br /&gt;Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.&lt;br /&gt;2. Laboratorium.&lt;br /&gt;a. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).&lt;br /&gt;Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA&lt;br /&gt;Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi kebutuhan ventilasi.&lt;br /&gt;c. Tes kulit, jumlah absolute limfosit.&lt;br /&gt;Dapat dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).&lt;br /&gt;3. Histopatologi.&lt;br /&gt;a. Bronkoskopi.&lt;br /&gt;Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).&lt;br /&gt;b. Biopsi Trans Torakal (TTB).&lt;br /&gt;Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran &lt; 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.&lt;br /&gt;c. Torakoskopi.&lt;br /&gt;Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik dengan cara torakoskopi.&lt;br /&gt;d. Mediastinosopi.&lt;br /&gt;Umtuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat.&lt;br /&gt;e. Torakotomi.&lt;br /&gt;Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam – macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.&lt;br /&gt;4. Pencitraan.&lt;br /&gt;a. CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.&lt;br /&gt;b. MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. PENATALAKSANAAN.&lt;br /&gt;Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kuratif&lt;br /&gt;Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka harapan hidup klien. &lt;br /&gt;b. Paliatif.&lt;br /&gt;Mengurangi dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.&lt;br /&gt;c. Rawat rumah (Hospice care) pada kasus terminal.&lt;br /&gt;Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada pasien maupun keluarga.&lt;br /&gt;d. Supotif.&lt;br /&gt;Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi.&lt;br /&gt;(Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, rencana Asuhan Keperawatan, 2000)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pembedahan.&lt;br /&gt;Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang tidak terkena kanker.&lt;br /&gt;1. Toraktomi eksplorasi.&lt;br /&gt;Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy. &lt;br /&gt;2. Pneumonektomi pengangkatan paru).&lt;br /&gt;Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.&lt;br /&gt;3. Lobektomi (pengangkatan lobus paru).&lt;br /&gt;Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.&lt;br /&gt;4. Resesi segmental.&lt;br /&gt;Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Resesi baji.&lt;br /&gt;Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es). &lt;br /&gt;6. Dekortikasi. &lt;br /&gt;Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris) &lt;br /&gt;2. Radiasi&lt;br /&gt;Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.&lt;br /&gt;3. Kemoterafi.&lt;br /&gt;Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN KANKER PARU.&lt;br /&gt;1. PENGKAJIAN.&lt;br /&gt;a. Preoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan,1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Aktivitas/ istirahat.&lt;br /&gt;Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,&lt;br /&gt;   dispnea karena aktivitas.&lt;br /&gt;Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).&lt;br /&gt;2). Sirkulasi.&lt;br /&gt;Gejala : JVD (obstruksi vana kava).&lt;br /&gt;   Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).&lt;br /&gt;   Takikardi/ disritmia.&lt;br /&gt;   Jari tabuh.&lt;br /&gt;3). Integritas ego.&lt;br /&gt;Gejala : Perasaan taku. Takut hasil pembedahan&lt;br /&gt;   Menolak kondisi yang berat/ potensi keganasan.&lt;br /&gt;Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.&lt;br /&gt;4). Eliminasi.&lt;br /&gt;Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).&lt;br /&gt;Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan   hormonal, tumor epidermoid)&lt;br /&gt;5). Makanan/ cairan.&lt;br /&gt;Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukan&lt;br /&gt;makanan.&lt;br /&gt; Kesulitan menelan&lt;br /&gt;Haus/ peningkatan masukan cairan.&lt;br /&gt;Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)&lt;br /&gt;Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)&lt;br /&gt;Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).&lt;br /&gt;6). Nyeri/ kenyamanan.&lt;br /&gt;Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu &lt;br /&gt;pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.&lt;br /&gt;Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma)&lt;br /&gt;Nyeri abdomen hilang timbul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Pernafasan.&lt;br /&gt;Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau&lt;br /&gt;produksi sputum.&lt;br /&gt;Nafas pendek&lt;br /&gt;Pekerja yang terpajan polutan, debu industri&lt;br /&gt;Serak, paralysis pita suara.&lt;br /&gt;Riwayat merokok&lt;br /&gt;Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja&lt;br /&gt;Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)&lt;br /&gt;Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi).&lt;br /&gt;Hemoptisis.&lt;br /&gt;8). Keamanan.&lt;br /&gt;Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)&lt;br /&gt;Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)&lt;br /&gt;9). Seksualitas.&lt;br /&gt;Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel&lt;br /&gt;besar)&lt;br /&gt;Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)&lt;br /&gt;10). Penyuluhan.&lt;br /&gt; Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosis&lt;br /&gt;Kegagalan untuk membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).&lt;br /&gt;- Karakteristik dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien.&lt;br /&gt;- Frekuensi dan irama jantung.&lt;br /&gt;- Pemeriksaan laboratorium yang terkait (GDA. Elektolit serum, Hb dan Ht).&lt;br /&gt;- Pemantauan tekanan vena sentral.&lt;br /&gt;- Status nutrisi.&lt;br /&gt;- Status mobilisasi ekstremitas khususnya ekstremitas atas di sisi yang di operasi.&lt;br /&gt;- Kondisi dan karakteristik water seal drainase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Aktivitas atau istirahat.&lt;br /&gt;Gejala : Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.&lt;br /&gt;2). Sirkulasi.&lt;br /&gt;Tanda : denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.&lt;br /&gt;3). Eliminasi.&lt;br /&gt;Gejala : menurunnya frekuensi eliminasi BAB&lt;br /&gt;Tanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak, karakteristik urine&lt;br /&gt;   Bisng usus, samara atau jelas. &lt;br /&gt;4). Makanan dan cairan.&lt;br /&gt;Gejala : Mual atau muntah&lt;br /&gt;5). Neurosensori.&lt;br /&gt;Gejala : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi. &lt;br /&gt;6). Nyeri dan ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;Gejala : Keluhan nyeri, karakteristik nyeri&lt;br /&gt;   Nyeri, ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya insisi&lt;br /&gt;   Atau efek – efek anastesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN RENCANA KEPERAWATAN.&lt;br /&gt;a. Preoperasi (Gale, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi, 2000, dan Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Kerusakan pertukaran gas&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;Hipoventilasi.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.&lt;br /&gt;- Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a) Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola nafas.&lt;br /&gt;Rasional : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi adanya tahanan jalan nafas.&lt;br /&gt;b) Catat ada  atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.&lt;br /&gt;Rasional : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler. Mengi adalah bukti adanya tahanan atau penyempitan jalan nafas sehubungan dengan mukus/ edema serta tumor.  &lt;br /&gt;c) Kaji adanmya sianosis&lt;br /&gt;Rasional : Penurunan oksigenasi bermakna terjadi sebelum sianosis. Sianosis sentral dari “organ” hangat contoh, lidah, bibir dan daun telinga adalah paling indikatif.&lt;br /&gt;d) Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Awasi atau gambarkan seri GDA.&lt;br /&gt;Rasional : Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi. Digunakan sebagai dasar evaluasi keefktifan terapi atau indikator kebutuhan perubahan terapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Bersihan jalan nafas tidak efektif.&lt;br /&gt;  Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Kehilangan fungsi silia jalan nafas&lt;br /&gt;- Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru.&lt;br /&gt;- Meningkatnya tahanan jalan nafas &lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.&lt;br /&gt;- Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih&lt;br /&gt;- Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.&lt;br /&gt;- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki/ mempertahankan bersiahn jalan nafas.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a)   Catat perubahan upaya dan pola bernafas.&lt;br /&gt;Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernafas.&lt;br /&gt;b)   Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.&lt;br /&gt;Rasional : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret dalam seksi lobus. &lt;br /&gt;c)   Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.&lt;br /&gt;Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, adan/ atau puulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d)   Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.&lt;br /&gt;Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.&lt;br /&gt;e)   Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol dll. Awasi untuk efek samping merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.&lt;br /&gt;Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret. Memerlukan perubahan dosis/ pilihan obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Ketakutan/Anxietas.&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Krisis situasi&lt;br /&gt;- Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.&lt;br /&gt;- Faktor psikologis.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;- Mengakui dan mendiskusikan takut.&lt;br /&gt;-  Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatangani.&lt;br /&gt;-  Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a)   Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.&lt;br /&gt;Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b)   Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.&lt;br /&gt;Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.&lt;br /&gt;c)   Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.&lt;br /&gt;d)   Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.&lt;br /&gt;e)   Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.&lt;br /&gt;Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Kurang informasi.&lt;br /&gt;- Kesalahan interpretasi informasi.&lt;br /&gt;- Kurang mengingat.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.&lt;br /&gt;- Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.&lt;br /&gt;- Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medik.&lt;br /&gt;- Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut. &lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a) Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/ ringkas.&lt;br /&gt;Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.&lt;br /&gt;b) Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat&lt;br /&gt;Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.&lt;br /&gt;c) Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.&lt;br /&gt;Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.&lt;br /&gt;d) Berikan pedoman untuk aktivitas.&lt;br /&gt;Rasional : Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/ kebutuhan oksigen berlebihan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Pascaoperasi (Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 1999).&lt;br /&gt;1). Kerusakan pertukaran gas.&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Pengangkatan jaringan paru&lt;br /&gt;- Gangguan suplai oksigen&lt;br /&gt;- Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehilangan darah).&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.&lt;br /&gt;- Bebas gejala distress pernafasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a) Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu, nafas bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.&lt;br /&gt;Rasional : Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap hilangnya jaringan paru.&lt;br /&gt;b) Auskultasi paru untuk gerakamn udara dan bunyi nafas tak normal.&lt;br /&gt;Rasional : Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang masih ada.&lt;br /&gt;c) Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan penggunaan alat&lt;br /&gt;Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.&lt;br /&gt;d) Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai posisi miring.&lt;br /&gt;Rasional : Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.&lt;br /&gt;e) Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.&lt;br /&gt;Rasional : Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Bersihan jalan nafas tidak efektif&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Peningkatan jumlah/ viskositas sekret&lt;br /&gt;- Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.&lt;br /&gt;- Kelemahan/ kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan pernafasan tak bising.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a)  Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.&lt;br /&gt;Rasional : Pernafasan bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi jalan nafas.&lt;br /&gt;b)  Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi dan menekan daerah insisi.&lt;br /&gt;Rasional : Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.&lt;br /&gt;c)  Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.&lt;br /&gt;Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan. &lt;br /&gt;d)  Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.&lt;br /&gt;Rasional : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.&lt;br /&gt;e)  Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;Rasional : Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan menurunkan viskositas sekret.&lt;br /&gt;3). Nyeri (akut).&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal.&lt;br /&gt;- Adanya selang dada.&lt;br /&gt;- Invasi kanker ke pleura, dinding dada&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.&lt;br /&gt;- Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.&lt;br /&gt;- Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a)  Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas pada skala 0 – 10.&lt;br /&gt;Rasional : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan  skala rentang membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan analgesic, meningkatkan control nyeri.&lt;br /&gt;b)   Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.&lt;br /&gt;Rasional : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan intervensi.&lt;br /&gt;c)   Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.&lt;br /&gt;Rasional : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan mengatasinya.&lt;br /&gt;d)   Dorong menyatakan perasaan tentangnyeri.&lt;br /&gt;Rasional : Takut/ masalah dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri. &lt;br /&gt;e)   Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi&lt;br /&gt; Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian.&lt;br /&gt;4). Anxietas.&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan:&lt;br /&gt;- Krisis situasi&lt;br /&gt;- Ancaman/ perubahan status kesehatan&lt;br /&gt;- Adanya ancman kematian.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah&lt;br /&gt;- Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat&lt;br /&gt;- Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a) Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.&lt;br /&gt;Rasional : Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan perawatan individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat.&lt;br /&gt;b) Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan&lt;br /&gt;Rasional : Dukungan memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan pengobatannya.   &lt;br /&gt;c) Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.&lt;br /&gt;Rasional : Bila penyangkalan ekstrem atau ansiatas mempengaruhi kemajuan penyembuhan, menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan emebuka cara penyelesaiannya.&lt;br /&gt;d) Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.&lt;br /&gt;Rasional : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap informasi.. &lt;br /&gt;e) Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan waktu untuk menyiapkan peristiwa/ pengobatan.&lt;br /&gt;Rasional : Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang merasa tek berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa. &lt;br /&gt;f) Berikan kenyamanan fiik pasien.&lt;br /&gt;Rasional : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan fisik menetap.&lt;br /&gt;5). Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.&lt;br /&gt;Dapat dihubungkan :&lt;br /&gt;- Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber&lt;br /&gt;- Salah interperatasi informasi.&lt;br /&gt;- Kurang mengingat&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.&lt;br /&gt;- Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alas an tindakan tersebut.&lt;br /&gt;- Berpartisipasi dalam proses belajar.&lt;br /&gt;- Melakukan perubahan pola hidup.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a) Diskusikan diagnosa, rencana/ terapi sasat ini dan hasil yang diharapkan.&lt;br /&gt;Rasional : Memberikan informasi khusus individu, membuat pengetahuan untuk belajar lanjut tentang manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan informasi penting untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi. &lt;br /&gt;b) Kuatkan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram yang tepat. Masukkan informasi ini dalam diskusi tentang harapan jangka pendek/ panjang dari penyembuhan.&lt;br /&gt;Rasional : Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe pembedahan, kondisi preoperasi, dan lamanya/ derajat komplikasi.&lt;br /&gt;c) Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.&lt;br /&gt;Rasional : Pengkajian evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk meyakinkan penyembuhan optimal. Juga memberikan kesempatan untuk merujuk masalah/ pertanyaan pada waktu yang sedikit stres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Doenges, Marilynn E, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta &lt;br /&gt;Long, Barbara C, (1996), Perawatan Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses Holistik, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.&lt;br /&gt;Suyono, Slamet, (2001), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.&lt;br /&gt;Underwood, J.C.E, (1999), Patologi Umum dan Sistematik, Edisi 2, EGC, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-2098313608893376473?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/2098313608893376473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/ca-paru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/2098313608893376473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/2098313608893376473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/09/ca-paru.html' title='CA PARU'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4002030408609060945</id><published>2009-07-09T03:48:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T03:57:04.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.'/><title type='text'>asuhan keperawatan Infark miokardium</title><content type='html'>A.     PENGERTIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Brunner &amp; Sudarth, 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu. (Suyono, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     ETIOLOGI (kasuari, 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      faktor penyebab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Faktor pembuluh darah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Aterosklerosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Spasme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Arteritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Faktor sirkulasi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       Hipotensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       Stenosos aurta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø       insufisiensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Faktor darah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Anemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Hipoksemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     polisitemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Curah jantung yang meningkat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Aktifitas berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Emosi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Makan terlalu banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         hypertiroidisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kerusakan miocard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Hypertropimiocard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Hypertensi diastolic&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Faktor predisposisi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         usia lebih dari 40 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         hereditas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Faktor resiko yang dapat diubah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Mayor : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     hiperlipidemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     hipertensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Merokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Diabetes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Obesitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Diet tinggi lemak jenuh, kalori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Minor:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Inaktifitas fisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø     Stress psikologis berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.     TANDA DAN GEJALA&lt;br /&gt;Tanda dan gejala infark miokard  ( TRIAS ) adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nyeri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.        Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.        Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.       Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e.        Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan  leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.         Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.        Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Laborat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan Enzim jantung :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.        CPK-MB/CPK &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isoenzim yang ditemukan  pada otot jantung  meningkat antara  4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam,  kembali normal dalam 36-48 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       LDH/HBDH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkat dalam  12-24 jam dam memakan  waktu lama untuk kembali normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.        AST/SGOT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4  hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      EKG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan EKG yang terjadi pada fase awal  adanya  gelombang T tinggi dan simetris. Setelah  ini terdapat elevasi segmen ST.Perubahan yang terjadi kemudian  ialah adanya  gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor nyeri menurut White :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;0        =    tidak mengalami nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1         =    nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktifitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2       =    nyeri lebih pada satu tempat dan mengakibatkan terganggunya aktifitas, mislnya kesulitan bangun dari tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    PATHWAYS &lt;br /&gt;Aterosklerosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trombosis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Konstriksi arteri koronaria&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aliran darah ke jantung menurun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oksigen dan nutrisi turun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jaringan Miocard Iskemik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nekrose lebih dari 30 menit&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Supply dan kebutuhan oksigen ke jantung tidak seimbang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Supply Oksigen ke Miocard turun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Metabolisme an aerob&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seluler hipoksia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Timbunan asam laktat meningkat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;nyeri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cemas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fatique&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerusakan pertukaran gas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Intoleransi aktifitas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Integritas membran sel berubah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kontraktilitas turun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Resiko   penurunan curah jantung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;COP turun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kegagalan pompa jantung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gagal jantung &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Resiko kelebihan volume cairan ekstravaskuler&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gangguan perfusi jaringan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      EKG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui fungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q. patologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Enzim Jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CPKMB, LDH, AST &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Elektrolit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas, missal hipokalemi, hiperkalemi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Sel darah putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leukosit ( 10.000 – 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan proses inflamasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Kecepatan sedimentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan inflamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Kimia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin normal, tergantung abnormalitas fungsi atau perfusi organ akut atau kronis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      GDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Kolesterol atau Trigliserida serum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Foto dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau  aneurisma ventrikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Ekokardiogram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan katup atau dinding ventrikuler dan konfigurasi atau fungsi katup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Pemeriksaan pencitraan nuklir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel miocardia missal lokasi atau luasnya IMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.      Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area nekrotik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Pencitraan darah jantung (MUGA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum, gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran darah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  Angiografi koroner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya dilakukan sehubungan dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji fungsi ventrikel kiri (fraksi ejeksi). Prosedur tidak selalu dilakukan pad fase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau emergensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  Digital subtraksion angiografi (PSA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik yang digunakan untuk menggambarkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  Nuklear Magnetic Resonance (NMR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung atau katup ventrikel, lesivaskuler, pembentukan plak, area nekrosis atau infark dan bekuan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.  Tes stress olah raga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktifitas atau sering dilakukan sehubungan dengan pencitraan talium pada fase penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.      PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Rawat ICCU, puasa 8 jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Tirah baring, posisi semi fowler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Monitor EKG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Infus D5% 10 – 12 tetes/ menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Oksigen  2 – 4 lt/menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 – 50 mg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Obat sedatif : diazepam 2 – 5 mg &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Bowel care  : laksadin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Antikoagulan : heparin tiap 4 – 6 jam /infus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Diet rendah kalori dan mudah dicerna &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Psikoterapi untuk mengurangi cemas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.    PENGKAJIAN PRIMER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Airways&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Sumbatan atau penumpukan secret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Wheezing atau krekles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Breathing &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Sesak dengan aktifitas ringan atau istirahat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler  dangkal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Ronchi, krekles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Ekspansi dada tidak penuh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Penggunaan otot bantu nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Circulation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Nadi lemah , tidak teratur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Takikardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         TD meningkat / menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Edema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Akral dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kulit pucat, sianosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Output urine menurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.    PENGKAJIAN SEKUNDER.&lt;br /&gt;1.      Aktifitas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kelemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kelelahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Tidak dapat tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Pola hidup menetap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Jadwal olah raga tidak teratur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Takikardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Dispnea pada istirahat atau aaktifitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Sirkulasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :    riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah, diabetes mellitus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Tekanan darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat normal / naik / turun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Nadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratus (disritmia) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Bunyi jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan kontraktilits atau komplain ventrikel &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Murmur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot jantung &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Friksi ; dicurigai Perikarditis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Edema &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distensi vena juguler, edema dependent , perifer, edema umum,krekles mungkin ada dengan gagal jantung atau ventrikel &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Integritas ego &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :    menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal sudah dekat, marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda :    menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku menyerang, focus pada diri sendiri, koma nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Eliminasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda :    normal, bunyi usus menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Makanan atau cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :    mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda :    penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat badan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Hygiene&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Neurosensori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : perubahan mental, kelemahan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Nyeri atau ketidaknyamanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktifitas ), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Lokasi     : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kualitas      : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      “Crushing  ”, menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Intensitas : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Catatan   : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus , hipertensi, lansia  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.      Pernafasan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         dispnea tanpa atau dengan kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         dispnea nocturnal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         batuk dengan atau tanpa produksi sputum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         riwayat merokok, penyakit pernafasan kronis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         peningkatan frekuensi pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         nafas sesak / kuat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         pucat, sianosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         bunyi nafas ( bersih, krekles, mengi ), sputum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Interkasi social&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Stress&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Kesulitan istirahat dengan tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Menarik diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.       DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI&lt;br /&gt;1.      Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri ditandai dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      nyeri dada dengan / tanpa penyebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      wajah meringis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      delirium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      perubahan nadi, tekanan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan selama di RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria  Hasil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2, atau dari 2 ke 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      ekpresi wajah  rileks / tenang, tak tegang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      tidak gelisah  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      nadi 60-100 x / menit, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      TD 120/ 80 mmHg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Observasi karakteristik, lokasi, waktu, dan perjalanan  rasa nyeri dada  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Anjurkan pada klien  menghentikan aktifitas selama ada serangan dan istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Bantu klien  melakukan tehnik relaksasi, mis nafas dalam, perilaku distraksi, visualisasi, atau bimbingan imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Pertahankan Olsigenasi  dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Monitor tanda-tanda vital ( Nadi &amp; tekanan darah ) tiap dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kolaborasi  dengan tim kesehatan  dalam pemberian analgetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan factor-faktor listrik, penurunan karakteristik miokard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Tidak ada edema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Tidak ada disritmia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Haluaran urin normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      TTV dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Pertahankan tirah baring selama fase akut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kaji dan laporkan adanya tanda – tanda penurunan COP, TD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Monitor haluaran urin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kaji dan pantau TTV tiap jam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kaji dan pantau EKG tiap hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Berikan oksigen sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Auskultasi pernafasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Berikan makanan sesuai diitnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Hindari valsava manuver, mengejan ( gunakan laxan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan , iskemik, kerusakan otot jantung, penyempitan / penyumbatan pembuluh darah arteri koronaria ditandai dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Daerah perifer dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      EKG elevasi segmen ST &amp; Q patologis pada lead tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      RR lebih dari 24 x/ menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kapiler refill Lebih dari 3 detik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Nyeri dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Gambaran foto torak terdpat pembesaran jantung &amp; kongestif paru ( tidak selalu )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      HR lebih dari 100 x/menit, TD &gt; 120/80AGD dengan : pa O2 &lt; 80 mmHg, pa Co2 &gt; 45 mmHg dan Saturasi &lt; 80 mmHg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Nadi lebih dari 100 x/ menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Terjadi peningkatan enzim jantung yaitu CK, AST, LDL/HDL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan perfusi  jaringan berkurang / tidak meluas selama dilakukan tindakan perawatan di RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Daerah perifer hangat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      tak sianosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      gambaran EKG tak menunjukan perluasan infark&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      RR 16-24 x/ menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      tak terdapat clubbing finger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      kapiler refill 3-5 detik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      nadi 60-100x / menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      TD 120/80 mmHg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Monitor Frekuensi dan irama jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Observasi perubahan  status mental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Observasi warna  dan suhu kulit / membran mukosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Ukur haluaran urin dan catat berat jenisnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kolaborasi : Berikan cairan IV l sesuai indikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Pantau Pemeriksaan diagnostik / dan laboratorium mis EKG, elektrolit , GDA( Pa O2, Pa CO2 dan saturasi O2 ). Dan  Pemberian oksigen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Resiko kelebihan volume cairan ekstravaskuler berhubungan dengan penurunan perfusi ginjal, peningkatan natrium / retensi air , peningkatan tekanan hidrostatik, penurunan protein plasma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseimbangan volume cairan dapat dipertahankan  selama dilakukan tindakan keperawatan selama di RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      tekanan darah dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      tak ada distensi  vena perifer/ vena dan edema  dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      paru bersih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      berat badan  ideal ( BB idealTB –100 ± 10 %)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Ukur masukan / haluaran, catat penurunan , pengeluaran, sifat konsentrasi, hitung keseimbangan cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Observasi adanya oedema dependen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Timbang BB tiap hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Pertahankan masukan  total caiaran 2000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kolaborasi : pemberian diet rendah natrium, berikan  diuetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.      Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan aliran darah ke alveoli atau kegagalan utama paru, perubahan membran  alveolar- kapiler ( atelektasis , kolaps jalan nafas/ alveolar  edema paru/efusi, sekresi berlebihan / perdarahan aktif ) ditandai dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Dispnea berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Sianosis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      perubahan GDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      hipoksemia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oksigenasi dengan GDA dalam rentang normal (pa O2 &lt; 80 mmHg, pa Co2 &gt; 45 mmHg dan Saturasi &lt; 80 mmHg ) setelah dilakukan tindakan keperawtan selama di RS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Tidak sesak nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      tidak gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      GDA dalam batas Normal ( pa O2 &lt; 80 mmHg, pa Co2 &gt; 45 mmHg dan Saturasi &lt; 80 mmHg )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Catat frekuensi &amp; kedalaman pernafasan, penggunaan otot Bantu pernafasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Auskultasi paru untuk  mengetahui penurunan / tidak adanya  bunyi nafas  dan adanya bunyi tambahan misal krakles, ronki dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Lakukan tindakan untuk memperbaiki / mempertahankan jalan nafas misalnya , batuk,  penghisapan lendir dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Tinggikan kepala / tempat tidur sesuai kebutuhan / toleransi pasien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kaji toleransi aktifitas misalnya  keluhan kelemahan/ kelelahan selama kerja atau tanda vital berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen miocard dan  kebutuhan, adanya iskemik/ nekrotik jaringan miocard ditandai dengan gangguan frekuensi jantung, tekanan darah dalam aktifitas, terjadinya disritmia, kelemahan umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi peningkatan toleransi  pada klien setelah dilaksanakan  tindakan keperawatan selama di RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria  Hasil : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      klien berpartisipasi dalam aktifitas sesuai kemampuan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      frekuensi jantung  60-100 x/ menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      TD 120-80 mmHg &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Catat frekuensi  jantung, irama,  dan perubahan TD selama dan sesudah aktifitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Tingkatkan istirahat ( di tempat tidur )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Batasi aktifitas pada dasar nyeri  dan berikan aktifitas sensori yang tidak berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Jelaskan pola peningkatan  bertahap dari tingkat aktifitas, contoh bengun dari  kursi bila tidak ada  nyeri, ambulasi dan istirahat selam 1 jam  setelah mkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kaji ulang tanda  gangguan yang menunjukan tidak toleran  terhadap aktifitas atau memerlukan  pelaporan pada dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.      Cemas berhubungan dengan ancaman aktual terhadap integritas biologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cemas hilang / berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Klien tampak rileks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Klien dapat beristirahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      TTV dalam batas normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kaji tanda dan respon verbal serta non verbal terhadap ansietas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Ajarkan tehnik relaksasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Minimalkan rangsang yang membuat stress&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Diskusikan dan orientasikan klien dengan lingkungan dan peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Berikan sentuhan pada klien dan ajak kllien berbincang-bincang dengan suasana tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Berikan support mental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Kolaborasi pemberian sedatif sesuai indikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang  informasi tentang fungsi jantung / implikasi  penyakit jantung  dan status kesehatan  yang akan datang , kebutuhan  perubahan pola hidup ditandai dengan pernyataan masalah, kesalahan konsep, pertanyaan, terjadinya kompliksi  yang dapat dicegah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan klien tentang  kondisi  penyakitnya  menguat setelah diberi  pendidikan kesehatan selama di RS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Menyatakan pemahaman tentang penyakit jantung , rencana pengobatan,  tujuan pengobatan &amp; efek samping  / reaksi merugikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Menyebutkan gangguan yang memerlukan perhatian cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Berikan informasi dalam bentuk belajar yang berfariasi, contoh buku, program audio/ visual, Tanya jawab dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Beri penjelasan factor resiko, diet ( Rendah lemak dan rendah garam ) dan aktifitas yang berlebihan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Peringatan untuk menghindari paktifitas manuver valsava&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø      Latih pasien sehubungan dengan aktifitas yang bertahap contoh : jalan, kerja,  rekreasi  aktifitas seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC ; 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume 2. Jakarta : EGC ; 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Lynda Juall Carpenito. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Volume 2. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Smeltzer, S.C. &amp; Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical – surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A.  Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.       Price, S.A. &amp; Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.       Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.       Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.   Arif Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius ; 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.   Sandra M. Nettina , Pedoman Praktik Keperawatan, Jakarta, EGC, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.   Kasuari, Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan Pendekatan Patofisiology, Magelang, Poltekes Semarang PSIK Magelang, 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4002030408609060945?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4002030408609060945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-infark-miokardium.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4002030408609060945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4002030408609060945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/07/asuhan-keperawatan-infark-miokardium.html' title='asuhan keperawatan Infark miokardium'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4771003007478646223</id><published>2009-07-09T03:44:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T03:48:14.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mengalami kesulitan'/><title type='text'>TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MANFAAT TABULIN DI DESA DELITUA TAHUN 2009</title><content type='html'>KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Puji dan sukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Watataalah, karena berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MANFAAT TABULIN DI DESA DELITUA TAHUN 2009”. yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan di Akademi Kebidanan Deli Husada Delitua tahun 2009.&lt;br /&gt; Penulis menyedari sepenuhnya dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan, walaupun penulis berusaha semaksimal mungkin. Untuk itu penulis mengharapkan Kritik dan Saran yang bersipat membangun demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.&lt;br /&gt; Dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mengalami kesulitan, akan tetapi berkat dan dukungan dari beberapa pihak maka penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sebagaimana mestinya oleh karna itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:&lt;br /&gt;1. Terulin Meliala, AMKeb, SKM, selaku Wakil Ketua Yayasan Deli Husada Delitua.&lt;br /&gt;2. Drs. Johannes Sembiring, Selaku Ketua Direktur Akademi Keperawatan Deli Husada Delitua.&lt;br /&gt;3. Dra. Megawati Sinambela, SST, S. Kep, Ns. selaku Direktris Akademi Kebidanan Deli Husada Delitua.&lt;br /&gt;4. Tati Murni Karo-karo, S. Kep, Ns. Selaku dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis hingga seleinya Karya Tulis Ilmiah ini.&lt;br /&gt;5. Seluruh staf pengajar Akademi Kebidanan Deli Husada Delitua yang banyak memberikan pengetahuan serta bimbingan dan membantu penulis selama pendidikan.&lt;br /&gt;6. Seluruh ibu Asrama di Akademi Kebidanan Deli Husada Delitua yang telah bersedia sebagai pengganti kedua orang tua kami selama berada di Asrama.&lt;br /&gt;7. Kepada Bapak Kepala Desa Delitua serta ibu-ibu yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian.&lt;br /&gt;8. Rasa hormat, Cinta dan Kasih sayang penulisucapkan kepada Ayahanda dan Ibunda yang telah memberikan, membimbing serta mengasuh penulis dengan penuh kasih sayang mulai dari kecil hingga sekarang dan begitu banyak memberika dukungan Moril dan Materil serta Sepritual kepada penulis.&lt;br /&gt;9. Kepada abang penulis, Nurman Heri Sandi Spd, Kakak Penulis, Rika Aryani SE, serta adik-adik penulis yang penulis sayangi Indah Ramadani dan Eza Prayuda Purta dan tak lupa lagi kepada keponakan penulis Ramaiza Zaifa Aliya Sandi yang penulis cintai dan sanyangi yang telah banyak memberikan dorongan dan support kepada penulis.&lt;br /&gt;10. Sahabat-sahabat Penulis yang penilis sayangi, Risma (oviq) Wulan (bunda), Santi (sanbo), Yuni (white), Neni (kakak cerewet), Nirwani (adik bawel) Elisa Hanum, serta teman-teman satu kamar penulis, yang selama ini memberikan canda, tawa, dan hari-hari yang indah kepada penulis baik suka maupun duka serta memberikan saran dan dukungannya dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.&lt;br /&gt;11. Seluh teman-teman sejawat angkatan ke VI di Akademi Kebidanan Deli Husada Delitua yang telah banyak membantu dan senantiasa bersama sama melewati hari-hari selama berada di Akademi Kebidanan Deli Husada Delitua, baik suka maupun duka.&lt;br /&gt;12. Dan tak lupa juga keda someone yang penulis sayangi yang telah banyak memberikan do’a, dukungan, semangat serta selalu mendengar keluh kesah penulis hingga selesinya Karya Tulis Ilmiah ini.&lt;br /&gt;Akhir kata, penulis mengharapkan semoga tulisan yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua yang membacanya dan sebagai wahana menambah pengetahuan serta pemikiaran. Semogah Allah Subhanahu Wataaalah selalu tetap memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua  Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Delitua, ..........Juli 2009&lt;br /&gt;        Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                     (Yuni Triana)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4771003007478646223?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4771003007478646223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/07/tingkat-pengetahuan-ibu-tentang-manfaat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4771003007478646223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4771003007478646223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/07/tingkat-pengetahuan-ibu-tentang-manfaat.html' title='TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MANFAAT TABULIN DI DESA DELITUA TAHUN 2009'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-5487899637584260670</id><published>2009-06-10T01:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T01:44:42.430-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nafsu arti bahasanya adalah ada. Nafsu berarti adanya. Menurut kaum sufi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='juga bukan gumpalan tema.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kata ini kita pake bukan untuk dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang ada'/><title type='text'>RENUNGAN HATI TENTANG NAFSU</title><content type='html'>NAFSU&lt;br /&gt; Nafsu arti bahasanya adalah ada. Nafsu berarti adanya. Menurut kaum sufi, kata ini kita pake bukan untuk dimaksudkan untuk menunjukkan sesuatu yang ada, juga bukan gumpalan tema. Mereka menggunakan untuk menunjukkan suatu penyakit dari sifat-sifat hamba atu akhlak-akhlak dan perbuatan-perbuatan yang tercela. Kemudian dijelaskan bahwa penyakit dari sifat-sifat hambaterbagi menjadi dua macam. Pertama sebagai hasil dari perbuatan, seperti kemaksiatan dan penentangan. Kedua, akhlak buruk yang bersumber dari nafsunya yang tercela. Jika salik berubah mengobati dan menghilangkannya, dia dapat melakukannya dengan mujahadah (berjuang) secara terus menerus, yaitu memerangi kecendrungan nafsu pada setiap kelezatan dan lari dari setiap yang dibenci.&lt;br /&gt; Bagian pertama merupakan suatu yang dilarang, yaitu larangan yang bersifat perharaman. Sedangakan bagian kedua merupakan akhlak jelek dan kotor. Ini adalah batasan –batasan secara global. Rinciannya seperti yang tampak dalam contoh-contoh akhlak tercela berikut ini, yaitu seperti sombong, marah, dendam, hasud, akhlak yang jelek, sedikit bertanggung jawab, dan sebagainya.&lt;br /&gt; Nafsu yang paling buruk adalahyang menghayalkan bahwa sesuatu yang buruk adalah baik, atau menganggapnya wajar dan patut mendapatkan tempat. Oleh karena itu, tingkat kebusukan nafsu semacam ini sebagai sirik yang samara. Pengobatan yang terbaik untuk penyakit ini adalah memandulkan nafsu dan menghancurkannya. Tehik penghancurannya yang paling sempurna adalah dengan pembiasaan lapar, haus, sedikit tidur, dan berbagai jenis amalan yang berat, keras dan mengandung kekuatan yang mampu melumpuhkan nafsu.&lt;br /&gt; Nafsu sipatnya lembut dan halus. Letaknya dalam satu sisi hati sebagai barang titipan, yaitu pada bidang yang memang khusus untuk akhlak-akhlak berpenyakit. Demikian juga ruh yang lembut, letaknya dalam sisi hati (yang lain) yang memang merupakan akhlak yang terpuji. Dalam bentuknya yang umum, terkadang sebagian menundukkan sebagian yang lain. Akan tetapi, semuanya tetap dalam satu tempat, yaitu satu manusia. Ruh dan nafsu merupakan jasad-jasad lembut dalam bentuknya seperti malaikat dan setan dari sisi sifat kelembutannya.&lt;br /&gt; Seperti halnya matasebagai tempat penglihatan, teling tempat pendengaran, hidung tempat penciuman, dan mulut tempat merasakan yang kesemuanya merupakan satu kesatuan system sebagai formula lengkap keberadaan manusia, maka demikian demikian juga keberadaan sifat-sifat yang terpuji yang terletak dalam hati dan ruh, dan sifat tercela yang terletak dalam nafsu. Nafsu adalah sebagian dalam system kemanusiaan, hati juga bagian dari system ini, maka hukum dan namanya juga kembali pada mekanisme kesatuan system ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : abdul Qosim abdul karim hawazin alkusairi an nasaiburi,  RISALAH QUSYAIRIYAH, sumberkajian ilmu tasuwuf&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-5487899637584260670?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/5487899637584260670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/06/renungan-hati-tentang-nafsu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/5487899637584260670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/5487899637584260670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/06/renungan-hati-tentang-nafsu.html' title='RENUNGAN HATI TENTANG NAFSU'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-1397830670772440630</id><published>2009-05-23T02:50:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T02:53:27.227-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyebab utama diare pada anak meliputi infeksi enternal sebagai berikut : -&#x9;Infeksi bakteri : vibrio'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stigella'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yersinia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salmonella'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='E. Coli'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aeromonas dan sebagainya.'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Campilobacter'/><title type='text'>FAKTOR PENYEBAB DIARE</title><content type='html'>Faktro Penyebab Diare &lt;br /&gt;1. Faktor infeksi &lt;br /&gt;a. Infeksi enteral : infeksi saluran pencernaan  makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak meliputi infeksi enternal sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Infeksi bakteri : vibrio, E. Coli, Salmonella, Stigella, Campilobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.&lt;br /&gt;- Infeksi Virus : Entrovirus (Virus Echo, Coxsackie, Poliomielitis)&lt;br /&gt;- Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides)&lt;br /&gt;b. Infeksi parental ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti : otitis media akut (OMA), tonsilitis / tonsilofaringis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor  Malabsorsi &lt;br /&gt; Malabsorsi karbohidrat disakarida&lt;br /&gt;3. Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan &lt;br /&gt;4. Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (Jarang, tetapi dapat terjadi pada anak          yang lebih besar)&lt;br /&gt;         (Ngastiyah, 2003)&lt;br /&gt;5.  Faktor-Faktor yang Meningkatkan Resiko Diare &lt;br /&gt;1. Faktor lingkungan &lt;br /&gt;• Pasokan air tidak memadai &lt;br /&gt;• Air terkontaminasi tinja &lt;br /&gt;• Fasilitas kebersihan kurang &lt;br /&gt;• Kebersihan pribadi buruk, misalnya tidak mencuci tangan setelah buang air &lt;br /&gt;• Kebersihan rumah buruk. Misalnya tidak membuang tinja anaak di WC &lt;br /&gt;• Metode penyiapan dan penyimpanan makanan tidak higienes . Misalnya makanan dimasak tanpa dicuci terlebih dahulu atau tidak menutup makanan yang telah dimasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Praktik penyapihan yang buruk &lt;br /&gt;• Pemberian susu eksklusif dihentikan sebelum bayi berusia 4-6 bulan dan melalui pemberian susu melalui botol&lt;br /&gt;• Berhenti menyusui sebelum anak berusia setahun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Faktor individu &lt;br /&gt;• Kurang gizi &lt;br /&gt;• Buruk atau kurangnya mekanisme pertahanan alami tubuh. Misalnya, diare lebih lajim terjadi pada anak-anak, baik yang mengidap campak atau yang mengalami campak.&lt;br /&gt;4. Produksi asam lambung berkurang &lt;br /&gt;5. Gerakan pada usus berkurang yang memengaruhi aliran makanan yang normal &lt;br /&gt;(Savitri, 2002)&lt;br /&gt;6.  Pencegahan Diare &lt;br /&gt;• Beri ASI eksklusif sampai empat atau enam bulan dan teruskan menyusui sampai setidaknya setahun.&lt;br /&gt;• Hindari pemberian susu botol.Setelah usia 4-6 bulan, berikan makanan yang bergizi, bersih dan aman untuk mulai menyapih.&lt;br /&gt;• Gunakan makanan matang yang baru dimasak untuk memberi makan anak-anak.&lt;br /&gt;• Bersihkan wadah yang digunakan untuk mengumpulkan  dan menyimpan air minum setiap hari.&lt;br /&gt;• Jika anda tidak yakin tentang kualitas  air minum, rebuslah selama 10 menit dan tutuplah serta simpanlah dalam wadah yang sama.&lt;br /&gt;• Hindari kontak antara tangan dan air minum ketika menyajikannya&lt;br /&gt;• Cucilah tangan dengan sabun dibawah air yang mengalir sebelum memberi makan anak, memasak, setelah pergi ke WC atau membersihkan anak.&lt;br /&gt;• Buanglah tinja yang dikeluarkan anak dalam WC segera mungkin.&lt;br /&gt;• Segeralah cuci baju yang terkena tinja anak dengan air hangat.&lt;br /&gt;• Berikan imunisasi campak kepada akan pada usia sembilan bulan karena resiko diare parah dan malnutrisi yang mengikutinya lebih tinggi. Setelah infeksi campak.&lt;br /&gt;• Pastikan bahwa daerah dimana anak bermain atau merangkak tetap bersih. Cucilah mainan yang anak mainkan secara teratur.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;7.  Cara Pemberian Cairan dalam Terapi Dehidrasi &lt;br /&gt;a. Belum ada dehidrasi &lt;br /&gt;Peroal sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi.&lt;br /&gt;b. Dehidrasi ringan &lt;br /&gt;1 jam pertama : 25-50 ml / kg BB peroral (intragastrik), selanjutnya : 125 ml / Kg BB / hari ad libitum.&lt;br /&gt;c. Dehidrasi berat &lt;br /&gt;  Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun berat badan 3 – 10 kg. &lt;br /&gt;1 jam pertama : &lt;br /&gt;40 ml / kg BB / jam = 10 tetes / kg BB / menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes / kg BB / menit (Set infus 1 ml = 20 tetes).&lt;br /&gt;7 Jam berikutnya : &lt;br /&gt;12 ml / kg BB / Jam = 3 tetes / kg / BB / menit (Set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 4 tetes / kg / BB / menit (set infus 1 ml = 20 tetes).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 jam berikutnya : &lt;br /&gt;125 ml / kg BB oralit peroral atau intragastrik. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan  dengan DG 11 intravena 2 tetes / kg / BB / menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes / Kg / BB / menit. (1 ml = 20 tetes).&lt;br /&gt;(Ngastiyah, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pengobatan untuk diare &lt;br /&gt;          a. Obat anti sekresi &lt;br /&gt;Asetosal dosis 25 mg / tahun dengan dosis minimun 30 mg klorpromazin. Dosis 0,5 – 1 mg / kg BB / hari  &lt;br /&gt;          b. Obat spasmolitik &lt;br /&gt;Umumnya obat spasmolitik seperti papverim, ekstrak beladora, opium loperamid tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi.&lt;br /&gt;        c. Antibiotik &lt;br /&gt;Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas. Bila penyebab kolera, diberikan tetrasiklin 25-50 mg / KG / BB / hari. Antibiotik juga diberikan bila terdapat penyakit penyerta seperti : OMA, faringitis, bronkitis atau bronkopneumonia.&lt;br /&gt;(Ngastiyah, 2003).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-1397830670772440630?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/1397830670772440630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/faktor-penyebab-diare.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/1397830670772440630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/1397830670772440630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/faktor-penyebab-diare.html' title='FAKTOR PENYEBAB DIARE'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-431463774720315907</id><published>2009-05-23T02:49:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T02:50:51.913-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri'/><title type='text'>TERAPI KELOMPOK</title><content type='html'>Terapi Kelompok&lt;br /&gt;Terapi kelompok adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri (self-awareness). Peningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya. &lt;br /&gt;Jenis terapi kelomok  &lt;br /&gt;a. Kelompok terapeutik&lt;br /&gt;Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik krisis, tumbuh kembang, atau penyesuaian social. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Kelompok terapeutik:&lt;br /&gt;1. Mencegah masalah kesehatan &lt;br /&gt;2. Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok &lt;br /&gt;3. Meningkatkan kualitas kelompok, antara anggota kelompok saling membantu dalam menyelesaikan masalah. &lt;br /&gt;b. Terapi aktipitas kelompok&lt;br /&gt;Kelompok dibagi sesuai dengan kebutuhan yaitu, stimulasi presepsi, stimulasi sensoris, orientasi realita, dan sosialisasi (keliat, 2005). &lt;br /&gt; Pada terapi ini, seorang perawat spesialis yang menjadi tropis dan enam sampai delapan orang bertemu secara teratur dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran diri, meningkatkan hubungan interpersonal dan mengubah pola perilaku yang mal adaptif. Kemudian klien mempelajari bagaimana membuat ekspresi perasaan yang sesuai dan menggali cara-cara untuk meningkatkan pertumbuhan dan perubahan pribadi (copel, 2007).&lt;br /&gt;Proses kelompok adalah makna interaksi perval dan non verbal di dalam kelompok yang meliputi:&lt;br /&gt;1. isi komunikasi&lt;br /&gt;2. Hubungan antara anggota &lt;br /&gt;3. Pengaturan tempat duduk &lt;br /&gt;4. Pola atau nada bicara&lt;br /&gt;5. bahasa dan sikap tubuh&lt;br /&gt;6. Tema kelompok yang dapat diekspresikan baik secara terbuka atau tertutup. Kelompok terapi berfokus pada hubungan kelompok, interaksi antar anggota, dan masalah dalam hidup dan perilaku yang terjadi disana dan saat ini (Ann, 2005). &lt;br /&gt;Terpi kelompok terdiri atas beberapa bentuk, sebagian besar berasal dari jenis-jenis terapi individual. &lt;br /&gt;a. Kelompok eksplorasi interpersonal &lt;br /&gt;Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok yang lain. Pasien diterima dan didukung oleh kerena itu, utuk meningkatkan harga diri, tipe ini yang paling umum dilakukan.&lt;br /&gt;b. Kelompok Bimbingan-Inspirasi &lt;br /&gt;Kelompok yang sangat terstruktur, kosesif, mendukung, yang meminimalkan pentingnya tilikan, dan memaksimalkan nilai diskusi didalam kelompok dan persahabatan. Kelompoknya mungkin saja besar, anggota kelompok dipilih sering kali kerena mereka”mempunyai problem yang sama”&lt;br /&gt;c. Terapi Berorientasi Psikoanalitik   &lt;br /&gt;Suatu tehnik kelompok dengan struktur yang longgar, terapis melakukan interprestasi tentang konflik nirsadar pasien dan memprosesnya dari obserpasi interaksi antar anggota kelompok. &lt;br /&gt;Sebagian besar terapi kelompok yang sukses tampaknya bergantung lebih pada pengalaman, sensitivitas, kehangatan, dan kharisma pemimpin kelompok dari pada orientasi teori yang dianut (tomg, 2004)&lt;br /&gt;Berbagai masalah dalam kelompok untuk mengembangkan insinght, kepercayaan diri, sensitifitas, dan keterampilan sosial. Terdapat penekanan pada hubungan timbal balik antar anggota kelompok yang dipasilitasi oleh ahli terapi. Terapi kelompok dapat berlangsung terus menerus atau terbatas waktu (Hibbert, 2009:157). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Terapi Aktivitas Kelompok &lt;br /&gt; Terpi aktivitas kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama (keliat, 2005). &lt;br /&gt;Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktipitas kelompok stimulasi realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.1. Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Kognitif / Persepsi&lt;br /&gt;Klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. &lt;br /&gt;Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif. &lt;br /&gt;Stimulus yang disediakan baca artikel / majalah / buku / puisi, menonton acara TV, stimulus dari pengalaman masa lalu yang menghasilkan proses persepsi klien yang mel adaptif atau distruktif, mis: kemarahan, kebencian, putus hubungan, pandangan negatif pada orang lain, dan halusinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.2. Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Sensoris&lt;br /&gt; Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien. Kemudian diobservasi reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi perasaan secara non Verbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh). &lt;br /&gt;Biasanya klien tidak mau menggungkapkan komunikasi verbal akan terstimulasi omosi dan perasaannya, serta menampilkan respon. Aktifitas yang digunakan sebagai stimulus adalah : musik, seni, menyanyi, menari, jika hobi klien diketahui sebelumnya, dapat dipakai sebagai stimulus, misalnya lagi kesukaan klien, dapat digunakan sebagai stimulus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.3. Terapi Aktifitas Kelompok orientasi Realitas &lt;br /&gt; Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada disekitar, yaitu diri sendiri, orang lain yang di sekeliling klien atau orang yang dekat dengan klien dan lingkungan yang mempunyai hubungan dengan klien. &lt;br /&gt;Aktifitas berupa: orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar, dan semua kondisi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.4. Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi&lt;br /&gt;Klien dibantu untuk melakukan sosialisasi dengan individu yang ada disekitar klien. Sosialisasi dapat pula dilakukan secara bertahap dari inter personal (satu dan satu), kelompok, dan massa. Aktivitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.&lt;br /&gt; Terapi aktivitas kelompok sosialisasi pernahditeliti dan memberi dampak pada kemampuan klien dalam bersosialisasi. Terapi aktivitas yang lain telah digunakan dibeberapa Rumah Sakit Jiwa. Dengan evaluasi dan penelitian tentang manfaat terapi aktivitas kelompok yang akan memberi kontribusi peningkatan kemampuan perawat dalam melaksanakan terapi aktivitas kelompok dapat diperoleh melalui pendidikan keperawatan berkelanjutan diharapkan perawat yang melaksanakan terapi aktivitas kelompok telah mengikuti pendidikan khusus.&lt;br /&gt; Rawlins, willians, dan beck mengidentifikasi tiga area yang perlu dipersiapkan untuk memjadi terpai atau pemimpin terapi kelompok, yaitu persiapan teoritis melalui pendidikan formal, literatur, bacaan, dan lokakarya. Pengalaman mengikuti terapi kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4. Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi.&lt;br /&gt; Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dan / atau kehidupan untuk didiskusikan dalam  kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-431463774720315907?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/431463774720315907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/terapi-kelompok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/431463774720315907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/431463774720315907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/terapi-kelompok.html' title='TERAPI KELOMPOK'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-4720456182186504944</id><published>2009-05-23T02:44:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T02:46:46.265-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial.'/><title type='text'>PENYEBAB AUTIS</title><content type='html'>PENYEBAB AUTIS&lt;br /&gt;Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.&lt;br /&gt;Beberapa teori yang didasari beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis. Beberapa teori penyebab autis adalah : Genetik (heriditer), teori kelebihan Opioid, teori Gulten-Casein (celiac), kolokistokinin, teori oksitosin Dan Vasopressin, teori metilation, teori Imunitas, teori Autoimun dan Alergi makanan, teori Zat darah penyerang kuman ke Myelin Protein Basis dasar, teori Infeksi karena virus Vaksinasi, teori Sekretin, teori kelainan saluran cerna (Hipermeabilitas Intestinal/Leaky Gut), teori paparan Aspartame, teori kekurangan Vitamin, mineral nutrisi tertentu dan teori orphanin Protein: Orphanin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-4720456182186504944?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/4720456182186504944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/penyebab-autis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4720456182186504944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/4720456182186504944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/penyebab-autis.html' title='PENYEBAB AUTIS'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-3935718810771233371</id><published>2009-05-23T02:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T02:42:49.490-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion'/><title type='text'>Hisprung atau Mega Colon</title><content type='html'>Pengertian&lt;br /&gt;              Ada beberapa pengertian mengenai Hisprung atau Mega Colon, namun pada intinya sama an ipenyakit yang disebabkan oleh obstruksi mekanis yang disebabkan oleh tidak adekuatnya motilitas pada usus sehingga tidak ada evakuasi usus spontan dan tidak mampunya spinkter rectum berelaksasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid Colon. Dan ketidak adaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan ( Betz, Cecily &amp; Sowden : 2000 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit Hirschsprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayi 3 aterm dengan berat lahirKg, lebih banyak laki – laki dari pada perempuan. ( Arief Mansjoeer, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi&lt;br /&gt;             Adapun yang menjadi penyebab Hirschsprung atau Mega Colon itu sendiri adalah diduga terjadi karena faktor genetik dan lingkungan sering terjadi pada anak dengan Down syndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi, kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;       Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar.&lt;br /&gt; Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. &lt;br /&gt;Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon ( Betz, Cecily &amp; Sowden, 2002:197).&lt;br /&gt;Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal.Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S &amp; Wilson, 1995 : 141 ).&lt;br /&gt;7. &lt;br /&gt;8. &lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1.Konstipasi berhubungan dengan obstruksi &lt;br /&gt;Ketidakmampuan Kolon mengevakuasi feces ( Wong, Donna, 2004 : 508 )&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;Anak dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai fungsi eliminasi secara normal dan bisa dilakukan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;- .Pasien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adapatasi&lt;br /&gt;- .Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;- .Berikan bantuan enema dengan cairan Fisiologis NaCl 0,9 %&lt;br /&gt;- .Observasi tanda vital dan bising usus setiap 2 jam sekali&lt;br /&gt;- .Observasi pengeluaran feces per rektal – bentuk, konsistensi, jumlah&lt;br /&gt;- .Observasi intake yang mempengaruhi pola dan konsistensi feses&lt;br /&gt;- .Anjurkan untuk menjalankan diet yang telah dianjurkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Perubahan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh berhubungan dengan saluran pencernaan mual dan muntah&lt;br /&gt;Tujuan : &lt;br /&gt;Pasien menerima asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;- .Berat badan pasien sesuai dengan umurnya&lt;br /&gt;- .Turgor kulit pasien lembab&lt;br /&gt;- .Orang tua bisa memilih makanan yang di anjurkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;- Berikan asupan nutrisi yang cukup sesuai dengan diet yang dianjurkan&lt;br /&gt;- .Ukur berat badan anak tiap hari&lt;br /&gt; - .Gunakan rute alternatif pemberian nutrisi ( seperti NGT dan parenteral ) untuk mengantisipasi pasien yang sudah mulai merasa mual dan muntahc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan intake yang kurang (Betz, Cecily &amp; Sowden 2002:197)&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt; Status hidrasi pasien dapat mencukupi kebutuhan tubuh&lt;br /&gt;Kriteria Hasil&lt;br /&gt;- .Turgor kulit lembab.&lt;br /&gt;- .Keseimbangan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;- .Berikan asupan cairan yang adekuat pada pasien&lt;br /&gt;- Pantau tanda – tanda cairan tubuh yang tercukupi turgor, intake – output&lt;br /&gt;- Observasi adanay peningkatan mual dan muntah antisipasi devisit cairan tubuh dengan segerad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatanya. ( Whaley &amp; Wong, 2004 ).&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt; pengetahuan pasien tentang penyakitnya menjadi lebih adekuat&lt;br /&gt;Kriteria hasil&lt;br /&gt;:Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakitnya, perawatan dan obat – obatan lebih meningkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;- .Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal – hal yang ingn diketahui sehubunagndengan penyaakit yang dialami pasien&lt;br /&gt;- Kaji pengetahuan keluarga tentang Mega Colon&lt;br /&gt;- Kaji latar belakang keluarga&lt;br /&gt;- Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan serta obat – obatan pada keluarga pasien&lt;br /&gt;- Jelaskan semua prosedur yang akan dilaksanakan dan manfaatnya bagi pasien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-3935718810771233371?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/3935718810771233371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/hisprung-atau-mega-colon.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/3935718810771233371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/3935718810771233371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/hisprung-atau-mega-colon.html' title='Hisprung atau Mega Colon'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-6842822789675528221</id><published>2009-05-12T01:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T01:42:20.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setelah mengikuti program penyuluhan diharapkan masyarakat dapat memahami apa yang dimaksud dengan ispa'/><title type='text'>INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)</title><content type='html'>SATUAN ACARA PENYULUHAN &lt;br /&gt;DI PUSKESMAS TANJUNG MORAWA B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik  : Infeksi saluran nafas atas (ISPA)&lt;br /&gt;Waktu Pertemuan : 1 X 25 Menit&lt;br /&gt;Sasaran  : Ibu yang mempunyai anak balita&lt;br /&gt;Tempat  :  Puskesmas Tanjung Morawa B &lt;br /&gt;Tanggal  : 23 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TIU :  Setelah mengikuti program penyuluhan diharapkan masyarakat dapat memahami apa yang dimaksud dengan ispa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TIK :  Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan ibu mampu:&lt;br /&gt;   -   Menjelaskan Pengertian ISPA&lt;br /&gt;   -   Menjelaskan Klasifikasi Penyakit Ispa&lt;br /&gt;- Menjelaskan Penyebab Ispa pada Balita&lt;br /&gt;- Menjelaskan Tanda dan gejala Ispa&lt;br /&gt;- Menjelaskan Gejala Ispa Ringan &lt;br /&gt;- Menjelaskan gejala Ispa Sedang&lt;br /&gt;- Menjelaskan Gejala Ispa Berat&lt;br /&gt;- Menjelaskan cara pengobatan Ispa&lt;br /&gt;- Menjelaskan cara pencegahan &lt;br /&gt;-  Menjelaskan Cara Pemberantasan Ispa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluh :  Mahasiswa STIKes DELI HUSADA Delitua&lt;br /&gt; Media  :  Leaflet&lt;br /&gt; Metode :  PENYULUHAN&lt;br /&gt; Evaluasi :  Tanya Jawab&lt;br /&gt;Sumber  :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt; Uraian Kegiatan Waktu&lt;br /&gt;  Perawat Masyarakat &lt;br /&gt;1. Pembukaan  Mengucapkan salam&lt;br /&gt; Memperkenalkan diri&lt;br /&gt; Memperkenalkan        pokok bahasan&lt;br /&gt; Mengadakan review&lt;br /&gt;  Menjawab salam&lt;br /&gt; Mendengarkan&lt;br /&gt; Mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Merespon &lt;br /&gt; 5 Menit&lt;br /&gt;2. Isi  Menjelaskan  defenisi ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan klasifikasi penyakit ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan Penyebab ispa pada balita&lt;br /&gt; Menjelaskan Tanda dan gejala ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan Cara pengobatan &lt;br /&gt; Menjelaskan cara pencegahan ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan cara pembrantasan ispa&lt;br /&gt;  Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 15 Menit&lt;br /&gt;3. Penutup  Membuat kesimpulan dengan Mahasiswa&lt;br /&gt; Mengucapkan kata penutup&lt;br /&gt; Mengucapkan salam  Masyarakat Merespon dan menjawab.&lt;br /&gt; Mendengar&lt;br /&gt; Menjawab salam&lt;br /&gt; 5 Menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)&lt;br /&gt;1. Pengertian  ISPA&lt;br /&gt;ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut (Indah, 2005):&lt;br /&gt;a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.&lt;br /&gt;b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)&lt;br /&gt;c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.&lt;br /&gt;Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.  Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis  virus,  bakteri  dan  riketsia serta jamur.  Virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus influensa, virus para-influensa dan virus campak), dan adenovirus. Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi, dkk, 2004).&lt;br /&gt;2.  Penyakit ISPA pada Balita&lt;br /&gt;a.  Klasifikasi Penyakit ISPA&lt;br /&gt;Pada tahun 1998 World Health Organization cit. Suyudi (2002) telah mempublikasikan  pola baru tatalaksana penderita ISPA. Dalam pola baru ini di samping digunakan cara diagnosis yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna juga dipisahkan antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana  penderita  penyakit infeksi akut telinga dan tenggorokan. Kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah: balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu  :&lt;br /&gt;1).  Pemeriksaan&lt;br /&gt;2).  Penentuan ada tidaknya tanda bahaya&lt;br /&gt;3).  Penentuan klasifikasi penyakit&lt;br /&gt;4).  Pengobatan dan tindakan&lt;br /&gt;Penentuan klasifikasi dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan hingga &lt; 5 tahun dan kelompok untuk umur &lt; 2 bulan.&lt;br /&gt;b. Etiologi ISPA&lt;br /&gt;Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.   Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh  virus dan mikroplasma. Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis   bakteri, virus,dan jamur.  Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004).   Bakteri tersebut  di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut menyerang  anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002).&lt;br /&gt;Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan virus campak), dan adenovirus.  Virus para-influensa  merupakan penyebab terbesar  dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit  demam saluran nafas bagian atas. Untuk  virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya  terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza  merupakan penyebab  terjadinya lebih banyak penyakit saluran  nafas bagian  atas daripada saluran nafas bagian bawah (Siregar dan Maulany, 95).&lt;br /&gt;c.   Faktor Risiko&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat ISPA adalah umur di bawah dua bulan,  kurang gizi, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, rendahnya tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan, lingkungan rumah  imunisasi yang tidak memadai dan menderita penyakit kronis (Indah, 2005)&lt;br /&gt;d. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;Sebagian  besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian  bawah  memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat  dan retraksi dada. Semua ibu dapat mengenali batuk tetapi  mungkin tidak  mengenal  tanda-tanda lainnya dengan mudah (Harsono dkk., 1994).  Selain batuk  gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu  flu,  demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 0 Celcius dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002).&lt;br /&gt;Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan  yaitu (Suyudi, 2002):&lt;br /&gt;1).    ISPA ringan bukan pneumonia&lt;br /&gt;2).    ISPA sedang, pneumonia&lt;br /&gt;3).    ISPA berat, pneumonia berat&lt;br /&gt;Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada ISPA  sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika keadaan memungkinkan misalnya pasien kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana.&lt;br /&gt;1). Gejala ISPA ringan&lt;br /&gt;Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut :&lt;br /&gt;a).    Batuk.&lt;br /&gt;b).    Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).&lt;br /&gt;c).    Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.&lt;br /&gt;d).    Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.&lt;br /&gt;Jika anak menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan di rumah tidak perlu dibawa ke dokter atau Puskesmas. Di rumah dapat diberi obat penurun panas yang dijual bebas di toko-toko atau Apotik tetapi jika dalam dua hari gejala belum hilang, anak harus segera di bawa ke dokter atau Puskesmas terdekat.&lt;br /&gt;2). Gejala ISPA sedang&lt;br /&gt;Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :&lt;br /&gt;a).    Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.&lt;br /&gt;b).    Suhu lebih dari 390C.&lt;br /&gt;c).    Tenggorokan berwarna merah.&lt;br /&gt;d).    Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak&lt;br /&gt;e).    Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.&lt;br /&gt;f).      Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.&lt;br /&gt;g).    Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.&lt;br /&gt;Dari gejala ISPA sedang ini, orangtua perlu hati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan, sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya kurang, umurnya empat bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan.&lt;br /&gt;3).  Gejala ISPA berat&lt;br /&gt;Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;a).    Bibir atau kulit membiru&lt;br /&gt;b).    Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas&lt;br /&gt;c).    Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun&lt;br /&gt;d).    Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah&lt;br /&gt;e).    Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah&lt;br /&gt;f).      Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas&lt;br /&gt;g).    Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba&lt;br /&gt;h).    Tenggorokan berwarna merah&lt;br /&gt;Pasien ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus.&lt;br /&gt;e. Pencegahan ISPA&lt;br /&gt;Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:&lt;br /&gt;1). Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik&lt;br /&gt;a).    Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.&lt;br /&gt;b).    Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.&lt;br /&gt;c).    Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.&lt;br /&gt;d).    Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.&lt;br /&gt;e).    Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk  mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.&lt;br /&gt;Dinkes DKI (2005)&lt;br /&gt;2). Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi&lt;br /&gt;Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi  yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi DPT  salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya  adalah infeksi saluran nafas (Gloria Cyber Ministries, 2001).&lt;br /&gt;3). Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan&lt;br /&gt;Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya  perilaku yang tidak mencerminkan  hidup sehat akan menimbulkan  berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya  memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).&lt;br /&gt;4). Pengobatan segera&lt;br /&gt;Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan pada ISPA&lt;br /&gt;• Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus , di beri oksigen dan sebagainya.&lt;br /&gt;• Pneumonia: diberi obat antibiotik melaui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin.&lt;br /&gt;• Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan.&lt;br /&gt;Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.&lt;br /&gt;Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan :&lt;br /&gt;• Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.&lt;br /&gt;• Immunisasi.&lt;br /&gt;• Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.&lt;br /&gt;• Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.&lt;br /&gt;Pemberantasan ISPA yang dilakukan adalah :&lt;br /&gt;• Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu.&lt;br /&gt;• Pengelolaan kasus yang disempurnakan.&lt;br /&gt;• Immunisasi&lt;br /&gt;Sedangkan kegiatan yang dapat dilakukan oleh kader kesehatan adalah diharapkan dapat membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia sehingga dapat :&lt;br /&gt;1. Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit.&lt;br /&gt;2. Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.&lt;br /&gt;3. Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.&lt;br /&gt;4. Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol.&lt;br /&gt;5. Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk&lt;br /&gt;Demam Berdarah Dengue&lt;br /&gt;1. Pengertian DBD&lt;br /&gt;Penyakit Demam Berdarah (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.&lt;br /&gt;Penyakit DBD sering salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tipus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD bisa bersifat asimptomatik atau tidak jelas gejalanya. Data di bagian anak RSCM menunjukkan pasien DBD sering menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, maupun diare. Masalah bisa bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain seperti flu atau tipus. Oleh karena itu diperlukan kejelian pemahaman tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue, patofisiologi, dan ketajaman pengamatan klinis. Dengan pemeriksaan klinis yang baik dan lengkap, diagnosis DBD serta pemeriksaan penunjang (laboratorium) dapat membantu terutama bila gejala klinis kurang memadai.&lt;br /&gt;Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun 1972. Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit. Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.&lt;br /&gt;KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) = 35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002); dan 23,87 (tahun 2003).&lt;br /&gt;Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit, disebabkan karena semakin baiknya sarana transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun.&lt;br /&gt;2.Penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD)&lt;br /&gt;Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gejala Demam Berdarah Dengue&lt;br /&gt;Gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan :&lt;br /&gt;• Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 °C- 40 °C)&lt;br /&gt;• Manifestasi pendarahan, dengan bentuk : uji tourniquet positif puspura pendarahan, konjungtiva, epitaksis, melena, dsb.&lt;br /&gt;• Hepatomegali (pembesaran hati).&lt;br /&gt;• Syok, tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah.&lt;br /&gt;• Trombositopeni, pada hari ke 3 - 7 ditemukan penurunan trombosit sampai 100.000 /mm³.&lt;br /&gt;• Hemokonsentrasi, meningkatnya nilai Hematokrit.&lt;br /&gt;• Gejala-gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare kejang dan sakit kepala.&lt;br /&gt;• Pendarahan pada hidung dan gusi.&lt;br /&gt;• Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.&lt;br /&gt;Masa Inkubasi Demam Berdarah Dengue&lt;br /&gt;Masa inkubasi terjadi selama 4-6 hari.&lt;br /&gt;Penularan Demam Berdarah Dengue&lt;br /&gt;Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus betina yang sebelumnya telah membawa virus dalam tubuhnya dari penderita demam berdarah lain. Nyamuk Aedes aegypti berasal dari Brazil dan Ethiopia dan sering menggigit manusia pada waktu pagi dan siang.&lt;br /&gt;Orang yang beresiko terkena demam berdarah adalah anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun, dan sebagian besar tinggal di lingkungan lembab, serta daerah pinggiran kumuh. Penyakit DBD sering terjadi di daerah tropis, dan muncul pada musim penghujan. Virus ini kemungkinan muncul akibat pengaruh musim/alam serta perilaku manusia.&lt;br /&gt;4. Pencegahan DBD&lt;br /&gt;Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :&lt;br /&gt;1. Lingkungan&lt;br /&gt;Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:&lt;br /&gt;• Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.&lt;br /&gt;• Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.&lt;br /&gt;• Menutup dengan rapat tempat penampungan air.&lt;br /&gt;• Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2. Biologis&lt;br /&gt;Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).&lt;br /&gt;3. Kimiawi&lt;br /&gt;Cara pengendalian ini antara lain dengan:&lt;br /&gt;• Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.&lt;br /&gt;• Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.&lt;br /&gt;• Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.&lt;br /&gt;5. Pengobatan DBD &lt;br /&gt;Pengobatan penderita Demam Berdarah adalah dengan cara:&lt;br /&gt;• Penggantian cairan tubuh.&lt;br /&gt;• Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter –2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).&lt;br /&gt;• Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1 sendok makan setiap 3-5 menit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3091491808666545598-6842822789675528221?l=httpyasirblogspotcom.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/feeds/6842822789675528221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/infeksi-saluran-pernafasan-akut-ispa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6842822789675528221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3091491808666545598/posts/default/6842822789675528221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://httpyasirblogspotcom.blogspot.com/2009/05/infeksi-saluran-pernafasan-akut-ispa.html' title='INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)'/><author><name>keperawatan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00071575461360093677</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/TOSzMK5mqdI/AAAAAAAAALM/C_zrbgmdM9Y/S220/Photo-0052.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3091491808666545598.post-7416453091840789636</id><published>2009-05-12T01:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T01:32:31.886-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas SDM.'/><title type='text'>LAPORAN KEPANITRAAN KLINIK PUSKESMAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SgkzMFhF9cI/AAAAAAAAAGc/2G4qtvQY594/s1600-h/DSC00603.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zaJS2baNlkc/SgkzMFhF9cI/AAAAAAAAAGc/2G4qtvQY594/s200/DSC00603.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5334851516329489858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;B A B  I&lt;br /&gt;P E N D A H U L U A N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Latar Belakang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas SDM. Oleh kerena itu kesehatan perlu di pelihara dan ditingkatkan kualitasnya serta dilindungi dari ancaman yang merugikan. Masalah kesehtan merupakan suatu masalah yang tidak terlepas dari kehidupan manusia, baik kesehtan jasmani maupun rohani mulai dari individu, kelompok dan masyarakat. &lt;br /&gt; Pada pasal 5 UU Kesehatan No 23 Tahun 1992, Dinyatakan bahwa setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat klesehatan perorangan, keluargan dan juga lingkungan. Dalam hal pemeliharaan kesehatan masyarakat, pemerintahan mendirikan suatu bentuk organisasi kesehatan  fungsional yang bertujuan meningkatkan kesehatan masyarakat secara optimal yang disebut puskesmas (Pusat kesehatan Masyarakat). &lt;br /&gt; Puskesmas adalah kesatuan organisasi pungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarat disamping memberikan pelayanan dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes 1991).&lt;br /&gt; Dalam rangka mewujudkan indonesia sehat, cdiharapkan masyarakat indonesia ikut berperan aktif dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehantan yang optimal. Peningkattan peran serta masyarakat bertujuan untuk meningkatkan dukungan masyarakat secara aktif dan dinamis dalam berbagai kesehatan masyarakat dan mendorong kearak kemandirian dalam memecahkan masalah kesehatan dengan penuh tanggung jawab. &lt;br /&gt; Ada beberapa bentuk upaya kesehatan yang ada diIndonesia, salah satunya adalah Pelkes melalui puskesmas dan rumah sakit sebagai rujukan. &lt;br /&gt; Pada era disentralisasi, program preoritas dan porgam penengembangan dimana ada tujuh program preoritas.&lt;br /&gt;1. Promosi kesehtan&lt;br /&gt;2. Kesling&lt;br /&gt;3. KIA / KB&lt;br /&gt;4. perbaikan gizi&lt;br /&gt;5. P2M (Pemberantasan Penyakit Menulas)&lt;br /&gt;6. Pengobatan&lt;br /&gt;7. Pencatatan Laporan.&lt;br /&gt;Upaya perawatan kesehatan masyarakat dilakukan didalam maupun diluar gedung puskesmas,khususnya bagi  keluarga  keluarga yang berada diluar  wilayah kerja puskesmas.upaya  ini dilakukan terutama melalui jaringan pos  pelayanan terpadu(posyandu).kegiatan posyandu merupakan  tindak lanjut hasil pengobatan di puskesmas dan sarana kesehatan lain serta pembinaan kemampuan individu,keluarga,masyarakat dan kelompok-kelompok khusus untuk sehat secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Oleh karena itu mahasiswa S-1 keperawatan deli husada delitua melaksanakan praktek belajar laporan  dipuskesmas tanjung morawa agar  dapat berpartisipasi dalam kegiatan puskesmas serta dapat mengidentifikasi dan menilai keefektipan program-program puskesmas sesuai dengan program belajar keperawatan komunitas.&lt;br /&gt;1.2. Tujuan Puskesmas&lt;br /&gt;• untuk mengidentifikasi program puskesmas: program prioritas dan program pengembangan.&lt;br /&gt;• untuk megidentifikasi kegiatan puskesmas sesuai dengan program yang ada.&lt;br /&gt;• untuk berpartisipasi aktik dalam kegiatan puskesmas didalm maupun Diluar gedung.&lt;br /&gt;• Melakukan penyuluhan kesehatan (puskesmas,posyandu,sekolah,keluarga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang dan tujuan diatas, maka kami mengidenfikasi dan menilai ke efektipan program-program puskesmas dalam bentuk laporan kegiatan selama praktek di puskesmas tanjung morawa.                         &lt;br /&gt; Dalam rangka mewujudkan Visi “Masyarakat Tanjung Morawa” yaitu Terwujudnya pelayanan kesehatan yang berkualitas dan memuaskan masyarakat.&lt;br /&gt; Puskesmas Tanjung Morawa mengemban misi :&lt;br /&gt; 1.  Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.&lt;br /&gt; 2.  Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.&lt;br /&gt; 3. Meningkatkan system informasi kesehatan.&lt;br /&gt; 4. Membangun citra pelayanan yang berorientasi pada kepuasan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Profil Kesehatan Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tahun 2008 merupakan buku statistik kesehatan untuk menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat diwilayah Puskesmas Tanjung Morawa. &lt;br /&gt;Profil ini berisi data dan informasi untuk menggambarkan derajat kesehatan masyarakat, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan serta pencapaian indikator pembangunan kesehatan diwilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa.&lt;br /&gt;Oleh karena itu Profil Kesehatan Puskesmas Tanjung Morawa dipakai sebagai alat untuk mengevaluasi keinginan pembangunan kesehatan diwilayah kerja Puskesmas  Tanjung Morawa dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt; Data yang dikumpulkan dalam profil kesehatan Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tahun 2008, meliputi :&lt;br /&gt;a. Data umum meliputi data geografi, kependudukan dan sosial ekonomi.&lt;br /&gt;b. Data Derajat Kesehatan yang meliputi data kematian, data kesakitan dan data status gizi.&lt;br /&gt;c. Data Pelayanan Kesehatan, antara lain data pemanfaatan Puskesmas, data pelayanan ibu dan anak, dan pemeriksaan penyakit, data pelayanan kesehatan Gakin, data pengembangan KLB, data pelayanan kesehatan lainnya.&lt;br /&gt;d. Data kesehatan, higieni dan perilaku hidup sehata masyarakat, meliputi data air bersih, data rumah sehat, data tempat umum, dan perilaku hidup sehat.&lt;br /&gt;e. Data sumber daya kesehatan yang meliputi data sarana kesehatan, data tenaga kesehatan, data obat dan perbekalan kesehatan, serta data pembiayaan kesehatan.&lt;br /&gt;f. Data lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Data diperoleh dari laporan Puskesmas Pembantu, Bidan dan, setiap pemegang program.&lt;br /&gt; Data dianalisa dengan Analisis Deskriptif dan Analisis Komparatif, kemudian informasi diperoleh dan disajikan dalam bentuk teks, table, grafik dan diagram.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;TINJAUAN TEORITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Defenisi &lt;br /&gt; Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan pungsional yang merupakan pusat perkembangan kesehatan masyarakat yang juga membina perean serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (depkes RI )1991 &lt;br /&gt;2.2. Tujuan Puskesmas &lt;br /&gt; Kegiatan upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah maupun suasta pada hakekatnya mempunyai tujuan sebagai berikut &lt;br /&gt;a. kegiatan upaya kesehatan yang bertujuan untuk dapat menyelesaikan atau mengurangi masalah dilingkungan kesehatan &lt;br /&gt;b.  kegiatan upaya kesehatan yang bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat agar dapat hidup sehat &lt;br /&gt;2.3. Pungsi Puskesmas &lt;br /&gt; Adapun pungsi pokok puskesmas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. sebagai pusat pembegunan masyarakat diwilayahnya&lt;br /&gt;b. mebina peran serta masyarakat diwilayah kerujanya dalam rangka meningkatkan kemampuan utuk hidup sehat .&lt;br /&gt;c. memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada manyarakat diwilayah kerjanya &lt;br /&gt;2.4. Kegiatan Pokok Puskesmas &lt;br /&gt; Terdapat 18 kegiatan pokok beserta ruang lingkup kegiatan masing-masing yaitu :&lt;br /&gt;1. usaha kesehatan ibu dan anak &lt;br /&gt;a. Pemeliharaan kesehatan ibu dan hamil, Melahirkan, menyusui serta bayi, anak balita dan anak pra sekolah &lt;br /&gt;b. Memberikan nasehat tentang makanan guna utuk mencegah gizi buruk krena kekurangan protein dan kalori dan serta kekurangan lain serata bila ada pemberian makanan tambahan, vitamin dan mineral.&lt;br /&gt;c. Peberian nasehat tentang perkiembangan anak dan stimulasinya.&lt;br /&gt;d. Imunisasi tetanus toksoid 2 x pada ibu hamil, imunisasi BCG 1x DPT 3X Polio 4x serta campak 1x pada bayi usia 9 bulan.&lt;br /&gt;e. Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dallam mencpai tujuan program KIA&lt;br /&gt;f. Pelayanan keluarga berencana kepada PUS dengan perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena melahirkn anak berkali kali dan golongan ibu berisiko tinggi&lt;br /&gt;g. Pengobatan bagi ibu, anak balita dan pra sekolah untuk macam-macam penyakit ringan.&lt;br /&gt;h. Kunjungan rumah untuk mencari ibu dan anak yang memerlukan pemeliharaan, memberikan penerangan dan pendidikan tentang kesehatan dan untuk mengadakan pemantauan pada mereka yang lalai mengunjungi puskesmas dan meminta agar mereka datang ke puskesmas lagi &lt;br /&gt;2. usaha keluarga berencana (KB)&lt;br /&gt;3.  Usaha Penigkatan gizi&lt;br /&gt;4. Usaha kesehatan linhkungan &lt;br /&gt;5.  Usaha Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular    &lt;br /&gt;6.  Usaha Pengobatan &lt;br /&gt;7.  Upaya penyuluhan kesehtan masyarakat (PKM)&lt;br /&gt;8.  Upaya Kesehatan Gizi Sekolah (uks)&lt;br /&gt;9.  Kesehatan Olaraga&lt;br /&gt;10. Perawatan Kesehatan masyarakat&lt;br /&gt;11. Penigkatan kesehatan Kerja&lt;br /&gt;12. Kesehatan Jiwa&lt;br /&gt;13. Kesehatan Mata&lt;br /&gt;14. Laboratorium&lt;br /&gt;15. Upaya Kesehatan Sekolah &lt;br /&gt;16. Pembinaan Peran serta Masyarakat&lt;br /&gt;17. Pencatatan dan pelaporan &lt;br /&gt;18. Pembinaan Pengobatan tradisional&lt;br /&gt;2.5. Sasaran kegiatan puskesmas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah I ndividu, keluarga kelompok dan mesyarakat yang mempunyai masalah kesehatan akibat faktor kurang pengetahuan, ketidak mampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya.&lt;br /&gt;a. Individu&lt;br /&gt; - yang mempunayi masalah kesehatan dan termasuik kedalam golongan rawan (Vulnereble group)&lt;br /&gt; - Sasaran individu dapat meupakan titik awal&lt;br /&gt;b. Keluarga&lt;br /&gt;•  Keluarga Rawan  yaitu keluarga yang tentan terhadap kemungkinan timbulnya masalah kesehatan &lt;br /&gt;• Prioritas pelayanan kesehatan puskesmas&lt;br /&gt;c. Kelompok&lt;br /&gt;• Kelompok rawan yang terikat dalam intistusi misal panti, Pondok pensantren..&lt;br /&gt;• Kelompok rawan  yang tidak terikat dalam intistusi misalnya karang taruna, karang balita, kelompok kerja informal , perkumpulan penyandang taruna&lt;br /&gt; 2.6. Pelayanan Kesehatan&lt;br /&gt; 2.6.1. Persentase Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-1&lt;br /&gt;  Cakupan pelayanan kunjungan ibu hamil K-1 atau disebut juga akses pelayanan ibu hamil adalah cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang pertama kali pada masa kehamilan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan dari 2,531 ibu hamil yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, ada 2.314 ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang pertama kali pada masa kehamilan (91,43%) (Lampiran tabel 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.6.2. Persentase Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K-4&lt;br /&gt;  Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 adalah cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan dan mendapat 90 tablet Fe selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Pada tahu 2008 dilaporkan dari 2,531 ibu hamil yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa ada 2,187 ibu hamil (86,41%) yang mendapatkan antenatal sesuai standart paling sedikit empat kali ( Lampiran tabel 17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.6.3. Persentase Ibu Nifas Mendapat Pelayanan&lt;br /&gt;  Ibu nifas mendapat pelayanan adalah ibu nifas 6 (enam) jam pasca persalinan sampai dengan 42 hari yang telah memperoleh 3 (tiga) kali pelayanan nifas sesuai standart.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan dari 2,069 ibu nifas yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, ada 2,062 ibu nifas (99,66%) yang telah mendapatkan pelayanan (Lampiran tabel 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.6.4. Persentase Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita (Pra Sekolah)&lt;br /&gt;  Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita (pra sekolah) adalah cakupan anak umur 0-6 tahun yang dideteksi kesehatan dan tumbuh kembangnya sesuai dengan standart oleh dokter, bidan dan perawat, paling sedikit 2 (dua) kali pertahun di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;       Pada tahun 2008 dilaporkan dari 9,683 jumlah balita yang ada , dan 3,563 usia pra sekolah hanya 7,886 yang dideteksi tumbuh kembangnya (59,53%) oleh dokter, bidan dan perawat (Lampiran tabel 18).&lt;br /&gt;  Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita (pra sekolah) tahun 2008 dapat kita lihat pada tabel 4.1. dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 4.1. Cakupan  Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Pra Sekolah di Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO DESA/ KELURAHAN ANAK BALITA PRA SEKOLAH&lt;br /&gt;  Balita Pra Sekolah Balita+Pra&lt;br /&gt;Sekolah Dideteksi %&lt;br /&gt;1 Tanjung Morawa A     686          289         975           596     61.13 &lt;br /&gt;2 Tanjung Morawa B  1,138          376      1,514           826     54.56 &lt;br /&gt;3 Tanjung Morawa Pekan  1,032          181      1,213           321     26.46 &lt;br /&gt;4 Limau Manis  1,545          584      2,129         1,220     57.30 &lt;br /&gt;5 Bandar Labuhan     424          193         617           421     68.23 &lt;br /&gt;6 Dagang Kerawan     683          233         916           600     65.50 &lt;br /&gt;7 Bangun Rejo     869          349      1,218           960     78.82 &lt;br /&gt;8 Medan Sinembah     564          208         772           320     41.45 &lt;br /&gt;9 Tanjung Baru     806          241      1,047           820     78.32 &lt;br /&gt;10 Tanjung Mulia     176            75         251           164     65.34 &lt;br /&gt;11 Naga Timbul     489          151         640           247     38.59 &lt;br /&gt;12 Ujung Serdang     232          171         403           370     91.81 &lt;br /&gt;13 Lengau seprang     433          134         567           472     83.25 &lt;br /&gt;14 Aek Pancur      44            14          58             63   108.62 &lt;br /&gt;15 Punden Rejo     193          274         467           320     68.52 &lt;br /&gt;16 Sei Merah.     369            90         459           166     36.17 &lt;br /&gt;JUMLAH (KAB/KOTA) 9,683 3,563 13,246 7,886 59.53&lt;br /&gt;  Sumber : Bidang Kesga Puskesmas Tanjung Morawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.5. Persentase Siswa SD/MI yang diperiksa Kesehatannya.&lt;br /&gt;  Cakupan siswa SD/MI yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;  Pada laporan tahun 2008 sebanyak 10,909 siswa SD/MI yang telah diperiksa kesehatannya (74,68%) dari jumlah siswa SD/MI yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa (Lampiran Tabel 18).&lt;br /&gt;2.6.6. Persentase Siswa SMP/SMU yang diperiksa Kesehatannya.&lt;br /&gt; Cakupan siswa SMP/SMU yang diperiksa kesehatannya adalah cakupan siswa kelas 1 SLTP, kelas 1 SMU/SMK dan setingkat yang diperiksa kesehatnnya oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/kader kesehatan sekolah) melalui penjaringan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;  Data tahun 2008 sebanyak 6,765 siswa SMP,SMU/SMK dari 5,052 siswa SMP dan 1,713 siswa SMU yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, namun siswa SMP dan SMU belum pernah diperiksa kesehatannya oleh dokter, bidan, dan perawat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.7. Persentase Peserta KB Baru&lt;br /&gt; Keluarga Berencana merupakan salah satu program Pemerintah dalam upaya menekan angka peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, dengan tujuan mengendalikan jumlah kelahiran dan mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan sejahtera. Sasaran dari program Keluarga Berencana adalah Pasangan Usia Subur (PUS). PUS adalah pasangan suami istri yang pada saat ini hidup bersama, baik bertempat tinggal resmi dalam satu rumah ataupun tidak, dimana umur istrinya antara 15 tahun sampai 44 tahun.&lt;br /&gt;  Peserta KB Baru adalah pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan salah satu cara bagi pasangan usia subur yang menggunakan kembali salah satu alat kontrasepsi. Pada tahun 2008 terdapat KB baru yang berjumlah 639 (3,71%) dari jumlah PUS yang ada di Keceamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa. (Lampiran tabel 19).&lt;br /&gt;2.6.8. Persentase Peserta KB Aktif&lt;br /&gt; Peserta KB Aktif merupakan peserta KB yang aktif/masih menggunakan salah satu alat kontrasepsi pada pasangan usia subur. Cakupan peserta KB aktif adalah cakupan peserta aktif KB disbanding dengan jumlah PUS yang ada disuatu wilayah kerja dalam jurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Dilaporkan bahwa, pada tahun 2008 terdapat 12,357 peserta KB aktif (71,77%) dari 17,218 jumlah PUS yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa (lampiran tabel 19).&lt;br /&gt;2.6.9. Persentase Peserta KB Baru menurut Jenis Kontarsepsi  &lt;br /&gt;  Metode kontrasepsi ada 2 (dua), yaitu&lt;br /&gt;a. MKJP, merupakan metode kontrasepsi jangka panjang yang meliputi IUD, MOP (Medis Operatif Pria)/MOW (Modus Operatif Wanita) dan implant.&lt;br /&gt;b. Non MKJP, merupan metode kontrasepsi jangka pendek yang meliputi suntik, pil, kondom dan obat vagina.&lt;br /&gt; Dilaporkan bahwa, pada tahu 2008 dari jumlah PUS yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, yang menggunkan MKJP seperti : IUD (5,22%), MOP/MOW (3,44%), dan implant (2,76%), sedangkan yang menggunakan non MKJP seperti : suntik (42,03%), pil (44,30%), kondom (2,25%) dan obat vagina belum ada yang menggunakan (lampiran tabel 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.10. Persentase Cakupan Imunisasi Bayi.&lt;br /&gt; Salah satu program andalan bagi puskesmas adalah program imunisasi.Imunisasi mempunyai tujuan untuk menurukan angka kematian,  kesakitan, dan kecacatan bagi bayi dan balita. Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain TBC, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio dan campak. Imunisasi ini harus lengkap diberikan kepada bayi dan balita, sehingga anak memiliki kekebalan tubuh yang baik.&lt;br /&gt; Dilaporkan bahwa, pada tahun 2008 dari jumlah bayi yang ada yaitu 2397, maka yang mendapatkan imunisasi BCG 2688.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.11. Persentase Balita Mendapat Vitamin A 2 (dua) Kali &lt;br /&gt; Cakupan balita mendapat vitamin A-2x adalah bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A-1 (satu) kali dan anak umur 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis tinggi 2 (dua) kali pertahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Dilaporkan bahwa pada tahun 2008 sebanyak 5,696 balita yaitu usia 1-4 tahun medapatkan vitamin A 2x (77,78%). (Lampiran tabel 24).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.12. Persentase Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan&lt;br /&gt; Balita gizi buruk yang mendapat perawatan adalah balita dengan gizi buruk yang ditangani oleh petugas kesehatan melalui sarana kesehatan yang tersedia sesuai dengan kaidah tatalaksana gizi buruk disuatu wilayah tertentu dan dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Dilaporkan bahwa pada tahun 2008 ditemukan balita gizi buruk di Kecamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa sebanyak 4(empat) orang, dari 4 (empat) penderita gizi buruk tersebut semua mendapatkan perawatan sesuai dengan kaidah tatalaksana gizi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.13. Persentase Ibu Hamil yang Mendapat Tablet Fe. &lt;br /&gt; Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan atau antenatal care (ANC) meliputi :&lt;br /&gt;1. Penimbangan berat badan&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan kehamilan&lt;br /&gt;3. Pemberian tablet besi (tablet Fe)&lt;br /&gt;4. Pemberian imunisasi TT dan&lt;br /&gt;5. Konsultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Untuk mengatasi kasus anemia yang terjadi pada saat kehamilan maka diperlukan pelayanan pemberian tablet besi kepada ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi (Fe). &lt;br /&gt; Ibu hamil yang mendapat tablet Fe1 adalah ibu hamil yang mendapat 30 tablet Fe selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja dan kurun waktu tertentu. Sedangkan ibu hamil yang mendapatkan Fe3 adalah ibu hamil yang mendapat 90 tablet Fe selama periode kehamilannya di satu wilayah kerja dan kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan dari 2,531 ibu hamil, 2,314 ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe1 (91.43%), dan yang mendapatkan Fe3 sebanyak 2,187 ibu hamil (86,41%). (Lampiran tabel 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.14. Persentase WUS yang Mendapatkan Imunisasi TT&lt;br /&gt; Imunisasi TT WUS (Wanita Usia Subur) adalah pemberian imunisasi TT pada WUS (15-39) sebanyak 5(lima) dosis dengan interval tertentu berguna bagi kekebalan seumur hidup, yaitu :&lt;br /&gt;1. Pemberian TT1;&lt;br /&gt;2. Pemberian TT2 minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3(tiga) tahun;&lt;br /&gt;3. Pemberian TT3 minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun;&lt;br /&gt;4. Pemberian TT4 minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun.&lt;br /&gt;5. Perlindungan TT5 minimal 1 tahun setelah TT4 denga masa perlindungan 25 tahun. &lt;br /&gt; Diaporkan bahwa pada tahun 2008 dari 23593 WUS yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, maka WUS yang mendapatkan TT1 sebanyak 2103 (8,91%), WUS yang mendapatkan TT2 sebanyak 2032 (8,61%), WUS yang mendapatkan TT3 sebanyak 469 (1,98%), WUS yang mendapatkan TT4 sebanyak 390 (1,65%), dan WUS yang mendapatkan TT5 sebanyak 224 (0,95%).(Lampiran tabel 26).&lt;br /&gt;2.6.15. Ibu Hamil Risti/Komplikasi yang ditangani&lt;br /&gt; Ibu hamil risti/komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil risti/komplikasi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai dengan standart oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Dikatakan resiko tinggi apabila terjadi keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi, seperti: Hb &lt;8 g%, tekanan darah tinggi (systole &gt; 140 mmHg, diastole &gt;90 mmHg), oedema, eklampsia, perdarahan pervaginam, ketuban pecah dini, letak sungsang dan persalinan premature.&lt;br /&gt; Menurut laporan tahun 2008 dari jumlah ibu hamil yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa yaitu 2531, maka ibu hamil risti/komplikasi yang ditemukan sebanyak 222  orang (8,77%), dan semua ibu hamil risti tersebut mendapatkan penangan yang baik dari petugas kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.16. Neonatal Risti/Komplikasi yang Ditangani&lt;br /&gt; Neonatus risti/komplikasi yang ditangani adalah cakupan neonatus risti/komplikasi di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai dengan standart oleh tenaga kesehatan terlatihdi Puskesmas Perawatan dan RS Pemerintah/swasta.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan dari 1989 jumlah neonatal, maka neonatal risti/komplikasi yang dijumpai sebanyak 16 orang (0,80%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.17. Persentase Bayi yang Mendapatkan ASI Eksklusif&lt;br /&gt; Bayi yang mendapatkan ASI Ekslusif adalah bayi yang hanya mendapatkan ASI mulai lahir hingga mencapai umur 6 bulan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. ASI Ekslusif sangat dianjurkan untuk bayi dan sangat bermanfaat bagi kekebalan tubuh si bayi.&lt;br /&gt; Menurut laporan tahun 2008 dari 2397 bayi yang ada, hanya 141 bayi yang diberi ASI Eksklusif (5,88%). Selanjutnya dapat dilihat pada lampiran tabel 32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.18. Rasio Tambal/Cabut gigi Tetap&lt;br /&gt; Perawatan gigi dan mulut adalah sangat penting dilakukan, hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap kerusakan gigi. Sebaiknya gigi selalu diperiksakan ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Pemeriksaan gigi dan mulut merupakan bentuk upaya promotif , preventif, dan kuratif sederhana seperti pencabutan gigi sulung, pengobatan, dan penambalan sementara, yang dilakukan baik di sekolah maupun dirujuk ke puskesmas minimal 2 (dua) kali setahu.&lt;br /&gt; Menurut laporan tahun 2008, pelayanan kesehatan gigi dan mulut selalu dilakukan di Puskesmas Tanjung Morawa. Pencabutan gigi tetap yang dilaporkan sebanyak 457. Sedangkan pemeriksaan rasio tambal/cabut tidak ada. Selengkapnya dapat dilihat pada lampiran tabel 34.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.19. Persentase Murid Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah yang Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut.&lt;br /&gt; Pemeriksaan gigi dan mulut di Puskesmas Tanjung Morawa juga dilakukan bagi murid SD/Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 2008 dilaporkan bahwa dari 14607 murid SD/Madrasah Ibtidaiyah yang ada, sebanyak 10909 murid sekolah yang diperiksa gigi dan mulutnya (74,68 %). Setelah dilakukan pemeriksaan maka yang perlu mendapatkan perawatan gigi dan mulut sebanyak 1362, namun yang mendapatkan perawatan hanya 824 (2,18%). Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 34.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.6.20. Upaya Penyuluhan Kesehatan &lt;br /&gt; Penyuluhan Kesehatan Masyarakat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dalam upaya memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat sebagai usaha sadar dan berencana sehingga terciptanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan. Berdasarkan sasarannya, penyuluhan dibagi 2 (dua) yaitu :&lt;br /&gt;1. Penyuluhan kelompok: merupakan penyuluhan yang dilakukan pada kelompok sasaran tertentu.&lt;br /&gt;2. Penyuluhan massa: merupakan penyuluhan yang dilakukan dengan sasaran missal, seperti pameran, pemutaran film, melalui media massa(cetak dan elektronik).&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan bahwa, jumlah seluruh kegiatan penyuluhan yang dilakukan sebayak 47. Dimana penyuluhan secara kelompok dilakukan sebanyak 43, dan penyuluhan secara massa sebanyak 4. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 35.&lt;br /&gt;2.6.21. Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar.&lt;br /&gt; Jaminan Kesehatan Pra-Bayar adalah suatu cara penyelenggraan pemeliharaan kesehatan yang paripurna berdasarkan azas usaha bersama dan kekeluargaan, berkesinambungan, dengan mutu yang terjamin dan biaya yang terkendali. Jaminan kesehatan pra-bayar meliputi :&lt;br /&gt;• Askes; Asuransi Kesehatan yang dikelola oleh PT Askes Indonesia yang anggotanya Pegawai Negeri Sipil maupun non Pegawai Negeri Sipil.&lt;br /&gt;• Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja); Program public yang memberikan jaminan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi resiko social ekonomi tertantu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi social.&lt;br /&gt;• Askeskin; Kartu yang dilakukan oleh PT. ASKES dengan maksud membantu mayarakat miskin.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporakan, peserta ASKES yang berobat ke Puskesmas Tanjung Morawa sebanyak 1879, peserta Jamsostek yang berobat ke Puskesmas Tanjung Morawa sebanyak 1875, dan peserta Askeskin yang berobat ke Puskesmas Tanjung Morawa sebanyak 21664. Jumlah keseluruhan yang berobat sebanyak 25418 (25,72%). Lampiran dapat dilihat pada tabel 36.&lt;br /&gt;2.6.22. Persentase Keluarga Miskin yang Mendapat Pelayan Kesehatan&lt;br /&gt; Peserta Askeskin adalah Keluarga miskin yang berobat ke Puskesmas atau pun RS Pemerintah yang menggunakan Askeskin tidak dipungut biaya, hal ini dilakukan agar masyarakat miskin juga mendapatkan pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan dari 7152 keluarga miskin yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, yang mendapatkan Askeskin sebanyak 9690 (46,73%). Selanjutnya lapiran dapat dilihat pada tabel 37.&lt;br /&gt;2.6.23. Cakupan Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut.&lt;br /&gt; Cakupan pelayanan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut adalah pra-usia lanjut dan usia lanjut yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standart yang ada pa a pedoman diatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Selanjutnya pada tahun 2008 dilaporkan, pra-usia lanjut (45-59 tahun) yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa sebanyak 3829 orang, dan yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 689 orang (17,99%). Usia lanjut (60 tahun +) yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa sebanyak 3984 orang, dan yang mendapatkan pelayan kesehatan sebayak 985 orang (24,01%). Selanjutnya dapat dilihat pada lampiran tabel 39.&lt;br /&gt;2.7.   Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan&lt;br /&gt;2.7.1. Cakupan Rawat Jalan dan Rawat Inap.&lt;br /&gt; Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat dilakukan melalui rawat jalan dan rawat inap, Rawat jalan dilakukan apabila masyarakat mendapatkan gangguan kesehatan ringan, dan pelayanan rawat inap dilakukan apabila masyarakat mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Sebagian besar sarana kesehatan di Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan. Namun saat ini Puskesmas Tanjung Morawa telah memberikan pelayanan rawat jalan dan rawat inap secara 24 jam.&lt;br /&gt; Selanjutnya dilaporkan pada tahun 2008 jumlah rawat jalan yang ada di Puskesmas Tanjung Morawa adalah; Inpres  (12182), Askes (4053), dan KS (9690), dan jumlah rawat inap yang ada di Puskesmas Tanjung Morawa adalah; Inpres (25), Askes (1), KS (23). Lampiran dapat dilihat pada tabel 42.&lt;br /&gt;2.7.2. Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Laboratorium Kesehatan&lt;br /&gt; Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium kesehatan artinya mampu menyelenggarakan pelayanan laboratorium sesuai standart. Puskesmas Tanjung Morawa saat ini telah memiliki laboratorium yang berguna membantu masyarakat yang ingin melakukan pemeriksaan laboratorium. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah memeriksakan kesehatan secara lengkap di Puskesmas Tanjung Morawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.8. Perilaku Hidup Masyarakat&lt;br /&gt;2.8.1. Paersentase Rumah Tangga Ber-PHBS&lt;br /&gt; Rumah tangga ber-PHBS (Perilaku Hidup bersih dan Sehat) adalah rumah tanggayang seluruh anggotanya berperilaku hidup bersih dan meliputi 10 (sepuluh) indicator, yaitu :&lt;br /&gt;• Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan&lt;br /&gt;• Balita diberi ASI eksklusif&lt;br /&gt;• Mempunyai jaminan pemeliharaan kesehatan&lt;br /&gt;• Tersedia air bersih&lt;br /&gt;• Tersedinya jamban&lt;br /&gt;• Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni&lt;br /&gt;• Lantai rumah bukan dari tanah&lt;br /&gt;• Tidak merokok&lt;br /&gt;• Melakukan aktivitas fisik setiap hari&lt;br /&gt;• Makan sayur dan buah setiap hari&lt;br /&gt;  Dilaporkan pada tahun 2008, rumah yang dipantau dalam perilaku hidup bersih dan sehat  sebanyak 3408, dari jumlah tersebut ternyata yang ber-PHBS hanya 1720 rumah tangga (50,47%). Selanjutnya dapat dilihat pada lampiran tabel 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.8.2. Persentase Posyandu Aktif&lt;br /&gt; Posyandu aktif adalah Posyandu yang melaksanakan kegiatan hari buka dengan frekwensi lebih dari 8 kali pertahun, rata-rata kader yang bertugas 5 (lima) orang atau lebih, yang mencakup KIA, KB Gizi dan Imunisasi dengan cakupan dana sehat &lt; 50% yang bersumber dari masyarakat untuk masyarakat.&lt;br /&gt;Posyandu dikelompokkan menjadi 4 (empat) strata yaitu :&lt;br /&gt;1. Posyandu pratama adalah posyandu yang kegiatan pelayanannya belum rutin dan jumlah kader masih terbatas.&lt;br /&gt;2. Posyandu madya adalah posyandu dengan kegiatan lebih teratur dibandingkan posyandu pratama dan jumlah kader5 (lima) orang.&lt;br /&gt;3. Posyandu Purnama adalah Posyandu dengan frekwensi kegiatan lebih dari 8 (delapan) kali per tahun, rata-rata jumlah kader 5 (lima)orang atau lebih&lt;br /&gt;4. Posyandu mandiri adalah Posyandu yang sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur, cakupan 5(lima) program utama sudah bagus, ada program tambahan dan dana sehat telah menjagkau 50% KK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Selanjutnya dilaporkan pada tahun 2008, posyandu yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa sebanyak 77 posyandu yang tersebar di 16 desa, dimana dari 77 posyandu, yang aktif sebanyak 77,88%. (Lampiran tabel 46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.9.  Keadaan Lingkungan&lt;br /&gt;2.9.1 Persentase Rumah Sehat&lt;br /&gt;  Rumah Sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat-syarat kesehatan yang meliputi rumah yang mempunyai jamban sehat, sarana air bersih, temapat pembuangan sampah yang baik, sarana pembuangan air limbah, ventilasi, dan lantai yang tidak terbuat dari tanah.&lt;br /&gt;  Dilaporkan pada tahun 2008, dari rumah yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa berjumlah 21592, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 3550 rumah tangga, ternyata hanya 1740 yang termasuk rumah sehat (49.01%). (Lampiran tabel 47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.9.2. Persentase Keluarga yang Memiliki Akses terhadap Air Bersih&lt;br /&gt; Akses air yang dikonsumsi oleh masyarakat terdiri dari :&lt;br /&gt;• Air Ledeng; yaitu air yang diproduksi melalui proses penjernihan dan penyehatan  sebelum dialirkan kepada konsumen melalui suatu instalasi berupa saluran air.&lt;br /&gt;• SPT; Sumur Pompa Tangan&lt;br /&gt;• SGL; Sumur Galian&lt;br /&gt;• PAH ; Penampungan Air Hujan&lt;br /&gt;• Air Kemasan; Air yang diproduksi dan didistribusikan oleh suatu perusahaan dalam kemasan botol dan kemasan gelas serta air minum isi ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 2008, dari 22.728 keluarga yang ada di Tanjung Morawa, 16.212 yang diperiksa yang mencakup : Ledeng (7,02%), SPT (0,12%), SGL (89,87%), PAH (tidak ada), Kemasan (tidak ada), lainnya (3,00%). Selanjutnya dapat dilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.9.3. Persentase Keluarga yang Memiliki Sarana Sanitasi Dasar&lt;br /&gt; Sarana sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan di lingkungan pemukiman adalah jumlah sarana sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan dibagi dengan sarana sanitasi dasar yang diperiksa periode/kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Dilaporkan pada tahun 2008, dilakukan pemeriksaan terhadap 27349 KK yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa, maka  yang memiliki jamban sehat sebanyak 14372 KK (1038%). &lt;br /&gt; Persentase yang memiliki Tempat Sampah sebanyak 15755 KK, dan yang memiliki tempat sampah yang sehat sebanyak 13753 KK (1337%).&lt;br /&gt; Dan persentase keluarga yang memiliki pengelolaan air limbah sebanyak 13841, dari jumlah tersebut yang memiliki pengelolaan air bersih sebanyak 11855 KK (1366,8%). Selanjutnya lampiran dapat dilihat pada tabel 49.&lt;br /&gt;2.10. Sarana Kesehatan&lt;br /&gt; Untuk menggambarkan bagaimana situasi sarana kesehatan di Puskesmas Tanjung Morawa, berikut akan diuraikan data dasar Puskesmas dan jumlah sarana pelayanan kesehatan menurut kepemilikan/pengelola dan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.10.1 Data Dasar Kesehatan&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 diwilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa terdapat 4 PUSTU, 7 POLINDES, 2 POSKESDES, 78 POSYANDU  dan semuanya berada di 16 desa di Kecamatan Tanjung Morawa.&lt;br /&gt; Mulai tahun 2007 Puskesmas Tanjung Morawa telah melakukan perbaikan sarana dan prasarana, yaitu pembangunan fasilitas berupa gedung menjadi lantai 2 (dua). Sejak tahun 2007 Puskesmas Tanjung Morawa telah menerima pelayanan rawat jalan dan rawat inap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.10.2. Indikator Pelayanan Puskesmas&lt;br /&gt;Indikator Pelayanan Puskesmas Tanjung Morawa meliputi :&lt;br /&gt;1. Persentase Penduduk yang memanfaatkan Puskesmas.&lt;br /&gt;2. Persentase Sarana Kesehatan dengan kemampuan laboratorium kesehatan&lt;br /&gt;3. Persentase Persalinan oleh tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;4. Persentase Desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI)&lt;br /&gt;5. Persentase desa terkena Keladian Luar Biasa (KLB) yang ditangani&lt;br /&gt;6. Peresentase Ibu Hamil yang mendapat tablet Fe.&lt;br /&gt;7. Persentase Bayi yang mendapat ASI eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.10.3. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kepemilikan/Pengelola.&lt;br /&gt;Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola meliputi : Pemerintah (Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Daerah), TNI/POLRI, BUMN, dan Swasta. Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan menurut Kepemilikan/Pengelola dapat dilihat pada table 5.1 di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 5.1. Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan/Pengelola di Kecamatan Tanjung Morawa &lt;br /&gt;FASILITAS KESEHATAN PEMILIKAN/PENGELOLA&lt;br /&gt; Pem.&lt;br /&gt;Pusat Pem.&lt;br /&gt;Prov Pem.&lt;br /&gt;Kab&lt;br /&gt;/Kota TNI/&lt;br /&gt;POLRI B&lt;br /&gt;U&lt;br /&gt;M&lt;br /&gt;N Swasta Jlh&lt;br /&gt;Rumah Sakit Umum 0 0 0 0 0 2 2&lt;br /&gt;Rumah Sakit Jiwa 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Rumah Sakit Bersalin 0 0 0 0 0 5 5&lt;br /&gt;RS. Umum lainnya 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Pusk. Perawatan 0 0 1 0 0 0 1&lt;br /&gt;Pusk. Non Perawatan 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Pusk. Keliling 0 0 1 0 0 0 1&lt;br /&gt;Pusk. Pembantu 0 0 4 0 0 0 4&lt;br /&gt;Rumah Bersalin 0 0 0 0 0 5 5&lt;br /&gt;Balai Pengobatan/&lt;br /&gt;Klinik 0 0 0 0 0 25 25&lt;br /&gt;Praktik Dokter&lt;br /&gt;Bersama 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Praktik dokter perorangan 0 0 0 0 0 17 17&lt;br /&gt;Praktik. Pengobatan &lt;br /&gt;Tradisional 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Polindes 0 0 7 0 0 0 7&lt;br /&gt;Poskesdes 0 0 2 0 0 0 2&lt;br /&gt;Posyandu 0 0 78 0 0 0 78&lt;br /&gt;Apotek 0 0 0 0 0 7 7&lt;br /&gt;Toko Obat 0 0 0 0 0 5 5&lt;br /&gt;GFK 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Industri Obat&lt;br /&gt;Tradisional 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt;Industri Obat Tradisional 0 0 0 0 0 0 0&lt;br /&gt; Sumaber : Bidang Kepegawaian Pusk. Tanjung Morawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.10.4. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM)&lt;br /&gt; Peran serta  masyarakat dalam bidang kesehatan merupakan bukti  nyata kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan. Upaya Kesehatan Masyarakat seperti: Posyandu, POLINDES, POD dan POS UKK merupakan cerminan betapa pentingnya pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Hal ini dengan semakin nyata dengan terbentuknya desa siaga di setiap desa. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana, kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah desa dikatakan desa siaga apabila telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah POSKESDES.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 5.1 Jumlah UKBM Puskesmas Tanjung Morawa Tahun 2008&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Sumber : Bidang PKM Puskesmas Tanjung Morawa.&lt;br /&gt; Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pada tahun 2008 jumlah Posyandu yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa sebanyak 78, Polindes 7, Poskesdes 2 dan desa siaga sebanyak 9. &lt;br /&gt;2.11. Tenaga Kesehatan&lt;br /&gt;2.11.1. Persebaran Tenaga Kesehatan menurut Unut Kerja&lt;br /&gt; Berdasarkan data yang ada di Puskesmas Tanjung Morawa, memiliki tenaga kesehatan seperti medis, perawat, bidan, farmasi, dan gizi. Mereka tersebar baik di Puskesmas Tanjung Morawa, Puskesmas Pembantu, Polindes, dan Poskesdes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.11.2. Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tanjung Morawa&lt;br /&gt; Berdasarkan data yang ada pada tahun 2008 tenaga kesehatan  di Puskesmas Tanjung Morawa, sebanyak 91 orang yaitu 47 orang berada di Puskesmas Tanjung Morawa, 12 orang berada di Pustu Medan Sinembah, 8 orang berada di Pustu B. Rejo, 5 orang berada di Pustu Tanjung Baru, 10 orang berada di Pustu Naga Timbul, dan 9 orang merupakan Bidan Desa.&lt;br /&gt; Puskesmas Tanjung Morawa memiliki dokter umum sebanyak 3 orang, dokter spesialis kandungan 1 orang, dokter gigi 3 orang. Tenaga medis 4 orang, Perawat dan bidan sebanyak 31 orang, gizi 1 orang,  perawat gigi 3 orang, dan tenaga non medis sebanyak 5 orang. Ini merupakan jumlah pegawai yang berada di dalam gedung Puskesmas Tanjung Morawa.&lt;br /&gt;2.12. Pembiayaan Kesehatan &lt;br /&gt;2.12.1 Persentase Anggaran Kesehatan dalam APBD&lt;br /&gt; Persentase anggaran kesehatan dalam APBD merupakan dana yang disediakan untuk penyelenggaraan upaya kesehatan yang dialokasikan melalui APBD. Pada tahun 2008 Puskesmas mengalokasikan dana yang di dapat dari APBN berupa dana Askeskin sebesar Rp. 40.000.000,-. Besarnya jumlah anggaran tersebut dapat kita lihat pada tabel &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   BAB III&lt;br /&gt;GAMBARAN UMUM PUSKESMAS TANJUNG MORAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.  Luas Wilayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Puskesmas Tanjung Morawa didirikan  sejak tahun 1968, yang terletak di jalan Irian daerah Tanjung Morawa – Kecamatan Tanjung Morawa Kabuaten Deli Serdang dengan luas tanah Puskesmas 450 m dengan batas wilayah sebagai berikut :&lt;br /&gt;- Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah Puskesmas Dalu X&lt;br /&gt;- Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatam STM Hilir&lt;br /&gt;- Sebelah barat berbatasan dengan kecamatan Patumbak&lt;br /&gt;- Sebelh Timur berbatasan dengan kecamtan Galang, kecamatan Merbau, kecamatan Lubuk Pakam.  &lt;br /&gt;Bentuk bangunan Puskesmas bertingkat dua dengan jenis bangunan permanent, lokasi Puskesmas berada di tepi jalan raya. Puskesmas Tanjung Morawa membuka Pelayanan selama 24 jam, serta memiliki fasilitas rawat inap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.  Jumlah Desa.&lt;br /&gt; Secara administrative Puskesmas Tanjung Morawa terdiri dari 16 desa yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.1. Desa ,luas, banyak dusun, jarak ke Piskesmas induk&lt;br /&gt;No Desa Luas (km2) Banyak Dusun Jarak ke Pusk. Induk ( km )&lt;br /&gt;1. &lt;br /&gt;Limau Manis 5.00 14 2.00&lt;br /&gt;2. Tanjung Morawa B 1.25 5 3.00&lt;br /&gt;3. Tanjung Morawa A 1.96 5 0.60&lt;br /&gt;4. Bangun Rejo 9.92 8 0.60&lt;br /&gt;5. Tanjung baru 4.90 5 4.00&lt;br /&gt;6. Medan Sinembah 3.50 7 6.50&lt;br /&gt;7. Tanjung Morawa P 1.10 5 0.50&lt;br /&gt;8. Dagang Kerawan 1.27 4 1.00&lt;br /&gt;9. Bandar Labuhan 2.70 7 3.00&lt;br /&gt;10. Lengau Seprang 4.25 3 7.00&lt;br /&gt;11. Naga Timbul 5.00 5 7.00&lt;br /&gt;12.  Ujung Serdang 3.07 5 6.00&lt;br /&gt;13.  Punden Rejo 10.00 4 7.00&lt;br /&gt;14. Tanjung mulia 7.14 4 8.00&lt;br /&gt;15. Sei Merah 22.04 5 3.00&lt;br /&gt;16. Aek Pancur 5.01 3 9.00&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.  Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin dan kelompok umur.&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 wilayah kerja Puskesmas Tanjung morawa memiliki 47104 orang penduduk yang berjenis kelamin laki – laki dan 51710 orang penduduk yang berjenis kelamin perempuan.&lt;br /&gt;  Angka tersebut dapat dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini.&lt;br /&gt;Tabel 2.2.  Penduduk wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa menurut kelompok umur dan jenis kelamin tahun 2008.&lt;br /&gt;Umur Laki-laki (Lk) Perempuan (Pr) Lk + Pr&lt;br /&gt;0-4 4312 4654 8966&lt;br /&gt;5-9 3084 3406 6490&lt;br /&gt;10-14 4138 4257 8395&lt;br /&gt;15-19 4329 4626 8955&lt;br /&gt;20-24 4321 4587 4908&lt;br /&gt;25-29 3817 4589 8406&lt;br /&gt;30-34 3703 4341 8044&lt;br /&gt;35-39 3785 4385 8170&lt;br /&gt;40-44 3392 3746 7138&lt;br /&gt;45-49 2308 2816 5124&lt;br /&gt;50-54 2912 2708 5620&lt;br /&gt;55-59 1858 2130 3988&lt;br /&gt;60-64 1295 1337 2632&lt;br /&gt;65-69 1146 1313 2459&lt;br /&gt;70-74 916 1100 1916&lt;br /&gt;75+ 1686 1917 3606&lt;br /&gt;Jumlah 47002 51812 98814&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Khusus   &lt;br /&gt;0-4 (Balita) 4312 4654 8966&lt;br /&gt;0-14 (Anak-anak) 11534 12317 23851&lt;br /&gt;15-64 (Usia Produktif) 31720 35265 66985&lt;br /&gt;65+(Lansia) 3748 4230 7978&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Usia Sekolah   &lt;br /&gt;0-6 5565 6016 11581&lt;br /&gt;7-12 4313 4598 8911&lt;br /&gt;13-15 2522 2628 5150&lt;br /&gt;16-18 2597 2776 5373&lt;br /&gt;19-23 4323 4595 8918&lt;br /&gt;24 864 917 1781&lt;br /&gt; Dari tabel 2.2. diatas dapat lihat bahwa pada tahun 2008 usia produktif merupakan kelompok usia yang paling banyak bila dibandingkan dengan kelompok usia yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.  Jumlah Rumah Tangga / Kepala Keluarga&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 jumlah rumah tangga / kepala keluarga yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa dapat dilihat pada tabel 2.3. dibawah ini :&lt;br /&gt;Tabel 2.3. Jumlah Rumah Tangga / Kepala Keluarga dan rata-rata jiwa / rumah tangga tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Desa Jumlah Rumah Tangga Rata-rata jiwa/Rumah tangga&lt;br /&gt;1. Limau Manis 3503 5,2&lt;br /&gt;2. Tanjung Morawa B 2866 4,5&lt;br /&gt;3. Tanjung Morawa A 2873 3,9&lt;br /&gt;4. Bangun Rejo 2232 4,3&lt;br /&gt;5. Tanjung baru 1855 3,9&lt;br /&gt;6. Medan Sinembah 1338 4,5&lt;br /&gt;7. Tanjung Morawa P 1540 4&lt;br /&gt;8. Dagang Kerawan 1284 3,97&lt;br /&gt;9. Bandar Labuhan 1181 4&lt;br /&gt;10. Lengau Seprang 1018 4&lt;br /&gt;11. Naga Timbul 891 4,1&lt;br /&gt;12. Ujung Serdang 817 4,76&lt;br /&gt;13. Punden Rejo 554 4&lt;br /&gt;14. Tanjung mulia 366 4,5&lt;br /&gt;15. Sei Merah 315 4,28&lt;br /&gt;16. Aek Pancur 95 3,3&lt;br /&gt; JUMLAH 27349 67,21&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Dari tabel 2.3. diatas dapat dilihat bahwa jumlah rumah tangga yang ada diwilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa pada tahun 2008 adalah 27347  Rumah tangga. Bila kita bandingkan dengan jumlah penduduk yang ada diwilayah kerja Puskesmas Tanjung Morawa pada tahun 2008 yang berjumlah 98814 jiwa, maka rata-rata jiwa/anggota rumah tangga adalah 67,21 jiwa.&lt;br /&gt;3.5.  Kepadatan Penduduk&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 Kecamatan Tanjung Morawa yang terdiri dari 16 desa memiliki jumlah penduduk sebanyak 98814 jiwa. Dengan luas wilayah 80,73 km2, dengan demikian kepadatan penduduk Kecamatan Tanjung Morawa yang terdiri dari 16 desa pada tahun 2008 sebesar 26025 Jiwa/km2. Banyaknya jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di wilayah Kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008 dapat dilihat pada 2.4 dibawah ini.&lt;br /&gt;Tabel 2.4.  Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2008&lt;br /&gt;NO DESA/KELURAHAN LUAS WILAYAH JUMLAH&lt;br /&gt;PENDUDUK KEPADATAN&lt;br /&gt;PENDUDUK&lt;br /&gt;/KM2&lt;br /&gt;1. Limau Manis 8,11 18.268 2252&lt;br /&gt;2. Tanjung Morawa B 6,00 12.905 2150&lt;br /&gt;3. Tanjung Morawa A 3,07 11.339 3693&lt;br /&gt;4. Bangun Rejo 6,92 9643 1393&lt;br /&gt;5. Tanjung baru 5,07 7322 1444&lt;br /&gt;6. Medan Sinembah 3,50 6.060 1731&lt;br /&gt;7. Tanjung Morawa P 0,50 6161 3080&lt;br /&gt;8. Dagang Kerawan 1,96 5109 2606&lt;br /&gt;9. Bandar Labuhan 2,70 4724 1749&lt;br /&gt;10. Lengau Seprang 4,25 4073 958&lt;br /&gt;11. Naga Timbul 5,00 3723 744&lt;br /&gt;12.  Ujung Serdang 3,93 3897 991&lt;br /&gt;13.  Punden Rejo 1,10 2262 2056&lt;br /&gt;14. Tanjung mulia 1,57 1655 1054&lt;br /&gt;15. Sei Merah 22,04 1351 61&lt;br /&gt;16. Aek Pancur 5,01 314 63&lt;br /&gt; JUMLAH 80,73 98814 26025&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3-65 Rasio Beban Tanggungan&lt;br /&gt;  Rasio Beban Tanggungan adalah banyaknya orang yang tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan 65 tahun ke atas) dengan banyaknya orang yang termasuk usia produktif. Rasio beban tanggungan di wilayah kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008 dapat dilihat pada table 2.5 di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.5. Rasio Beban Tanggungan Kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008.&lt;br /&gt;Jenis Kelamin &lt; 15 Tahun &gt; 65 Tahun 15-65 tahun&lt;br /&gt;(Usia Produktif) Rasio Beban Tanggungan&lt;br /&gt;Laki-laki 11534 3748 31270 48,87&lt;br /&gt;Perempuan 12317 4330 35265 47,20&lt;br /&gt;Jumlah 23851 8078 66535 47,99&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa rasio beban tanggungan Kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008 sebesar 47,99 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.     Rasio Jenis Kelamin&lt;br /&gt;   Rasio Jenis Kelamin adalah perbandingan banyaknya penduduk laki-laki dengan banyaknya penduduk perempuan pada suatu daerah dan waktu tertentu. Rasio jenis kelamin di Kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008 sebesar 91,09.&lt;br /&gt;  Jumlah penduduk Kecamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa berdasarkan jenis kelamin dan rasio jenis kelamin pada tahun 2008 dapat di lihat pada tabel 2.6 dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin di Kecamatan Tanjung Morawa tahun 2008.&lt;br /&gt;NO DESA/KELURAHAN JUMLAH&lt;br /&gt;PENDUDUK LAKI-LAKI PEREMPUAN RASIO JENIS KELAMIN&lt;br /&gt;1. Limau Manis 18.268 8345 9923 84,09&lt;br /&gt;2. Tanjung Morawa B 12.905 6061 6874 88,17&lt;br /&gt;3. Tanjung Morawa A 11.339 5582 5757 96,96&lt;br /&gt;4. Bangun Rejo 9643 4193 5450 76,93&lt;br /&gt;5. Tanjung Baru 7322 3506 3816 91,87&lt;br /&gt;6. Medan Sinembah 6.060 3052 3008 101,46&lt;br /&gt;7. Tanjung Morawa P 6161 3187 2974 107,16&lt;br /&gt;8. Dagang Kerawan 5109 2209 2900 76,17&lt;br /&gt;9. Bandar Labuhan 4724 2343 2379 98,48&lt;br /&gt;10. Lengau Seprang 4073 1853 2220 83,46&lt;br /&gt;11. Naga Timbul 3723 2000 1723 116&lt;br /&gt;12.  Ujung Serdang 3897 1882 2015 93,39&lt;br /&gt;13.  Punden Rejo 2262 1096 1166 93,99&lt;br /&gt;14. Tanjung mulia 1655 834 821 101,58&lt;br /&gt;15. Sei Merah 1351 790 561 140,81&lt;br /&gt;16. Aek Pancur 314 171 143 119,58&lt;br /&gt; JUMLAH 98814 47104 51710 91,09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3.7.1. Persentasi Penduduk Laki-laki dan Perempuan berusia 10 Tahun ke   Atas menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang ditamatkan.&lt;br /&gt; Pendidikan merupakan modal dasar dalam pembangunan. Rendahnya tingkat pendidikan dapat dirasakan sebagai penghambat dalam pembangunan, sehingga tingkat pendidikan sangat diperlukan dalam peningkatan kesejahteraan penduduk.&lt;br /&gt; Persentase penduduk Kecamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa menurut pendidikan yang ditamatkan  pada tahun 2008 dapat dilihat pada tabel 2.7.dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.7. Persentase Penduduk Kecamatan Tanjung Morawa Menurut Pendidikan Yang Ditamatkan Tahun 2008&lt;br /&gt;Pendidikan Tertinggi Lk (%) Pr (%) Lk+Pr (%)&lt;br /&gt;Belum punya ijazah   &lt;br /&gt;Yang ditamatkan :   &lt;br /&gt;SD / MI / Sederajat   &lt;br /&gt;SMTP / MTs / sederajat   &lt;br /&gt;SMU / MA / sederajat   &lt;br /&gt;SM Kejuruan   &lt;br /&gt;Diploma I / II   &lt;br /&gt;Diploma II / Sarmud   &lt;br /&gt;D IV / SI   &lt;br /&gt;S-2 / S-3   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari Tabel 2.7. diatas dapat diperoleh gambaran bahwa perbedaan prioritas antara anak laki-laki dengan anak perempuan dalam memperoleh pendidikan yang terjadi selama ini, dimana anak laki-laki mendapat prioritas yang lebih tinggi dalam memperoleh pendidikan dibandingkan anak perempuan, sedangkan kemampuan ekonomi keluarga hampir tidak terlihat sama sekali.&lt;br /&gt;3.9. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Melek Huruf&lt;br /&gt; Melek huruf adalah penduduk berusia 10 tahun keatas yang mampu membaca atau menulis huruf latin atau huruf lainnya. &lt;br /&gt;Pada tahun 2008, penduduk Kecamatan Tanjung Morawa dengan 16 desa masih memiliki penduduk berusia 10 tahun keatas yang tidak mampu membaca atau menulis huruf latin atau huruf lainnya (buta aksara) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.8. Jumlah Penduduk Buta Aksara dan Melek Huruf di Puskesmas Tanjung Morawa Tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO DESA / KELURAHAN JUMLAH PENDUDUK BUTA AKSARA&lt;br /&gt;  Laki-Laki (Lk) Perempuan (Pr) Lk + Pr&lt;br /&gt;1. Limau Manis 6 2 8&lt;br /&gt;2. Tanjung Morawa B 27 27 54&lt;br /&gt;3. Tanjung Morawa A 0 0 0&lt;br /&gt;4. Bangun Rejo 0 0 0&lt;br /&gt;5. Tanjung Baru 2 4 6&lt;br /&gt;6. Medan Sinembah 10 14 24&lt;br /&gt;7. Tanjung Morawa P 0 0 0&lt;br /&gt;8. Dagang Kerawan 4 6 10&lt;br /&gt;9. Bandar Labuhan 0 0 0&lt;br /&gt;10. Lengau Seprang 0 0 0&lt;br /&gt;11. Naga Timbul 0 0 0&lt;br /&gt;12. Ujung Serdang 0 0 0&lt;br /&gt;13. Punden Rejo 0 0 0&lt;br /&gt;14. Tanjung mulia 0 0 0&lt;br /&gt;15. Sei Merah 3 3 6&lt;br /&gt;16. Aek Pancur 3 5 8&lt;br /&gt;Total Penduduk yang Buta Aksara 55 61 116&lt;br /&gt;Jumlah Penduduk Laki-Laki usia 10 tahun ke atas 39516&lt;br /&gt;Jumlah Penduduk Perempuan usia 10 tahun ke atas 44129&lt;br /&gt;Jumlah Penduduk Laki-Laki yang Melek Huruf 35070&lt;br /&gt;Jumlah Penduduk Perempuan yang Melek Huruf 39578&lt;br /&gt;Jumlah Keseluruhan penduduk Puskesmas Tanjung Morawa  yang Melek Huruf 74648&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi derajat kesehatan&lt;br /&gt;Untuk menggambarkan situasi derajat kesehatan masyarakat kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang berikut ini disajikan situasi mortalitas (kematian), morbiditas (kesakitan) dan status gizi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.10.   ANGKA KEMATIAN (MORTALITAS)&lt;br /&gt;  Gambaran  perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat setiap tahunnya. Kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka kematian yang menunjukkan situasi derajat kesehatan dapat dibagi menjadi :&lt;br /&gt; 3.1.1.  Angka kematian bayi per-1.000 kelahiran hidup&lt;br /&gt; 3.1.2. Angka kematian balita per-1.000 kelahiran hidup&lt;br /&gt; 3.1.3. Jumlah Kematian ibu&lt;br /&gt; 3.1.4. Angka kecelakaan Lalu Lintas per-1.00.000 penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.10.1 . Angka Kematian Bayi (AKB)&lt;br /&gt; Kematian bayi adalah kematian yang terjadi pada sebelum mencapai usia satu tahun. Angka kematian Bayi (0-12) adalah 35/1000 KH, yang artinya jumlah kematian bayi ……………….bayi/tahun atau …………..bayi/jam.&lt;br /&gt; Jumlah kematian bayi yang terjadi di 16 desa Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang sepanjang tahun 2008 sebanyak ………… kasus dari ………kelahiran hidup. &lt;br /&gt; Jumlah kematian bayi di 16 desa Kecamatan Tanjung Morawa yang dilaporkan selama tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3.1. Data Kematian Bayi Kecamatan Tanjung Morawa yang dilaporkan Tahun 2007.&lt;br /&gt;NO &lt;br /&gt;DESA/&lt;br /&gt;KELURAHAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMLAH % LAHIR&lt;br /&gt;MATI JLH BAYI MATI&lt;br /&gt;  LAHIR HIDUP LAHIR MATI LAHIR HIDUP + LAHIR MATI  &lt;br /&gt;1 Limau Manis 356 - 356  -&lt;br /&gt;2 Tanjung Morawa B 235 - 235  1&lt;br /&gt;3 Tanjung Morawa A 260 - 260  7&lt;br /&gt;4 Bangun Rejo 218 - 218  -&lt;br /&gt;5 Tanjung Baru 177 - 177  -&lt;br /&gt;6 Medan Sinembah 143 - 143  -&lt;br /&gt;7 Tanjung Morawa P 86 - 86  -&lt;br /&gt;8 Dagang Kerawan 113 - 113  -&lt;br /&gt;9 Bandar Labuhan 101 - 101  -&lt;br /&gt;10 Lengau Seprang 45 - 45  -&lt;br /&gt;11 Naga Timbul 81 - 81  1&lt;br /&gt;12 Ujung Serdang 77 - 77  -&lt;br /&gt;13 Punden Rejo 92 - 92  -&lt;br /&gt;14 Tanjung mulia 39 - 39  -&lt;br /&gt;15 Sei Merah 29 - 29  -&lt;br /&gt;16 Aek Pancur 8 - 8  1&lt;br /&gt;Dari Tabel 3.1 di atas dapat diketahui bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) Kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008 adalah 4,85 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan pada tahun 2007, AKB Kecamatan Tanjung Morawa sebesar…………/1.000 kelahiran hidup.&lt;br /&gt;3.10.2  Angka Kematian Balita (AKABA)&lt;br /&gt; Kematian balita adalah kematian yang terjadi pada balita sebelum usia lima tahun. Angka kematian balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan balita, seperti gizi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Indikator ini dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial dan tingkat kemiskinan penduduk.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 jumlah kematian balita yang dilaporkan di wilayah Puskesmas Tanjung Morawa sebanyak 2 orang dari 2060 kelahiran hidup. Penyebab kematian balita tersebut adalah penyakit infeksi saluran atas.&lt;br /&gt;Tabel 3.2 Data Kematian Balita Puskesmas Tanjung Morawa yang dilaporkan Tahun 2008.&lt;br /&gt;NO DESA/KELURAHAN JLH LAHIR&lt;br /&gt;HIDUP JUMLAH BALITA JUMLAH BALITA MATI&lt;br /&gt;1 Limau Manis 356 1545 1&lt;br /&gt;2 Tanjung Morawa B 235 1138 -&lt;br /&gt;3 Tanjung Morawa A 260 686 -&lt;br /&gt;4 Bangun Rejo 218 868 -&lt;br /&gt;5 Tanjung Baru 177 806 -&lt;br /&gt;6 Medan Sinembah 143 554 -&lt;br /&gt;7 Tanjung Morawa P 86 1032 -&lt;br /&gt;8 Dagang Kerawan 113 683 -&lt;br /&gt;9 Bandar Labuhan 101 424 1&lt;br /&gt;10 Lengau Seprang 45 433 -&lt;br /&gt;11 Naga Timbul 81 489 -&lt;br /&gt;12 Ujung Serdang 77 232 -&lt;br /&gt;13 Punden Rejo 92 193 -&lt;br /&gt;14 Tanjung mulia 39 176 -&lt;br /&gt;15 Sei Merah 29 369 -&lt;br /&gt;16 Aek Pancur 8 44 -&lt;br /&gt; Jumlah Desa/Kelurahan 2060 9685 2&lt;br /&gt; Angka Kematian (dilaporkan) = 0,97 per 1000 Kelahiran hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  AKABA tersebut belum dapat menggambarkan angka kematian yang sebenarnya yang terjadi di masyarakat, sebab data tersebut diatas hanya mewakili kasus kematian balita yang dilaporkan.&lt;br /&gt;3.10.3  Jumlah Kematian Ibu&lt;br /&gt; Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu karena peristiwa kehamilan, persalinan dan masa nifas. Angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi bila dibandingkan dengan Negara lainnya. Saat ini angka kematian ibu (AKI) 307/100.000 kelahiran Hidup (SDKI) yang berarti setiap tahun ada 18.300 kematian ibu; setiap bulan ada 1,500 kematian ibu; setiap minggu ada 352 kematian ibu; setiap hari ada 50 kematian ibu; da setiap jam ada 2 kematian ibu.&lt;br /&gt; Jumlah kematian ibu melahirkan / maternal berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran masyarakat tentang perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan khususnya untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas.&lt;br /&gt; Kasus kematian ibu di Puskesmas Tanjung Morawa pada tahun 2007 – 2008 dapat  dilihat pada grafik 3.1 dibawah ini :&lt;br /&gt;3.10.4  Angka Kecelakaan Lalu Lintas&lt;br /&gt; Kasus Kecelakaan Lalu Lintas adalah jumlah korban (meninggal dunia, cedera berat, cedera sedang dan cedera ringan) sebagai akibat dari kecelakaan lalu lintas.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008, kecelakaan yang terjadi di wilayah Kecamatan Tanjung Morawa sebanyak 22 kejadian dan telah terjadi korban meninggal dunia sebanyak 10 orang. Dari kejadian tersebut terdapat 4 orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Jadi total kecelakaan yang terjadi di wilayah  Kecamatan Tanjung Morawa sebanyak 25 kasus korban kecelakaan.&lt;br /&gt; Jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Kecamatan Tanjung Morawa pada tahun 2008 dapat dilihat pada tabel 3.3. dibawah ini :&lt;br /&gt;Tabel 3.3.  Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas di Wilayah Hukum Polsek Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2008&lt;br /&gt;NO DESA/KELURAHAN JUMLAH KEJADIAN KECELAKAAN JUMLAH KORBAN&lt;br /&gt;   MATI LUKA BERAT LUKA RINGAN JML % THD TOTAL KORBAN&lt;br /&gt;1 2 3 4 5 6 7  &lt;br /&gt;1 Tanjung Morawa A                       4            1                -               -              1  75%&lt;br /&gt;2 Tanjung Morawa B                     11            6                 4              6          16  46%&lt;br /&gt;3 Tanjung Morawa Pekan                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;4 Limau Manis                       2            1                -               -              1  50%&lt;br /&gt;5 Bandar Labuhan                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;6 Dagang Kerawan                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;7 Bangun Rejo                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;8 Medan Sinembah                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;9 Tanjung Baru                       4            1                -                5            6  50%&lt;br /&gt;10 Tanjung Mulia                       1            1                -               -              1  0%&lt;br /&gt;11 Naga Timbul                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;12 Ujung Serdang                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;13 Lengau seprang                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;14 Aek Pancur                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;15 Punden Rejo                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;16 Sei Merah.                      -             -                  -               -             -                  -   &lt;br /&gt;JUMLAH (DESA/KELURAHAN)&lt;br /&gt; 22 10 4 11 25 14%&lt;br /&gt;RASIO PER 100.000 PENDUDUK    &lt;br /&gt; Dari Tabel 3.3 di atas terlihat bahwa kejadian kecelakaan lalu lintas paling banyak terjadi di Desa Tanjung Morawa B dan selanjutnya Desa Tanjung Morawa A dan Desa Tanjung Baru. Desa tersebut merupakan desa yang lalu lintasnya paling padat dilalui oleh kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;3.2   ANGKA KESAKITAN (MORBIDITAS)&lt;br /&gt; Angka Kesakitan (morbiditas) dapat digunakan sebagai indikator untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat. Dimana kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dapat mempengaruhi angka kesakitan tersebut. Data kesakitan di Kecamatan Tanjung Morawa dapat diperoleh dari hasil pencatatan kasus-kasus penyakit dari sarana dan pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta, baik di desa maupun kecamatan.&lt;br /&gt;  Berikut gambaran sepuluh penyakit terbanyak di Kecamatan Tanjung Morawa menurut laporan kunjungan rawat jalan maupun rawat inap dari 16 desa di Puskesmas pada tahun 2008.&lt;br /&gt;Tabel 3.4. Sepuluh Penyakit Terbanyak di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Morawa&lt;br /&gt;No Penyakit Jumlah Kunjungan&lt;br /&gt;1 Infeksi akut lain pada saluran pernafasan bagian atas 9.841&lt;br /&gt;2 Gigi 3.013&lt;br /&gt;3 Penyakit Kulit Infeksi 1.185&lt;br /&gt;4 Penyakit Tulang, Reumatik 1.162&lt;br /&gt;5 Infeksi Usus Lainnya 1077&lt;br /&gt;6 Diare 1073&lt;br /&gt;7 Hipertensi 809&lt;br /&gt;8 Rongga Mulut, Rahang 502&lt;br /&gt;9 Penyakit Mata , Lainnya 256&lt;br /&gt;10 Asma 230&lt;br /&gt; Total 19148&lt;br /&gt;Sumber : SP2TP Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya gambaran situasi kesakitan (morbiditas) di puskesmas tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2008 dapat dilihat dari beberapa penyakit di bawah ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1. Angka Kesembuhan Penderita TB Paru BTA+&lt;br /&gt; Penemuan penderita TB Paru BTA (+) adalah penemuan penderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan diberikan tata laksana dan OAT di satu wilayah pada kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt; Hasil penemuan kesakitan TB Paru di Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 3.4 di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3.5. Data Kesakitan TB Paru di Puskesmas Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang Tahun 2008.&lt;br /&gt;NO Jumlah Kasus 2006 2007 2008&lt;br /&gt;1 TB Klinis   429&lt;br /&gt;2 TB (+) Diobati   34&lt;br /&gt;3 Sembuh   31&lt;br /&gt;4 Penemuan BTA (+) Triwulan I &lt;br /&gt;5 BTA (+) Diobati Triwulan I &lt;br /&gt;6 Sembuh Triwulan I &lt;br /&gt;7 % Sembuh   &lt;br /&gt; Sumber : Bidang P2P Puskesmas Tanjung Morawa,2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani&lt;br /&gt; Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang selalu berada pada tingkat pertama dalam daftar 10 penyakit terbesar di Puskesmas Tanjung Morawa. Penyakit sistem pernafasan seperti pneumonia sering menyerang balita menurut Suvei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), salah satu penyebab kematian bayi dan balita adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3.6.Hasil Penemuan Penderita Pneumonia Pada Balita Tahun 2008&lt;br /&gt;NO TAHUN JUMLAH PENDERITA&lt;br /&gt;1 2008 312&lt;br /&gt; Sumber : Bidang P2P Puskesmas Tanjung Morawa, 2008.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Selanjutnya jumlah penderita pneumonia, jumlah pneumonia balita, jumlah penderita pneumonia ditangani dan persentase balita ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Persentase HIV/AIDS Ditangani&lt;br /&gt; Persentase perkembangan HIV/AIDS terus menunjukkan peningkatan setiap tahunnya, meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) melalui suntikan telah memperbesar tingkat resiko penyebaran HIV/AIDS. Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi (Concentrated Level Epidemic) yaitu adanya prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi tertentu misalnya pada kelompok penjajah seks dan pada para penyalahguna NAPZA (Profil Kesehatan Indonesia 2005).&lt;br /&gt; Jumlah penderita yang dilaporkan saat ini jauh lebih kecil dari jumlah penderita sebenarnya, yang digambarkan sebagai fenomena gunung es.&lt;br /&gt; Kasus HIV/AIDS yang terjadi di Puskesmas Tanjung Morawa Kab. Deli Serdang dapat dilihat pada tabel 3.7 di bawah ini&lt;br /&gt;Tabel 3.7.  Kasus HIV/AIDS yang terjadi di Puskesmas Tanjung Morawa Tahun 2006 – 2008.&lt;br /&gt;NO TAHUN HIV / AIDS&lt;br /&gt;  KASUS DITANGANI&lt;br /&gt;1. 2008 22 22&lt;br /&gt; Sumber : Bidang P2P Puskesmas Tanjung Morawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 setelah dilakukan survei ditemukan 22 kasus HIV/AIDS dan seluruhnya ditangani. Selanjutnya penderita HIV/AIDS tersebut mendapatkan penanganan medis (100%). Namun demikian karena kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es, maka dapat kita simpulkan bahwa masih ada lebih dari 22 orang lagi yang hidup dengan HIV/AIDS yang belum diketahui keberadaannya sehingga tidak mendapatkan penanganan secara medis. Puskesmas Tanjung Morawa saat ini telah memiliki Klinik VCT sendiri yang bekerjasama dengan LSM  untuk penanggulangan dan menangani penderita HIV/AIDS dan hasilnya banyak bermanfaat bagi masyarakat Kecamatan Tanjung Morawa.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.4. Prevalensi HIV/AIDS (Persentase Terhadap Penduduk Beresiko)&lt;br /&gt; Dari kasus HIV/AIDS yang diperoleh Klinik VCT Puskesmas Tanjung Morawa tidak saja berasal dari Kecamatan Tanjung Morawa tetapi ada juga yang berasal dari luar kecamatan. Kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Kecamatan Tanjung Morawa berjumlah 22 kasus. Dimana tersebar dibeberapa desa, Tanjung Morawa B (1 kasus), Tanjung Morawa Pekan (6 Kasus), Limau Manis (1 kasus), Bandar Labuhan (7 kasus), Dagang Kerawan (1 kasus), Bangun Rejo (6 kasus).&lt;br /&gt; Data tersebut memberikan informasi bahwa penularan HIV/AIDS sangat beresiko baik di kota maupun di desa. Untuk itulah diperlukan perhatian dan kerjasama seluruh komponen baik pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menanggulangi HIV/AIDS. Dari data yang diperoleh tersebut diketahui bahwa prevalensi HIV/AIDS (persentase kasus terhadap penduduk beresiko) di 6 Desa yang memiliki kasus HIV/AIDS di Kecamatan Tanjung Morawa adalah  0,272 %. Jumlah kasus HIV/AIDS dapat dilihat pada lampiran Tabel 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.5. Persentase Infeksi Menular Seksual Diobati&lt;br /&gt; Tidak jauh berbeda dengan perkembangan kasus HIV/AIDS, kasus IMS juga terus menunjukkan peningkatan meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Data yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa menunjukkan bahwa jumlah kasus IMS mengalami peningkatan pada tahun belakangan ini.&lt;br /&gt; Perkembangan kasus IMS di Kecamatan Tanjung Morawa dapat dilihat pada Grafik 3.1.di bawah ini.&lt;br /&gt;Grafik 3.1.Perkembangan Kasus IMS di Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2007-2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sumber : Bidang P2P Puskesmas Tanjung Morawa 2008 &lt;br /&gt; Dari Grafik 3.1. diatas dapat kita lihat bahwa kasus IMS meningkat pada tahun 2008 kasus IMS tersebut paling banyak berasal dari Desa Tanjung Morawa B (17 kasus), Tanjung Morawa A (13 Kasus), Tanjung Morawa Pekan (13 kasus), Bangun Rejo (10 kasus), Limau Manis (6 kasus), Punden Rejo (6 kasus), Dagang Kerawan (4 kasus), Sei Merah (4 kasus), Bandar Labuhan (2 kasus).&lt;br /&gt;Selanjutnya data mengenai IMS ini dapat dilihat pada lampiran Tabel 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.6. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) Per 100.000 Penduduk.&lt;br /&gt; Penyakit DBD sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian yang relative tinggi. Kecamatan Tanjung Morawa merupakan daerah epidemi DBD. Kasus DBD yang terjadi di Kecamatan Tanjung Morawa dalam 2 tahun belakangan ini dapat dilihat pada Grafik 3.2.berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafik 3.2. Kasus DBD di Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2007-2008.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Sumber : Bidang P2P Puskesmas Tanjung Morawa 2008.&lt;br /&gt;  Kasus Demam Berdarah (DBD) di Kecamatan Tanjung Morawa mengalami peningkatan cukup signifikan pada 2 tahun belakangan ini. Dari Grafik 3.2. diatas terlihat bahwa kasus DBD meningkat dari 7 kasus pada tahun 2007 meningkat menjadi 29 kasus pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.7. Persentase DBD Ditangani&lt;br /&gt;  Seluruh penderita DBD pada tahun 2008 di Kecamatan Tanjung Morawa yang telah ditangani sebanyak 29 orang (100%). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.8. di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3.8. Kasus DBD Yang Ditangani di Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2008.&lt;br /&gt;NO DESA/&lt;br /&gt;KELURAHAN DBD&lt;br /&gt;  JLH KASUS DITANGANI % DITANGANI&lt;br /&gt;1 Tanjung Morawa A                 4                  4            100 &lt;br /&gt;2 Tanjung Morawa B                 5                  5            100 &lt;br /&gt;3 Tanjung Morawa Pekan                 2                  2            100 &lt;br /&gt;4 Limau Manis                 2                  2            100 &lt;br /&gt;5 Bandar Labuhan                 5                  5            100 &lt;br /&gt;6 Dagang Kerawan                 2                  2            100 &lt;br /&gt;7 Bangun Rejo                 3                  3            100 &lt;br /&gt;8 Medan Sinembah                 1                  1            100 &lt;br /&gt;9 Tanjung Baru                 1                  1            100 &lt;br /&gt;10 Tanjung Mulia                -                   -                 -   &lt;br /&gt;11 Naga Timbul                 1                  1            100 &lt;br /&gt;12 Ujung Serdang                 1                  1            100 &lt;br /&gt;13 Lengau seprang                 2                  2            100 &lt;br /&gt;14 Aek Pancur                -                   -                 -   &lt;br /&gt;15 Punden Rejo                -                   -                 -   &lt;br /&gt;16 Sei Merah.                -                   -                 -   &lt;br /&gt;JUMLAH (DESA/KELURAHAN) 29 29 100&lt;br /&gt;  Sumber : Bidang P2P Puskesmas Tanjung Morawa 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dari Tabel diatas dapat dilihat bahwa sepanjang tahun 2008, kasus terbanyak terjadi di Tanjung Morawa B dan Bandar Labuhan (5 kasus), Tanjung Morawa A (4 kasus), Bangun Rejo (3 kasus), Tanjung Morawa Pekan, Limau Manis, Dagang Kerawan, Lengau Seprang (2 kasus), dan Medan Sinembah, Tanjung Baru, Naga Timbul, Ujung Serdang (1 kasus). Dari kasus tersebut tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan bila dilihat dari kasus perdesa. Namun kita tetap harus waspada terhadap penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).&lt;br /&gt;  Berbicara masalah fogging, masih ada sebagian masyarakat yang menganggap tindakan ini sebagai satu-satunya solusi untuk menekan berkembangnya DBD. Padahal fogging atau pengasapan dengan insektisida hanya dapat membunuh nyamuk dewasa yang terbang saja. Masyarakat tidak tahu tindakan ini tidak efektif untuk membunuh telur ataupun larva / jentik nyamuk yang ada di penampungan air bak, tempayan, gentong, ban bekas, vas bunga dan lain-lain. Sebenarnya tindakan yang paling efektif adalah masyarakat menyadari tentang pentingnya kebersihan lingkungan. Dengan Gerakan 3M merupakan tindakan yang paling efektif untuk pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu dengan cara menutup, menguras dan mengubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.8.  Persentase Balita Dengan Diare Ditangani&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 penderita balita diare di Puskesmas Tanjung Morawa sebanyak 329 orang dari 329 penderita diare yang dilaporkan. Keseluruhan penderita diare pada balita tersebut mendapatkan penanganan secara medis (100%).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.9. Angka Kesakitan Malaria per-1000 Penduduk&lt;br /&gt;  Penyakit malaria masih menjadi permasalahan masyarakat di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium dengan perantara nyamuk Anopheles beberapa tahun terakhir ini muncul kemabali di beberapa bagian dunia. Kejadian malaria yang terjadi di sebagian Negara telah meningkatkan tidak hanya gangguan kesehatan masyarakat, tetapi juga telah menimbulkan kematian, menurunkan produktifitas kerja dan dampak ekonomi lainnya termasuk menurunnya pariwisata. Diduga sekitar 36% penduduk dunia terkena resiko malaria.&lt;br /&gt;  Wilayah Puskesmas Tanjung Morawa bukanlah merupakan daerah endemis. Namun demikian masih ada dilaporkan kasus malaria klinis (kasus dengan gejala klinis malaria seperti demam tinggi disertai menggigil), walau demikian penyakit ini tetap harus ditangani secara serius. Kejadian malaria pada tahun 2008 paling banyak terjadi di desa Ujung Serdang sebanyak 29 kasus malaria dibandingkan didesa lainnya di wilayah Puskesmas Tanjung Morawa. (Lampiran Tabel 11)&lt;br /&gt;3.2.10. Persentase Penderita Malaria Diobati&lt;br /&gt;  Meskipun yang dilaporkan adalah kasus malaria klinis, petugas kesehatan tetap menangani pasien dengan keluhan demam tinggi disertai menggigil tersebut. Seluruh penderita malaria klinis yang terjadi pada tahun 2008 di Puskesmas Tanjung Morawa mendapatkan pelayanan medis/pengobatan (100%).&lt;br /&gt;  Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit malaria di Puskesmas Tanjung Morawa seperti Suveilance Malaria yaitu dengan melakukan pemantauan secara terus-menerus terhadap perkembangan penyakit ini dan kelambunisasi. Bentuk pelayanan yang diberikan terhadap penderita malaria adalah pemeriksaan darah dan pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.11  Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat&lt;br /&gt; Secara nasional, Indonesia sudah dapat mencapai eliminasi kusta pada bulan Juni 2000. Jika ditinjau dari situasi global, Indonesia merupakan negara penyumbang jumlah penderita kusta ketiga terbanyak setelah India dan Brazil (Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, 2007).&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 di wilayah Puskesmas Tanjung Morawa tidak ada kasus kejadian penderita kusta yang dilaporkan di 16 desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.12 Kasus Penyakit Filariasis Ditangani&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 setelah dilakukan pelacakan kasus filariasis di 16 desa yang berada di wilayah Puskesmas Tanjung Morawa tersebut tidak diperoleh penderita filariasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.13. Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Menular Yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I)&lt;br /&gt;  Penyakit Menular yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi. PD3I yang dibahas dalam profil ini mencakup penyakit Difteri, Pertusis (Batuk Rejan), Tetanus, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio dan Hepatitis B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Penyakit Difteri&lt;br /&gt;  Penyakit Difteri adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diphteriae ditandai dengan pembentukan membran di kerongkongan dan aliran udara lainnya yang menyebabkan sulit bernapas. Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif rendah.&lt;br /&gt;  Kasus difteri tidak ditemukan di wilayah Puskesmas Tanjung Morawa di sepanjang tahun 2008 (Lampiran Tabel 14). Suatu kondisi yang sangat baik sekali bila kita mengevaluasi program kegiatan terkait dengan penyakit difteri bila kita mengambil data dasar yang dilaporkan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyakit Pertusis&lt;br /&gt;  Penyakit pertusis adalah penyakit membran mukosa pernafasan dengan gejala demam ringan, bersin, hidung berair, dan batuk kering. Masyarakat awam lebih mengenalnya dengan istilah batuk rejan&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 di Puskesmas Tanjung Morawa tidak ditemukan kasus Pertusis (Lampiaran Tabel 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penyakit Tetanus&lt;br /&gt;  Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi akut dan sering fatal yang mengenai sistem saraf yang disebabkan infeksi bakteri dari luka terbuka. Ditandai dengan kontraksi otot tetanik dan hiperrefleksi, yang mengakibatkan trismus (rahang terkunci), spasme glottis, spasme otot umum, opistotonus, spasme respiratoris, serangan kejang dan paralisis. Semua orang rentan terhadap tetanus. Pemberian imunisasi aktif dengan tetanus toxoid (TT) dapat menimbulkan kekebalan yang dapat bertahan paling sedikit selama 10 tahun setelah pemberian imunisasi lengkap. Kekebalan pasif sementara didapat setelah pemberian Tetanus Immunoglobin (TIG) atau setelah pemberian tetanus anti serum.&lt;br /&gt; Selama Tahun 2008 ini di Puskesmas Tanjung Morawa dilaporkan tidak ada kasus tetanus ( Lampiran tabel 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penyakit Tetanus Neonatorum &lt;br /&gt; Penyakit tetanus neonatorum adalah suatu bentuk infeksius yang berat, dan terjadi selama beberapa hari pertama setelah lahir. Disebabkan oleh factor-faktor seperti tindakan perawatan sisa tali pusat yang tidak higienis, atau pada sirkulasi bayi laki-laki dan kekurangan imunisasi maternal. Penanganan Tetanus Neonatorum tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah pencegahan yaitu pertolongan persalinan yang higienis ditunjang dengan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) pada ibu hamil.&lt;br /&gt;  Kasus tetanus neonatorum yang dilaporkan pada tahun 2008 adalah tidak ada kasus kejadian tetanus Neonatorum (Lampiran tabel 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Penyakit Campak&lt;br /&gt; Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit campak adalah penyakit akut yang disebabkan Morbilivirus yang ditandai dengan munculnya bintik merah (ruam), yang terjadi pertama kali saat anak-anak.&lt;br /&gt; Kasus campak di Puskesmas Tanjung Morawa pada tahun 2008 dilaporkan sebanyak 23 kasus (Lampiran Tabel 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Penyakit Polio (AFP-Acute Flaccid Paralysis/Lumpuh Layu akut)&lt;br /&gt; Penyakit polio adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Dapat menyerang semua umur, tetapi biasanya menyerang anak-anak usia kurang dari 3 (tiga) tahun yang menyebabkan kelumpuhan sehingga penderita tidak dapat menggerakkan salah satu bagian tubuhnya.&lt;br /&gt; Pada tahun 2008 dilaporkan tidak ada kejadian penyakit polio di Puskesmas Tanjung Morawa. Tentu saja hal ini sangat mengembirakan kita, karena 1 (satu) saja kasus polio terjadi itu merupakan suatu Kejadian Luar Biasa (KLB) (Lampiran Tabel 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Penyakit Hepatitis B&lt;br /&gt; Penyakit Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis (A, B, C, D dan E). Pada tahun 2008 dilaporkan tidak terjadi kasus Hepatitis B di Puskesmas Tanjung Morawa (Lampiran Tabel 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. STATUS GIZI&lt;br /&gt;3.3.1 Persentase Kunjungan Neonatus&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 dilaporkan jumlah neonatus yang ada di Puskesmas Tanjung Morawa adalah 2299 orang dengan jumlah kunjungan sebanyak 2068 neonatus (89,95%). Persentase kunjungan neonatus tertinggi di Puskesmas Tanjung Morawa terdapat didesa Ujung Serdang. Sedangkan persentase terendah berada di desa Tanjung Morawa Pekan (Lampiran Tabel 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2.  Persentase Kunjungan Bayi&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 dilaporkan persentase kunjungan bayi sebesar 85,94% dari 2397 jumlah bayi yang ada di Puskesmas Tanjung Morawa. Persentase kunjungan bayi tertinggi pada tahun 2008 di Puskesmas Tanjung Morawa ada di desa Limau Manis. Sedangkan persentase kunjungan bayi terendah berada di desa Aek Pancur (Lampiran Tabel 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.3  Persentase BBLR Ditangani&lt;br /&gt;  Bayi berat lahir rendah atau biasa disingkat dengan BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir. Penanganan terhadap BBLR meliputi pelayanan kesehatan neonatal dasar (tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, kulit, dan pemberian imunisasi); pemberianvitamin K; Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM); penanganan penyulit/komplikasi/masalah pada BBLR dan penyuluhan perawatan neonatus di rumah dengan menggunakan buku KIA. Metode alternative yang dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan dalam merawat BBLR adalah menggunakan metode kanguru. BBLR dibedakan dalam 2 (dua) kategori yaitu: BBLR karena premature (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.&lt;br /&gt;  Pada tahun 2008 dilaporkan bahwa di Puskesmas Tanjung Morawa tidak dijumpai BBLR. Hal ini terlihat pada lampiran tabel 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.4. Balita dengan Gizi Buruk&lt;br /&gt;  Status gizi balita merupakan salah satu indicator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan anthropometri yang menggunakan indeks Berat Badan Umur (BB/U). Kategori yang digunakan adalah : gizi lebih (z-score &gt; +2 SD); gizi baik (z-score -2 SD sampai +2 SD); gizi kurang (z-score &lt; -2 SD sampai -3 SD). &lt;br /&gt;  Menurut laporan yang diterima kepada Puskesmas Tanjung Morawa dengan 16 Desa, pada tahun 2008 terdapat 4 (empat) orang balita dengan gizi buruk yaitu di Desa Bandar Labuhan (1 orang), Tanjung Morawa A (2orang), dan Naga Timbul (1 orang), dan balita yang ditimbang diBawah Garis Merah sebanyak 37 balita dari 9663 balita yang ditimbang. Untuk mengatasi hal tersebut , maka pihak Puskesmas telah memberikan makanan tambahan bagi balita BGM dan gizi buruk serta mengadakan penyuluhan setiap ada kegiatan posyandu di setiap desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tabel 3.10. Persentase Balita yang naik Berat Badannya , Balita Bawah Garis Merah dan Balita Gizi Buruk di Kecamatan Tanjung Morawa Tahu 2008.&lt;br /&gt;No Uraian 2008&lt;br /&gt;1 Jlh Balita 9663&lt;br /&gt;2 Ditimbang 6290&lt;br /&gt;3 BB Naik 6056&lt;br /&gt;4 BGM 37&lt;br /&gt;5 Gizi Buruk 4&lt;br /&gt;6 % Ditimbang 6290&lt;br /&gt;7 % BB Naik 6056&lt;br /&gt;8 % BGM &lt;br /&gt;9 % Gizi Buruk &lt;br /&gt; Sumber : Bidang Gizi Puskesmas Tanjung Morawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puskesmas tanjung morawa kecamatan tanjung morawa terdapat 7 program prioritas 10 program pengembangan. Dari ke 7 program tersebut, kelompok menemukan preoritas masalah dan akan dibahas dalam bab ini yaitu ISPA. &lt;br /&gt;1. ISPA (Infeksi Saluran Nafas Akut)&lt;br /&gt;Berdasarkan Informasi dari data kunjungan pasien Puskesmas tanjung morawa terdapat 3 bulan berturut-turut dengan angka yang cukup tinggi yaitu penderita ispa. Dari seluruh desa naungan puskesmas tanjung morawa pada bulan Januari terdapat pasien yang berkunjung ke puskesmas dengan keluhan ispa usia 0 - &gt;70 Tahun yaitu sebanyak 1094 pasien. Untuk itu kelompok dengan persetujuan dari Puskesmas menganggap perlu dilakukan penyuluhan menngenai ISPA agar seluruh masyarakat dapat memahami tentang ISPA dan dapat mengantisipasi terhadap Penyakit ISPA tersebut, terutama dalam hal kebersihan lingkungan dan utntuk membawakan anaknya untuk ber Imunisasi guna untuk mencega terjadinya ISPA pada balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;A. Kesimpulan &lt;br /&gt;Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan pungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta maswyarakat disamping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (DEPKES RI, 1991).&lt;br /&gt;Puskesmas tanjung morawa merupakan salah satu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program yang terdapat dipuskesmas ini pada umumnya telah berjalan dengan baik salah satunya yaitu pemberantasan penyakit menular (P2M).program ini bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit,meningkatkan kesehatan  yang optimal dan menurunkan angka kematian dan kesakitan.hal ini telah dilakukan dengan baik oleh pihak puskesmas,dimana kegiatan tidak hanya dilakukan didalam gedung tetapi juga diluar gedung dengan melakukan penyuluhan,posyandu dan PNS (pemberantasan sarung nyamuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pengobatan adalah segala bentuk pelayanan pengobatan yang diberikan kepada seseorang untk menghilangkan penyakit atau gejala gejalanya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan cara dan teknologi khusus.dalam program ini, penyakit ISPA merupakan penyakit tertinggi yang ditemukan dipuskemas tanjung merowa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pencatatan dan pelaporan sudah diterapkan dengan baik oleh setiap bagian di puskesmas tanjung morawa.hal ini dibuktikan dengan tersedianya laporan yang aktual tiap bulannya mengenai seluruh kegiatan puskesmas tanjung morawa.&lt;br /&gt;B.SARAN&lt;br /&gt;1. program pemberantasan menular (P2M) sudah dilakukan dengan baik tetapi kurang optimal sehingga masih didapat kasus yang tidak tuntas pemberantasannya,hendaknya masyrakat mendukung puskesmas agar kegiatan dilaksanakan tersebut dapat berjalan dengan baik.Dalam kasus DBD (demam berdarah) hendaknya survey dilakukan secara rutin agar dapat terdeteksi DBD secara cepat sehingga penanganannya dapat cepat dan optimal.&lt;br /&gt;2. hendaknya program pelayanan pengobatan dapat di tingkatkan pela ksanaannya, terutama terhadap kasus ISPA yang merupakan ka sus tertinggi yan  g di temukan di puskesmas tanjung morawa.&lt;br /&gt;3. Hendaknya petugas kesehatan mempertahankan kegiatan –kegiatan positf  yang selami ini sudah dilaksanakan sehingga kecematan sehat dan sejahtera ditahun 2010 dapat cepat tercapai.&lt;br /&gt;4. Program imunisasi dilakulkan disetiap desa oleh bidan desa dan dibantu oleh kader hendaknya ditingkatkan setiap bulannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN&lt;br /&gt;I S P A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;U&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;U&lt;br /&gt;N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ABED NEGO SIHOTANG&lt;br /&gt;2. SURYA NINGSIH&lt;br /&gt;3. SURTI MAYA SARI&lt;br /&gt;4. SRIJUANI MARPAUNG&lt;br /&gt;5. GURUH DARTA PRAYOGA&lt;br /&gt;6. VICKI DAFAILRA SARAGIH&lt;br /&gt;7. SUPIANTA BANGUN&lt;br /&gt;8. YASIR ARIFIN&lt;br /&gt;9. SULINEM&lt;br /&gt;10. SAFITRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN&lt;br /&gt;PROGRAM PENDIDIKAN NERS&lt;br /&gt;DELI HUSADA DELITUA&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN &lt;br /&gt;DI PUSKESMAS TANJUNG MORAWA B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik  : Infeksi saluran nafas atas (ISPA)&lt;br /&gt;Waktu Pertemuan : 1 X 25 Menit&lt;br /&gt;Sasaran  : Ibu yang mempunyai anak balita&lt;br /&gt;Tempat  :  Puskesmas Tanjung Morawa B &lt;br /&gt;Tanggal  : 23 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TIU :  Setelah mengikuti program penyuluhan diharapkan masyarakat dapat memahami apa yang dimaksud dengan ispa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TIK :  Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan ibu mampu:&lt;br /&gt;   -   Menjelaskan Pengertian ISPA&lt;br /&gt;   -   Menjelaskan Klasifikasi Penyakit Ispa&lt;br /&gt;- Menjelaskan Penyebab Ispa pada Balita&lt;br /&gt;- Menjelaskan Tanda dan gejala Ispa&lt;br /&gt;- Menjelaskan Gejala Ispa Ringan &lt;br /&gt;- Menjelaskan gejala Ispa Sedang&lt;br /&gt;- Menjelaskan Gejala Ispa Berat&lt;br /&gt;- Menjelaskan cara pengobatan Ispa&lt;br /&gt;- Menjelaskan cara pencegahan &lt;br /&gt;-  Menjelaskan Cara Pemberantasan Ispa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluh :  Mahasiswa STIKes DELI HUSADA Delitua&lt;br /&gt; Media  :  Leaflet&lt;br /&gt; Metode :  PENYULUHAN&lt;br /&gt; Evaluasi :  Tanya Jawab&lt;br /&gt;Sumber  :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt; Uraian Kegiatan Waktu&lt;br /&gt;  Perawat Masyarakat &lt;br /&gt;1. Pembukaan  Mengucapkan salam&lt;br /&gt; Memperkenalkan diri&lt;br /&gt; Memperkenalkan        pokok bahasan&lt;br /&gt; Mengadakan review&lt;br /&gt;  Menjawab salam&lt;br /&gt; Mendengarkan&lt;br /&gt; Mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Merespon &lt;br /&gt; 5 Menit&lt;br /&gt;2. Isi  Menjelaskan  defenisi ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan klasifikasi penyakit ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan Penyebab ispa pada balita&lt;br /&gt; Menjelaskan Tanda dan gejala ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan Cara pengobatan &lt;br /&gt; Menjelaskan cara pencegahan ispa&lt;br /&gt; Menjelaskan cara pembrantasan ispa&lt;br /&gt;  Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 15 Menit&lt;br /&gt;3. Penutup  Membuat kesimpulan dengan Mahasiswa&lt;br /&gt; Mengucapkan kata penutup&lt;br /&gt; Mengucapkan salam  Masyarakat Merespon dan menjawab.&lt;br /&gt; Mendengar&lt;br /&gt; Menjawab salam&lt;br /&gt; 5 Menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)&lt;br /&gt;1. Pengertian  ISPA&lt;br /&gt;ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut (Indah, 2005):&lt;br /&gt;a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.&lt;br /&gt;b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract)&lt;br /&gt;c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.&lt;br /&gt;Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.  Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis  virus,  bakteri  dan  riketsia serta jamur.  Virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus influensa, virus para-influensa dan virus campak), dan adenovirus. Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi, dkk, 2004).&lt;br /&gt;2.  Penyakit ISPA pada Balita&lt;br /&gt;a.  Klasifikasi Penyakit ISPA&lt;br /&gt;Pada tahun 1998 World Health Organization cit. Suyudi (2002) telah mempublikasikan  pola baru tatalaksana penderita ISPA. Dalam pola baru ini di samping digunakan cara diagnosis yang praktis dan sederhana dengan teknologi tepat guna juga dipisahkan antara tatalaksana penyakit Pneumonia dan tatalaksana  penderita  penyakit infeksi akut telinga dan tenggorokan. Kriteria untuk menggunakan pola tatalaksana penderita ISPA adalah: balita, dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernapas. Pola tatalaksana penderita ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu  :&lt;br /&gt;1).  Pemeriksaan&lt;br /&gt;2).  Penentuan ada tidaknya tanda bahaya&lt;br /&gt;3).  Penentuan klasifikasi penyakit&lt;br /&gt;4).  Pengobatan dan tindakan&lt;br /&gt;Penentuan klasifikasi dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan hingga &lt; 5 tahun dan kelompok untuk umur &lt; 2 bulan.&lt;br /&gt;b. Etiologi ISPA&lt;br /&gt;Infeksi  saluran  pernafasan  akut  merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen,  yang  disebabkan  oleh  berbagai  etiologi.   Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh  virus dan mikroplasma. Etiologi  ISPA  terdiri dari 300 lebih jenis   bakteri, virus,dan jamur.  Bakteri  penyebab  ISPA misalnya: Streptokokus Hemolitikus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofilus Influenza, Bordetella Pertusis, dan Korinebakterium Diffteria (Achmadi dkk., 2004).   Bakteri tersebut  di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut menyerang  anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002).&lt;br /&gt;Untuk golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influensa, virus influensa, dan virus campak), dan adenovirus.  Virus para-influensa  merupakan penyebab terbesar  dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis dan penyakit  demam saluran nafas bagian atas. Untuk  virus influensa bukan penyebab terbesar terjadinya  terjadinya sindroma saluran pernafasan kecuali hanya epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus-virus influenza  merupakan penyebab  terjadinya lebih banyak penyakit saluran  nafas bagian  atas daripada saluran nafas bagian bawah (Siregar dan Maulany, 95).&lt;br /&gt;c.   Faktor Risiko&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang meningkatkan risiko kematian akibat ISPA adalah umur di bawah dua bulan,  kurang gizi, berat badan lahir rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, rendahnya tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan, lingkungan rumah  imunisasi yang tidak memadai dan menderita penyakit kronis (Indah, 2005)&lt;br /&gt;d. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;Sebagian  besar anak dengan infeksi saluran nafas bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk. Infeksi saluran nafas bagian  bawah  memberikan beberapa tanda lainnya seperti nafas yang cepat  dan retraksi dada. Semua ibu dapat mengenali batuk tetapi  mungkin tidak  mengenal  tanda-tanda lainnya dengan mudah (Harsono dkk., 1994).  Selain batuk  gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu  flu,  demam dan suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 0 Celcius dan disertai sesak nafas (PD PERSI, 2002).&lt;br /&gt;Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi tiga golongan  yaitu (Suyudi, 2002):&lt;br /&gt;1).    ISPA ringan bukan pneumonia&lt;br /&gt;2).    ISPA sedang, pneumonia&lt;br /&gt;3).    ISPA berat, pneumonia berat&lt;br /&gt;Khusus untuk bayi di bawah dua bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak ada ISPA  sedang). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari dua bulan adalah bila frekuensi nafasnya cepat (60 kali per menit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan dapat berkembang menjadi ISPA sedang atau ISPA berat jika keadaan memungkinkan misalnya pasien kurang mendapatkan perawatan atau daya tahan tubuh pasien sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat memerlukan beberapa pengamatan sederhana.&lt;br /&gt;1). Gejala ISPA ringan&lt;br /&gt;Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala sebagai berikut :&lt;br /&gt;a).    Batuk.&lt;br /&gt;b).    Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).&lt;br /&gt;c).    Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.&lt;br /&gt;d).    Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.&lt;br /&gt;Jika anak menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan di rumah tidak perlu dibawa ke dokter atau Puskesmas. Di rumah dapat diberi obat penurun panas yang dijual bebas di toko-toko atau Apotik tetapi jika dalam dua hari gejala belum hilang, anak harus segera di bawa ke dokter atau Puskesmas terdekat.&lt;br /&gt;2). Gejala ISPA sedang&lt;br /&gt;Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :&lt;br /&gt;a).    Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.&lt;br /&gt;b).    Suhu lebih dari 390C.&lt;br /&gt;c).    Tenggorokan berwarna merah.&lt;br /&gt;d).    Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak&lt;br /&gt;e).    Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.&lt;br /&gt;f).      Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.&lt;br /&gt;g).    Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.&lt;br /&gt;Dari gejala ISPA sedang ini, orangtua perlu hati-hati karena jika anak menderita ISPA ringan, sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya kurang, umurnya empat bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan.&lt;br /&gt;3).  Gejala ISPA berat&lt;br /&gt;Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:&lt;br /&gt;a).    Bibir atau kulit membiru&lt;br /&gt;b).    Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas&lt;br /&gt;c).    Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun&lt;br /&gt;d).    Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah&lt;br /&gt;e).    Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah&lt;br /&gt;f).      Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas&lt;br /&gt;g).    Nadi cepat lebih dari 60 x/menit atau tidak teraba&lt;br /&gt;h).    Tenggorokan berwarna merah&lt;br /&gt;Pasien ISPA berat harus dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu mendapat perawatan dengan peralatan khusus seperti oksigen dan infus.&lt;br /&gt;e. Pencegahan ISPA&lt;br /&gt;Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:&lt;br /&gt;1). Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik&lt;br /&gt;a).    Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah makanan yang paling baik untuk bayi.&lt;br /&gt;b).    Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.&lt;br /&gt;c).    Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.&lt;br /&gt;d).    Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan mineral dari sayuran,dan buah-buahan.&lt;br /&gt;e).    Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk  mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.&lt;br /&gt;Dinkes DKI (2005)&lt;br /&gt;2). Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi&lt;br /&gt;Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu mendapatkan imunisasi  yaitu DPT (Depkes RI, 2002). Imunisasi DPT  salah satunya dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu gejalanya  adalah infeksi saluran nafas (Gloria Cyber Ministries, 2001).&lt;br /&gt;3). Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan&lt;br /&gt;Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya  perilaku yang tidak mencerminkan  hidup sehat akan menimbulkan  berbagai penyakit. Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya  memperhatikan rumah sehat, desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).&lt;br /&gt;4). Pengobatan segera&lt;br /&gt;Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter (PD PERSI, 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan pada ISPA&lt;br /&gt;• Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus , di beri oksigen dan sebagainya.&lt;br /&gt;• Pneumonia: diberi obat antibiotik melaui mulut. Pilihan obatnya Kotrimoksasol, jika terjadi alergi / tidak cocok dapat diberikan Amoksilin, Penisilin, Ampisilin.&lt;br /&gt;• Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan.&lt;br /&gt;Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik selama 10 hari.&lt;br /&gt;Pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan :&lt;br /&gt;• Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.&lt;br /&gt;• Immunisasi.&lt;br /&gt;• Menjaga kebersihan prorangan dan lingkungan.&lt;br /&gt;• Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.&lt;br /&gt;Pemberantasan ISPA yang dilakukan adalah :&lt;br /&gt;• Penyuluhan kesehatan yang terutama di tujukan pada para ibu.&lt;br /&gt;• Pengelolaan kasus yang disempurnakan.&lt;br /&gt;• Immunisasi&lt;br /&gt;Sedangkan kegiatan yang dapat dilakukan oleh kader kesehatan adalah diharapkan dapat membedakan kasus pneumonia (pneumonia berat dan pneumonia tidak berat) dari kasus-kasus bukan pneumonia sehingga dapat :&lt;br /&gt;1. Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek biasa (bukan pneumonia) serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit.&lt;br /&gt;2. Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek (bukan pneumonia) dengan tablet parasetamol dan obat batuk tradisional obat batuk putih.&lt;br /&gt;3. Merujuk kasus pneumonia berat ke Puskesmas/Rumah Sakit terdekat.&lt;br /&gt;4. Atas pertimbangan dokter Puskesmas maka bagi kader-kader di daerah-daerah yang terpencil (atau bila cakupan layanan Puskesmas tidak menjangkau daerah tersebut) dapat diberi wewenang mengobati kasus-kasus pneumonia (tidak berat) dengan antibiotik kontrimoksasol.&lt;br /&gt;5. Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN&lt;br /&gt;D B D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;U&lt;br /&gt;S&lt;br /&gt;U&lt;br /&gt;N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OLEH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ABED NEGO SIHOTANG&lt;br /&gt;2. SURYA NINGSIH&lt;br /&gt;3. SURTI MAYA SARI&lt;br /&gt;4. SRIJUANI MARPAUNG&lt;br /&gt;5. GURUH DARTA PRAYOGA&lt;br /&gt;6. VICKI DAFAILRA SARAGIH&lt;br /&gt;7. SUPIANTA BANGUN&lt;br /&gt;8. YASIR ARIFIN&lt;br /&gt;9. SULINEM&lt;br /&gt;10. SAFITRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN&lt;br /&gt;PROGRAM PENDIDIKAN NERS&lt;br /&gt;DELI HUSADA DELITUA&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN &lt;br /&gt;DI PUSKESMAS TANJUNG MORAWA B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Topik  : Demam Berdarah Dengue&lt;br /&gt;Waktu Pertemuan : 1 X 25 Menit&lt;br /&gt;Sasaran  : Masyarakat yang ikut penyuluhan&lt;br /&gt;Tempat  :  Puskesmas Tanjung Morawa B &lt;br /&gt;Tanggal  : 30 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TIU :  Setelah mengikuti program penyuluhan diharapkan masyarakat dapat memahami apa yang dimaksud dengan Demam Berdarah Dengue (DBD)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TIK :  Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan ibu mampu:&lt;br /&gt;   -   Menjelaskan Pengertian DBD&lt;br /&gt;   -   Menjelaskan Penyebab DBD&lt;br /&gt;- Menjelaskan Pencegahan DBD&lt;br /&gt;- Menjelaskan Tanda dan gejala DBD&lt;br /&gt;- Menjelaskan Pengobatan DBD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyuluh :  Mahasiswa STIKes DELI HUSADA Delitua&lt;br /&gt; Media  :  Leaflet&lt;br /&gt; Metode :  PENYULUHAN&lt;br /&gt; Evaluasi :  Tanya Jawab&lt;br /&gt;Sumber  :  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATUAN ACARA PENYULUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt; Uraian Kegiatan Waktu&lt;br /&gt;  Perawat Masyarakat &lt;br /&gt;1. Pembukaan  Mengucapkan salam&lt;br /&gt; Memperkenalkan diri&lt;br /&gt; Memperkenalkan        pokok bahasan&lt;br /&gt; Mengadakan review&lt;br /&gt;  Menjawab salam&lt;br /&gt; Mendengarkan&lt;br /&gt; Mendengarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Merespon &lt;br /&gt; 5 Menit&lt;br /&gt;2. Isi  Menjelaskan  defenisi DBD&lt;br /&gt; Menjelaskan Pencegahan DBD&lt;br /&gt; Menjelaskan Penyebab DBD&lt;br /&gt; Menjelaskan Tanda dan gejala DBD&lt;br /&gt; Menjelaskan pengobatan &lt;br /&gt;  Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt; Mendengarkan dan memahami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 15 Menit&lt;br /&gt;3. Penutup  Membuat kesimpulan dengan Mahasiswa&lt;br /&gt; Mengucapkan kata penutup&lt;br /&gt; Mengucapkan salam  Masyarakat Merespon dan menjawab.&lt;br /&gt; Mendengar&lt;br /&gt; Menjawab salam&lt;br /&gt; 5 Menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demam Berdarah Dengue&lt;br /&gt;1. Pengertian DBD&lt;br /&gt;Penyakit Demam Berdarah (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa jenis nyamuk yang bisa ditemukan di sekitar rumah. &lt;br /&gt;* Nyamuk Anopheles &lt;br /&gt;Sering orang mengenalnya sebagai salah satu jenis nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria. "Nyamuk malaria banyak terdapat di rawa-rawa, saluran-saluran air, dan permukaan air yang terekspos sinar matahari. Ia bertelur di permukaan air." &lt;br /&gt;Nyamuk ini hinggap dengan posisi menukik atau membentuk sudut. Sering hinggap di dinding rumah atau kandang. Warnanya bermacam-macam, ada yang hitam, ada pula yang kakinya berbercak-bercak putih. Waktu menggigit biasanya dilakukan malam hari. &lt;br /&gt;Banyak jenis nyamuk Anopheles yang bisa menyebabkan penyakit malaria. Ada Anopheles sundaicus yang banyak terdapat di air payau, seperti di Kepulauan Seribu. Nyamuk ini berkembang biak di lingkungan yang banyak ditumbuhi ganggang. Ia akan meletakkan telurnya di ganggang hijau yang banyak reniknya, sehingga begitu menetas, jentiknya langsung mendapat makanan renik yang hidup di antara ganggang tersebut. &lt;br /&gt;Ada lagi Anopheles maculatus dan Anopheles balabacensis yang banyak terdapat di perbukitan, seperti di Bukit Manoreh, Yogyakarta. Biasanya nyamuk ini bertelur di mata air, di air rembesan, atau di sungai yang tak deras airnya, seperti di antara bebatuan sungai. Ada lagi Anopheles aconitus yang banyak hidup di daerah pesawahan atau saluran-saluran air yang 
